
"Eh...?" Rio masih terpaku, dia masih mencerna maksud Raisa yang meminta bantuannya bahkan di depan Diki. Itu membuat Rio canggung. Dalam hati Rio mengeluh, 'Astaga Bu Raisa, jangan menempatkanku dalam posisi yang sulit.'
"Kenapa kamu diam saja?" Raisa terus mendesak Rio. "Cepatlah, aku haus!"
Di sudut sana Diki terlihat seperti orang bodoh. Raisa mengabaikan kehadirannya yang memberi kesan bahwa Diki adalah objek ejekan.
Dan Rio masih belum bertindak, dia melirik ke arah Diki. Ditatap tajam oleh Diki, Rio seolah bisa membaca pikiran Diki. 'Jangan lakukan Rio! Atau kamu harus berhadapan denganku.' Begitulah kira-kira yang ditebak oleh Rio. Tetapi Raisa masih tidak peduli, Raisa terus memanggilnya. Kemudian Rio beralih ke Raisa, dia seperti orang linglung. Dihadapi situasi begini, Rio bingung harus bagaimana.
Suasana ruangan makin tegang, Rio bagaikan berada di tengah-tengah pasangan yang sedang bertengkar. Sekilas dia pun melihat tangan Diki mengepal kencang, itu artinya Rio harus segera menyingkir sebelum badai menghantam.
"Maaf, Bu Raisa. Aku harus keluar sebentar," Rio langsung bergegas pergi dengan keringat dingin. Rio takut Diki akan marah besar padanya, jika bersedia membantu Raisa meski itu hanya bantuan kecil. Dia lebih mengenal Diki dibanding siapapun.
Raisa murung, dia kecewa dengan sikap Rio. Ternyata Rio tidak memihaknya.
Setelah Rio pergi, Diki akhirnya menuangkan air lalu mendekati Raisa. "Kamu berani sekali meminta bantuan pria lain bahkan itu di depanku," ucap Diki kesal.
"Dia assistantmu yah berarti assistantku juga, apa salahnya aku memerintahkannya." Raisa berkelit tidak mau disalahkan, dia juga masih kesal dengan sikap Diki yang secara tiba-tiba tidak perhatian lagi padanya.
Padahal Raisa sudah merasa di atas angin dan memuji Diki di lubuk hatinya. Adegan Diki menolong Raisa terus merasuk pikirannya. Raisa baru saja merasa hubungan mereka akan baik-baik saja. Tapi tadi yang Raisa lihat, tatapan Diki berubah dingin hanya karena Diki mengetahui Raisa telah berbuat baik pada seseorang.
Raisa merasa, Diki tidak perlu semarah itu. Kebaikkannya seharusnya diappresiasi. Raisa belum mengerti dengan sikap Diki yang berlebihan.
"Apa itu hanya alasanmu saja? Untuk menghindariku lalu membuatku marah."
"Aku tidak membutuhkanmu, kamu menyebalkan..." Raisa pun cemberut.
Diki tertawa meremehkan, "Menyebalkan?" Kemudian Diki membantu Raisa duduk. "Kenapa aku jadi menyebalkan? Aku mau tanya, siapa yang sudah menolongmu dan membawamu kemari? Apakah itu disebut menyebalkan?"
__ADS_1
Karena masih lemah, Raisa tanpa daya menerima bantuan Diki. Dia yang masih dibantu Diki untuk duduk, menahan rasa malu dan kesal jadi Raisa memilih untuk tidak menjawab.
Diki berbisik di telinga Raisa, "Kamu masih terluka, aku ini suamimu, orang yang akan merawatmu. Nanti siapa yang akan membantu mengganti perban baru di dadamu kalau bukan aku?" goda Diki.
Terbakar oleh rasa malu, lagi-lagi Diki mengingatkan momen Raisa membuka pakaian di depannya. "Ah... itu aku bisa lakukan sendiri atau..." jawab Raisa canggung.
"Atau apa? Meminta bantuan orang lain? Tidak akan aku biarkan orang lain melihatnya juga, cukup aku saja." Diki berbicara dengan gaya yang angkuh.
"Me–melihat??? Iya aku tahu, kamu sudah melihatnya, tapi apa perlu menegaskan lagi hal itu di depanku?''
Lalu Diki tersenyum smirk, lirikan mautnya sangat mempesona. Jantung Raisa berdegup. Dia benar-benar jatuh cinta pada Diki. Pria itu, setiap saat selalu bisa memikat hati Raisa.
