
Raisa semakin mendekatkan wajahnya ke leher pria itu yang kemejanya sudah terbuka. Otak Raisa yang dipenuhi oleh wajah Diki, seketika dia teringat bahwa bahu Diki ada bekas gigitannya tetapi begitu melihat kedua bahu pria di depannya malah tidak ada sama sekali. Raisa sedikit tersadar bahwa pria di depannya bukanlah Diki. Dia pun mengangkat wajahnya dan menatap wajah pria di depannya.
"Irfan?" Raisa terkejut.
"Raisa, aku mengerti bahwa kamu telah dijebak oleh Revan. Aku akan membantumu, percayalah aku tulus." Irfan sudah tidak tahan, dia menatap Raisa dengan penuh nafsu bergejolak. Irfan sangat menginginkan Raisa.
Raisa mengutuk dirinya yang hampir jatuh ke dalam pelukan sang mantan kekasih. Raut wajah Raisa berubah muram.
Raisa menarik dirinya lalu mendorong Irfan. Di tengah kesadarannya yang menipis, Raisa berusaha sekuat tenaga untuk menahan dirinya. Raisa mencoba membuka pintu mobil, dia ingin kabur. Raisa tidak mau mengkhianati Diki.
"Raisa, jangan keluar! Ini sudah malam, bahaya jika wanita pergi seorang diri dalam keadaan seperti ini. Ada banyak Serigala lapar yang siap memangsa." Irfan menahan Raisa dengan perasaan cemas.
"Lepaskan! Antarkan aku pulang atau aku akan mencelakai diriku sendiri. Aku tidak mau melakukannya denganmu." Raisa mengancam dengan marah. "Cepat!"
Irfan dengan terpaksa menuruti kemauan Raisa daripada Raisa nekat dan nantinya akan menyusahkannya lalu menyesal. "Oke, baiklah. Sekarang, aku akan mengantarkanmu pulang."
Raisa mencari kunci rumah di dalam clutch bagnya. Dia bersiap ingin segera masuk ke dalam rumahnya lalu berendam dengan air yang dingin. Raisa sudah sangat tidak tahan. Panas tubuhnya semakin meningkat, dan otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih.
Setelah sampai di rumah Raisa berlari lalu mengunci pintu dari dalam. Raisa tidak mengucapkan terima kasih pada Irfan malah dia kesal karena Irfan hampir ingin mengambil keuntungan darinya.
Meski kecewa memenuhi wajah Irfan tetapi setidaknya Irfan lega telah menggagalkan rencana licik Revan. Di sudut hatinya, Irfan mulai membenci Revan. Mulai detik ini, Irfan akan memutuskan kontrak kerjasama dengan Revan.
*****
Diki telah menyelidiki kasus kematian Tedi yang ternyata tidak ada hubungannya dengan Hendrik. Besar kemungkinan Shadow Jack sendirilah yang dengan sengaja menghilangkan nyawa Tedi agar terkesan ini berkaitan dengan Raisa seolah motif dendam. Diki sudah menelaah kasusnya dan bekerja sama dengan detektif pilihannya.
Diki sudah menemui Hendrik dan membicarakan masalah ini. Akhirnya Diki tidak bisa menghindari dari tawaran Hendrik untuk kembali ke organisasi namun Diki perlu waktu untuk berpikir.
Setelah menyelesaikan urusan, Diki pulang.
Berulang kali, Diki mengetuk pintu tetapi pintu tetap tak dibuka. Diki ingat dia juga membawa kunci cadangan, akhirnya Diki membuka pintu.
__ADS_1
Kemudian Diki masuk, dia mengerutkan alis melihat beberapa pakaian berserakan. Itu adalah gaun yang dikenakan Raisa tadi.
Diki terus melangkah ke dalam mengikuti jejak pakaian yang berserakan hingga dia sampai di depan kamar mandi. Diki melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit dan terdengar suara kucuran air.
Diki tercengang Raisa mandi di bawah kucuran air yang mengalir deras tanpa menutup pintu kamar mandi. Diki mendekati Raisa, dia pun terkena percikan air.
Suhu tubuh Diki mendadak panas melihat tubuh Raisa secara langsung. Ini pertama kali bagi Diki melihat Raisa seutuhnya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Mata Diki terbuka lebar. Keindahan itu terpampang di depannya.
