
Setelah sampai, Raisa langsung turun dari mobil dan melihat pemandangan dari atas bukit. Betapa indahnya pemandangan kota dari atas bukit.
Diki pun mengikuti Raisa kemudian dia berdiri di samping Raisa. "Makasih, kamu mau mengajakku ke sini," ucap Raisa, tingkahnya seperti anak kecil yang kegirangan.
"Tidak masalah, apa kamu senang?" Diki menatap Raisa.
"Iya... Sudah lama aku ingin ke sini namun belum sempat. Terakhir kali aku ke sini ketika masih kecil dan sekarang aku agak lupa." Raisa menatap lurus ke depan, pandangannya seolah sedang menerawang jauh.
"Syukurlah kalau kamu senang." Diki kembali mengarah pandangannya ke depan, dia juga merasa kagum akan keindahan kota dari atas bukit. Dia tidak tahu ada pemandangan indah seperti ini. Hal sederhana yang diminta Raisa membuat Diki sedikit terharu. "Untung saja kamu terakhir ke sini ketika masih kecil berarti kamu ke sini dengan orang tuamu, bukan?"
"Ya tentu saja, memang kenapa kalau bukan dengan orang tuaku?" Raisa mengernyit, dia bingung maksud ucapan Diki.
"Aku tidak suka, jika pada akhirnya kamu mengingatkan kenangan dengan sang mantan ketika bersamaku."
Raisa tertawa hampa, ini terdengar konyol. "Aku tidak mempunyai kenangan apapun dengan mantanku, kamu terlalu cemburu."
Bagaimana itu bisa dikatakan kenangan? Tujuh bulan menjalin hubungan dengan Irfan, Raisa bertemu di tempat kerja kalaupun ingin jalan keluar hanya sebentar. Raisa terlalu fokus pada karir dan pekerjaannya karena demi biaya hidupnya sendiri. Bisa dibilang saat itu, hubungan Raisa dan Irfan hanya status saja dan validasi atas perasaan keduanya. Setelah itu tak ada lagi yang harus Raisa ingat. Dia jelas masih membenci Irfan karena selingkuh dengan Donna, rival Raisa di tempat kerja.
Pada akhirnya Raisa bungkam dan dia tidak menceritakannya pada Diki.
"Benarkah? Apa ucapanmu bisa dipercaya?" Diki menoleh ke arah Raisa. Mereka kini saling memandang dengan kerumitan pikiran masing-masing.
"Diki, kamu selalu memojokkanku dan berkata mantanku terus. Sekarang giliranku, apa kamu sendiri tidak memiliki mantan? Atau jangan-jangan kamu mempunyai kenangan indah dengan wanita lain sebelum diriku." Raisa menatap sinis ke arah Diki.
Jika Diki harus menjawab, dia akan berkata Raisalah yang mampu memberikan kenangan indah bagi Diki. Cinta pertama Diki hanya datang dan singgah di hati namun belum bisa menempatkan posisi tinggi yang kini ditempati Raisa di hati Diki.
Diki terdiam sejenak. Seketika dia bertindak dengan mengecup kening Raisa. "Tidak ada," jawab Diki dengan cepat.
__ADS_1
"Bohong! Usiamu di atas usiaku jadi pengalaman hidupmu lebih dari aku dong." Raisa berbalik menyerang Diki.
"Oke, aku kalah. Ini acara kita berdua, tidak pantas membicarakan masa lalu. Aku minta maaf."
"Kamu yang mulai," Raisa jadi sebal dan moodnya berubah.
Diki pun hanya menggaruk rambutnya, dia salah lagi. Diki berusaha mencari topik lain untuk mengembalikan mood Raisa. "Bagaimana kalau kamu ceritakan tentang masa kecilmu dan kehidupanmu dulu? Jujur, dengan begitu aku jadi lebih mengenal dirimu."
"Untuk apa? Bukannya kamu tidak menyukaiku."
"A–apa?" Diki terkejut. "Setelah banyak yang telah aku lakukan untukmu bahkan hari ini juga, kamu masih bilang kalau aku tidak menyukaimu? Ada apa dengan pikiranmu, Raisa?"
"Ohooo... jadi benar kamu akhirnya menyukaiku kan?" ledek Raisa. "Sebelumnya kamu angkuh dan menyebalkan tetapi sampai sekarang juga kadang kamu menyebalkan."
"Itu karena, kamu tiba-tiba muncul lalu dengan mudahnya kamu membuat orang tuaku memaksaku untuk menikahimu padahal aku tidak mengenal siapa kamu? Kamu ingat, pertama kali kita bertemu di halaman rumah?"