"Kata-katamu sangat menyebalkan, aku sedang sakit tapi kamu masih berniat memarahiku."
"Itu karena kamu sudah mengecewakanku, Raisa. Berkali-kali aku katakan, jangan bertindak sendiri. Jangan dikira kamu bisa dengan mudah menjadi pahlawan, lalu setelah itu orang hanya datang memuji kebaikkanmu tapi mereka tidak memikirkan resiko apa yang sudah kamu ambil."
"Tidak ada yang salah kamu telah berbuat baik, tapi apa kamu tahu dunia ini tidak seperti yang ada dalam bayanganmu? Terkadang saat kita sudah berbuat baik, selain kita akan menerima hasil dari kebaikkan itu, nanti kita juga akan dipertemukan oleh beberapa resiko yang harus kita hadapi. Orang yang kamu lawan bukan lawan yang lemah, mereka memiliki jaringan yang kuat. Kalau kita tidak kuat yang ada malah kita akan terus ditindas lalu berbalik menyerang ke diri kita sendiri. Mengungkapkan sebuah kebenaran di dunia yang penuh sandiwara ini, tidaklah mudah. Beberapa oknum akan melakukan beberapa cara untuk menutupi itu, yah termasuk menghilangkan dirimu,"
Mendengar ucapan panjang lebar Diki, Raisa tertegun. Raisa menelan ludahnya, dia merinding mendengar itu. Betapa tindakannya berakibat fatal, pikirannya yang sederhana membuat Raisa harus siap mempertaruhkan nyawanya, bukan hanya nyawa dia tetapi nyawa orang di sekitarnya juga. Sepintas dia teringat tentang Fitri dan Pak Jaka.
Mereka terdiam sejenak. Di sisi Diki, Raisa merenung, dia mulai menyadari kesalahannya.
"Lalu bagaimana dengan temanku?" Raisa bertanya dengan lemah karena merasa bersalah.
"Aku sudah melindungi mereka, kamu tidak perlu cemas. Aku tahu kamu merasa bersalah pada mereka, bukan?"
Raisa mengangguk, "Terima kasih. Ini ulahku, mereka jadi terlibat. Aku tidak berpikir panjang saat bertindak."
__ADS_1
Kemudian Raisa tak lagi bicara. Diki yang melihat Raisa menyadari kesalahannya sambil tertunduk tanpa sadar dia mengelus rambut Raisa.
Semakin hari, Raisa semakin mengenal sosok Diki yang luar biasa. Raisa merasa telah dilindungi olehnya. Perasaan haru hampir membuat airmatanya jatuh. Selalu saja Diki yang menolong dan melindungi, bahkan Diki seakan sudah memahami Raisa. Diki berbuat diluar ekspetasinya.
Raisa merasakan perasaannya yang semakin dalam. Dia merasa beruntung telah bertemu Diki. Walau terkadang diwarnai sedikit pertengkaran, Raisa tidak lagi memikirkan rumah warisan orangtuanya. Entah esok, dia atau bukan pemiliknya nanti, yang diinginkan Raisa kini adalah dia selalu berada di samping Diki karena Raisa merasa aman dan nyaman.
Malam semakin larut, Diki tertidur di kursi dengan tampilan yang terlihat keren dan elegan. Wajahnya tersorot cahaya lampu, terlihat menenangkan mata. Raisa yang terbangun, tanpa sadar terus memandang wajah Diki. Pria di depannya yang tengah tidur karena kelelahan membuat Raisa tidak bisa berkedip. Setiap memandang Diki, Raisa selalu terpesona pada auranya.
\*\*\*\*\*\*\*
Menjelang pagi.
Diki keluar ruangan, ada seseorang yang ingin dia temui sebelum berangkat kerja. Dia melangkah pelan, khawatir membangunkan Raisa.
Tanpa disadari Diki, Raisa tidak tidur. Raisa mengetahui gelagat mencurigakan Diki. Raisa merasa aneh, Diki keluar tanpa memberitahunya.
Di sebuah ruangan kosong.
"Di–Diki???" Seorang wanita terkejut karena diminta untuk menemui seorang pria secara rahasia, ternyata pria itu adalah seseorang yang dia kenal.
"Sssttt..." Diki memberi isyarat untuk tidak berisik.
-----
-----
Bersambung...
__ADS_1