
"Kamu kemana saja tadi siang?" tanya Diki ketika berada di meja makan hanya saja Diki tak memerhatikan wajah Raisa yang cemberut dari tadi. "Bik Surni bilang kamu pergi." sambungya.
"Aku ke rumah sakit cuma mau beli obat di apotek," jawab Raisa dengan ketus. Hatinya masih menyimpan kekesalan.
"Kamu bisa nitip sama aku, nanti sepulang kerja kan aku bisa mampir." Diki masih menunduk, dia hanya tertuju pada makanan di depannya karena dia menikmati makan bersama Raisa di rumah.
"Tidak perlu, kenapa harus kamu yang ke rumah sakit?" Seketika Raisa bertambah kesal. Dia berpikir ini akal-akalan Diki yang ingin bertemu Emilia lagi.
"Kamu kan masih belum pulih, istirahat di rumah lebih baik." Diki mulai mengangkat kepalanya lalu dia menyadari raut wajah Raisa dan nada Raisa tadi terdengar kurang enak di telinga Diki. "Ada apa?"
"Sebenarnya tadi aku menemui dokter Emilia," Raisa berkata jujur, dia ingin melihat reaksi Diki.
Diki yang terkejut membuatnya terbatuk-batuk hampir saja Diki tersedak makanan. Melihat reaksi Diki yang mencurigakan, Raisa mulai tersulut emosi. "Kenapa kamu jadi aneh setelah aku mengatakan nama dokter Emilia?"
Diki mengambil air minum, setelah itu mencoba menenangkan situasi. "Aku tidak apa-apa, tadi aku terburu-buru menelan."
"Kamu tidak bohong, kan?"
"Raisa..." Diki menghela napasnya dan menatap sebentar Raisa lalu berbicara lagi, "Kenapa kamu menemui dokter Emilia?" Diki cemas, Raisa mulai mencurigainya dan berpikir macam-macam sehingga ingin bertindak sendiri seperti sudah kebiasaan Raisa. Diki sudah mengenal karakter Raisa.
"Aku tidak sengaja melihat handphonemu dan di layar tertera panggilan berkali-kali dari dokter Emilia. Untuk apa dia menelponmu pagi-pagi sekali? Lalu kamu juga pergi dengan terburu-buru tadi pagi."
Mendengar alasan Raisa, Diki bernapas lega. Itu artinya Raisa tidak tahu apa yang disembunyikan Diki. Dia khawatir Emilia akan memberitahu Raisa. Untung saja, Emilia bisa bekerjasama dengan baik.
"Kamu cemburu?" Diki menatap Raisa dengan kharismanya hingga membuat jantung Raisa berdegup dan wajah Raisa memerah. Tatapan Diki yang dalam mampu menggetarkan hati Raisa.
"I–itukan... karena memang tingkahmu mencurigakan," Kemudian Raisa berdiri lalu pergi. Dia sedang malas berbicara lama dengan Diki, juga waktu telah sempit. Satu jam lagi Raisa harus pergi ke pesta Vera dan dia belum bersiap.
"Kamu mau kemana? Kita belum selesai bicara." Entah kenapa Diki senang melihat wajah cemburu Raisa, hatinya merasa berbunga.
"Aku mau ke kamar."
Raisa kesal, Diki tak menjelaskan apapun malah menggodanya.
*****
__ADS_1
Diki tidak tahu apa yang dilakukan Raisa di kamarnya selama hampir satu jam. Pintu pun dari tadi dikunci sehingga Diki jenuh di kamarnya sendirian. Perasaannya gelisah karena selalu ingin dekat dengan Raisa. Apalagi tadi Diki belum selesai membahas masalah dengan Raisa yang cemburu padanya.
Setelah lama menunggu, akhirnya Raisa keluar dari kamarnya.
Begitu Diki hendak menuju ke kamar Raisa karena penasaran, dia berhenti sejenak melihat Raisa yang ternyata telah keluar lebih dulu. Mata Diki terbuka lebar ada jejak terpesona dalam tatapannya. Diki terpaku melihat penampilan Raisa yang luar biasa. Raisa terlihat cantik dengan mengenakan gaun menjuntai dan dihiasi batu swarovski yang berkilau.
"Raisa?" Diki terperanjat, dia menatap Raisa dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. "Kamu belum pernah berpakaian seperti itu, memangnya kamu mau kemana?"
"Aku mau ke acara pesta temanku, sekarang."
"Untuk apa kamu datang ke sana? Bukankah aku memintamu beristirahat agar kondisimu benar-benar pulih." Diki tak menyukai pesta, dia khawatir akan banyak mata pria yang memandang ke arah Raisa. Rasa cemburu bergejolak di hatinya.
"Tapi... aku sudah janji."
Diki menarik pinggang Raisa hingga membuat Raisa jatuh di pelukan lalu Diki berbisik di telinga Raisa, "Bagaimana jika aku melarangmu pergi?" Suara Diki terdengar berat dan seksi.
"Diki... lepaskan!" Raisa berusaha melepaskan diri dari pelukan Diki. Tangan besar Diki melingkar di pinggang Raisa begitu erat. Raisa ingat ucapan menyebalkan dari Vera. Raisa tidak akan mengajak Diki ke pesta itu, dia hanya berniat untuk datang sendiri. "Aku hanya datang sebentar saja lalu pulang. Kamu tidak perlu berlebihan, aku sudah sembuh." sambung Raisa.