Dengan suara serak, Diki memanggil, "Raisa..."
Raisa belum bisa membedakan mana nyata atau mimpi, dia melihat Diki tetapi seperti dalam mimpi. Raisa pun menarik Diki hingga membuatnya basah kuyup.
"Apakah aku sedang bermimpi? Diki, tolong bantu aku." Raisa berbisik sambil berjinjit dan tangannya melingkar di leher Diki. Hasr*tnya menggelora.
Suara lembut Raisa membangkitkan gejolak dalam tubuh Diki. Raisa pun jadi bertingkah liar dan tangannya mulai menjelajahi lalu memberikan sebuah ci*man yang panas. Diki bergetar merasakan sentuhan Raisa.
Jakun Diki naik turun, matanya tak berkedip. Diki tidak bisa menolak rayuan maut Raisa. Diki jadi terhanyut oleh buaian Raisa.
Diki tidak mengerti mengapa Raisa dalam kondisi seperti ini setelah pulang dari pesta. Apakah seseorang ingin menjebak Raisa?
Mungkin setelah ini, Diki berjanji akan mencari dalangnya.
Melihat Raisa yang menggigil, Diki memutar kran agar airnya berhenti. Kemudian Diki membungkus Raisa dengan handuk lalu menggendongnya ke kamar.
Masih dalam pengaruh obat, Raisa tidak bisa mengontrol dirinya. Kemudian Raisa bertindak terlalu jauh hingga memaksa Diki ikut tenggelam bersama Raisa menikmati malam panjang yang terasa syahdu.
First night ini adalah momen yang tak akan pernah terlupakan bagi keduanya.
.......
Suara ayam berkokok di subuh hari.
__ADS_1
Raisa mengerjap, tangan besar berada di pinggangnya. Raisa pun terkejut dan langsung terbangun. Raisa melihat Diki yang berada di belakang sambil memeluknya dengan kondisi...
Ah... Raisa kehilangan kata-kata, dia malu sekali untuk menggambarkannya. Mereka berdua telah melakukan hubungan lebih jauh tanpa Raisa sadari. Semalam Raisa hilang kendali dan kini mereka berada di dalam selimut yang sama.
Sepertinya nanti, Raisa kehilangan muka untuk menghadapi Diki.
Raisa tak mau banyak berpikir, kemudian dia bangkit untuk bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Ketika hari sudah terang dan matahari bersinar hangat. Raisa sudah bersiap, mulai hari ini Raisa akan masuk kerja setelah cuti beberapa hari.
Raisa mencoba untuk terus menghindari Diki. Saat Diki ingin sarapan, Raisa telah selesai. Juga begitu Diki masuk ke kamar, Raisa malah keluar. Pemandangan yang sangat mencolok di mata Diki.
Diki jengah dengan sikap Raisa, "Raisa...!"
Raisa gelagapan, dia masih malu dan tak mau menatap Diki. "Ada apa?" Raisa enggan mengangkat wajahnya dan dia mengalihkan pandangannya. Pipinya merona.
"Raisa tatap mataku jika aku bicara, aku mau tanya, apa yang terjadi denganmu semalam?" Diki berkata serius, dia cemas jika saat itu Raisa tidak pulang ke rumah entah masalah apa lagi yang akan timbul. Sesuatu menakutkan melintas di benaknya.
"A–aku... ehm," Raisa menggigit bibirnya karena dia bingung mau menjelaskan dari mana dulu. "Diki, maafkan aku. Semalam aku lepas kendali." Raisa berbicara pelan. Adegan semalam itu seperti mimpi bagi Raisa. Begitu terasa namun dia tidak ingat.
"Aku tahu, aku mengingatnya dengan jelas dan juga menikmati malam yang indah bersamamu," Diki menatap dalam penuh arti. "Hanya saja, kenapa tiba-tiba kamu bereaksi berlebihan? Pasti kamu mengkonsumsi sesuatu." Ekspresi Diki berubah sedingin es dan kilatan melintas di matanya.
Secara spontan, Raisa menatap Diki. Dipenuhi rasa bersalah, ketakutan datang menghampiri hingga Raisa gemetar. "Diki, kamu bisa menebak apa yang sedang terjadi padaku?"
Kini mereka saling menatap.
----
----
Bersambung...
__ADS_1