
Belum sempat kedua pria itu menyeret Raisa masuk ke dalam mobilnya. Kedua pria itu terkejut ketika berbalik badan, mendapati mobil mereka penyok parah.
Sebuah mobil menabrakkan diri ke arah mobil mereka. Tujuannya untuk mengalihkan perhatian mereka. Mereka melihatnya dengan syok.
"OMG! Bos bisa marah besar mobilnya penyok begitu..."
"GAWAT!!! Bagaimana ini?" dengan mata terbelalak, kedua pria itu sesaat membeku.
Karena masih syok, kedua tangan pria kekar itu melemah.
Di saat lengah itulah Raisa memanfaatkan situasi untuk melepaskan cengkeraman mereka. Lalu memukul kepala mereka menggunakan tas dengan sekuat tenaga hingga mereka tersungkur. Setelahnya Raisa berhasil kabur dan berlari.
Saat berlari, Raisa dikejutkan oleh Diki yang berdiri tegap di hadapannya. Diki baru saja keluar dari mobilnya. Yang membuat Raisa nambah tercengang, ternyata Diki lah yang melakukannya.
Diki berdiri memasang badan agar bisa melindungi Raisa. Kedua pria yang murka siap adu jotos dengan Diki. Raisa bersembunyi dibalik badan Diki.
"Beraninya kalian menyentuh istriku, tidak ada ampun untuk kalian" Diki berdiri tegap sambil bicara dengan lantang.
Dua pria itu tertawa meremehkan, mereka merasa paling kuat. "Ini perintah dari bos kami untuk menangkap wanita itu, jadi kau tidak bisa menghalangi kami. Mengerti!!!" Kedua pria itu dengan beringas mulai menyerang. Mereka geram.
Kemudian mereka berdua bersiap melayangkan tinjunya kepada Diki. Sebelum Diki siap melawan mereka, Raisa menarik lengannya dan menyeret Diki sejauh mungkin untuk menghindari serangan dua pria itu.
Diki dan Raisa berlari menghindari dua pria itu. "Ayo cepat mumpung mereka lengah" ujar Raisa.
Mereka pun terlibat aksi kejar kejaran.
Diki kesal dengan tindakan Raisa seolah Diki dikira pria lemah yang tak bisa melawan mereka.
"Lepaskan! Biar aku lawan mereka" Diki menahan lengannya. Tapi Raisa tetap menariknya kuat. Raisa tidak menyukai perkelahian.
"Udah kamu nggak usah macem-macem, cepetan lari! Kita harus pergi menjauh dari mereka. Mereka berbahaya"
Dalam hati, Diki menertawai tindakannya seperti orang bodoh. Kalau bukan karena masih merasa bersalah pada Raisa, mungkin Diki tidak akan dengan pasrahnya nurut dan ikut berlari bersama.
Bibirnya membentuk sebuah lengkungan, Diki menganggap tandanya dia dan Raisa sudah berbaikkan.
Kemudian Diki dan Raisa bersembunyi di balik tong sampah besar di sebuah gang kecil. Sambil mengatur napas sesekali Raisa mengintip apakah dua pria itu masih mengejarnya atau tidak.
"Kenapa kita harus sembunyi?"
"Sssttt! Mereka masih ada"
__ADS_1
Raisa tidak tahu, Diki jago beladiri kenapa jadi menurut begitu saja dengan Raisa seperti seorang pengecut, lari dan bersembunyi menghindari kejaran.
Pengalaman langka yang tidak pernah didapatkan Diki, berlari malam-malam bersama sang istri.
Raisa menarik napas, "Kita tidak bisa ke sana, mereka masih ada. Kita harus cari jalan lain"
"Tapi mobilku kan ada di sana, lalu kita pulang bagaimana? Jalan kaki?"
"Oiya...ya...mobilmu rusak juga nggak?"
"Setidaknya masih bisa jalan, lumayan kita pulang nggak capek. Besok aku akan membawa mobilku ke bengkel untuk mengeceknya"
"Aksimu gila, kamu udah menghancurkan mobil mereka tau nggak?!"
Diki dengan santainya tidak mempermasalahkan itu. "Entahlah, mobil mereka mengganggu jalanku" padahal tadi itu adalah ekspresi marahnya melihat dua pria seolah akan menculik Raisa.
