MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 52. SIKAP DIKI


__ADS_3

Jika bukan suami sendiri, Raisa sudah menyebutnya bertindak amoral. Dia belum pernah merasakan sedekat itu dengan pria meski sudah pernah memiliki mantan kekasih. Raisa selalu menjaga jarak karena bagi Raisa harga diri dan kehormatannya menurutnya itu jauh lebih penting. Jadi Diki adalah pria pertama yang menyentuhnya.


Raisa yang jatuh terduduk di pangkuan Diki, punggungnya menyentuh dada Diki seketika membuatnya terus berdebar dan wajahnya memerah. Getaran aneh menjalar di sekujur tubuhnya.


Saat Raisa berusaha bangun, dirinya ditahan oleh Diki. Tanpa sadar tangan Diki melingkar di perutnya. Diki terbakar oleh emosi rasa cemburunya yang meluap jadi dia bertindak seolah tanpa berpikir panjang.


"Kamu...!" Raisa mencoba melepaskan dirinya. Ia seperti ikan dalam jaring yang ingin meloloskan diri.


Raisa merasa Diki terlalu berlebihan untuk mencampuri urusannya. 'Hei, ini hanya sebuah panggilan biasa, ada apa denganmu?' umpat Raisa yang tak habis pikir. Dia memberi tatapan tajam pada Diki.


Suara dering ponsel Raisa terus berbunyi hingga Diki kehilangan akal. Diki terus bertanya, "Kamu ingin menyembunyikan sesuatu dariku?" Diki diliputi rasa penasaran yang besar. Diki terus mencoba melihat layar ponsel Raisa. Walau sudah usaha pandangan Diki tetap terhalang.


"Iya, tapi ini hanya panggilan biasa. Bisakah kamu melepaskanku?" Raisa merasa kesulitan bergerak, dia terkunci dalam pelukan Diki.


"Tidak akan" Diki bersikeras. Ia benar-benar ingin tahu siapa yang menelpon Raisa.


"Ya ampun, sejak kapan kamu jadi begini?" Raisa nampak frustasi menghadapi tingkah Diki. Ia yang masih berada di pangkuan Diki, perasaannya bercampur aduk antara kesal dan malu. Diki bertindak kekanak-kanakan.


Rambut Raisa tersibak dan menyentuh hidung Diki. Hidung Diki mengendus aroma rambut Raisa yang wangi hingga membuat Diki terhanyut untuk terus menikmati wanginya rambut Raisa. Entah shampo apa yang dipakai Raisa, Diki jelas menyukai wanginya.


"Kamu mencoba menutupi sesuatu dariku, kalau kamu merasa tidak ada yang perlu disembunyikan. Telepon di depanku. Siapa yang tahu jika seseorang dari masa lalumu mengusik ketenangan kita" Diki bicara di telinga Raisa, itu terasa menggelitiknya.


"Tidak mungkin." Raisa membantah dengan cepat. Ia yakin telah memblokir nomor Irfan.


Di saat mereka terus berdebat, telpon tetap berdering dengan nyaring.


"Coba aku lihat ponselmu, jika kamu merasa tidak ada yang disembunyikan dariku. Biar aku yang menjawabnya." Diki segera meraih tangan Raisa yang sedari tadi masih menggenggam ponselnya dan belum menjawab panggilan itu.


"Tidak, biar aku saja yang melakukannya." Dengan terpaksa Raisa menelpon di depan Diki. Ia pikir setelah itu Diki akan melepaskannya tapi nyatanya tidak. Raisa tetap ditahan untuk berada di pangkuan Diki.


Ketika Raisa melihat layar ponselnya tidak ada nama di kontak Raisa, itu nomor baru. Tanpa ragu, Raisa menjawabnya. "Halo..."

__ADS_1


Diki memasang telinganya begitu dekat di sisi Raisa, dengan seksama ia menguping secara terang-terangan. Sebenarnya Raisa terlihat risih tapi apa daya dia begitu pasrah.


Untuk menghilangkan kecurigaan Diki, Raisa menekan loudspeaker. Dari seberang telepon terdengar suara pria, "Raisa..."


Gelombang panas menyeruak dari dalam dada Diki, lalu ia menyipit. Rasa dingin melintas di mata gelap Diki. Hah?!! Jelas itu suara seorang pria. Siapa yang menelpon Raisa malam-malam begini?


Mendengar suara pria, Raisa terkejut. Ia tahu, pasti Diki akan berprasangka buruk padanya. Raisa mencoba untuk tetap tenang lalu ia bertanya, "Siapa?"


