MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 6. MANTU IDAMAN


__ADS_3

Karena rapat membahas launching produk baru yang memakan waktu lama hingga malam tiba, Diki tidak sempat mengecek ponselnya yang ternyata ada sepuluh panggilan tak terjawab. Tadi di ruangan rapat ponselnya di silent.


"Ya ampun, mama nelpon tadi sore. Ada apa yah?" Diki mulai panik.


Diki mencoba menelpon balik mamanya, dia khawatir takut terjadi sesuatu.


[Halo, Mah. Tadi mama nelpon ada apa? Aku tadi rapat trus ponsel aku silent dan nggak sempat ngecek ponsel]


[Cepatlah pulang, mama menunggu di rumahmu sekarang]


[Iya, Mah]


Diki langsung tancap gas pulang. Dia cemas mamanya pasti sudah menunggu depan pintu pagar sejak sore. "Lagipula kenapa begitu mendadak maen ke rumah tanpa kasih kabar dulu" gumam Diki sambil memainkan stirnya.


Tak berselang lama, Diki sudah sampai depan gerbang tapi tak mendapati keberadaan mamanya. Dia pun semakin bingung akhirnya menelpon lagi ke mamanya.


[Halo, Mah. Ada dimana? Katanya ke rumah ku. Aku udah sampe nih tapi nggak liat mama]


[Mama di rumah kekasihmu, Raisa. Cepatlah kemari]


[Raisa? Dimana?] Diki dibuat semakin tambah bingung, tidak mengerti ucapan mamanya.


[Kos-kosan belakang rumahmu lho, malah nanya]


Diki menutup sambungan ponselnya langsung menuju tempat yang dikatakan mamanya. Dalam perjalanannya melangkah menuju kos-kosan, benaknya bertanya. "Raisa? Kekasih? Apa gadis itu?" Diki menduga. "Awas aja, dia udah ngomong yang macam-macam,"


Diki bertanya pada pemilik kos-kosan, sebelah mana yang ditempati Raisa. Pemilik itu memberi tahu Diki tempat Raisa. Dan tanpa perlu berlama-lama Diki mengetuk pintu kos-kosan Raisa. Benar saja Raisa-si gadis pengganggu Diki- membuka pintu dan di belakang muncul mamanya.


"Mama?"


"Ah, Diki kamu sudah pulang. Sini masuk dulu, tadi mama nungguin kamu lama banget. Untung tak sengaja bertemu Raisa jadi mama menunggu di sini."


Raisa tersenyum menyambut muka masam Diki, "Sini! Mau masuk dulu nggak? Maaf tempatku sempit"


"Ayo, Mah kita pulang"


"Yaaah tapi mama betah di sini, tadi ngobrol banyak sama Raisa"

__ADS_1


Nampaknya Diki tidak suka, apalagi Raisa mengaku kekasih. Sejak kapan? Diki memendam emosinya di depan mamanya tapi Raisa menunjukkan wajah cerahnya seakan mengejek Diki.


"Ya udah, Raisa nanti kita lanjut ngobrol lagi. Apa kamu mau ikut kami?"


"Iya, Tante. Aku di sini aja Tante, nggak enak udah malam main ke rumah pria kesannya kurang baik."


Mendengar itu, Bu Lidia- Mama Diki- makin terkesan. Bu Lidia tersenyum pada Raisa, "Baiklah, Tante pulang dulu. Makasih ya"


"Sama-sama Tante, nggak usah sungkan sama aku"


Diki dibuat tak percaya melihat pemandangan depan matanya, hubungan antara Raisa dan mamanya nampak akrab.


"Oh iya," celetuk Raisa tiba-tiba hingga menghentikan langkah Diki dan Bu Lidia mendengarnya.


"Ada apa?" tanya Diki dengan ketus


"Kotak bekalnya dibawa nggak? Nggak apa-apa belum dicuci juga, biar aku aja yang cuci bekasnya kan besok buat diisi lagi"


"Hah?!" Diki menarik alisnya ke atas


Bu Lidia pun juga terkejut mendengar itu, ia mengira Raisa begitu memerhatikan anaknya hingga dibuatkan bekal. Dalam bayangannya, Raisa memang calon mantu idaman seketika wajahnya berbinar-binar.


"Aduuh apa-apaan sih mama, bisa-bisanya ngomong begitu. Dia itu tidak seperti..."


"Ah Tante, itu mah biasa aja kok. Lagian kasian makan makanan kantin terus yah sekali kali aku buatkan makanan untuk memenuhi asupan gizinya" Raisa langsung memotong perkataan Diki.


