MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 27. PERTEMUAN RAISA


__ADS_3

Diambilnya kunci mobil, lalu Diki bergegas keluar mencari Raisa. Diki mengkhawatirkan Raisa, tidak biasanya dia belum pulang melewati batas jam malam yang diijinkan Diki jam 9 malam. Pasti ada sesuatu.


Diki berkeliling mencari Raisa, tersirat wajah penyesalannya. Juga ada rasa takut hinggap di pikirannya seandainya Raisa tak mau kembali pulang ke rumahnya.


Di saat Diki cemas mencari Raisa sebenarnya Raisa sedang dalam perjalanan pulang setelah menemui keluarga besar Prasetyo. Tapi sayang tidak menghasilkan titik temu. Mereka tetap dengan keputusannya untuk membawa kasus ini ke jalur hukum.


Raisa tahu Rian telah bersalah tapi ia hanya berharap keluarga Prasetyo mau memaafkannya dan menyelesaikan secara kekeluargaan.


Selama perjalanan pulang, Raisa masih mengingat pertemuan tadi dengan salah satu anggota keluarga Prasetyo.


Saat itu...


"Seorang wanita datang sendiri ke sini dan mengaku sebagai kakak sepupunya Rian. Sungguh keberanian yang harus aku acungkan jempol. Sebelumnya tidak ada orang yang berani untuk berhadapan dengan keluarga Prasetyo seperti ini" ucap Seorang pria yang meremehkan.


"Yah, namaku Raisa dan aku mewakilkan Rian untuk minta maaf. Dan kita bisa bicarakan masalah ini secara baik-baik serta kekeluargaan" Raisa bernegoisasi.


"Apa kamu pikir keluarga aku akan memaafkan kesalahan yang sudah diperbuat oleh adikmu begitu saja? Hah?!! Jangan mimpi!" Pria muda itu lalu berdiri dengan arogansinya.


Dia adalah Revan-kakak Devin- yang sedang berhadapan dengan Raisa. Orang tua Devin kebetulan sedang tidak berada di rumah jadi Revan lah yang menemui Raisa.


"Terus apa yang harus aku lakukan, apakah keluarga kalian menuntut kompensasi. Berapa yang ingin kalian minta? Aku akan berusaha memenuhinya"


Mendengar itu, Revan tersenyum sinis. Ditatapnya Raisa dari ujung kepala hingga ke kaki. Dengan menyeringai Revan berkata, "Kamu pikir keluarga kita kekurangan uang? Kamu nggak tahu seberapa besar uang yang bisa dihasilkan dari perusahaan keluarga Prasetyo? Bahkan selama puluhan tahun pun kamu bekerja tidak akan sanggup menyamainya" ucapnya congkak.


"Terus apa yang kalian inginkan?"


"Kamu bertanya apa yang kita inginkan? Tentu saja mata dibayar mata juga memberi sedikit hukuman untuk adik kesayanganmu itu. Baru kami merasa puas."


"Tidak, jangan lukai adikku. Kita bisa bicarakan solusi lainnya"


"Solusi apa yang bisa kamu tawarkan?" Sekali lagi Revan meremehkan Raisa. Tapi ada sesuatu dari pandangan Revan yang menatap intens ke arah Raisa. Dirinya mulai tertarik dengan Raisa yang sangat berani.

__ADS_1


"Seberapa parah luka di wajah adikmu? Aku akan mencarikan dokter terbaik untuk mengobatinya. Aku bersungguh-sungguh dengan niatku"


"Memangnya kamu kira kami tidak bisa?" Revan perlahan berjalan mendekati Raisa, ia mengangkat dagu Raisa dengan mendekatkan wajahnya hanya beberapa inchi. "Bagaimana jika kamu menjadi bonekaku? Urusan adikku akan selesai sampai di sini. Aku suka wanita pemberani seperti dirimu bahkan wajahmu ini memiliki daya tarik tersendiri bagiku" Revan mencoba merayu Raisa.


Tatapan Revan tertuju pada mata indah Raisa bagai magnet yang menariknya. Ia memerhatikan wajah mulus Raisa yang membuat tangannya gatal ingin menyentuhnya.


Raisa menepis tangan Revan yang hendak mengelus pipinya, sontak saja tindakan berani Raisa membuat Revan ternganga. "Maaf, yah. Aku ini sudah menikah jadi tidak tertarik dengan tawaranmu" Raisa menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Revan tertawa sarkastik, "Kamu mencoba menolakku? Kamu tidak tahu ada berapa wanita yang mengincarku tapi diriku sudah bermurah hati menawarkan kesempatan padamu tapi kamu malah menolaknya. Hah?!!" Harga diri Revan merasa terinjak-injak oleh sikap Raisa yang tegas.


