MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 30. RENCANA GAGAL


__ADS_3

"Kurang aj*r!!!" Suara menggelegar Revan yang emosi setelah mendapati kedua anak buahnya gagal menculik Raisa dan bahkan seseorang datang mengancam kepada anak buahnya. Itu sangat menjatuhkan martabatnya. Kemarahan Revan yang tak terbendung.


"Siapa yang telah menghajar kalian? Cepat katakan padaku?" Kilatan cahaya lampu menyapu wajah Revan, betapa mengerikannya wajahnya yang dipenuhi oleh amarah.


Tak ada yang lebih membuatnya marah selain kabar yang dibawa anak buahnya dibanding mobilnya yang rusak. Mobil rusaknya bisa Revan beli berapa kali pun ia menginginkannya. Tapi rencana gagalnya lah yang membuat darahnya mendidih begitu juga kondisi anak buahnya yang babak belur seolah si pelaku ingin menunjukkan eksistensinya di depan Revan.


"Aku tidak mengenalinya, bos. Dia memakai penutup wajah. Aku yakin dia ahli beladiri atau lebih tepatnya dia seperti agen rahasia. Hampir saja dia membunuh kita"


Kedua pria suruhan Revan babak belur hingga tak terbentuk lagi wajahnya yang penuh dengan memar dan tetesan darah yang mengalir di hidungnya. Rasa sakit sudah tidak bisa mereka rasakan karena ketakutan menguasainya.


"Ka-kami hampir menangkapnya, Bos. Tapi wanita itu berhasil kabur. Lalu ada seorang pria sepertinya itu suaminya dan dia berhasil membawa lari wanita itu"


"Iya, betul itu bos. Lalu kita sudah bersusah payah mencarinya tetapi tidak berhasil menemukan persembunyian mereka. Akhirnya ketika kita pulang, kita dicegat oleh pria bertopeng itu dan dia menghajar kita habis-habisan"


Mendengar penjelasan anak buahnya, Revan menarik napasnya dalam-dalam. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Percuma memarahi anak buahnya yang tidak becus.


"Apakah pria misterius yang menghajar anak buahnya ada hubungannya dengan Raisa? Suaminya kah yang menghajar anak buahnya?" Sesaat emosinya mereda sedikit, Revan mulai berpikir. "Aku jadi penasaran siapa suami Raisa. Jay, cepat cari informasi valid tentang Raisa"


"Siap, bos. Akan saya laksakan"


Revan mulai penasaran dengan Raisa. Niat awalnya yang hanya ingin mempermainkan Raisa, sekarang berubah. Ada sorot mata yang menusuk dari Revan. Rahangnya mengeras dan giginya gemeretuk.


Kilatan permusuhan tercipta dengan sendirinya.


*****


"Seperti biasa aku sudah buatkan makanan untukmu, ini sebagai permintaan maaf sekaligus terima kasihku padamu yang sudah menolongku malam itu" Raisa tersenyum hangat menyambut Diki yang baru keluar dari kamar.


"Hmm..." wajah Diki masih kusut.


Raisa memerhatikan lingkaran hitam di sekitar mata Diki juga wajahnya yang pucat, "Apakah kamu tidak tidur nyenyak semalam?" tanyanya kemudian.


"Kamu peduli denganku?"


"I-iya tentu saja, bagaimana kalau kamu sakit? Aku harus mengurusimu juga, iya kan?"


"Berhentilah sok perhatian denganku, aku tidak butuh itu. Kau sudah membuatku kesal hingga tak bisa tidur"


"Apa???"


Diki bersikap acuh tak acuh dan enggan menjawabnya.


Di belakang, Raisa merasa bersalah. Dia bingung mesti bersikap bagaimana. Diki memang dingin seperti es. Moodnya terkadang berubah-ubah membuat Raisa tak paham. Apa karena memang Raisa belum mengenalinya lebih jauh? Entahlah.

__ADS_1


Di meja makan, Raisa sudah menunggu Diki. Penampilan Diki sudah rapi, perutnya yang lapar mengalahkan egonya. Diki menghampiri meja makan untuk sarapan. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Diki.


"Maaf pertengkaran semalam membuatmu tidak bisa tidur pasti gara-gara diriku" Raisa membuka percakapan.


"Jangan terlalu percaya diri, sehebat apa dirimu sampai aku harus memikirkanmu semalaman" Diki menyangkalnya dari fakta yang sebenarnya.


"Bukankah sebelumnya kamu pernah bilang aku sudah membuatmu kesal?"


