MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 53. MASALAH BARU


__ADS_3

Raisa tertegun dengan sikap tegas Diki, ia seperti suami yang melindungi istrinya. Diki memang seorang pria yang mengagumkan, Raisa mulai terpesona padanya. Mata Raisa berbinar memandangnya, betapa Diki terlihat keren walau baru mendengar dari ucapannya saja.


Memang sebelumnya Diki selalu menolongnya dan perasaan dilindungi oleh seorang pria itu terasa menyejukkan hati. Raisa merasakannya.


Semenjak ditinggal oleh ayahnya, Raisa selalu berusaha berdiri di kaki sendiri dan tidak ingin menjadi wanita lemah. Dia terbiasa tidak bergantung pada pria bahkan pamannya yang begitu sayang pada Raisa berubah ketika menikah dengan Fatma.


Sejak saat itulah Raisa lupa bahwa ia juga seorang wanita yang membutuhkan pria untuk melindunginya. Siapa yang tahu di luar sana dunia begitu liar dan kejam.


Sikap Diki menyadarkan Raisa bahwa ia tetaplah seorang wanita dan Raisa sudah bersuami. Sudah sepatutnya Raisa bergantung dan membutuhkan Diki.


Lalu Raisa hanya bisa mengucapkan, "Terima kasih..." ia pun tersipu malu.


Melihat tampilan wajah Raisa begitu polos dan naif, perasaan Diki mendadak bermekaran. Aura dingin yang tadi mewarnai wajah Diki seketika berubah hangat. Pandangannya seperti bunga yang bersemi. Diki menarik sudut bibirnya, sikap Diki pun jadi melunak.


"Sekarang sudah malam lebih baik kita istirahat, kamu tidak usah terlalu memikirkannya"


Raisa pun tertidur dengan tenang di samping Diki, tetapi Diki tak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih terfokus pada masalah Raisa.


Nyala api seakan membara di mata Diki yang marah karena istrinya seolah dilecehkan di depan matanya. Siapa pria yang berani merendahkan istrinya? Diki tidak akan pernah memaafkannya.


Diki keluar kamar, lalu menghubungi Rio untuk menyelidiki pria yang telah menelpon Raisa tadi. Dia harus bertindak selangkah lebih dulu untuk menyelidiki masalah ini.


Keesokkan hari...


Diki menyelesaikan pekerjaan di kantornya. Beberapa masalah muncul tentang produknya. Revan berusaha meniru produknya karena material sebelumnya memang berasal dari perusahaan yang sama. Itu semua ulah Irfan yang mulai menjalin kerjasama dengan Revan untuk menyingkirkan produk produksi perusahaan Diki dari pangsa pasar.


Produk terbaru keluaran dari perusahaan Diki awalnya memang belum ada di pasaran. Ketika ia membuat sebuah terobosan baru pasti akan ada banyak pesaing yang mengikuti model produk Diki. Apalagi ketika permintaan konsumen yang melonjak. Hal itu lumrah terjadi dalam dunia bisnis. Diki sudah mengantisipasi sebelumnya. Dia selalu melakukan inovasi agar bisa mempertahankan produknya di pasaran.

__ADS_1


Kemarin Diki yang selalu berkunjung ke tempat Haris hari ini sebaliknya. Haris datang untuk rapat dengan Diki membahas beberapa masalah yang timbul.


Di dalam ruangan rapat...


"Perusahaan lain tidak akan bisa meniru sepenuhnya produk yang kita keluarkan. Aku sudah punya rencana cadangan. Beberapa bulan lalu aku sudah membeli mesin CNC baru, dan sudah mempersiapkan SDM baru untuk mengoperasikan mesin itu." Diki menjelaskan.


"Wah luar biasa pemikiran anda,"


"Meskipun produk akan banyak yang meniru tapi material kita berbeda, Pak Haris sudah bekerja sama dengan perusahaan penghasil material yang baru. Untuk kualitas biar tim Pak Haris yang mengurusnya. Jadi tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Kita hanya perlu fokus pada marketingnya"


"Betul, sekarang tugas kita harus bekerja keras terutama di bidang marketing. Kita perlu meningkatkan penjualan secara online karena bisa menjangkau konsumen secara luas"


Selang beberapa waktu, rapat berjalan dengan lancar. Hasil rapat telah disetujui oleh para komisaris.


