MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 75. MENCARI DALANG


__ADS_3

"Tentu saja. Apa kamu tahu? Semalam kamu terlalu ganas." ejek Diki. Sorot matanya mampu menggetarkan hati Raisa.


Suasana di antara mereka yang memanas kemudian mencair. Diki berkata dengan santai dan tidak menaikkan intonasi suaranya.


Raisa bersyukur, padahal tadi jantung Raisa hampir copot, dia kira Diki akan memarahinya karena ceroboh, "Aku memakan sedikit makanan lalu seketika merasakan gejolak aneh di tubuhku." Raisa menjelaskan dengan tertunduk malu.


Jauh di lubuk hati, Raisa tidak mau mengingat hal itu lagi. Kejadian itu membuatnya sangat malu bahkan hampir saja Raisa jatuh ke dalam pelukan Irfan. Raisa merutuki kebodohannya.


"Itulah kebodohanmu, bukan hanya sekali ini saja. Bagaimana yang telah lalu? Sebelumnya sudah banyak peristiwa yang terjadi karena kebodohanmu." Diki mencela, dia gemas sekali pada Raisa. Kalau bukan sudah merasakan nikmat melewati malam bersama Raisa mungkin Diki akan marah besar. Kini Diki sedang tidak bisa marah, hatinya benar-benar terpikat pada Raisa.


Semakin lama Diki memandang wajah Raisa semakin Diki teringat momen romantis semalam. First night yang panas, baru pertama kali Diki merasakan. Rasanya sungguh luar biasa dan begitu membekas di ingatannya.


Diki menarik Raisa lalu memeluknya dari belakang. Diki berkata lembut di telinga Raisa, "Selalu waspada dan hati-hati bahkan terhadap teman ataupun keluargamu sendiri. Orang yang harus kamu percayai adalah diriku seorang."


Setelah Raisa berpikir, sepertinya itu benar apa yang diucapkan oleh Diki. Dia terlalu gegabah dan bahkan percaya dengan mereka yang pada akhirnya menjerumuskan Raisa ke dalam masalah. Raisa merasa seharusnya lebih bergantung pada Diki dan tidak lagi gampang percaya pada siapapun. "Ya, aku akui, aku memang naif."


Karena wangi tubuh Raisa yang menyegarkan, Diki mengendus dan menghirupnya, lalu mengecup pipinya. "Aku kira kamu wanita pintar dan licik yang mampu menjeratku tapi nyatanya kamu lemah dan bodoh."


"Meski aku lemah dan bodoh, kamu sudah terjerat olehku."


"Betul sekali," Diki pun mengakuinya. Diki yang awalnya terlalu angkuh, kini perlahan hatinya telah luluh oleh Raisa.


Diki memeluk erat Raisa dan masih dipenuhi oleh gair*h yang belum hilang. Dengan mata terpejam, hidung Diki menjelajah di leher Raisa. Rasanya Diki masih ingin melakukannya lagi bahkan di pagi hari ini staminanya telah fit kembali.


Diki terlihat semakin jatuh hati pada Raisa, apakah itu artinya sudah saatnya bagi Raisa untuk bisa memiliki kembali rumah ini? Rumah warisan orang tua Raisa yang sudah dimiliki Diki.


"Diki, hentikan...!" Raisa merasa lehernya geli lalu berusaha melepaskan diri dari pelukan Diki. "Sebentar lagi Bik Surni datang. Aku malu. Lagi pula ini sudah siang, kita harus berangkat kerja."


Kemudian Diki melepaskan Raisa, "Oke, nanti malam kita lanjut lagi yah?!" Diki menarik alisnya sebelah dan tersenyum smirk.


"Diki...!" Dengan wajah yang merona, Raisa melototi Diki lalu berbalik badan.


Tersungging senyuman di bibir Diki, Raisa yang marah terlihat manis juga di matanya. Diki semakin suka menggoda Raisa, dia jadi nampak seperti pria nakal dengan pesona jantan yang mampu membuat hati wanita meleleh.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Bik Surni datang. Seperti biasa dia mengerti akan tugasnya tanpa harus diperintah lalu Diki dan Raisa berangkat bersama.


******


PT. Golden Life.


Diki menemui Rio dan ingin bertanya mengenai apa yang telah terjadi semalam di pesta.


"Rio, ke ruanganku sekarang!"


Setelah mendengar perintah itu, Rio segera menghadap Diki.


Dipenuhi rasa bersalah, Rio hampir saja ingin mengungkapkan kecerobohannya karena tidak bisa menjaga Raisa. "Maaf, Pak. Sebenarnya..."


Diki menyela ucapan Rio, "Semalam istriku sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, saat aku pulang ke rumah."


