
"Aku lelah, besok akan aku ceritakan. Ok?!" Raisa lunglai lalu masuk ke kamarnya. Ia bersiap mandi dan ganti baju.
"Kamu sengaja yah, ingin merahasiakannya dariku"
Diki terus mengikuti Raisa. Ia butuh penjelasan, Diki tidak suka mati penasaran.
"Tentu saja tidak"
"Kamu mengelak dan menghindariku"
Raisa mendekati Diki, sepertinya harus lebih mendetail memberinya pengertian. Diki pemaksa.
"Baiklah kamu tidak sabaran, biarkan aku mandi dan berganti baju sebentar, aku ini baru pulang. Masih ada bau keringat yang menempel. Aku tidak betah"
"Setelah itu, aku tunggu segera di ruang tengah"
Jam sudah menunjukkan pukul 12, tepatnya ini sudah tengah malam. Raisa dengan terpaksa menuruti Diki, matanya yang lelah sudah ingin tidur tapi Diki memang tidak pengertian. Dia sesosok pria egois yang memaksakan kehendaknya.
Diki duduk menunggu Raisa, tangannya sudah bersedekap seolah ia tampak telah siap untuk menginterogasi Raisa.
Raisa keluar memakai piyama dengan rambutnya yang basah ia lilit menggunakan handuk. Karena seharian berada di luar, rambutnya terasa lepek jadi ia mengeramasnya. Tak diduga hal sepele itu dianggap berlebihan oleh Diki.
Matanya terbuka dengan alis yang mengangkat. Tatapannya yang gelap menimbulkan prasangka saat melihat Raisa.
"Kamu keramas?"
"Iya, banyak debu dan rambutku terasa lengket karena berkeringat" penjelasan Raisa tetap tidak mengubah pandangan Diki yang aneh. "Kenapa menatapku begitu? Ada yang salah?"
"Hari ini kau pulang telat melewati jam malam yang aku ijinkan. Apa saja yang kau lakukan diluar?"
"Maaf, aku ada keperluan mendesak" padahal Raisa merasa hanya sebentar menemui Revan tapi perjalanan yang jauh lah yang memakan waktu jadi kemalaman di jalan.
"Keperluan apa? Dan kenapa kamu sampai berurusan dengan mereka tadi?" Diki masih mengingat mobil yang dua pria itu pakai, mobil yang biasa dipakai oleh kalangan kelas atas. Diki yakin pemilik mobil itu bukan orang biasa. Untung plat nomornya masih terekam di dalam otak Diki.
Memang sebelumnya Diki merasa telah salah berprasangka buruk pada Raisa, yang ia kira Raisa bertemu pria lain tapi ternyata itu adalah Rian-sepupunya. Awalnya Diki hanya ingin meluruskan semua kesalahpahaman dan menebus rasa bersalahnya dengan meminta maaf.
__ADS_1
Tapi apa yang terjadi Raisa berada di luar hingga malam ditambah Raisa berurusan dengan dua pria asing yang hampir membahayakannya. Entah kenapa emosi Diki tambah mendidih. Ia masih belum mengerti kenapa Raisa selalu terlihat menjengkelkan di mata Diki.
Bahkan Diki menghabiskan tenaga dan waktu untuk mencari dan mencemaskan Raisa. Raisa menunjukkan sikap yang tetap menyembunyikan sesuatu di belakang Diki. Betapa rasa kesal itu memenuhi dada Diki.
Diki harap Raisa bicara jujur. Rasa percaya Diki terkikis.
Dan Raisa malah terdiam, ia bingung tidak mau membebankan Diki. Raisa pikir ia bisa menyelesaikannya sendiri.
"Tapi kamu sedang tidak mencurigaiku kan?" Raisa melihat ekspresi Diki yang memendam amarah besar itu tergambar dari sorot matanya yang tajam.
"Sudah pasti,"
"Jadi benar kamu curiga denganku? Aku tidak berbuat macam-macam diluar. Sungguh, aku hanya menyelesaikan masalah keluargaku. Dan aku..." Raisa belum menyelesaikan kata-katanya
"Kamu bener-bener membuatku marah Raisa,"
"Eh? Kamu marah padaku? Karena aku tidak membuatkan makanan dan pulang kemalaman? Maaf..." Raisa salah menduga pikiran Diki.
"Bukan itu"
"Katakan apa yang kamu sembunyikan dariku?"
