
Setelah kejadian malam itu, Diki jadi tak bersemangat akibat mendadak dijodohkan di depan umum. Pikirannya masih kalut. Saat ini Diki masih merebahkan diri di tempat tidur dan menelpon Rio untuk menghandle semua pekerjaannya sementara.
Diki berniat seharian ini ingin merilekskan pikirannya dulu. Belakangan ini semenjak kehadiran Raisa, urat di kepala Diki terasa kencang karena terlalu sering menahan emosi.
Bu Lidia mendengar dari Rio-assistant Diki- bahwa Diki tidak ada di kantor akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah Diki.
Kini Diki sedang bersantai di teras dengan menyeruput secangkir kopi sambil memandang tanaman di halamannya yang bisa menjernihkan pikirannya.
"Mama?" Diki terhenyak setelah melihat mobil Bu Lidia menuju depan gerbang pagar rumah kemudian Diki bergegas membuka gerbangnya.
"Kira-kira ada perlu apa lagi, ini masih pagi. Kalau membahas tentang Raisa. Aku bosan mendengarnya" gumam Diki sambil menghela napas karena kedatangan Bu Lidia sudah mengganggu waktu santainya.
Bu Lidia pun turun dari mobilnya, seketika keningnya berkerut melihat penampilan Diki yang nampak santai seperti bukan kebiasaan anaknya.
Wanita paruh baya yang tetap berpenampilan stylist ini merasa illfeel melihat putranya yang nampak lesu seperti tak ada gairah hidup.
"Tumben-tumbennya hari ini kamu bersantai biasanya paling semangat kerja" seru Bu Lidia,
"Mama ke sini pasti ada sesuatu," tebak Diki
"Kok kamu tahu?"
"Udah jelas, memangnya ada apa lagi?" tanya Diki malas. "Karena kejadian semalam semangatku jadi kendor, mood ku sedang tidak baik. Aku nggak mau mendengar berita buruk" keluh Diki.
"Ya ampun anak mama ini gimana sih bisa jadi begini. Kelak kalau Raisa ada di sampingmu, pasti setiap hari kamu akan bersemangat lagi."
"Aku nggak mau mendengar namanya lagi, kayaknya dengan terpaksa aku harus menuruti permintaan Mama yang selalu memaksa dan mengancam"
"Aduh, kok kamu gitu ngomongnya, bikin nggak enak terdengar di telinga mama, tapi mama nggak sejahat itu sayang."
Diki terlihat jengah, ''Bukankah memang terlihat begitu? Mama ini suka pura-pura nggak ngerti"
Mendengar itu rasanya Diki tidak percaya. 'Ekspresi mama sepintas sama dengan Raisa, apakah ini yang membuat mereka cocok?' bisik hati Diki.
"Segera kita harus melamar Raisa, mama sudah mengumumkannya jadi jangan banyak menunda-nunda waktu" tegas Bu Lidia lalu berbisik ke arah Diki, "Lebih cepat lebih baik, iya kan"
"Sudah aku duga, pasti mama akan bahas Raisa lagi. Terserah mama aja, lagian juga aku belum bisa balikin modal mama yang 20 M itu, aku sih setuju aja"
__ADS_1
Bu Lidia tidak tahu ternyata Diki juga menyimpan segudang rencana setelah menikah dengan Raisa, dia tidak serta merta dengan mudahnya menurut begitu saja tanpa imbalan balik.
"Bagus, mama senang mendengarnya jadi persiapkan dirimu untuk acara lamarannya. Tapi sebelum itu mama perlu tahu dulu mengenai Raisa darimu"
"Aku nggak tahu apa-apa tentang Raisa,"
"Apa? Kamu nggak tahu?"
"Iya aku nggak tahu mendingan mama tanya langsung sama orangnya aja, dia tinggal di kos-an belakang kan mama udah tahu"
"Ok, nanti mama tanya Raisa langsung. Ehm gimana kalo minggu depan kita datang melamar Raisa?"
"Terserah mama aja deh yang atur." Diki malas berdebat dengan Bu Lidia. Dirinya pasrah menerima keputusan sepihak dari Bu Lidia yang seakan Diki tak diberi pilihan untuk memutuskannya sendiri.
