
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu padaku?" Raisa merasakan aura dingin di kulitnya. Sikap Diki berbeda, apa yang terjadi? Padahal baru saja Raisa merasakan kehangatan.
"Katakan padaku yang sebenarnya! Aku harap kamu tidak berkelit," Dipenuhi kekesalan di hati Diki, dia terus melangkah mendekati Raisa.
Kemudian sejenak Raisa berpikir, apakah ini ada alasan kuat seseorang menyerangnya? Dengan mendengar ucapan Diki, Raisa menebak sendiri, apakah dia telah berbuat sesuatu yang telah menyinggung seseorang?
"Maksudmu, aku menerima kesialan seperti ini karena aku telah berbuat sesuatu?" Raisa belum juga mengerti. Otaknya sedang mencerna.
Diki berjalan ke arah Raisa dengan tatapannya yang lurus seakan sedang menekan amarah dalam sikap tenangnya.
"Bukankah aku sudah katakan sebelumnya, biar aku yang urus dan kamu jangan terlalu melampaui dalam bertindak. Kamu tidak mematuhiku."
Wajah Raisa yang masih pucat dan kulit bibirnya yang kering memancarkan raut wajah bingung. Seharusnya dengan kondisi Raisa yang begitu, orang akan iba melihatnya tetapi tidak dengan Diki. Ia nampak kesal dan ingin sekali marah pada Raisa. Betapa Diki kecewa dengan tindakan Raisa di belakangnya.
Andai saat itu terlambat sedikit, entah apa yang akan terjadi pada Raisa. Diki tidak bisa membayangkan hal buruk itu bersemayam dalam pikirannya.
Raisa masih terdiam. Dia mencoba menelaah, lalu akhirnya Raisa mengerti sekarang. Di dalam benaknya, Raisa mencoba menghubungkan kejadian ini dengan tindakan sebelumnya. Itu berarti ada hubungannya dengan Tedi. Segera Raisa menyadarinya.
Karena sedikitnya Raisa telah mengenal Diki, dia bisa menebak. Saat ini, Diki pasti ingin memarahinya. Oleh sebab itu, sebelum Diki menguliknya, Raisa mencoba mengalihkan perhatian.
"A–aduuuh... ini masih terasa sakit, sebaiknya aku beristirahat." Raisa berakting lalu memalingkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Diki lalu membungkus dirinya dengan selimut rumah sakit.
Diki yang sudah berada tepat di sampingnya, hanya diam memerhatikan Raisa dengan tatapan tajam.
Raisa segera memejamkan matanya dan tingkahnya seolah mengabaikan kehadiran Diki.
"Kamu mau menghindariku, yah?" Suara Diki dekat di telinga Raisa. Diki sengaja bicara begitu dekat karena tahu Raisa tidak mau bicara dengannya.
Napas Diki terasa sekali di pipi Raisa dan itu membuat Raisa tidak berkutik hingga berkeringat dingin. Ditambah selintas lewat adegan sebelumnya, saat Raisa membuka baju di depan Diki. Betapa Raisa makin terbakar oleh rasa malu. Rasanya Raisa ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dalam lautan dan tidak ingin bertatap muka dengan Diki.
Jarak ujung hidung Diki yang hampir menyentuh pipi Raisa, membuat Diki merasakan gejolak panas. Wanita di depannya tengah berakting sekaligus seperti sedang menggodanya. Sekian detik mata Diki dengan jelas melihat wajah Raisa yang begitu dekat sekali. Wajah Raisa terlihat pucat pasi itulah, yang akhirnya membuat Diki mengurungkan niatnya untuk memaksa Raisa bicara. Diki membiarkan Raisa beristirahat dan dia menegakkan tubuhnya lalu berbalik menuju kursi.
__ADS_1
Mungkin bagi Diki, ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Dia lebih memilih untuk mengalah.
Keheningan menyelimuti ruangan, Raisa masih mencoba untuk memejamkan mata. Untuk saat ini, Raisa belum ingin membahas apapun karena belum siap menghadapi Diki.
Sedangkan Diki masih berada di posisinya, dia dengan tenang duduk sambil membuka handphone. Ada sesuatu yang harus dia selidiki.
Di tengah kesunyian, seseorang masuk dengan tiba-tiba. "Aduh, Raisa.... apa yang terjadi denganmu?" Seketika Bu Lidia datang menyeruak masuk, begitu pintu kamar dibuka. Bu Lidia terlihat tidak sabaran.
Sesuatu yang mengejutkan membuat Raisa reflek membuka matanya bersamaan dengan Diki yang menoleh ke arahnya. Raisa yang beradu pandang dengan Diki langsung menyengir. Raisa jadi salah tingkah karena Diki menyorot tajam ke arahnya. Raisa menebak Diki sudah tahu tadi dia berpura-pura tidur.
