
"Mengenai pertemuan anggota malam ini, kira-kira pukul berapa ya, Pak?"
"Pukul 10 nanti kamu menjemputku ke rumah," jawab Diki. Lalu Diki segera memutuskan sambungan telepon begitu saja. Diki melihat waktu lalu dia menghitungnya. "Masih lama, aku masih punya waktu untuk bersenang-senang dulu," gumam Diki dengan senyum sumringah.
Di dalam kamar, Raisa sedang mencari sesuatu karena suara handphone Diki tadi telah menyadarkan Raisa bahwa handphonenya tidak ada. Raisa berusaha mengingat, lalu mencari clutch bagnya yang pernah dia pakai saat ke pesta. Begitu Raisa mencari, ternyata tidak ada juga. Pantas saja seharian ini Raisa sudah mencari handphonenya tidak kunjung ditemukan, yang Raisa ingat handphonenya ada di clutch bagnya itu.
Diki membuka pintu kamar kemudian dia perlahan menghampiri Raisa yang sedang duduk di tepian ranjang. "Raisa, kamu melamun?"
Raisa menggeleng, sebenarnya dia masih memikirkan clutch bag dan handphonenya yang hilang. Dia tidak ingat meninggalkannya dimana, apakah di toilet atau di mobil Irfan? Raisa terlihat gelisah.
Diki mendekatkan wajahnya dan menarik dagu Raisa, mata mereka bertemu pandang. Iris mata cerah Raisa memancarkan keindahannya. "Kamu terlihat aneh, apakah kamu tegang?" Suara Diki berat dan magnetis.
Raisa menelan ludahnya, wajah Diki terpampang jelas di matanya. Pesona tatapan Diki mampu menggetarkan hati hingga membuat jantung Raisa berdebar.
"Kamu tidak perlu setegang itu, aku akan bermain lembut. Malam ini, biarkan aku yang mendominasi permainan. Kamu ikuti saja, oke?!" Suara Diki seakan menghipnotis Raisa yang diam tak menjawab.
Diki menarik sudut bibirnya, dia suka tampilan wajah Raisa yang polos, karena itu bisa menaikkan suhu panas di tubuh Diki. Dia semakin tidak tahan. Kemudian Diki menerkam Raisa seperti anjing besar.
Raisa membuka bibirnya dan ingin berkata, "Di—"
Belum sempat Raisa mengatakannya, dengan secepat kilat Diki menyambarnya. Bibir merah merekah Raisa terlihat menggoda.
Mereka hanyut dalam buaian asmara yang membara. Malam yang panas ini Diki sangat menginginkan Raisa. Mereka menikmati momen kemesraan tiap detiknya.
Setelah melakukan aktivitas yang menguras keringat, keduanya membersihkan diri di kamar mandi.
Dengan masih memakai bathrobe, Diki berjalan menuju lemari. "Malam ini, aku akan keluar ada keperluan. Maaf kalau harus meninggalkanmu sendirian di rumah." Setelah berkata, kemudian Diki berbalik menghadap Raisa yang tengah duduk di bangku meja rias.
"Ya, tapi kalau boleh tahu, kenapa belakangan ini kamu sering keluar malam? Kesibukan apa yang sedang kamu kerjakan?" Raisa mendongak menatap ke arah Diki, menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambut dengan hairdryer. Raut wajahnya dipenuhi kecurigaan.
Ditatap dalam oleh Raisa, kening Diki berdenyut. Dia tidak bisa memberitahu alasannya dengan gamblang. "Urusan penting mengenai pekerjaan," jawab Diki beralasan lalu memalingkan wajahnya dan dia kembali mengarah ke lemari sambil mengambil pakaian yang akan dipakai.
__ADS_1
"Pekerjaan?" Nada Raisa terdengar seolah tak percaya.
"Hmm..." Dengan cepat, Diki selesai berpakaian bahkan Raisa masih saja memegang hairdryer. Diki keluar kamar dengan menyisakan banyak pertanyaan di benak Raisa.
Pekerjaan apa? Memangnya tidak ada waktu dikerjakan besok?
Selang beberapa waktu kemudian, Rio datang menjemput. "Selamat malam, Pak!" sapa Rio yang berdiri di pintu ruang tamu. Mata Rio sambil mencari Raisa, dia ingin mengembalikan handphone milik Raisa yang ditemukan di toilet wanita.
Tak lama Raisa keluar dan dia berada di belakang Diki. Rio juga secara spontan menyapa, "Selamat malam, Bu Raisa."