Dikejutkan oleh perkataan Diki bahwa Raisa berada di rumah, itu artinya Raisa tidak diculik. Rio tercengang mendengarnya, jelas bahwa semalam seseorang tidak dikenal sudah membawa Raisa pergi namun Diki mengatakan Raisa berada di rumah. Rasanya itu tidak mungkin, apa Rio telah salah melihat?


"Apa yang terjadi semalam? Apakah ada seseorang yang ingin menjebaknya?" Diki mengingat dengan jelas, untung saja Raisa telah berada di rumah dan hanya Diki lah yang membantu Raisa untuk memuaskannya.


"Revan ada di pesta itu, Pak." Rio tidak bisa menceritakan secara detail mengenai perkelahiannya.


"Revan?" Tentu saja Diki terkejut, "Apakah ada kemungkinan dia masih memiliki dendam?" tanya Diki dengan geram.


"Aku rasa iya, dia memang menjebak Bu Raisa." jawab Rio dengan mantap, tak ada keraguan sedikitpun dalam jawabannya.


"Bagaimana caranya kau bisa tahu bahwa Revanlah yang menjebak Raisa?"


"Seseorang mengikuti Bu Raisa, lalu setelah itu muncullah Revan, dia ingin mengambil kesempatan saat Bu Raisa hampir tidak berdaya, untung aku segera mengetahui itu dan langsung menghajar mereka." Rio memberi penjelasan namun tidak sanggup memberitahu Diki bahwa ada seseorang lain lagi yang datang dan membawa Raisa pergi.


"Sial!" Diki menggebrak mejanya begitu mendengar perkataan Rio. "Dasar pria mes*m, berani sekali dia mengganggu istri orang. Aku harus memberinya pelajaran." Diki menggertakan giginya dan terlihat urat di lehernya menonjol. Rasanya Diki ingin sekali menghajar Revan.


Rio melihat kemarahan besar dari raut wajah Diki. Dia hanya terdiam.

__ADS_1


Rio tidak berani bertanya, kenapa Raisa bisa pulang ke rumah dengan selamat? Siapakah pria yang semalam membawa Raisa? Melihat kemarahan di wajah Diki, Rio khawatir bertanya lebih jauh yang akan menimbulkan konflik lagi. Jadi dia memilih bungkam sementara.


Kemudian Diki pun memerintahkan Rio untuk mencari informasi mengenai seluk beluk tentang Revan. Orang macam Revan pasti punya banyak cela, Diki merasa perlu menghukum Revan atas perbuatannya.


Setelah selesai melakukan pencarian informasi, Rio kembali dan melapor pada Diki. "Ada kasus yang pernah ditutup dan berkaitan dengan skandal perusahaan Prasjaya Group. Bahkan media pun dibungkam. Apa kita perlu melakukan investigasi, Pak?"


"Sebenarnya ini bukan ranah kita, aku hanya ingin tahu agar aku bisa mencari alibi untuk menghukum Revan."


"Info yang sudah aku dapatkan, salah satu anak perusahaan Prasjaya Group telah menjalin kerjasama dengan perusahaan Rosevera Cosmetic."


"Rasanya aku pernah mendengar perusahaan Rosevera Cosmetic." Diki terdiam sesaat, dia sedang mengingat sesuatu. "Aku ingat sekarang, Rosevera Cosmetic adalah perusahaan baru milik teman Raisa yang bernama Vera. Coba kau cari tahu lagi."


Rio kembali membuka laptopnya, lalu setelah berhasil menemukan informasi terbaru, dia segera memberitahu Diki. "Revan adalah tunangan Vera, keluarga mereka menjalin kerjasama bisnis dengan hubungan kekeluargaan. Sejauh yang aku tahu, Revan terkenal bergonta ganti wanita namun tetap mempertahankan hubungan resminya dengan Vera."


"Apakah ada berita tentang skandal Revan?"


"Maaf, Pak. Tidak ada berita apapun."


Diki mengusap keningnya, dia tengah berpikir. "Itu artinya Revan memang pria licik mampu menutupi kesalahannya dengan cerdik. Dia berani sekali menjebak istri orang bahkan itu di pesta tunangannya sendiri. Revan, sungguh bajing*an yang tak punya otak." Emosi Diki sudah di ubun-ubun, dia melanjutkan dengan bertanya, "Lalu, ada skandal apa yang melibatkan perusahaan Prasjaya Group? Aku ingin tahu."


-----


-----


Bersambung...


Notes : Jangan lupa like, vote dan subscribe agar author semangat menulis.


Terima kasih.


Ilustrasi :


__ADS_1


__ADS_2