MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 51. MENGULUR WAKTU


__ADS_3

Diki menghubungi Rio untuk bertanya mengenai perkembangan pekerjaan tukang yang merenovasi rumahnya.


"Iya, Pak. Aku sudah memilih tukang terbaik untuk menyelesaikannya agar tidak memakan waktu lama." Dari seberang telepon Rio memberi kabar.


"Tidak, jangan percepat dan dibuat santai saja. Masih ada banyak waktu" ucap Diki yang mematahkan persepsi hingga membuat Rio tercengang mendengarnya. Apa ini masih bosnya atau orang lain? Diki tipikal orang selalu menyukai pekerjaan efektif dan efisien, kenapa kini dia berbeda?


"Maksudnya, Pak?" Rio mengernyit.


Diki menjelaskan pada Rio bahwa ia ingin membuat pekerjaan tukang yang seorang ahli, biasa menyelesaikan pekerjaan dalam kurun 1 minggu, diminta untuk mengulurkannya selama 2 minggu.


Bukankah itu menguntungkan tukang dan dia akan rugi? Ini seperti bukan karakter Diki, ia jadi berubah 180 derajat. Rio masih tak percaya.


"Sudah ikuti perintahku, jika istriku bertanya jelaskan sesuatu yang sulit hingga ia tidak mengerti. Jadi alasanmu akan diterima secara masuk akal olehnya"


"Baik, Pak"


Dari balik telepon, Diki tersenyum licik. Dengan begitu, dua minggu ke depan Raisa tidak punya alasan untuk tidak tidur di kamarnya. Diki jadi merasa bangga dengan ide kelicikannya. Hatinya seakan berteriak kegirangan.


Sesampainya di rumah, Rio dan dua orang tukang sedang berkemas. Hari ini, mereka telah melakukan pekerjaan untuk hari pertamanya. Karena sesuai permintaan Diki, tak ada raut capek dan lelah di wajah mereka.


Sesuai perintah Diki, beberapa kali mereka beristirahat santai. Mengulur pekerjaan dengan sengaja, walau dirasa aneh permintaan Diki tapi mereka menyukainya.


Raisa berpapasan dengan Rio yang akan pamit pulang, lalu ia pun bertanya padanya. "Rio, apakah perkerjaan tukang akan cepat selesai dikerjakan?"


Sebelum menjawab Rio berpikir sejenak, ini aneh baginya. Raisa bertanya ingin tahu seberapa cepat menyelesaikan pekerjaan seolah Raisa terlihat tidak sabar. Kenapa jadi sebaliknya dengan Diki. Untuk otaknya yang cerdas, Rio dengan cepat menanggapi maksudnya. Ia tentu akan memihak Diki.


"Bangunan ini sudah tua, ada berapa bagian yang sudah lapuk dan mudah rapuh jadi perlu perbaikan menyeluruh" jelas Rio.


Karena yang sedang diperbaiki adalah bagian kamar. Alasan Diki memintanya mengulur pekerjaan berarti selama ini mereka tidur terpisah. Seperti dugaan Rio sepertinya Diki menginginkan Raisa tetap tidur di kamarnya dengan alasan kamar Raisa belum selesai renovasi.


Rio langsung paham maksud Diki. Untungnya dia cukup pintar untuk langsung mengetahui niat terselubung Diki. Rio tetap menyembunyikannya dari Raisa. Ini semua demi hubungan yang baik.


"Maksudnya akan membutuhkan waktu yang lama?" Raisa bertanya dengan kekecewaan di wajahnya.


"Maaf saya tidak bisa prediksi, jadi anda bisa tanyakan pada mereka yang bekerja," ucap Rio mengarah pada dua tukang di belakangnya.

__ADS_1


"Ok, baiklah aku mengerti. Kalau bisa tambah dua orang lagi agar dapat mempercepat pekerjaan"


"Iya nanti akan saya atur kembali"


Di belakang Raisa, tersamar senyum tipis dari Diki. Itu artinya Rio bisa diandalkan. Diki tahu Rio tidak akan mengikuti keinginan Raisa.


Rio dan dua tukang berpamitan. Setelah itu terlihat kesuraman mewarnai wajah Raisa. Dengan ini ia sudah menduganya bahwa ia akan sekamar lagi dengan Diki. Raisa tidak bisa jamin jika keseringan berada di kamar yang sama, apakah mereka akan baik-baik saja tanpa ada sesuatu?


Malam bersambut, Raisa tak tahu lagi harus berkata apa jika malam ini ia akan sekamar dengan Diki.


