MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 7. PERTENGKARAN RAISA


__ADS_3

Diki sudah bersiap depan gerbang, ia yakin Raisa pasti akan mengganggunya lagi jadi ia menunggu kemunculan Raisa dan berpura-pura sambil mengelap mobilnya.


"Ada apa dengannya, udah jam segini belum muncul juga" Diki bermonolog, sesekali ia celingak celinguk dan hari ini ia sengaja tidak jogging. Sudah pasti tujuannya adalah Raisa, gadis yang baru beberapa hari muncul dan mengganggu ketenangannya serta mengusik hari-harinya dengan segala tingkah laku konyolnya. Tanpa sadar Diki seakan menanti kedatangannya. Satu jam menunggu Raisa sejak jam 6 pagi membuatnya lelah sendiri.


Di ujung gang sempit akhirnya Diki melihat Raisa. Baiklah, Diki berusaha untuk tidak melihatnya dan seolah pertemuannya seperti suatu kebetulan.


"Selamat pagi," Raisa menebar senyum penuh pesona menyapa Dicky yang berpura-pura cuek. Diki hanya melirik sekilas. "Maf ya, hari ini aku nggak bisa bikinin bekal buatmu. Nanti kapan-kapan deh, aku buatkan lagi. Hari ini aku ada keperluan. Byeeee"


"Hei!!!" Diki menahan Raisa yang sudah berpenampilan rapi seolah dia mau pergi.


Raisa menoleh ke arah Diki ,"Apa? Kalau mau bilang tentang kotak bekal yang ada padamu, udah simpan aja"


"Bukan,"


"Lantas apa? Kamu ingin mengajakku ngobrol? Maf ya hari ini nggak bisa, atau mau minta no hp ku? Biar bisa kamu hubungi aku kapan aja trus aku bisa diajak ngobrol denganmu, gitu?" Cerocos Raisa dengan rasa pede tingkat tingginya.


Diki menepuk jidatnya, yang benar saja ia bertemu gadis sok ke-pede-an macam Raisa. "Aku cuma mau tanya tentang mamaku, apa yang udah kamu katakan padanya? Hah?!! 'Kekasih?' Sebenarnya apa maksudmu bicara begitu? Bukan hanya itu saja, kotak bekal juga noda lipstik, kamu punya niat terselubung yah denganku?"


Raisa menelan ludah, 'kenapa dugaannya tepat sekali? Memang beda yah kalau bertemu orang pintar tuh instingnya tajam' bisik batinnya.


"Nggak ada, serius" Raisa dengan wajah meyakinkan.


"Jangan pernah mimpi tentang niat terselubungmu itu bisa kau wujudkan, aku bukan orang yang gampang tertipu oleh wajah topengmu. Dan aku akan membuat perhitungan denganmu. Camkan itu baik-baik!"


Setelah memperingatkan Raisa, Diki masuk ke mobilnya dan langsung berangkat ke kantor meninggalkan Raisa yang terdiam mematung. Dalam mobil Diki tersenyum puas, ia pikir Raisa pasti takut akan gertakannya.

__ADS_1


Tapi siapa sangka kalau Raisa bukan tipe orang yang gampang menyerah, ia hanya tidak mau panjang lebar berdebat dengan Diki pagi-pagi karena kebetulan Raisa mau ada perlu jadi terlalu males meladeni Diki akhirnya dia memilih diam saja.


*****


Beberapa hari telah kembali seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada tanda-tanda Raisa muncul, Diki nampak senang. "Gadis itu mungkin ketakutan jadi dia nggak nongol lagi menggangguku, baguslah. Ternyata gertakanku mempan juga" Diki menyeringai.


Di lain tempat, sebenarnya Raisa sedang mengurus kepindahannya untuk kembali tinggal di kota kelahirannya. Dan terutama ia harus menemui Irfan dan menjelaskan sesuatu padanya. Perasaan pada Irfan memang masih ada tapi Raisa memilih untuk mengalah pada perasaannya dan mengorbankan hubungannya demi rumah itu yah rumah kenangan Raisa. Alasan itulah Raisa berniat mengakhiri hubungannya dan mencoba menaklukkan si pemilik rumah peninggalan orang tuanya alias Diki. Raisa tidak ingin memiliki dua hubungan sekaligus yang menurutnya itu tidak baik.


Raisa mencoba berkunjung ke apartemen Irfan sekaligus memberi kejutan padanya. Saat ia akan mengetuk terdengar suara wanita dari dalam. "Siapa, ya? Apa ada tamu di dalam?" Raisa bertanya-tanya dan berpikir positif tak mau menaruh curiga pada kekasihnya.