"Benarkah kamu sudah sembuh?" Jarak pandang Diki terhadap Raisa sangat dekat sehingga Diki bisa melihat pantulannya di iris mata Raisa. Mata indah Raisa memancarkan pesonanya. Bibir Raisa yang dipoles lipstik seolah menggoda Diki dan menarik perhatiannya.
Aroma menenangkan yang berasal dari Raisa, membuat Diki terhanyut. Dia sangat menikmati dengan perasaan bergejolak. Begitu juga Raisa malah terbuai oleh tindakan Diki. Raisa masih saja terjerat oleh Diki meski hatinya terkadang sedang kesal. Semakin hari Diki semakin pintar mengatasi Raisa.
Di malam ini mereka berdua masih hanyut dalam keromantisan yang biasa dilakukan pasangan hingga melupakan waktu yang terus berjalan. Kemudian Diki mulai bertindak ganas dan liar. Raisa tidak bisa menolak, dia juga menyukai cara Diki memperlakukannya.
Sekali berhenti untuk mereka mengambil napas.
"Diki, kamu merusak lipstikku." ujar Raisa. Dengan jelas Raisa melihat jejak lipstiknya yang menempel pada bibir Diki, sebenarnya Raisa tersipu malu.
Diki tersenyum smirk dan berkata, "Kamu menyukainya bukan?" lalu Diki pun melanjutkan lagi. Keheningan melanda. Raisa terbuai dalam asmara yang membara, menikmati setiap momen romantis yang diciptakan Diki. Bahasa tubuh yang ditujukan Diki adalah bentuk ekspresi perasaan cintanya yang menggebu.
Suasana seketika berubah ketika terdengar suara dering handphone Diki. Mereka pun menghentikan aktivitasnya. Sebenarnya Diki merasa sangat terganggu namun dia harus mengangkat panggilan telepon itu.
Diki segera mengambil handphone di saku celana.
Begitu Raisa ingin menyingkir, Diki malah menarik pinggang Raisa dan membuatnya untuk tetap berada di sisinya. Salah satu tangan Diki tidak melepaskan Raisa. Di sisi Diki, Raisa menatap wajah Diki yang begitu dekat. Raisa menatap Diki dari dagu hingga ke jakunnya. Diki memang seksi.
__ADS_1
"Pak, ada kabar buruk yang harus saya sampaikan, Tedi tewas. Kepolisian sedang menyelidiki kasusnya, TKP sudah diberi line police. Dia tewas mengenaskan, berita ini menjadi trending topic di media online." lapor Rio.
"Tewas?" Diki merenung sebentar, masalah ini malah bertambah rumit. Sudah pasti pemimpin The Black Jack akan turun tangan, anak buah kepercayaannya tewas bersamaan dengan kehadiran Hendrik. Jika masalah ini semakin meluas, maka kemungkinan Raisa akan terseret. Diki perlu bertindak. "Baiklah, kita harus lakukan sesuatu. Cepatlah kau kemari!" Setelah itu Diki memutuskan sambungan telepon.
Melihat wajah Diki yang cemas, Raisa bertanya, "Ada apa?"
"Maaf, malam ini aku ada keperluan penting," ucap Diki sambil mengusap rambut Raisa. Dia perlu merahasiakan masalah ini dari Raisa.
"Tetapi bagaimana dengan acaraku malam ini? Apakah kamu mengijinkanku keluar? Kita bisa pergi bersama lalu turunkan aku di tempat temanku. Aku tidak enak jika tidak datang, kamu kan sudah mengenalnya. Namanya Vera," Raisa berusaha merayu Diki agar diijinkan. "Aku janji setelah datang lalu langsung pulang."
Diki terdiam sejenak, sebenarnya dia khawatir Raisa keluar sendiri namun Raisa tetap memaksa karena ini acara penting temannya. Setelah berbagai pertimbangan Diki setuju untuk mengantar Raisa ke tempat pesta temannya.
"Karena aku tidak bisa menemanimu ke pesta temanmu, aku akan meminta Rio yang akan menemanimu. Aku percaya dia bisa menjagamu. Dia orang yang dapat diandalkan."
Raisa senang sekali, akhirnya sekian lama merantau dan tidak pernah lagi bertemu teman lama kini kesempatan bertemu teman lama itu datang. Meski hanya sebentar, setidaknya ini bisa melepaskan rasa rindunya. "Terima kasih, love you." ucap Raisa riang dan reflek mengecup pipi Diki.
"Raisa, kamu jangan menggodaku lagi. Nanti aku akan menahanmu dan kita lanjutkan yang tadi."
Wajah Raisa memerah lalu mendorong dada Diki, dia langsung pergi menjauh. Jantungnya berdebar.
----
----
Bersambung...
Notes :
Reader yang baik hati dan selalu di hati.
Jangan lupa like, vote dan subscribenya agar author semangat menulisnya.
Ikuti terus kelanjutan ceritanya, mulai akan ada konflik yang berkepanjangan.
Terima kasih.
__ADS_1