
"Lho Diki udah ada di sini rupanya, kenapa tadi nggak ketuk pintu? Ikut masuk ke dalam. Kita kan lagi ngobrolin tentang urusanmu dengan Raisa" ujar Bu Lidia ketika melangkahkan kakinya melewati Diki.
Diki dengan sikap dinginnya tak menjawab. Lalu mengiringi Bu Lidia di belakangnya. Wajah Diki terlihat kusut.
"Raisa, tante pamit pulang dulu yah. Pembicaraan kita yang udah disepakati tadi di dalam tinggal pelaksanaannya aja."
"Iya tante"
Diki melirik ke sana kemari memerhatikan Bu Lidia dan Raisa, 'Apa yang udah disepakati mereka berdua?' Diki bertanya dalam hati bikin dia penasaran.
Sesaat setelah berjalan menjauh dari tempat Raisa, Diki pun bertanya maksud ucapan mamanya tadi. "Emang apa yang udah disepakati dengan Raisa, Mah?"
Sebelum Bu Lidia menjawab, ia malah bertanya balik, "Kamu tuh mengikuti mama sebenarnya pengen menguping atau bagaimana? Kok tiba-tiba ada depan pintu bikin kaget"
"Eh?" Ketahuan deh kelakuan si Diki ini, memang intuisi Bu Lidia tajam. Diki yang sok cool tidak mau harga dirinya jatuh mencoba mencari alasan. "Eh...itu ehm...maksudku aku mau..."
"Iya, nggak usah dijelaskan mama ngerti. Begitu aja bingung mau ngomong. Tadi kan mama ngajak kamu, kamunya malah nggak mau. Jadi penasaran kan?" Ledek Bu Lidia
Diki terdiam.
"Harusnya tuh kamu yang bicarakan ini dengannya tapi mama mu juga yang ngurusin"
"Aku kan dari awal memang nggak mau tapi mama selalu memaksa dan bertindak lebih dulu"
"Kita harus bergerak cepat, yah sama halnya dengan bisnis. Waktu adalah uang. Jadi jangan mudah menyia-nyiakan waktu."
"Iya, mah" jika sudah berhadapan dengan mamanya Diki pasti mengalah.
"Oh ya minggu depan kita jadi melamarnya. Setelah Raisa bertemu dengan pamannya yah secepatnya kamu dengan Raisa menikah, nggak usah pake acara tunangan. Kelamaan, mama udah nggak sabar. Kamu tentu setuju kan, Diki?"
"Hah?!! Secepat itu mah, aku pikir butuh waktu beberapa bulan ke depan"
"Kalau nggak cepat-cepat, Raisa keburu dilamar orang lho. Gimana sih kamu ini"
'Emangnya ada yah yang suka dengan gadis macam dia?' Diki tak yakin, seingatnya pertemuan awalnya dengan Raisa saja tidak menyenangkan apalagi mengenalnya lebih jauh. Bahkan sampai saat ini pun Diki tidak dekat dengan Raisa.
UHUK...UHUK... Raisa tiba-tiba keselak. Perasaannya mengatakan ada yang tidak suka dengannya. Siapa lagi kalau bukan pria itu-si Diki- tebak Raisa. Mungkin Diki sedang ngomongin dia di belakang dengan ibunya, yah tapi Raisa tidak peduli. Rencana awalnya ingin memiliki rumah warisan orang tuanya tetap jadi tujuannya.
Pertama yang harus Raisa lakukan mencari keberadaan paman dan tantenya. Mereka menghilang tanpa kabar. Sudah pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Tapi untuk mencarinya tidak begitu mudah. Nomor ponselnya pun tak ada yang aktif. Raisa pikir, mereka sengaja pergi dan memutuskan kontak dengan Raisa agar keberadaannya tak bisa dilacak.
__ADS_1
Bukan Raisa namanya jika otaknya yang cerdas tidak bisa menemukan seseorang. Baginya itu hal kecil, meski sulit Raisa gadis yang pantang menyerah.
Raisa mencoba menghubungi Sarah dan ingin menemuinya jika Sarah ada waktu.
Setelah mendapat sedikit informasi bahwa pamannya masih bekerja di tempat yang dulu, Raisa mencoba ke sana besok pas libur kerja.
****
Tanpa perlu bersusah payah, Raisa akhirnya mendapatkan nomor ponsel pamannya yang baru dari rekan kerjanya.
"Paman, ini aku Raisa" Raisa sedang menelpon pamannya yang akhirnya diangkat.