"Aku hanya luka ringan, kok. Ibu tidak perlu terlalu cemas," Raisa mencoba menenangkan Bu Lidia yang terlihat panik saat melihat kondisinya.
"Bagaimana Ibu tidak cemas, begitu mendengar kabarmu, aku langsung bergegas kemari. Diki juga, kenapa tidak memberitahu Ibu?" ujar Bu Lidia dengan menunjukkan wajah kesal. Dia adalah orang yang paling panik ketika mendengar Raisa terluka tetapi putranya malah tidak memberitahunya.
Dalam beberapa tahun terakhir, baru kali ini Raisa melihat lagi tatapan mata yang tulus dan murni seperti yang ditujukan oleh Bu Lidia. Itu mengingatkannya pada mendiang ibunya.
"Coba beritahu, bagian mana yang sakit?" Bu Lidia terlihat lebih perhatian hingga mengabaikan Diki yang berada di sampingnya.
"Ah itu..." Raisa belum menyelesaikan ucapannya langsung mendapat pelukan hangat dari Bu Lidia.
Pelukan hangat dari Bu Lidia membuat Raisa merasakan perasaan yang lembut. Raisa merindukan perasaan ini sejak ibunya meninggal. Karena kehidupan yang begitu keras, Raisa lupa bahwa dia juga masih butuh kasih sayang. Dia terbiasa melewati kesulitan hidup secara sendiri.
Melihat wajah penuh kasih dari wanita paruh baya di depannya, Raisa merasa seolah ada sesuatu yang mencengkeram hatinya.
Setiap menghadapi Diki yang terkadang membuat Raisa jengkel, Raisa selalu ingat bahwa mertuanya begitu penyayang dan baik hati seketika itu juga Raisa luluh untuk tetap mempertahankan pernikahan ini dengan Diki. Bahkan sedikit rasa cemas menyelinap di hati Raisa, dia takut Bu Lidia akan mengetahui motif sebelumnya yang mengincar rumah warisan orangtuanya. Akankah Bu Lidia mau memaafkan Raisa jika mengetahui itu?
"Diki, apakah kamu sudah menyelidiki kasus ini? Lihat kondisi istrimu, mama tidak akan memaafkan siapapun yang melukainya." Bu Lidia beralih ke Diki sambil memperingatkannya.
"Iya, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Mama tenang saja, semua sudah diurus," Lalu Diki melirik ke arah Raisa.
Lirikan Diki membuat Raisa tak berkutik. Raisa tahu, lirikannya memiliki arti tersembunyi. Walaupun pada awalnya ada sedikit kelegaan di hati Raisa, mendapati bahwa Diki tak membicarakan tentangnya di depan Bu Lidia tetapi tetap saja kekhawatiran melintas di benak Raisa.
__ADS_1
"Aku keluar dulu sebentar dan sementara mama bisa mengobrol dengannya,"
Diki keluar ruangan, dia mencari Rio.
****
Di sebuah kantin belakang rumah sakit.
Rio menikmati secangkir kopi dengan ditemani Emilia. Sejak beberapa menit yang lalu, Rio tak bicara banyak. Sesekali dia hanya menyeruput kopinya lalu berkutat dengan handphonenya. Ini seperti sebuah lelucon bagi Emilia.
"Hei, ada saya di sini." celetuk Emilia.
"Ya, saya tahu. Terima kasih sudah mentraktir segelas kopi."
"Dari tadi lho kamu cuek. Kamu itu yah, selain menjawab 'ya' dan 'tidak' tak ada kata-kata yang membuat obrolan kita nyambung. Bikin kesel..."
"Katakan apa yang ingin Bu Dokter katakan, tapi jangan bertanya. Saya sedang tidak mau menjawab,"
Sebenarnya Rio menghindari obrolan yang membahas tentang Diki. Rio telah mengenal Emilia yang selalu mencari tahu tentang Diki dari dirinya.
"Sayangnya saya ingin bertanya,"
"Saya akan tetap diam,"
Keduanya saling keras kepala. Emilia mulai gemas dengan sikap Rio.
"Ok, baiklah. To the point aja deh, saya juga tidak mau basa basi lagi. Percuma." Kekesalan memenuhi wajah Emilia. Dia pun melanjutkan berkata, "Hendrik akan kemari dan kabarnya dia memiliki urusan yang berhubungan dengan The Black Jack,"
Rio hampir menyemburkan minumannya begitu mendengar penuturan Emilia. Dia sangat terkejut.
------
__ADS_1
------
Bersambung......