"Ok, pembahasan selesai sampai di sini, aku akhiri rapatnya sekarang. Terima kasih," Diki merapikan dokumen dan laptopnya.


Siapa yang bisa menyangka jalan pikiran Diki begitu cerdas. Dengan segala kemampuannya, langkah yang diambil Diki melebihi ekspetasi. Dia sangat inovatif, Haris mengakui itu dalam hati.


"Aku tidak mau dikalahkan oleh perusahaan Revan" Lalu Diki berjalan dengan tegap dan langkahnya yang panjang. Punggungnya menggambarkan sosok yang tegas dan keras.


"Tentu saja itu bagus karena dia sudah berani mengusikmu jadi kamu bertindak sedikit kejam untuk mengalahkan produknya di pasaran." Haris tertawa senang. "Demi istri tercinta, ya kan"


Diki tak menghiraukan Haris. Sejenak ucapan Haris mengingatkannya pada masalah Raisa. Segera Diki ingin tahu informasi yang di dapat dari Rio.


Semua orang keluar dari ruangan rapat. Diki melangkah menuju ruangannya dan diikuti Rio di belakangnya.


"Apa yang sudah kamu dapatkan, Rio?" Diki bertanya dengan serius.

__ADS_1


"Saya sudah mengecek alamat IP juga pemilik nomor ponsel yang menelpon Bu Raisa. Ternyata setelah diselidiki, dia anak buah the Black Jack." Rio yang seorang ahli IT dengan cepat mendapatkan informasi tentang mereka.


"The Black Jack?" Diki terkejut mendengar nama yang tidak asing baginya. Geng mafia the Black Jack yang pernah berurusan dengannya tempo dulu. Sekilas memori otaknya memutar kenangan buruk peristiwa tentang mafia tersebut. Karena merekalah Diki memutuskan berhenti dari agen rahasia.


Jaringan geng mafia The Black Jack sangat luas bahkan anak buahnya tersebar sampai ke kota kecil ini. Diki tahu bahwa ia tak bisa selamanya menghindari ataupun bersembunyi lebih lama. Kelak mereka akan tahu keberadaan Diki. Saat ini yang akan Diki lakukan adalah untuk tidak berinteraksi langsung dengan mereka.


"Lalu apa lagi yang kau ketahui?"


"Anak buahnya yang bernama Tedi adalah seorang lintah darat yang terkenal. Beberapa wanita banyak yang terlibat hutang padanya. Dia menawarkan pinjaman untuk permodalan usaha kecil khususnya bagi ibu rumah tangga tapi bunganya sangat mencekik dan orangnya tidak toleran." Lalu Rio menekankan, "Korbannya tidak sedikit."


"Itu pasti didanai oleh Shadow Jack–pemimpin the Black Jack. Rupanya bisnisnya bukan hanya berskala besar saja tapi menjerat kaum kecil juga. Tante Raisa adalah salah satu korbannya. Ini tidak bisa dibiarkan." Diki menunjukkan wajahnya yang penuh aura dingin dan kejam. Dalam diamnya tersimpan gelombang amarah yang besar tetapi Diki tidak bisa bertindak gegabah.


"Apakah kita akan berurusan lagi dengan mereka, Pak?"


"Tidak. Selama ini kita berdua sudah bersembunyi dari mereka, akan sia-sia jika harus menghadapi mereka sekarang. Jika yang mereka inginkan hanyalah uang, aku akan memberikannya. Terlalu riskan jika berurusan dengan mereka lagi di saat kondisiku yang sekarang. Aku belum mencapai puncak." Diki duduk di kursi kebesarannya, dia terlihat berbeda. Tatapannya yang rumit penuh misterius dan sikap tenangnya adalah awal dari sebuah badai.


Rio sudah mengenal karakter Diki, biasanya Diki akan melakukan hal yang tidak terduga. Jadi tak ada kekhawatiran dari Rio untuk menghadapi the Black Jack. Ia mengikuti keinginan Diki dengan patuh.


"Saya mengerti"


"Rio, Aku butuh seseorang untuk melindungi istriku secara diam-diam. Aku khawatir dia akan bertindak tanpa sepengetahuanku"


..................


---


---

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2