"Raisa?" Seketika wajah pamannya memucat. Ada raut tidak senang terpancar di wajahnya.
"Iya betul, ini aku."
"Darimana kamu tau nomor baru paman"
"Oh soal itu tentu saja aku mendapatkannya dari teman kerja paman,"
"Lalu ada perlu apa lagi kamu menghubungi paman, hah? Padahal aku nggak mau lagi kamu mengganggu paman"
"Bicara apa? Kalau urusan uang, maaf paman nggak bisa"
"Uang?" Raisa mengerutkan alisnya, ia tidak mengerti saat pamannya mengatakan tentang uang. Apa selama ini Raisa selalu minta padanya? Padahal Raisa sudah hidup mandiri sejak lulus SMA dan tidak pernah bergantung padanya.
"Paman aku mohon kita harus bertemu, dimana kita bisa bertemu?" sambung Raisa
"Aku nggak bisa, aku sibuk" jawab paman ketus
"Kenapa? Jelaskan padaku kenapa paman jadi bersikap begini padahal aku sangat membutuhkan paman" Raisa merasa aneh dari perkataan pamannya yang seolah tersirat kebencian dan tidak mau lagi bertemu Raisa.
"Apapun kepentinganmu jangan hubungi paman lagi, aku bilang nggak bisa ya nggak bisa. Kamu dengar kan Raisa?"
Jujur selama ini pamannya selalu baik padanya, alih-alih berharap pamannya merindukannya ini malah sebaliknya. Raisa tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat pamannya seakan ingin menjauhinya.
"Paman, aku mohon dengarkanku dulu! Kita harus bicara langsung kalau lewat handphone rasanya akan timbul salah paham di antara kita"
"Raisa, sekali lagi maaf jangan kamu hubungi paman lagi...TUT...TUT...TUT..."
__ADS_1
Sambungan telponnya terputus dan nomor nya langsung tidak aktif lagi saat Raisa mencoba menelponnya berkali-kali. Perkataan pamannya menyisakan pertanyaan bagi Raisa. Sesuatu kesalahpahaman sepertinya sedang terjadi. Entah itu apa masalahnya Raisa tak tahu.
Padahal, pamannya adalah satu-satunya saudara yang Raisa kenal dekat. Dia adalah adik dari ayahnya yang sejak dulu selalu menyayanginya.
Raisa lupa menanyakan tempat tinggal pamannya. Ia akan terus berusaha agar bisa menemui pamannya.
*****
Raisa berjalan sendiri di pinggir jalan yang tengah sepi, ketika melihatnya seperti itu entah kenapa mengalihkan perhatian Diki yang lewat dengan mobilnya. Rasa penasaran menguasainya.
Awalnya tak sengaja Diki hanya memantau gerak gerik Raisa dari dalam mobil dari arah yang bersebrangan. Terlihat ada beberapa pria berpenampilan aneh tengah mendekati Raisa dan itu membuat Raisa merasa risih. Para pria itu mencoba mengganggu Raisa.
Para pria itu tampak berbuat tidak baik pada Raisa, Diki menghentikan mobilnya dan hendak turun ingin menolong Raisa tetapi ketika Diki sudah keluar dari mobilnya malah dikejutkan sesuatu yang membuatnya tercengang.
BUAGH...
Sebuah puk*lan dari tasnya melayang ke wajah para pria itu lalu dengan gesitnya Raisa mentekel hingga mereka jatuh terjengkang.
Setelah itu Raisa berusaha berlari kencang menyelamatkan diri karena salah satu mereka mencoba bangkit dan mengejar Raisa.
Diki yang tak tinggal diam, kembali masuk ke mobil segera menghampiri Raisa.
TIN.... Diki mengklakson Raisa hingga membuatnya berjengit. "Diki???"
Diki membuka jendela mobilnya, "Ayo, cepat masuk ke mobil!" titah Diki.
Tanpa pikir panjang Raisa masuk ke dalam mobil Diki, Raisa masih terengah-engah mengatur napasnya. Diki pun langsung tancap gas.
Untunglah Raisa selamat, di luar dugaan Raisa wanita super badas mampu mengalahkan para pria tadi hingga tak berkutik.
"Makasih, untung ada kamu yang kebetulan lewat" ujar Raisa
Diki masih diam dan fokus menyetir. Aroma wangi parfum Raisa memenuhi mobilnya. Sebelumnya belum pernah ada wanita yang naik mobilnya. Diki sedikit gelisah dan tak tenang.
----
----
Bersambung...
__ADS_1