Raisa tidak habis pikir apa isi otaknya Diki, dengan entengnya bicara seolah tidak ada masalah. Dalam benak Raisa, Diki tidak tahu nanti ia akan terlibat masalah dengan siapa. Baru saja Raisa sudah merasa ngeri setelah bertemu dengan Revan. Raisa yakin mereka suruhan Revan karena Raisa ingat wajah salah satu pria itu adalah orang yang berdiri di belakang Revan saat itu.
"Astaga, gimana pun juga kamu akan dituntut untuk ganti rugi kerusakan itu? Bener-bener yah nggak dipikirkan dulu" Raisa berwajah masam.
"Sebentar, sebelum membahas lainnya. Siapa mereka? Kenapa kamu terlibat dengan mereka?" Diki menatap Raisa dengan tajam, ia harap Raisa tidak menyembunyikan sesuatu di belakangnya lagi.
Diki mengabaikan Raisa, ia sedang menelpon Rio. Terlalu mudah bagi Diki untuk keluar dari masalah ini.
Rio dengan cepat datang, "Pak, aku udah bawa mobil kantor, mari ikuti aku"
"Bagus," Diki merasa lega lalu berdiri "Ayo, kita ikuti dia" ajak Diki pada Raisa.
Tapi Raisa masih melongo tak percaya begitu mudahnya Diki menyuruh bawahannya untuk datang menolongnya. Dalam hatinya, 'Kenapa nggak dari tadi aku kan nggak perlu capek-capek lari sampe ngos-ngosan begini'
Raisa dan Diki keluar dari persembunyian. Raisa tidak melihat dua pria itu lagi. Mungkin mereka sudah menyerah mencarinya lalu pergi.
Rio fokus menyetir, dia tidak berani bertanya. Ia tidak mengerti malam-malam begini untuk apa atasan dan istrinya bersembunyi diluar.
Raisa berkeringat, ia masih merasa kelelahan berlari. Terlihat Raisa masih mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Fisiknya memang lemah tidak seperti Diki yang terlihat tak banyak berkeringat. Diki sudah terbiasa lari.
"Kamu lemah sekali, baru segitu udah kecapean" sindir Diki.
"Aku benci berlari-lari, membuat jantungku ini terus berdetak kencang seperti mau copot. Napasku juga serasa sesak"
"Kamu harus sering berolahraga, setidaknya kamu akan terbiasa dan aman dari kejaran orang yang berniat jahat padamu"
__ADS_1
"Aku benci olahraga" tukas Raisa menyandarkan dirinya lalu memejamkan matanya menunjukkan bahwa ia sedang lelah.
Ada perasaan lega dalam hati Diki menemukan Raisa tepat waktu. Hampir saja ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi seandainya keputusan Diki tidak putar balik kemungkinan akan terlambat menyelamatkan Raisa.
Sudah sampai, Raisa malah tertidur nyenyak. Diki nampak bingung.
"Kenapa tidak menggendongnya saja, Pak" saran Rio yang langsung dapat tatapan menusuk dari Diki. "Eh iya, Pak. Maaf" nyali Rio jadi menciut.
Diki masih canggung meski Raisa sudah menjadi istrinya.
"Aku akan membangunkannya, kalau aku menggendongnya dia akan jadi istri yang manja"
"Iya, anda betul sekali pak" kali ini Rio harus menyetujuinya kalau tidak habislah dia.
"Raisa! Raisa!" Berulang kali Diki bangunkan Raisa, ia tetap pulas tertidur. "Ya ampun! Susah sekali membangunkannya" Diki mulai kesal.
"Rio, apa ada saran lain bagaimana caranya agar ia terbangun?"
"..." Rio bingung menjawab apa, bisa-bisa sarannya salah lalu Diki akan memarahinya.
Diki memencet hidung Raisa hingga membuat sesak lalu terbangun tiba-tiba. "Akhirnya kamu bangun juga"
Rio yang berada di samping bergidik ngeri melihat cara atasannya yang nampak ekstrem. Untung istrinya tidak mati kehabisan napas.
Raisa mengerjap, "Oh sudah sampai," lalu beranjak dan sebelum masuk ia mengucapkan "Terima kasih, Rio"
"Sama-sama Bu Raisa"
Rio pamit lalu kembali pulang setelah mengantar Diki dan Raisa.
Begitu sudah masuk ke dalam rumah, Diki langsung menodong pertanyaan pada Raisa.
"Cepat ceritakan kenapa kamu bisa berurusan dengan dua pria itu?"
----
----
Bersambung...
Jangan lupa like, favorit dan komentarnya yah biar aku semangat menulisnya.
__ADS_1