"Aku sungguh tidak tertarik pada tawaranmu, jika hal menjijikkan yang kalian minta. Jangan berharap aku akan menyanggupinya"


"Apa menjijikkan? Kamu pikir kamu siapa?" sambung Revan, dirinya tersulut emosi.


"Aku punya niat baik yah datang kemari tapi ternyata respon kalian seperti ini?" Raisa berdiri, sikapnya seakan menantang Revan. "Aku jadi mengerti kenapa Rian menghajar wajah adikmu, mungkin karakter kalian yang sama. Dan aku mengenal Rian, dia tidak akan memulai tanpa alasan. Tidak ada asap tanpa api. Jadi sepertinya adikmu penyebabnya"


"Hei!!! Kamu berani bicara sembarangan. Kamu tidak takut aku akan melakukan sesuatu yang mengerikan untuk memberikan pelajaran untukmu?"


Raisa keluar dengan melemparkan senyuman sinisnya.


"Berani sekali dia" umpat Revan dengan kesal. "Raisa, kamu tidak tahu siapa keluarga Prasetyo. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu"


Revan diam memandangi siluet Raisa yang perlahan meninggalkannya. Ada bara panas yang membakar hatinya, selama ini Revan tidak pernah menerima penolakan dari seorang wanita. Jika dia mau wanita manapun bisa ia taklukan. Kali ini Raisa membuatnya terlihat pria pecundang. Revan tidak akan membiarkan itu.


"Jay, Ikuti dia!!!" titah Revan pada bodyguardnya.


"Siap, Tuan muda"


Revan tidak peduli jika wanita itu sudah atau belum memiliki pasangan selama Revan yang menginginkannya tak ada satupun orang mampu menghalanginya untuk memiliki wanita yang akan menjadi targetnya. Terlebih Raisa menolaknya secara mentah-mentah membuatnya mulai tertantang. Revan menyukai tantangan ini.


"Kita lihat Raisa, kamu tidak akan bisa lepas dari cengkeramanku. Bagaimana reaksi suamimu jika istrinya sedikit aku ganggu" Revan menyeringai dan tertawa penuh licik tergambar di wajahnya.

__ADS_1


Dan itulah kejadian sebelumnya yang terjadi.


Kini Raisa menjadi target Revan. Raisa tidak tahu ia sedang dalam bahaya, Revan memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti Raisa.


Ini sudah malam bagi seorang wanita berada di luar. Perjalanannya ke rumah membutuhkan waktu hingga kini Raisa masih belum sampai. Raisa tidak menyadari dua orang pria suruhan Revan sedang menguntitnya dan menunggu Raisa lengah.


Di tempat yang berbeda, Diki benar-benar cemas masih belum menemukan Raisa. Diki mulai frustasi, perasaannya diliputi rasa bersalah.


Juga perasaan Raisa mulai tak enak, kenapa sejak ia naik bus dua orang pria di belakangnya terus berada di tempat yang sama dengan Raisa. Raisa duga ada yang tidak beres. Mereka menguntitnya, Raisa mulai menyadari itu saat dua kali turun naik dari bus transkota.


Raisa mulai waspada dan tidak membiarkan dirinya dalam kondisi sendirian. Meski sudah malam Raisa yang cerdik berusaha mencari tempat keramaian.


Ia mengambil ponsel di tasnya berniat menghubungi Diki tetapi betapa terkejutnya Raisa ternyata ponselnya mati sepertinya ponselnya lowbet.


Raisa mulai tak nyaman karena diawasi terus oleh orang yang tak dikenal. Jantungnya terus berdetak kencang. Raisa berusaha menenangkan dirinya yang mulai panik dan takut.


Diki hampir menyerah mencari Raisa. Dia berputar arah kembali ke arah jalan pulang menuju rumahnya.


Diki dan Raisa belum saling bertemu, hingga akhirnya Raisa disergap oleh dua orang yang mengikutinya. Raisa berhasil ditangkap.


"LEPASKAN!!!" pekik Raisa.


Raisa tak mampu meloloskan diri dari cengkeraman erat dua pria berbadan kekar.


-----


-----


Bersambung....


JANGAN LUPA LIKE, FAVORIT DAN KOMENTARNYA YAH!!!

__ADS_1


BIAR AUTHOR SEMANGAT NULISNYA MESKI REPOT


__ADS_2