MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 73. TRAGEDI DI PESTA


__ADS_3

Beberapa saat setelah itu, Raisa merasakan tubuhnya sedang bereaksi. Ini membuatnya sangat tidak nyaman.


Rio pun dari tadi belum juga muncul. Raisa mulai frustasi dan cemas, dia merasakan ada yang tidak beres tetapi ketika pandangannya dialihkan ke arah yang lain, terlihat semua orang sedang menikmati makanan dan minuman tanpa ada yang aneh. Mereka semua nampak biasa saja berbeda dengan yang dirasakan Raisa.


Raisa mulai berkeringat dingin, dia khawatir akan berbuat diluar kendalinya karena tubuhnya bereaksi dan sulit dikontrol. Rasanya gejolak panas menyeruak. Raisa pun keluar ruangan lalu mencari toilet.


Ada seorang pria yang memerhatikan Raisa dari kejauhan, dia tidak menyangka melihat Raisa di pesta ini. Pria itu merasa aneh dengan tingkah Raisa kemudian dia mencoba mengikuti Raisa secara diam-diam.


Ternyata begitu pria itu mengikuti Raisa, sesuatu mengejutkan. Pria itu mendapati bahwa ada orang lain yang juga mengikuti Raisa, gelagatnya sangat mencurigakan dan nampak sedang menelpon secara sembunyi, "Tuan Revan, target memasuki toilet wanita. Aku sudah mengintainya, sepertinya obat itu sudah mulai bereaksi."


Pria itu tercengang begitu selesai menguping, rupanya Raisa jadi target kejahatan Revan, dia pun jadi geram. Sepertinya pria itu harus bertindak lebih dahulu sebelum seseorang membawa Raisa.


Sesampainya di toilet wanita, berkali-kali Raisa menyiram wajahnya, masih saja merasakan panas dan tidak nyaman seolah dia menginginkan sesuatu. Raisa bingung bagaimana untuk meredakan panas di tubuhnya. Raisa membuka clutch bagnya dan mencoba mengambil handphone, namun penglihatannya tidak bisa fokus. Handphonenya pun terjatuh.


Rio tidak tahu bahwa Raisa berada di toilet wanita yang letaknya bersebelahan. Rio keluar toilet ketika Raisa masuk jadi mereka tidak bertemu. Begitu memasuki ruangan tempat pesta, Rio tidak melihat Raisa. Dia pun panik dan langsung mencari Raisa. Raisa lepas dari pengawasan Rio, ini gawat, pikirnya. Ada banyak bahaya yang mengintai saat Rio lengah dari beberapa orang yang mengikuti Raisa.


Raisa merasakan suhu tubuhnya terus meningkat dan wajahnya mulai memerah. Sambil tubuhnya terus bereaksi, Raisa memikirkan makanan yang dia makan tadi.


Apakah Vera ingin menjebaknya ke dalam kehinaan?


Kepala Raisa mulai pusing dan penglihatannya agak kabur. Raisa semakin tidak kesulitan untuk mengontrol tubuhnya.


BRAK!


Seorang pria mendobrak pintu toilet, dia terpaksa masuk setelah meminta para wanita untuk keluar dengan memanfaatkan waktu sempitnya di saat musuh lengah.

__ADS_1


Pria itu tertegun mendapati Raisa dalam kondisi yang hampir tidak berdaya. Raisa tertunduk di depan wastafel dengan air kran yang terus mengucur.


Pria itu yakin, Raisa sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja.


Dengan sigap pria itu membopong Raisa dan kemudian mengambil clutch bag milik Raisa yang tergeletak di lantai. Pria itu tidak menyadari bahwa handphone Raisa tidak terbawa.


Raisa yang hampir tidak sadarkan diri, dirinya pasrah dibawa oleh seorang pria, Raisa tidak melihat dengan jelas siapa pria itu. Mata Raisa terpejam, membayangkan adegan Diki yang saat itu pernah menolongnya setelah terjadi penyerangan. Tanpa rasa malu, Raisa melingkarkan tangannya ke leher pria itu.


Sementara di tempat berbeda, Rio merasakan fillingnya aneh karena tadi tak sengaja melihat Revan berada di pesta ini, Rio cemas Revan akan balas dendam.