"Tidak ada" Raisa bersikukuh dengan pendiriannya.
"RAISA!!! Meski kita menikah dengan keterpaksaan tapi kamu adalah tanggung jawabku. Aku tidak mengerti dengan sikapmu yang menjengkelkan itu"
"Aku tidak mengenal mereka jadi cukup berhenti untuk mencurigaiku. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku malas berdebat malam-malam, aku lelah dan mengantuk besok aku harus kerja"
"Raisa!" Diki masih belum puas.
Raisa beranjak, ia tidak peduli dengan kemarahan Diki dan omelannya. Raisa juga tidak memahaminya dan saat ini ia benar-benar mengantuk. Raisa butuh istirahat.
Keseimbangan jalannya terganggu dan kebetulan kakinya tersandung lalu Raisa terjatuh.
Dan ia mendaratkan tubuhnya secara tidak sengaja lalu jatuh tepat di pangkuan paha Diki. Sekian detik keduanya canggung dalam posisi berhadapan. Diki sedikit terkejut, Raisa terjatuh tepat mendarat ke arahnya. Rambutnya yang basah tercium wangi shampo yang menggelitik hidunh Diki.
__ADS_1
Mereka saling bertatapan. Wajah keduanya pun memerah karena mereka sebelumnya belum pernah sedekat itu.
"Ma-maaf" Raisa berusaha bangkit dari tubuh Diki. Ia menimpanya karena tersandung tadi.
"Kamu lebih baik istirahat, besok kita akan membahasnya lagi" Diki berubah melemah. Ia juga tidak bisa mengontrol debaran jantungnya. Perasaan hangat menyerangnya tiba-tiba.
"Makasih, aku ke dalam dulu"
Ketika keduanya sempat bersitegang kini suasana agak mencair hanya karena Raisa yang terjatuh.
Raisa pun dengan malu-malu masuk ke kamar, ia tidak berani melihat wajah Diki. Cukup adegan tadi membuatnya tidak sanggup lagi menyimpan warna merona di pipinya.
Bagaimanapun juga mereka sepasang manusia dewasa yang berstatus suami istri tapi enggan untuk melakukan kontak fisik hanya karena belum merasa ada perasaan yang mengikatnya. Mereka malu untuk mengakui itu. Mungkin suatu saat nanti mereka juga akan melakukannya. Siapa yang akan tahan.
Diki memandang Raisa yang meninggalkannya sendiri. Diki belum mengantuk pikirannya yang membuatnya terus terjaga.
Setelah itu, ia menelpon Rio untuk menyelidiki nomor plat mobil kedua pria yang menyerang Raisa. Diki ingin mengetahui identitas pemilik mobil itu.
Rio selalu bersiap siaga, di saat apapun Diki menelpon dan membutuhkannya Rio harus siap dengan perintahnya. Begitulah sifat Diki.
****
Esoknya Diki mendapat informasi bahwa pemilik mobil itu adalah Revan-anak dari keluarga Prasetyo. Jadi benar itu ada kaitannya dengan masalah Rian. Kenapa Raisa menutupi itu dari Diki. Diki tak mengerti jalan pikiran Raisa. Bukankah ia suaminya.
Apakah Raisa ingin menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan Diki? Diki terus dipenuhi pertanyaan mengenai sikap Raisa. Menanyakan langsung percuma Raisa selalu menutupinya seakan ia mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi sadarkah ia itu membahayakan dirinya sendiri. Dan Diki tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya.
Segera Diki melakukan tindakan tanpa sepengetahuan Raisa. Diki pikir, ia harus melindungi Raisa. Keluarga Prasetyo akan berbuat nekat, terutama Revan. Diki mengenal sifat Revan yang brengsek. Diki tidak membiarkannya melakukan sesuatu pada Raisa, itu akan membuatnya geram. Cukup bukti kejadian malam itu, Raisa hampir dibawa paksa oleh kedua anak buahnya. Diki menyimpan amarah pada Revan.
Revan telah berani mengusik Diki. Bukan hanya dia sebagai saingan bisnis Diki, sekarang Diki menganggapnya musuh yang harus ia hadapi. Raisa bisa dalam bahaya.
Diki tidak akan tinggal diam mulai sekarang. Tanpa sepengetahuan Raisa, Diki memerintahkan Rio untuk memberi sedikit pelajaran pada Revan agar Revan tahu siapa yang dihadapinya.
----
----
__ADS_1
Bersambung...