MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 46. TERPIKAT


__ADS_3

"Diam, kau. Jangan pernah kau ganggu dia dengan ejekanmu" Diki berubah kesal, tatapan matanya tajam dan aura di sekitarnya berubah dingin.


"Baiklah" ujar Haris. Dia mengerti suasana hati Diki.


Setelah dipersilahkan masuk oleh Haris, Raisa membuka pintu lalu dia terkejut melihat Diki masih ada di perusahaan ini. Dengan malu-malu, Raisa melangkah masuk.


"Ada apa Raisa?"


"Ini mengenai pembahasan kita sebelumnya, Pak" Raisa menjawab dengan pelan. Dia melirik ke arah Diki lalu berpindah ke Haris, kode lirikan mata Raisa seolah berkata, apa harus membahasnya bersama?


"Aku tidak mau keluar" Diki langsung menjawab, dia mengerti kode mata yang diberikan Raisa yang pada akhirnya Raisa menyerah hingga Raisa mengerucutkan bibirnya yang mungil.


"Apakah ini mengenai janjimu yang kemarin" tebak Haris.


"Hah? Janji apa yang dia berikan, kamu jangan bermain api di belakangku yah" celetuk Diki yang terkejut mendengar perkataan Haris, entah kenapa dirinya mulai berprasangka buruk.


"Ini masalah pekerjaan, sebaiknya kamu mendengarkan saja dulu" Haris menyela dengan bijak.


Diki memerah karena malu. Dan Raisa menatap Diki dengan heran karena tingkah suaminya itu.


"Silahkan, Raisa. Suamimu ini sepertinya cemburu"


Setelah Haris mengucapkannya, Diki melirik ke arahnya dengan sinis.


"Ah...iya, Pak. Begini ada beberapa perusahaan yang memproduksi material berkualitas di daerah Y, satu diantaranya memiliki keunggulan yaitu perusahaan PT. Teknik Maju. Memang perusahaan ini merupakan perusahaan baru yang bergerak di bidang produksi material ini, Pak. Tapi untuk sekelas perusahaan baru, sungguh prestasi yang luar biasa karena mampu menyaingi perusahaan besar yang bergerak di bidang yang sama. Coba anda lihat, aku sudah mengumpulkan semua data informasi tentang perusahaan ini secara lengkap. Jadi apakah Pak Haris bisa mempertimbangkan perusahaan ini, untuk direkomendasikan menjadi supplier kita, Pak?!" Setelah selesai bicara, Raisa memberikan berkas data pada Haris.


"Hmm...boleh juga usulanmu nanti aku bersama tim akan rapat untuk membahas ini." ucap Haris dengan serius sambil membaca data-data yang dipegangnya. "Bagaimana menurutmu?" Lalu Haris beralih dengan bertanya pada Diki.

__ADS_1


"Secepatnya kamu yang urus dan seharusnya bukan dilimpahkan pada seorang wanita" sindir Diki pada Haris. Di lubuk hati Diki, ia bangga akan kinerja istrinya. Dan akhirnya, perusahaan Haris tidak bersinggungan lagi dengan perusahaan Irfan. Tentu itu menentramkan hati Diki.


"Ya aku mengerti. Bagaimanapun juga aku ini atasannya Raisa tapi aku jadi tidak bisa bertindak lebih karena kamu sebagai suaminya Raisa yang ternyata adalah klienku. Jadi aku harus menjaga sikapku" Haris mengeluh. Merasa tidak perlu diingatkan, Haris mengerti bagaimana harus bersikap.


Senyuman indah terukir di bibir Diki setelah memerhatikan Raisa bicara. Diki melihat Raisa masih memakai blazernya betapa itu membuat suasana hatinya makin membaik. Sepertinya Raisa lupa untuk melepasnya atau memang sengaja karena menyukai memakai pakaian Diki.


Sadar karena Diki terus melirik ke arah Raisa seketika Raisa ingat bahwa ia masih memakai blazer Diki. Dengan wajah yang merah karena malu, Raisa melepaskan blazernya lalu mengembalikannya pada Diki. "Terima kasih untuk yang ini"


"Pakailah, jika kamu masih menginginkannya." Ucapan Diki membuat Raisa bertambah malu seolah dia sangat menginginkannya secara tidak langsung.