Sebelum Raisa masuk ke kamar, Diki menerima panggilan dari Haris.


"Kenapa menelponku?" Suara tidak senang terdengar dari bibir Diki.


"Ayolah, ini masih sore. Tidak masalah kan kalau aku bicara tentang pekerjaan?"


Sore? Kemudian Diki melihat ke arah jam dinding.


"Kita bisa bicarakan besok, sekarang sudah malam" Diki tak mau mendengar lebih lama dan membuatnya harus dipusingkan dengan pekerjaan. Ini sudah di rumah, saatnya baginya menghilangkan penat.


"Tentu saja kamu menggangguku," Diki mendengus kesal.


"Tunggu sebentar jangan ditutup dulu, produk kita ditiru oleh produk Revan"


"Kamu tidak perlu cemas, aku sudah punya solusi untuk mengatasi kemungkinan terburuk. Aku punya inovasi terbaru untuk produkku"


Lalu dengan cepat Diki memutuskan sambungan telepon dan menggantikan mode dering ke mode hening.


"...?" Di sana Haris terkejut, sambungan telpon langsung diputuskan oleh Diki. Ia bergumam, "Dasar, pengantin baru. Sepertinya dia sudah sangat tidak sabar." Lalu Haris tertawa geli.


Setelah selesai mengatasi Haris yang mengganggu, ia berpura-pura menyibukkan diri dengan membaca buku sambil bersandar di ranjang. Dengan rasa tidak sabar, Diki menunggu Raisa di kamar.


Kemudian terdengar suara pintu dibuka, Raisa dengan malu melangkah masuk ke kamar Diki. Dari arah berhadapan, Diki menatap ke Raisa.


"A-aku..."

__ADS_1


"Kamarmu belum selesai direnovasi. Aku juga tahu kemungkinan beberapa hari ke depan kamu akan tidur di sini"


"Bagaimana kalau menambah tukang agar pekerjaan cepat diselesaikan?"


"Terserah." Diki berbicara seolah acuh tak acuh.


Bagi Diki berapapun banyak tukang yang akan merenovasi tidak akan bisa selesai dalam waktu yang sama, karena bagaimanapun Diki lah yang memegang kendali untuk mengulur seberapa lama waktu yang dibutuhkan agar ia bisa selalu bersama Raisa. Apa jadinya jika Raisa tahu?


"Seperti sebelumnya aku harus memberi pembatas." Raisa melakukan hal yang sama yaitu meletakkan bantal guling di tengah ranjang dan disusun secara horizontal.


"Kamu konyol, mana ada yang tahu saat kita tidur siapa yang sudah melewati batas. Bisa jadi itu kamu"


"Aku rasa tidak"


"Benarkah? Bukannya kemarin kamu yang tiba-tiba menarik lenganku lalu memelukku."


Wajah Raisa memerah, ia tidak mau mengingat hal yang baginya memalukan. Ia juga tidak mau dianggap agresif di mata Diki. Raisa spontan meletakkan telapak tangannya untuk membungkam mulut Diki, "Stop! Jangan katakan itu"


Mereka terdiam bersama, suasana hening penuh kecanggungan menyelimuti mereka.


Terutama Diki, ia menghirup wangi dari telapak tangan Raisa. Biarpun itu hanya wangi sabun mandi tapi rasanya menenangkan. Sentuhan tipis dari Raisa mengundang gejolak panas dari tubuh Diki.


Tatapan Diki yang lurus tepat ke mata Raisa membuat Raisa malu lalu menarik tangannya kembali. Ia pun berbalik. Padahal Raisa ingin menaklukkan hati Diki demi rumah warisan, tapi kenapa dihadapkan situasi begini dia jadi malu dan canggung dengan Diki. Raisa tak tahu, ada apa dengan dirinya itu.


Masih dalam posisi membelakangi Diki, Raisa hendak merebahkan tubuhnya di ranjang tetapi suara dering ponsel Raisa mengusiknya. Bukan hanya Raisa, Diki juga terlihat terganggu dan membuatnya tidak senang.


Raisa berdiri lalu mengambil ponselnya. Diki yang dibuat penasaran kemudian mendekati Raisa.


"Dari siapa?" Setelah bertanya, dengan refleks Diki menarik lengan Raisa hingga Raisa terjatuh di pangkuan Diki begitu mudahnya.


Raisa terkejut oleh tindakan Diki. Debaran jantung Raisa melonjak.


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2