Raisa terus mengetuk sampai Irfan membuka pintu apartemennya. Tak lama pintu terbuka, muncul seorang wanita yang sangat Raisa kenal. "Donna? Ngapain kamu ada di apartemen Irfan?" Raisa membelalak.


Donna, rival di kantor Raisa muncul dengan senyum liciknya. "Yah, sekedar memberi kehangatan pada kekasihmu" jawabnya enteng. Donna sengaja ingin menghancurkan hubungan Raisa dan Irfan demi kariernya di kantor.


Tanpa banyak bicara, sebuah tamparan dari Raisa mendarat di pipi Donna. Saat itu juga Donna emosi, lalu membalas dengan menjambak rambut Raisa tetapi Raisa pun tak mau mengalah ia juga ikut membalas. Akhirnya terjadilah duel antara Donna dan Raisa. Irfan yang mendengar keributan keluar kamar tanpa sehelai baju yang menutupi bagian atasnya dan ia hanya memakai celana boxer pun terkejut. "Raisa? Donna?"


Raisa yang melihat penampilan Irfan makin terbakar emosi, tak tanggung-tanggung Irfan yang hendak melerai antara Donna dan Raisa jadi ikut terbawa kebrutalan Raisa.


"Udah hentikan!"


Raisa tak mau mendengarkan Irfan ia terus melancarkan aksinya meluapkan emosi yang tak terbendung. Dia sungguh kesal, kenapa bisa Irfan selingkuh dengan Donna musuh Raisa sekaligus saingan di kantornya. Mungkin Raisa masih bisa mentolerir Irfan jika itu orang lain dan bukan Donna.


"Dasar wanita jal*ng!" Bentak Raisa


"Enak aja kamu bilang, Hei denger yah kekasihmu itu hanya butuh diriku bukan kamu. Lihat dia menyukai belaianku" ucap Donna yang makin memanasi hati Raisa.

__ADS_1


"Cukup! Raisa! Donna!" Berulang kali Irfan menghentikan keduanya tak ada yang mau mengalah hingga Irfan menarik tubuh Raisa dan menjauhkannya dari Donna.


"Nggak bisa dibiarkan! Lepasin, Fan! Harus aku beri pelajaran biar dia kapok" Raisa terus meronta saat dalam pelukan Irfan.


"Donna cepat pergi dari sini sekarang juga! kamu sudah buat Raisa salah paham. Aku bisa pecat kamu" ancam Irfan agar Donna mau mengalah karena Raisa tidak gampang dihentikan jika masih ada Donna di hadapannya.


Seketika Donna berhenti lalu ia bergegas keluar sambil menyambet tas dan sepatunya. Donna masih butuh pekerjaan. Niat hendak menjebak Irfan-atasan Donna- ternyata gagal karena Raisa yang tiba-tiba datang.


Dada Raisa masih kembang kempis karena emosi yang belum mereda. Irfan mencoba menenangkan Raisa, pelan-pelan ia bicara.


Raisa yang sadar masih dalam pelukan Irfan langsung menepis kedua tangannya agar menyingkir dan tak mau disentuh apalagi dengan kondisi Irfan yang hanya memakai celana pendeknya.


"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu jangan salah paham" lirih Irfan ketika Raisa memalingkan wajah darinya.


"Cukup! Aku nggak butuh penjelasanmu. Kita putus" Raisa pun ikut keluar dari apartemen Irfan. Moodnya sudah terlanjur buruk jadi untuk apa mendengarkan Irfan bicara. Bukti sudah jelas terpampang di matanya.


Raisa terus berlari menghindari kejaran Irfan. Tanpa bersusah payah menjelaskan alasan Raisa ingin mengakhiri hubungannya ternyata dengan sendirinya Irfan berbuat kesalahan fatal.


Memang sakit mendapati kekasih selingkuh depan mata sendiri, tapi itulah yang terjadi. Raisa menguatkan dirinya untuk berhenti meneteskan airmata karena sebuah pengkhianatan yang dilakukan Irfan apalagi dengan wanita yang sangat Raisa benci. "Tak bisakah Irfan mencari wanita lain? Kenapa harus Donna? Menyebalkan sekali, Donna pasti sengaja membuatku jadi begini agar terlihat menyedihkan di matanya" Batinnya menggerutu dalam raut wajahnya yang sendu.


Satu misi telah terselesaikan, hubungan Raisa telah berakhir tanpa perlu capek-capek mencari alasan. Meski sakit karena masih memiliki perasaan pada Irfan tapi keinginan kuat Raisa tak bisa terkalahkan untuk mendapatkan rumah orang tuanya, jadi melepas pria seperti Irfan tak akan membuatnya menjadi wanita yang putus asa.


 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2