Seketika Diki malu dengan ucapannya, ia lupa pernah berkata itu tapi sekarang malah menyangkalnya. Diki jadi terlihat lucu.


Jauh di lubuk hati Raisa, ia tersenyum.


"Mulai saat ini aku tidak akan memberimu ijin apapun alasannya" Diki mengultimatum.


"Tapi aku nggak bisa, aku masih ada masalah yang perlu aku selesaikan"


"Masalah apa lagi?"


"Ehm ini masalah keluargaku"


"Keluargamu? Trus aku ini siapa?"


"Ya tapi...kamu nggak bisa ikut campur masalahku. Aku nggak mau kamu terlibat"


"He'eh. Aku yakin itu"


"Gimana bisa aku tidak ikut terlibat dan tidak ikut campur sementara kamu istriku. Apapun yang terjadi padamu, aku yang bertanggungjawab jadi kamu nggak bisa menyelesaikannya sendiri. Karena kamu sekarang sudah tidak sendiri lagi. Kamu nggak lupa kan perilakumu itu akan berdampak ke siapa jika kamu gegabah"


"Aku mengerti maksudmu, tapi sejak orangtuaku tidak ada. Aku sudah terbiasa menghadapi masalah apapun sendiri tanpa membebankan orang lain bahkan saudaraku sendiri"


Diki termenung sesaat menatap dalam ke arah Raisa.


Wajah Raisa yang cerah mampu menutupi segala masalah yang tengah membebaninya. Kini Diki mulai mengenal sifat Raisa.


'Apakah itu alasanmu untuk tidak memberitahukanku yang sebenarnya, Raisa? Kamu itu tetaplah wanita, perlu seseorang yang melindungimu' benak Diki berkata.


Perasaannya yang dingin kini mencair. Ada kekaguman yang hinggap.


Diki tak mengatakan bahwa ia sudah tahu masalah yang terjadi pada keluarga Raisa. Andai Tante Fatma tidak datang, mungkin ia akan terus tenggelam pada prasangkanya.


"Hubungi aku kapanpun dan dimanapun kamu berada, ada banyak bahaya yang tidak kau sangka"


Itu tandanya Diki mengkhawatirkan Raisa, dalam hati Raisa ia senang ada sedikit kepedulian Diki padanya.

__ADS_1


"Terima kasih"


"Baguslah, kamu harus tahu terima kasih" ucapnya songong.


"Iya...suamiku" Raisa sedikit mencibir.


Selesai sarapan, mereka bersiap berangkat.


"Eh ngomong-ngomong kita berangkat kerja pake angkutan umum?"


"Nggak, Rio sebentar lagi datang menjemput dengan mobil kantor. Mobilku sedang ada di bengkel"


"Wah, assistant mu itu selalu siaga yah? Aku salut padanya yang bekerja di bawah tekanan"


"Maksudmu aku menekannya?"


"Itu yang terlihat di mataku. Seharusnya kamu lebih menghargai bawahanmu" saran Raisa.


Rio yang datang dan tak sengaja mendengar percakapan itu dalam hatinya sepakat apa yang dikatakan Raisa. Sungguh kali ini ia akan lebih condong kepada Raisa yang baik hati, andai Raisa jadi atasannya Rio.


"Selamat pagi, Bu Raisa" sapa Rio.


"Kamu hanya menyapanya?" celetuk Diki di samping Raisa.


"Eh...iya Pak, selamat pagi Pak Diki"


"Kamu sangat sabar yah Rio" Raisa tertawa.


*****


"Bos, aku sudah memotretnya diam-diam dan ini photo suaminya" Jay menyerahkan bukti photo kebersamaan Raisa.


Betapa itu membuat Revan terkejut, "Diki Sanjaya?" Revan tahu siapa Diki Sanjaya, dia adalah kompetitornya. Rasanya ia ingin menertawai dirinya sendiri. Selain bersaing dalam hal bisnis haruskah ia bersaing mendapatkan seorang wanita?


"Ini semakin menarik," Revan menyeringai.


Diki sudah berhasil mengambil pangsa pasar dengan keluaran produk terbarunya yang bahkan sudah menggeser penjualan produk perusahaan Revan. Sekarang Revan akan gantian untuk membalasnya dengan mencoba mengambil Raisa dari sisinya. Dengan begitu terlihat adil dan impas di mata Revan.


Revan memiliki rencana licik dengan mengesampingkan masalah Devin, ia tahu orangtuanya pasti sudah turun langsung mengurusi masalah itu. Revan kini lebih berfokus pada Raisa dan Diki.


-----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2