Tanpa pikir panjang, dengan cepat Rio kembali ke toilet tadi, setelah itu dia dengan jelas seseorang membawa Raisa pergi. Rio berlari mengejar pria itu, sayangnya dia bertubrukan dengan pria lain yang juga sedang mengincar Raisa. Keduanya sama-sama kalah cepat tidak mendapatkan Raisa.


Rio melihat pria yang tadi bertubrukan, ikut berlari mengejar. Rio menduga pria itu juga musuhnya lalu Rio menghalangi pria itu dan mereka terlibat perkelahian sengit.


"M–maaf, Tuan. Seseorang membawanya pergi dan aku dihalangi oleh dia," Anak buah Revan yang sudah babak belur dihajar menunjuk ke arah Rio.


"Apa?!!!" Revan marah. Emosinya meluap, dia membenci sebuah kegagalan. Revan pun mencengkeram kerah anak buahnya yang tidak becus. Kemudian Revan beralih menatap Rio dengan mengerutkan alis, Revan merasa asing. "Siapa kamu?"


Dari sinilah Rio tahu, ternyata memang benar Revan ingin menjebak Raisa. Tak mau buang waktu, Rio bergerak cepat untuk menghajar Revan dan anak buahnya. Meski Rio sendiri tetapi ilmu beladirinya di atas mereka, jadi dengan mudah Rio melumpuhkan musuh. Setelah selesai menghajar, Rio berbalik lalu mulai mengejar pria yang membawa Raisa.


Revan yang kalah, mencoba mengambil senjata di balik jasnya lalu menarik pelatuk dan menembakannya ke arah Rio secara bertubi-tubi. Beberapa tembakan meleset namun ada satu yang mengenai sasaran. Lengan Rio terluka, dia terkena timah panas yang meluncur ke arahnya.


Dengan tangan terluka, Rio tetap berlari dan terus melakukan pengejaran. Sialan! Rio mengumpat, dia merutuki dirinya yang bodoh dan lalai menjaga Raisa. Rio kehilangan jejak. Raisa hilang dibawa oleh seorang pria tak dikenal.


Tak kehabisan ide, Rio mencoba melacak Raisa dengan GPS setelah itu dia tahu bahwa titik itu ada di toilet wanita. Berarti kemungkinan Handphone Raisa terjatuh di sana. Kalau sudah begini, Rio benar-benar kehilangan Raisa, dia tidak tahu harus mencari kemana.

__ADS_1


Rio mendengar suara langkah orang banyak, dia tahu bahwa Revan dan anak buahnya pasti sedang mencarinya. Rio kembali ke toilet secara diam-diam untuk mengambil handphone Raisa lalu pergi ke parkir. Setelah itu Rio langsung tancap gas.


******


Di dalam sebuah mobil, Raisa mulai tidak bisa berpikir rasional. Dia tiba-tiba ingin menci*m Diki.


Begitu menoleh, Raisa langsung menarik baju si pria yang sedang menyetir. Pria itu mengetahui Raisa berbuat aneh, dia hanya diam tetapi suhu tubuhnya meningkat dan wajahnya memerah. Raisa terlihat sedang menggodanya. Raisa memang cantik dan mempesona.


"Diki..." gumam Raisa yang terus dibayangi oleh wajah Diki.


Karena Raisa terus menggoda, pria di sebelah Raisa lalu menghentikan mobil, dia menengok ke arah Raisa dan ditatapnya dengan dalam. "Raisa, aku akan bertanggungjawab apapun yang terjadi. Aku mencintaimu."


Mobil itu menepi, dengan diterangi cahaya lampu penerangan jalan. Suasana malam kian terasa romantis.


Raisa yang masih berilusi tentang Diki, kemudian dia mencoba menarik pria itu dan mendekatinya secara liar. Jemari Raisa yang lentik bermain dan menelusuri lalu mencoba membuka kemeja yang dikenakan pria itu. Raisa sudah hampir sulit untuk mengontrol gejolak panas di tubuhnya.


Tertegun dengan tingkah Raisa, pria itu seolah ingin memanfaatkan situasi. Kapan lagi kesempatan ini datang. Pria itu tidak peduli dengan status Raisa asalkan saat ini dia bisa menikmati malam yang panjang bersama Raisa.


Pria itu berharap hubungan Raisa akan berakhir dengan Diki setelah ini. Dia tersenyum penuh kemenangan karena sebentar lagi Raisa akan berada dalam genggamannya.


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2