MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 71. PESONA RIO


__ADS_3

Mereka tidak tahu, pria itu adalah Rio. Usia Rio hanya dua tahun lebih muda dari Diki tetapi wajahnya baby face sehingga dia terlihat lebih muda dari usianya. Orang akan mengira Rio seorang remaja yang beranjak dewasa.


Para wanita itu semakin heran dengan Raisa. Baru saja ada pria tampan terlihat dewasa dan matang kemudian pergi lalu datanglah seorang pria muda yang berpenampilan segar menemani Raisa. Sungguh mereka menganggap Raisa wanita ular yang pandai memainkan hati pria.


Setelah itu, Vera datang menyambut begitu Raisa sudah mendekat, "Raisa, terima kasih kamu mau datang ke pestaku."


Raisa tersenyum, dia tahu wajah Vera yang sebenarnya, biasanya Vera akan menjebak Raisa dengan beberapa pertanyaan hanya untuk menjatuhkan Raisa di depan teman-temannya. Jadi Raisa tidak terlalu mau banyak bicara.


Atensi mereka teralihkan pada Rio yang hanya diam di samping Raisa. Setelah dilihat dari dekat, mereka sadar bahwa Rio tampan. Wajah Rio juga menarik perhatian para wanita, dia terkesan pendiam dan lembut. Ketampanan Rio seperti seorang remaja yang terlihat cerah.


"Aku pikir, kamu datang dengan suamimu. Eh malah dengan pria lain. Masih muda lagi. Seleramu bagus juga," sindir Seila teman Vera.


"Kamu juga sudah tahu kalau aku sudah menikah?" tanya Raisa lalu melirik padanya, "Hebat yah, kalian semua tahu tentang diriku sebelum aku menceritakan sendiri."


Vera tidak mau situasi ini semakin canggung jadi dia berusaha mencairkan suasana. "Sudahlah, tidak usah dibahas. Kita semua kan teman semasa sekolah. Iya, kan?" Kemudian Vera menggandeng tangan Raisa. "Ayo, kita masuk! Yang lain juga... tidak baik bergosip di luar."


Raisa masih belum menemukan teman dekatnya, yang ada hanyalah teman circle Vera saja. Raisa menatap heran. 'Apakah Vera sengaja menjebakku dan sebenarnya dia tidak mengundang teman-temanku?' gumam Raisa sambil berjalan mengitari meja dan Rio masih setia mendampingi Raisa dengan waspada.


Raisa seolah tidak peduli betapa mewahnya tatanan prasmanan dan dekorasi pesta Vera. Dia hanya terfokus mencari teman dekat sekolahnya. Alasan Raisa mau hadir adalah bertemu dengan teman dekatnya.


"Raisa... kamu bisa mencicipi semua makanan yang ada di sini, semoga kamu menyukainya. Maaf, aku harus menyambut tamu lainnya yang baru berdatangan," ucap Vera.


"Iya, terima kasih."


"Aku pergi dulu, yah. Kan kamu sudah ada teman priamu yang menemani," ucap Vera dengan menekankan kata 'priamu' seakan tersirat sindirian di dalamnya.


Raisa yang memahami karakter Vera tidak menunjukkan reaksi apapun. Mata Raisa memandang Vera dengan jengah. Vera memang selalu saja menyebalkan.


"Bu Raisa, maaf...kehadiranku tidak membuatmu nyaman." Rio merasa bersalah.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, Rio. Dia memang begitu. Aku sudah terbiasa menghadapinya. Kau tenang saja," ujar Raisa santai.


"Raisa, apakah kamu tidak mau mengenalkan teman priamu itu?" Laura bertanya dengan centil. Dia tertarik pada pesona Rio dan sejak tadi tak berhenti memandang ke arah Rio. Penampilan Rio tidak terlihat seperti seorang assistant.


'Ya ampun jadi mereka masih di sini?' bisik Raisa ketika melihat para wanita masih mengerubungi Rio, lalu Raisa menghela napas.


"Tanyakan saja sama orangnya, apakah dia ingin berkenalan denganmu?" Kemudian Raisa melirik ke arah Rio. Teman-teman Vera memang rese', matanya selalu melotot kalau bertemu dengan pria baru yang tampan.


"Maaf, aku sudah memiliki kekasih."


"What? Kekasih?" Raut wajah Laura berubah, "Maksudmu kekasihmu siapa? Raisa? Bukannya dia sudah menikah ya?" Laura berpikiran Raisa selingkuh dengan Rio, karena tadi dia melihat Diki pergi setelah itu Rio datang mendekati Raisa.