"Tante senang sekali mendengarnya" ujar Bu Lidia "Diki, apa masakan Raisa enak? Kalau enak mama mau ngundang Raisa minggu depan untuk maen ke rumah mamah"


"Mamah?!!" Diki mencoba menghentikan mamanya selalu saja dia kalah di antara mama dan Raisa. Keduanya saling bicara tak menghiraukan suara Diki.


"Boleh Tante" sahut Raisa


"Hei!" Diki mengarah ke Raisa


"Bagus, nanti Tante telpon kamu"


"Mamah, udahlah. Dengarkan aku mah, nggak usah ajak dia"

__ADS_1


"Ssst, ah. Kamu berisik, udah diem aja. Ini urusan perempuan, kamu lelaki ngga usah ikut campur"


Saat wajah Bu Lidia membelakangi Raisa, Raisa memunculkan wajahnya dan melempar senyum kemenangan pada Diki dengan alis yang bergerak naik turun. Dan Diki yang melihat itu semakin kesal dan geram karena ulah Raisa yang mulai masuk ke kehidupannya bahkan keluarganya. "Awas kau, yah" ancam Diki dengan suara kecil pada Raisa.


Raisa malah semakin senang saat Diki tak berkutik dan hanya mengikuti perkataan mamanya.


"Besok ku kembalikan, kotak bekalmu tertinggal di kantor" ucap Diki sebelum melangkah pergi, raut wajah Raisa berubah. Sedikit kesal kalau mendengar kotak bekal ketinggalan, dia harap nggak hilang. Sengaja Diki bicara begitu, dia tahu kalau wanita pasti sedikit kesel mendengarnya karena memang mamanya juga begitu. Yah mungkin sesama perempuan memiliki kecenderungan yang sama. Diki menarik sudut bibirnya tanpa Raisa ketahui.


"Tante pulang dulu ya Raisa.Wassallamualaikum" Bu Lidia memutar tubuhnya ke Raisa dan mengucapkan salam pamit.


"Wa'alaikumussalam," jawab Raisa sambil memandang kepergian Diki dan Bu Lidia yang pulang.


Di jalan menuju rumah Diki, mamanya terlihat bahagia mungkin karena ia pikir anaknya sudah punya kekasih dan ternyata kekasihnya calon mantu idaman. Diki hanya diam memerhatikan wajah mamanya yang sumringah, bertanya pun dia malas takut malah ditanya balik.


"Kapan kamu akan menikahinya?" celetuk Bu Lidia tiba-tiba mengagetkan Diki


"Si-siapa yang mama maksud?"


"Yah siapa lagi, Raisa lah. Mamah nggak nyangka kamu menutupi hubunganmu dari mama. Padahalkan mama selalu nunggu kabar gembira ini, ditambah pilihanmu top sekali. Mama senang"


'Aduh, apa yang udah dia lakuin hingga bikin mama ku seperti ini?' Diki membatin.


"Itu nggak mungkin, Mah" lirih Diki


"Apanya yang nggak mungkin, kamu mama jodohin nggak mau sekarang udah punya pilihan sendiri tapi nggak mau nikahin? Bener-bener yah anak mama satu ini, jangan kasih harapan palsu untuknya. Mamah nggak suka. Tau nggak itu menyakiti perasaan dia berarti sama aja menyakiti perasaan mama" Bu Lidia merajuk, lalu masuk begitu saja saat pintu rumah Diki dibuka. Ia tak mengerti dengan putranya yang gila kerja hingga melupakan menikah, apa yang akan dikatakan orang-orang jika putranya terlalu lama sendiri. Bu Lidia malu. Itulah yang ada dipikiran Bu Lidia saat ini ketika mendengar pernyataan tidak masuk akal dari Diki yang tidak mau menikah.


"Ingat, Diki jangan terlalu lama menjalin hubungan itu nggak baik, segera halalkan hubunganmu secepatnya" sambungnya


"Apa???"


"Mamah akan bantu kamu menyiapkan semua prosesi lamaranmu"


"HAH?!!!"


Seharian ini Diki lelah dengan urusan perusahaannya ditambah masalah baru hadir saat ia pulang ke rumah. Tingkat stressnya semakin meningkat. Kepala rasanya mau pecah apalagi mendengar permintaan mamanya yang tidak masuk akal bagi Diki. Mengenal Raisa aja belum malah disuruh nikahin dia.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2