Diki dan Raisa menjawab bersama, "Malam."
Raisa tiba-tiba mencoba bertanya pada Rio, "Ehm... Rio..."
"Pakai mobil itu saja," Diki menyela Raisa dan menunjukkan mobil sportnya, itu artinya mobil Rio ditinggal di garasi rumah. Mobil sport Diki memang jarang digunakan bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali Diki menggunakannya.
Rio mengerti kode yang diberikan Diki. Dia tidak akan ceroboh.
"Kalian berdua mencoba menyembunyikan sesuatu di belakangku, ya?" Raisa melirik ke arah Diki dan Rio dengan tangan bersedekap, sikap Raisa seperti ingin menginterogasi keduanya.
"Iya, Bu. Ada urusan pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan malam ini." Rio mencoba membantu menyelamatkan martabat Diki.
Diki menghela napas lega, rupanya Rio bisa diajak kerjasama dengan baik.
Meski sudah dibantu Rio untuk menjelaskan, Raisa masih saja memandang keduanya dengan tidak percaya. Insting seorang wanita itu tajam. Pria tidak akan mampu untuk membohongi wanita dengan mudah. Sekian detik Diki dan Rio tegang, seketika ada angin segar datang menghampiri.
"Baiklah," Raisa tidak mau memperpanjang urusan perihal kecurigaannya.
Setelah mendengar kata 'baiklah' dari bibir Raisa, Diki dan Rio seolah sudah melepas beban di dada. Hampir saja mereka keringat dingin.
"Ayo, kita berangkat Rio!"
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Pak. Aku mau mengembalikan sesuatu pada Bu Raisa." Rio merogoh sakunya dan mengambil handphone lalu menyerahkannya pada Raisa. "Handphone milik Anda ketinggalan."
Raisa terhenyak sesaat, kemudian menyadarkan diri sendiri. "Oh, iya. Makasih." Raisa bersyukur ternyata handphonenya ada pada Rio, tetapi tunggu, 'kenapa hanya handphone saja? Mana clutch bagnya?' Raisa bertanya dalam hati. Dia ingin mengungkapkannya namun ada Diki. Situasi ini tidak bagus.
"Maaf, Bu. Saat itu aku telah lalai menjalankan tugas dan tak sengaja menemukan handphone ini tergeletak di toilet." Rio berbicara pelan agar Diki yang sudah berada di dekat mobil tidak mendengar percakapannya dengan Raisa.
Jejak kepanikan melintas di mata Raisa. Raisa cemas Rio mengetahui sesuatu, jadi dia sedikit berbisik pada Rio. "Rahasiakan apa yang kamu lihat!"
"Aku mengerti, Bu Raisa." Rio tidak mungkin menghancurkan hubungan Diki jadi dia memilih untuk memendam apa yang diketahui. Mendengar penuturan Raisa, Rio semakin yakin bahwa yang dia lihat memang benar, saat itu Raisa dibawa oleh pria asing. Namun yang jadi pertanyaan besar di benak Rio, mengapa Raisa bisa ada di rumah saat malam itu. Apakah pria asing itu adalah suruhan Diki? Rio tak tahu dan tak mau mengetahui lebih jauh.
Rio berbalik dan menuju mobil. Sebelum berangkat, Rio dihadang dengan pertanyaan Diki.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?"
"Hanya terima kasih," jawab Rio singkat kemudian dia fokus menyetir.
Mobil itu melesat dengan cepat dan hilang dari pandangan Raisa.
Saat Diki sudah pergi, Raisa mendapat notice chat di handphonenya. Raisa langsung mengeceknya. Sebuah photo telah membuat mata Raisa melebar, dia terkejut melihat photo tersebut. Sial! Raisa mengumpat. Clutch bagnya ada pada Irfan. Baru saja Irfan memposting photo dan memberitahu pada Raisa melalui chat.
Bagaimana kalau Irfan mencoba kembali membuat masalah? Raisa mulai berkeringat dingin dan frustasi. Padahal hubungan Raisa dan Diki sedang harmonis.
----
----
Bersambung...
Note :
Terima kasih kepada para readers atas dukungannya terhadap karyaku ini yang masih banyak kekurangannya terutama bab awal yang tanda baca masih banyak yg harus direvisi.
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutan ceritanya, akan ada banyak konflik yang bermunculan.
Jangan lupa like, subscribe dan votenya yah agar author semangat menulis dan selalu dilimpahkan kesehatan biar bisa update dengan cepat.