"Aku ingat, itu memang rumah peninggalan orang tuaku dan aku sudah merantau sejak lulus SMA setelah ibuku meninggal. Sekian tahun merantau, seketika terlintas untuk berpikir kembali pulang, tapi kenyataan membuatku syok bahwa rumah itu jadi milikmu." Secara tiba-tiba Raisa merapatkan bibirnya.
Raisa hampir saja membongkar motif dia sendiri yang sebelumnya ingin merebut rumah warisan dari tangan Diki. Raisa langsung menghentikan pembicaraannya, jantungnya seketika hampir copot. Raisa tidak mau mengacaukan momen romantis ini.
"Tantemu yang menjual rumah itu padaku, dia mengaku bahwa itu rumahnya, sebenarnya saat itu aku juga heran, nama yang tertera di sertifikat bukan namanya. Karena tantemu terus mendesakku, akhirnya aku membelinya tanpa pikir panjang, lalu setelahnya sertifikat rumah langsung aku balik nama. Maaf, aku tidak menceritakannya padamu, awalnya aku lebih percaya tantemu. Dia bilang ini rahasia, karena aku baru mengenal dirimu akhirnya aku rahasiakan. Sekarang aku tahu, orang macam apa tantemu itu." Di mata Diki, dia menilai Fatma buruk. Diki juga mulai tidak menyukai Fatma.
"Ehm sudah aku duga, pantas saja selama ini aku kehilangan kontak dengan keluarga pamanku. Tanteku tega sekali padaku." Mata Raisa berkaca, dia berusaha untuk tidak menangis di depan Diki. Hatinya sangat kecewa sekali. Padahal dulu pamannya sangat dekat dengan Raisa namun semua berubah ketika menikah dengan Fatma.
Perkara sebuah rumah warisan yang telah mempertemukan Raisa dan Diki, bahkan setelah itu pun tanpa sengaja Raisa sudah membuat Diki kembali menjadi anggota agen rahasia. Ini seperti takdir bagi mereka untuk bertemu.
"Aku harap kamu tidak terlalu mempercayai keluargamu itu, mereka lebih mementingkan diri sendiri." Diki berkata dengan ekspresi dingin.
__ADS_1
"Iya, aku tahu. Tetapi aku sedih kenapa pamanku juga seolah menghindariku, apa yang salah dengan diriku? Aku tak tahu." Raisa menunduk. Bagi Raisa, pamannya adalah keluarga dia satu-satunya. Bagaimanapun juga Raisa tak bisa membenci atau menjauhinya.
Melihat Raisa sedih, Diki merasa bersalah dan mencoba menghibur Raisa. "Di sini akan menjadi kenangan kita." Diki menepuk pundak Raisa kemudian merangkulnya.
Raisa beralih menghadap Diki lalu tersenyum tipis, dia tidak menyangka akan kembali ke sini bersama orang yang dicintainya setelah orang tuanya. Raisa senang, Diki berubah menjadi seorang pria yang hangat. Rupanya menaklukan pria seperti Diki tak sesulit yang dibayangkan, pikir Raisa.
Melihat senyuman Raisa yang manis membuat hati Diki gatal. Dia pun menarik napas panjang dan menatap Raisa dengan dalam. Menurut Diki, momen ini terlalu sayang untuk dilewatkan jika tidak menci*m Raisa.
Di atas bukit dengan pemandangan kota yang indah juga semilir angin berhembus sepoi seakan menjadi saksi keromantisan Diki dan Raisa. Alam pun seolah menyambut gembira mereka.
Sepuluh menit telah berlalu, Raisa tersadar kemudian membuka mata dan mendorong pelan dada Diki. "Waktu sudah menjelang maghrib, ayo kita pulang!" Wajah Raisa jelas merona merah dan bibirnya masih terasa basah karena jejak bibir Diki yang tertinggal.
"Oke, ayo kita pulang! Nanti kita lanjutkan di rumah." Diki terlihat sangat bersemangat.
'Lanjutkan?' Raisa tercengang dan mematung.
Diki berbalik melihat Raisa masih terdiam, "Kenapa bengong?" Kemudian Diki pun menarik lengan Raisa dan mengajaknya segera masuk ke mobil. "Ayo, aku sudah tidak tahan..."
Apa maksudnya, 'tidak tahan?' Apakah itu artinya Diki meminta lebih?
Raisa berteriak dalam hati dan wajahnya semakin terbakar.
----
----
Bersambung...
__ADS_1