MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 35. DI VILLA


__ADS_3

"Ku dengar, ada pasien istimewa yang harus aku tangani" Suara lembut Emilia terdengar akan memasuki kamar.


Di sana sudah ada Diki dan Rio berdiri saling memandang ke arah Emilia yang melangkah masuk. Senyuman manis terurai di bibir seksi Emilia, sungguh ia tidak menyangka Diki akan memanggilnya di jam yang tak biasa, ini spesial bagi Emilia.


"Apakah kamu yang harus aku periksa?" Emilia menggoda seperti biasanya, ia bicara dengan memainkan bibirnya. Tapi Diki jengah melihatnya.


Diki hanya terdiam sedingin es tanpa merespon.


"Bukan, Bu dokter" Rio dengan cepat membantah, ia tahu Diki sedang tidak nyaman jika bertemu dengan Emilia.


"Lho memangnya siapa?" Emilia terkejut tak tahu. Segera mereka berdua menyingkir dan memberi ruang. Keberadaan Raisa tadi terhalang oleh Diki dan Rio.


"Maksudmu dia?" Emilia tak percaya ada seorang wanita tak berdaya sedang terbaring di ranjang. Nalurinya sebagai dokter, langsung dengan sigap memeriksanya.


Sebelum Emilia bertanya tentang siapa yang yang sedang dia periksa, ia membuka selimut yang menutupi tubuh Raisa. "Ya ampun ini pakaiannya basah kenapa tidak menggantinya terlebih dahulu?"


Diki dan Rio terdiam, mereka terlihat seperti pria tak berguna.


Apa yang dilakukan Emilia tanpa mengindahkan bahwa di ruangan yang sama masih ada Diki dan Rio, ia mulai membuka kancing pakaian Raisa. Seketika Diki dan Rio terbelalak, mengetahui itu mereka langsung berbalik badan dan meninggalkan kamar.


Hampir saja, pemandangan itu akan merusak otak mereka.


"Dasar Emilia, kenapa langsung membukanya tanpa memberi aba-aba?" umpat Diki dengan wajah memerah. Meski ia suaminya tak seharusnya dia kesal karena canggung.


Sekilas Diki melirik sinis ke arah Rio.


"Maaf, Pak aku tidak sempat lihat apa-apa" Rio membela diri sebelum emosi Diki meledak.


"Apa? Memangnya aku bertanya apa yang kamu lihat?" Diki mengintimidasi.


Rio makin tersudut oleh perkataan Diki, ia tahu telah salah bicara. Rio menutup rapat mulutnya.


Keheningan menerpa di antara mereka yang sedang berada di luar kamar.


Emilia muncul setelah Raisa telah ditanganinya dengan baik. "Aku kira kamu sedang sakit ternyata bukan sedikit kecewa sih tapi aku bersikap profesional kok"


Rio merasa bersalah, ia tidak mengatakan apapun tentang Raisa sebagai pasien. Rio menyebutkan nama Diki, sekali mendengarnya Emilia langsung menyempatkan waktunya.


"Aku berhutang budi padamu" Diki enggan mengucapkan terima kasih, dia takut Emilia akan besar kepala.


Emilia menghela napas, "Yah, kau itu masih sama seperti dulu tetap dingin. Tapi dia siapa?"

__ADS_1


"Istrinya, Bu" Rio menjawab cepat.


"Istri? Kamu sudah menikah? Aku kok nggak tahu"


Diki tak menjawab, ia segera menuju ke kamar menemui Raisa.


Di kamar ada sesuatu yang mengejutkan pandangannya dan alisnya terangkat. Sepintas Raisa sama seperti pasien kebanyakan, terbaring dengan selang infus di tangannya.


Tapi yang membuat Diki tercengang. Raisa terbaring dengan selimut menutupi hingga dadanya, ia pasti tak mengenakan pakaian dibalik selimut tebalnya. Terlihat kulit mulus leher hingga tulang selangkanya tanpa ada yang menutupi keindahannya.


Diki mengusap wajahnya langsung keluar kamar. Kulitnya memerah hingga memenuhi wajahnya.


Kemunculan Diki yang tiba-tiba keluar membuat Emilia tersenyum.


"Kenapa dia tidak memakai pakaian?" Diki menatap tajam ke arah Emilia, pandangannya yang gelap mengintimidasinya.


Rio mendengarnya dengan jelas, tak mau berimajinasi. Ia hanya memasang wajah kaget.


"Setelah melepaskan semua pakaiannya yang basah dan kotor, aku tak menemukan pakaian wanita di sini. Baru saja aku mau bilang padamu tapi kau langsung tidak sabaran menemui istrimu" Emilia merasa tak bersalah.


Diki semakin kesal, ia marah dengan tampang tak berdosanya Emilia itu.