'Baiklah Raisa, aku akan ikuti permainanmu sampai dimana' Dibalik bibirnya yang diam, hati Diki menyeringai.
*****
Tak terasa waktu telah berjalan dan hari sudah sore. Sejak pagi Bu Lidia menunggu Raisa pulang kerja. Bu Lidia menunggu di rumah Diki, sesekali matanya mencari sosok Raisa yang akan lewat depan rumah Diki.
"Tante Lidia ada di sini?" sapa Raisa
"Raisa, sini mampir dulu. Tante mau bicara sebentar"
"Ada apa, Tante? Penting banget yah?! Tapi aku baru pulang kerja nggak enak langsung mampir, aku pulang dulu sebentar nanti ke sini lagi. Atau Tante kalau mau maen ke tempatku, ayo!"
"Ya udah deh Tante ikut ke tempatmu"
Bu Lidia duduk di ruang tamu menunggu Raisa mandi dan berganti pakaian sembari menunggu waktu senggangnya ia gunakan untuk mencari info tentang WO. Matanya terfokus pada ponselnya. Jemari Bu Lidia yang masih terawat sibuk mengulir di layar ponselnya.
Selang beberapa saat Raisa muncul, lalu membawa minuman dan kudapan untuk dihidangkan.
"Maaf agak lama, sebenarnya apa yang pengen Tante bicarakan?"
"Tadi Tante udah ngobrol sama Diki, kita setuju minggu depan akan langsung melamarmu. Bagaimana? Tante nggak suka menunggu lama, karena sudah nggak tahan mendengar cibiran orang tentang anak Tante yang masih single"
"Apa itu nggak terlalu buru-buru"
__ADS_1
"Nggak masalah kalau kamu setuju"
Sebelum menjawab, Raisa berpikir sejenak untuk mempertimbangkannya.
"Tapi aku ini nggak punya rumah tante hanya tinggal di sini. Aku yatim piatu trus aku hanya memiliki seorang paman yang sekarang keberadaannya entah dimana. Apa tante yakin menerimaku setelah tahu tentang keadaanku ini?" ucap Raisa merendah.
Bu Lidia terdiam sesaat, hatinya terenyuh mendengar keadaan Raisa yang sebenarnya.
Apakah ini alasan Diki nggak mau menikahinya, sungguh kasian sekali Raisa begitu pikiran Bu Lidia. Meski dia bergelimangan harta, Bu Lidia bukanlah orang yang sombong, dirinya pribadi yang rendah hati dan bersahaja karena memang dia juga berasal dari kalangan biasa tapi perjuangannya bersama suaminya lah yang membuat hidupnya kini jadi mapan.
"Raisa, kita semua itu sama kamu jangan merasa minder dengan kondisimu. Tante dan suamiku akan menerimamu apa adanya tanpa memandang tingkatan status sosial" Bu Lidia pun memeluk Raisa.
Raisa terkejut mendapat pelukan hangat dari Bu Lidia, matanya mulai berkaca-kaca mengingatkan Raisa pada ibunya. Raisa begitu merindukannya. Ternyata Bu Lidia sangat penyayang.
"Kita adakan acara makan-makan sederhana aja di sini dengan penghuni kos lainnya, bagaimana ide tante? Kamu setuju nggak?"
"Boleh, tapi harus ijin dulu sama pemilik kos-an"
"Tenang aja, itu urusan tante"
"Ehm tapi Raisa, kalau bisa nih yah saran dari Tante coba cari lagi informasi keberadaan pamanmu karena bagaimanapun juga kelak ketika kamu menikah dia yang akan jadi walinya"
Dipikir-pikir, iya juga. Kenapa Raisa tidak kepikiran sampai ke sana. Lantas harus mencari kemana pamannya yang pergi bersama tantenya tanpa kabar itu. Sungguh sulit mencarinya, Raisa bahkan tidak yakin.
Dengan ragu-ragu Raisa menjawab, "Iya, Tante nanti aku coba cari"
"Baguslah," Bu Lidia memberikan senyumannya "Oh ya ini udah sore, Tante pulang dulu. Nanti lain waktu kita bicarakan lagi"
"Iya, tante"
Saat Bu Lidia melangkah keluar rumah, di depan sudah ada Diki berdiri yang mengejutkan Raisa dan Bu Lidia.
----
----
Bersambung...
__ADS_1