Dan di hadapan mereka ada Haris yang memerhatikan tingkah laku mereka, "Beraninya kalian bermesraan di depanku, apakah kalian ingin menunjukkan sebuah pertunjukan sebagai sepasang yang saling mencintai?"


"Eh???" Raisa terkejut dengan ucapan Haris, seketika dia salah tingkah, "Ma-maaf pak. Aku permisi dulu" Raisa melangkah cepat dengan meninggalkan ruangan Haris. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.


Setelah Raisa pergi, Haris menatap Diki yang pandangannya masih tertuju pada Raisa hingga siluet Raisa menghilang dari pandangan. "Istrimu membuktikan janjinya, bahwa dia tidak akan pernah mengemis pada mantannya yang menyangkut tentang perusahaanku dan kerjasama kita karena kehilangan supplier penghasil material terbaik. Itu tandanya Raisa lebih mementingkan hubungannya bersamamu. Aku salut akan tindakan dan pemikirannya. Apakah kamu sependapat?"


"Hei, tadi siapa yang sebelumnya bilang tidak menyukainya lalu mengeluh ini itu?" sindir Haris pada sikap Diki yang sekejap langsung berubah simpatik pada Raisa.


"Kita harus bertindak efisien" Diki mengalihkan topik pembicaraan. "Kau tahu, Revan sudah bergerak lebih cepat untuk menyingkirkan produk kita dari pasaran dan memonopolinya"


"Ya, aku mengerti. Segera besok akan diadakan rapat lagi" Haris berdiri dan menyimpan berkas yang tadi diberikan Raisa. "Mau sampai kapan kamu akan di sini terus?" tanya Haris yang memerhatikan Diki tak beranjak dari sofanya dan sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Sampai jam pulang kerja," jawab Diki santai dan tatapannya tetap fokus ke layar monitor.


"Karena istrimu bekerja di sini jadi kamu betah berlama-lama, iya kan?"


"Kita bekerja sama, apa yang salah dengan diriku yang masih berada di sini"

__ADS_1


"Terserah, lakukan semaumu. Mungkin setelah ini kamu harus memperpanjang kontrak denganku. Dan ke depannya berikan beberapa project untukku. Itu akan meningkatkan dividen bagi perusahaanku. Ini kerjasama yang sangat menguntungkan mengingat istrimu bekerja di sini" Haris memancarkan matanya dengan bersinar bahwa ada harapan besar ketika memandang ke Diki.


"Bermimpilah!"


Ucapan Diki mematahkan asa Haris yang sudah melambung. Wajah Haris berubah muram.


"Tapi aku orang yang berpengalaman masalah cinta jadi kamu bisa berkonsultasi denganku jika hubunganmu mengalami masalah" rayu Haris yang tidak menyerah demi perusahaannya.


"Dasar, kau ini selalu mencari celah kekuranganku untuk kepentinganmu sendiri" Lalu setelah itu Diki menutup layar laptopnya.


"Ayolah, kawan. Kamu dan aku tahu bagaimana menjalin hubungan pertemanan seperti simbiosis mutualisme di antara kita"


"Itulah yang membuatku menyesal berteman denganmu." Kemudian Diki berdiri, lalu bersiap pulang. Waktu di jam tangannya menunjukkan jam pulang kerja. Meskipun ucapan Diki terdengar kejam, tapi Haris sudah terbiasa menghadapi sikap Diki. Mereka telah berteman sejak SMA. Jadi masing-masing tahu karakter dan kekurangannya.


"Sayang sekali, sekarang penyesalanmu itu tidak berguna" Haris terkekeh.


"Besok, kita masih akan mendiskusikan lagi dan mengadakan rapat. Aku harus pulang secepatnya"


"Ini seperti bukan dirimu, biasanya kamu akan menyelesaikan sekaligus dan bekerja lebih lama. Sekarang kamu on time sekali ingin pulang. Pasti karena ada seorang wanita di sampingmu hingga membuatmu tidak tahan ingin segera pulang. Iya, kan?" goda Haris.


"..." Diki tak menjawab. Saat ini dadanya dipenuhi perasaan berbunga dan wajah Raisa memenuhi isi kepala Diki sejak tadi. "Dimana ruangan Raisa?"


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2