"Kenapa wajahmu pucat dan panik. Harusnya itu pemandangan yang biasa antara suami dan istri" nada Emilia terkesan meledeknya.


"Hentikan! Aku tidak suka kau banyak bicara" terlihat Diki sedang malu.


"Rio! Cepat belikan pakaian wanita sekaligus underwearnya"


Rio membulatkan matanya tak percaya mendengar perintah Diki yang absurd. Sejenak ia terpaku dan berpikir.


"Hei, ayolah cepat! Kenapa kamu harus berdiam diri. Sekarang kamu mulai lamban dalam bekerja"


"Bukan masalah lamban, ta-tapi bagaimana bisa aku ini seorang pria single membeli pakaian wanita plus underwearnya. Itu akan jadi bahan tertawaan orang, Pak. Lagipula ini sudah jam 1 dinihari mana ada toko yang buka"


Diki terdiam, ada benarnya juga. Lalu ia beralih ke arah Emilia.


"Aku bukan tipe yang akan meminjamkan pakaianku pada wanita yang jadi sainganku lho, itu nggak lucu"


Diki frustasi, "Kalian semua ini ingin membuatku marah?! Hah?!! Dia bisa kedinginan masuk angin"


Emilia dan Rio bergidik ngeri takut Diki akan membanting semua barangnya karena emosi. Baiklah Emilia harus mengalah dalam situasi ini.

__ADS_1


"Aku punya solusi lain, aku akan ke butik Elina. Dia kan saudariku. Aku yakin bisa membujuknya"


"Terserah padamu. Pokoknya aku tidak mau tahu, sekarang harus ada"


"Ck...begitulah dia si tukang perintah" Emilia mencibir.


"Rio, antarkan dia untuk membeli pakaian. Nih pakai kartuku untuk membayar semuanya"


Setelah memberi perintah pada Rio, Diki beralih ke Emilia. "Ingat, Emilia! Kau harus kembali lagi jangan langsung pulang"


"Lho, kok gitu. Tugasku kan sudah selesai sebagai dokter aku sudah menanganinya"


"Maksudnya nanti anda yang pakaikan baju ke istrinya, Bu Dokter. Kondisinya tidak memungkinkan untuk memakai pakaian sendiri kan?" Rio berbisik. Ia mencoba memberi pengertian agar emosi Diki tak tersulut lagi karena Emilia yang tidak peka.


"Oh... Ok" Emilia langsung paham. "Mau sampai kapan dia seperti itu" Emilia mengejek Diki sambil berbisik juga ke Rio. Dan Rio hanya mengangkat bahunya saja.


Akhirnya Rio dan Emilia keluar bersama mencari pakaian untuk Raisa. "Padahal aku ini dokter kenapa aku harus melaksanakan tugas lainnya? Ini semua gara-gara kamu, Rio" keluh Emilia.


"Ayolah, Bu Dokter bersimpatilah sedikit. Apa pandangan orang lain mengenai diriku, anda mendengarnya dengan jelas kan dia menyuruhku apa. Bener-benar konyol"


Emilia hampir ingin menertawai Rio. "Makanya jangan jomblo terus, kau selalu dimanfaatkan oleh dia"


Kini di Villa hanya ada Diki dan Raisa. Yah, mereka ditinggalkan. Diki tak berani masuk ke kamar Raisa lagi. Ia menunggu di luar kamar sambil menunggu Rio dan Emilia.


Membutuhkan waktu lama perjalanan bolak balik dari Villa sampai ke kota. Tapi Diki tetap sabar menunggu.


Diki memang suaminya tetapi ia bukan pria yang akan mengambil kesempatan saat Raisa sedang tidak berdaya. Dan ia berusaha keras untuk menahannya padahal libidonya sedang meningkat pesat. Ia jadi berkeringat. Diki tetaplah pria normal.


Suatu hal tidak terduga, Raisa berangsur sadar. Matanya perlahan terbuka. Ia masih mengingat kejadian sebelumnya dan saat ia melihat kondisi dirinya. Raisa berteriak dengan kencang dan hampir menangis. Raisa menduga Revan berhasil melakukan sesuatu padanya.


Suara teriakan Raisa sontak mengagetkan Diki. Langsung saja Diki masuk ke kamar, dia khawatir terjadi sesuatu pada Raisa.


Tapi apa yang terjadi, saat itu juga mereka membeku dan saling pandang. Raisa yang masih menggenggam erat selimut tak percaya melihat Diki.


Raisa yang salah paham langsung melemparkan bantal ke arah Diki. Ia marah, kesal dan malu perasaan Raisa bercampur aduk.


"Tu-tunggu dulu!" Diki ingin menjelaskan tetapi Raisa terus menerus melemparkan semua barang di sekitarnya ke arah Diki.


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2