Bukan hanya wangi shampo tapi aroma tubuh Raisa begitu menyenangkan, Diki terus menghirupnya sambil menguping pembicaraan Raisa.


"Kamu keponakan Fatma, iya kan?"


"Betul, maaf kamu siapa? Aku tidak kenal"


Dari seberang terdengar suara tertawa tapi mengerikan, "Bagus, ternyata aku tidak salah. Apa kamu tahu wanita itu berhutang padaku 100 juta, dia bilang kamulah yang bertanggung jawab atas hutangnya"


"Apa? Hutang apa?" Raisa terkejut dan hampir saja menjatuhkan ponselnya, begitu mendengar ada yang menagih hutang padanya di waktu yang tidak tepat, apalagi didengar oleh Diki. "Aku tidak tahu sama sekali masalah itu. Kenapa harus aku? Tanyakan saja langsung sama tanteku"


"Dia menghilang, aku sudah mencarinya lalu aku mendapat info bahwa kamu adalah keponakan Fatma. Perempuan si*lan itu sudah menipuku, kamu harus membayarnya"


"Tidak mungkin, aku tidak tahu masalah di antara kalian. Sebaiknya kalian hubungi pamanku, saja" Raisa mendengus kesal.


"Cih... pamanmu juga menghilang, kalian semua keluarga penipu. Aku minta pertanggungjawaban dari kalian salah satu keluarganya. Apa perlu kita ketemu?"


"Aku tidak mau, aku harus bertanya dulu pada pamanku. Siapa tahu kamulah yang penipu"


Pria yang menelpon Raisa marah saat Raisa menuduhnya balik, "Kalau kalian tidak mau bayar, kamu saja sebagai jaminannya. Aku akan bermurah hati menerima wanita cantik dan menukarnya dengan hutang 100 juta. Bosku bilang dia menyukaimu." Setelah itu pria di sana tertawa keras seolah mengejek dan merendahkan Raisa.


Mendengar ucapan tidak tahu malu dari pria yang menelpon Raisa jelas mengundang ledakan emosi di dada Diki. Siapa orangnya yang berani berkata begitu? Segera Diki langsung mengambil ponsel Raisa lalu Diki memakinya, "Hei!!! Kalau berani kau hadapi aku!"


Setelah itu...tut...tut...tut...

__ADS_1


Sayangnya sambungan telpon terputus, entah dia dengar atau tidak perkataan Diki yang jelas Diki sangat marah. Bagaimana bisa istrinya akan dijadikan jaminan hutang? Kurang ajar! Kemarahan Diki mencapai batasnya.


Kemudian dia beralih pada Raisa untuk memastikan, apakah Raisa akan menyelesaikan masalah itu sendiri dan menanggungnya sendiri sama seperti sebelumnya atau tidak?


Cengkeraman lengan Diki yang mengendur dimanfaatkan Raisa untuk bangun dan melepaskan diri dari pelukan Diki.


Raisa berdiri lalu berbalik menghadap ke arah Diki, ia terdiam sejenak. Raisa bingung ingin bicara. Sebenarnya Diki juga sudah mendengarkan langsung jadi tanpa Raisa menjelaskannya tentu Diki sudah tahu masalahnya. Ia hanya malu, bahwa keluarganya selalu membuat masalah.


"Apa yang ingin kamu katakan padaku?" Diki terus menatap Raisa.


"A–aku... ehm, besok aku mau menemui Paman dan membicarakan masalah ini"


"Apakah kamu akan bertindak sendiri lagi? Bagaimana jika mereka adalah lintah darat yang mengerikan. Jelas itu akan membahayakan dirimu"


Raisa menunduk, sebelum berkata lagi.


"Memintalah padaku, aku yakin kamu membutuhkan bantuanku." Dengan sikap angkuh, Diki seakan menekan Raisa yang membuatnya tidak punya pilihan lain. Sebenarnya Diki ingin memanfaatkan momen ini.


"Tidak, aku masih memiliki sedikit tabungan dan itu..."


"Hah?! Itu apa?" Diki terdengar tidak sabar dan ada rasa kesal. "100 juta bukan uang yang sedikit, seberapa banyak tabunganmu?"


"Pokoknya besok aku harus menemui Paman dan tante untuk memastikan kebenarannya, bisa jadi orang tadi penipu dan mengaku memiliki sangkutan hutang piutang"


"Baiklah, kamu konfirmasi dulu sama Paman dan tantemu. Baj*ngan itu telah lancang, kalau dia berani melakukan sesuatu padamu, aku yang akan menghadapinya"


---


---


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2