Raisa tertawa, dia merasa konyol dengan tuduhan Laura. Jangan-jangan tadi semua teman Vera menganggap Raisa seperti itu. Karena dia malas meladeninya, Raisa semakin menguatkan persepsi mereka. "Iya..."


Mendengar pernyataan Raisa, Laura terkejut kemudian menyingkir menjauh sambil menatap jijik pada Raisa.


"Bu Raisa, apa itu tidak terlalu berlebihan? Bagaimana kalau ada gosip yang menyebar?" Rio memandang ke arah wanita yang dari tadi berkerumun kemudian bubar dengan wajah kecewa.


Rio diam dan membenarkan hal itu, karena jelas dia tahu bahwa Diki selalu melindungi Raisa di belakang Raisa. Bahkan Diki pergi untuk menyelesaikan masalah tanpa sepengetahuan Raisa. Diki khawatir Raisa terjerat dan berurusan dengan mafia kejam the Black Jack karena Tedi telah tewas. Semua masalah berkaitan setelah Raisa berhasil memenjarakan anak buah Tedi, lalu Tedi berupaya untuk menyingkirkan Raisa, sayangnya gagal. Namun siapa sangka kemudian Tedi tewas mendadak.


Diki mencemaskan keselamatan Raisa, karena akan jadi incaran Shadow Jack. Tindakan Raisa telah menyinggung Shadow Jack meskipun kematian Tedi, Raisa tidak terlibat. Diki tengah menyelidiki masalah ini. Apalagi Diki mencurigai kemunculan Hendrik. Alasan Diki tidak bisa menemani Raisa ke pesta karena dia pergi menemui Hendrik.


"Oh ya, tapi... apa benar kamu sudah memiliki kekasih? Siapa dia?" Raisa yang awalnya cuek jadi serius, dia juga ingin tahu.


"Bu Raisa... ternyata Anda juga sama seperti wanita-wanita tadi rupanya,"


Raisa tertawa, "Jangan terlalu serius, aku cuma bercanda. Eh tapi pengen tahu juga sih..."


"Aku sulit memiliki waktu luang untuk berkencan." sela Rio.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau begitu nanti aku yang menasehati suamiku untuk tidak terlalu menekanmu dengan pekerjaan. Bersantailah dan nikmati waktumu, kamu masih muda." Raisa menghibur Rio.


Ketika Raisa asyik berbicara dengan Rio, di sudut sana ada seorang pria yang terus memandang Raisa dengan tatapan dalam. Kemudian dia tersadar, saat seseorang memanggilnya. "Revan...! Ternyata kau di sini. Papaku mencarimu, katanya, dia ingin kau menemani tamu."


Revan menoleh ke arah Vera. "Baiklah," Revan berbalik tetapi sebelum melangkah dia bertanya pada Vera, "Kau mengenal Raisa?"


"Raisa?" Vera heran tiba-tiba Revan menanyakan Raisa, "Tentu saja, dia teman sekolahku dulu. Ada apa? Kamu mengenalnya juga?" Vera tertawa hampa, tidak menyangka tuanangannya juga mengenal Raisa. "Hebat yah Raisa, banyak pria yang mengenal dia."


"Dulu aku pernah terlibat urusan dengannya, tidak lebih." Wajah Revan penuh dengan kelicikan.


"Ya, aku mengerti. Playboy sepertimu banyak terlibat dengan seorang wanita, tetapi aku hanya tidak menyangka Raisa salah satunya. Apakah dia mantanmu juga?" tanya Vera penuh antusias.


Vera dan Revan dijodohkan oleh orangtua mereka demi bisnis dan status sosial. Mereka menjalin hubungan hanya sebatas partner yang saling menguntungkan. Jadi Vera tak pernah memiliki perasaan apapun pada Revan begitu juga sebaliknya.


"Raisa, wanita yang selalu membuatku penasaran. Aku belum bisa menaklukannya jadi aku menganggapnya sebagai dendam pribadi." Kenangan memalukan Revan ketika dikalahkan Diki berputar di otaknya. Dia tidak bisa melupakan hal itu.


"Ah jadi begitu..." Seketika terlintas sebuah ide di pikiran Vera, "Bagaimana kalau aku membantumu?"


Revan tercengang, "Maksudmu?"


Vera menyeringai penuh kelicikan di matanya.


----


----


Bersambung...


notes :

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan suscribenya bagi yang penasaran kelanjutan cerita ini. Akan ada kejutan di setiap alurnya.


Apa yang akan Vera lakukan pada Raisa?


__ADS_2