MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 89. EMOSI DIKI


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak mengkonfirmasi padaku?" Raisa bertanya dengan bingung.


"Aku benci ketika kamu menyebut nama pria lain di depanku. Aku tidak suka mendengarnya, terutama mantan kekasihmu itu. Apakah dengan kejadian dia menyelamatkanmu, aku harus berterima kasih padanya?" Diki mendengus, harga dirinya sebagai pria telah terluka. "Huh?!"


Diki semakin mengeratkan lengannya untuk memeluk Raisa seolah tidak mau memberinya ruang. Ucapan Raisa hampir menyulut emosinya, padahal Diki sedang ingin menenangkan dirinya dan berdamai dengan hatinya yang cemburu.


Menyalahkan Raisa yang ceroboh sama halnya dengan menyalahkan dirinya sendiri, Diki kesal dengan semua masalah yang sudah terlanjur terjadi. Seandainya saat itu Raisa tidak pergi ke pesta Vera atau seandainya Diki bisa mendampingi Raisa, mungkin masalah ini tidak akan terjadi.


Percuma menyesali kejadian yang sudah terjadi, Diki tidak mau tenggelam bersama waktu yang telah berlalu. Dia hanya akan berpikir mencari solusi untuk masalah yang sudah terjadi.


"Aku tidak mengerti dengan sikapmu yang sekarang, aku kira kamu akan memarahiku." Raisa mencoba membaca jalan pikiran Diki.


"Kamu tidak tahu, kalau sekarang aku sedang menghukummu atas kesalahan yang sudah kamu perbuat." Diki berbisik ke telinga Raisa, suaranya magnetis dan seksi seakan seperti hembusan napas yang menggoda.


Raisa merasakan suara Diki yang seketika menggetarkan hatinya. Perasaannya bercampur aduk. Raisa menarik napasnya dalam-dalam.


"Menghukumku?" Raisa mengernyit dan mulai berpikir, kemudian dia tersentak menyadarinya. "Apa dengan tidak mengijinkanku kembali bekerja, itu hukuman darimu? Jadi pada malam itu, kamu sudah merencanakan ini?"


"Betul." Diki tidak membantah, dia mengakuinya dengan sikap jantan. "Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak suka jika kamu masih harus bertemu dengannya. Aku pikir, kamu lebih baik berdiam diri di rumah." Diki berkata dengan dingin. Tidak ada yang bisa mengalahkan sikapnya yang arogan. Menurutnya ini adalah konsekuensi yang harus Raisa bayar.


"Diki..." panggil Raisa dengan lembut, saat ini Raisa berusaha berdamai dengan keadaan yang mulai memanas.


"Sudah aku katakan tadi, aku sedang tidak mau bertengkar. Makanya aku tidak mau kamu mengatakan hal apapun. Aku sudah menebaknya, kamu akan membahas hal ini, yang paling aku benci. Aku sudah cukup bersabar dan selalu mencoba menjadi tamengmu." Diki semakin kesal. Rasanya luapan emosi di dada hampir tak terbendung.


Raisa mengelus pipi Diki, dia berharap Diki bisa tenang dengan sentuhan lembutnya. "Katakan padaku, apa alasanmu sebenarnya?" Raisa bertanya dengan menunjukkan sikap afeksinya. "Aku hanya merasa aneh, kamu mempercayaiku dengan begitu mudahnya sebelum aku jelaskan."


Diki menurunkan tangan Raisa secara pelan dari pipinya. "Kamu mencoba merayuku malam ini?" Diki bertanya penuh aura romantisme dengan mendekatkan hidungnya tepat di pipi Raisa.

__ADS_1


Sentuhan tipis itu, rasanya seperti sinyal cinta yang menyetrum. Raisa tak berkutik dan jantungnya semakin berdebar. Raisa yang masih berada dalam pelukan Diki, seolah terkurung oleh Serigala yang hendak memangsa. Raisa tak bisa lari. Suhu tubuhnya mendadak panas.


"..." Raisa seketika diam.


.................


Sebelum pulang ke rumah, pada sore hari Diki tak sengaja bertemu dengan Irfan. Diki sebagai seorang pria sejati, selain melindungi pasangan, Diki juga harus menghadapi pengganggu hubungannya.


Di luar sepengetahuan Raisa, Irfan mencoba memperkeruh suasana dan dia dengan licik menunggangi kasus yang menimpa Raisa. Harapan Irfan sama dengan Revan dan Vera, hubungan Diki akan berakhir. Namun semua masalah bisa teratasi oleh kecerdasan Diki.


Masih jelas dalam ingatan Diki, perseteruannya dengan Irfan. Kata-kata Irfan masih menggema dan terus berputar di otaknya.


"Akulah yang menyelamatkan Raisa, kalau tidak, dia akan terjebak oleh Revan. Kamu tidak pantas menjadi suaminya." Irfan berkata lantang saat bertemu Diki.


Diki tersenyum sarkastik, hatinya penuh rasa sakit. Kemunculan Irfan merusak pemandangan. "Huh?! Rupanya kamu masih punya nyali bertemu denganku."


Mereka berdua saling berhadapan, aura kegelapan menyelimuti. Sorot cahaya matahari yang akan tenggelam membayangi wajah mereka. Angin berhembus kencang membelai tubuh mereka namun seakan mereka tak peduli. Mereka berdiri kokoh dengan tatapan yang saling menusuk.


Bahkan kemunculan Diki di publik semakin menambah para penggemar wanita. Wajahnya tersebar di internet selalu dijadikan laman pertama dan banyak fans bermunculan hingga membuat fansite tentang Diki. Diki yang awalnya selalu bersembunyi dan misterius kini menjadi terkenal bak seorang idol.


"Kamu sudah melihat video cctv itu kan? Aku yakin kamu mengerti apa yang ada dalam benakmu, tentang Raisa dan aku." Irfan berkata dengan percaya diri. Dia mulai membual. Dia pikir Diki tidak tahu apa-apa karena saat mengantarkan Raisa pulang ke rumah pada malam itu, Diki tidak ada jadi Irfan mencoba melebih-lebihkan cerita.


Diki tertawa mendengar cerita konyol Irfan. Malam itu yang menikmati tubuh Raisa hanya Diki. Jejak kisah malam penuh g\*irah masih membekas di ingatannya. Diki tahu Raisa masih perawan dan dialah yang berhasil menembus segel itu. Irfan bodoh! Tentu saja Diki tidak akan mengungkapkan hal itu.


"Aku peringatan kamu untuk segera menyingkir dari kehidupanku dan Raisa!" Suaranya setajam belati yang siap mengoyak.


Irfan tak gentar, dia masih menginginkan Raisa. Kenangan bersama Raisa selama 7 bulan masih melekat dalam memorinya hingga membuatnya semakin terobsesi karena Raisa wanita yang belum pernah dia sentuh. "Kamu hanya pelampiasannya saja, dia hanya mencintaiku. Aku dan Raisa sudah menjalin hubungan sebelumnya. Di hatinya pasti masih ada aku." Irfan semakin tidak tahu malu. Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.

__ADS_1


"Menghancurkanmu mudah bagiku, seperti seekor semut. Namun aku masih punya nurani untuk membiarkanmu menikmati hidup." Diki menarik kerah Irfan, amarahnya kian membara. Tatapan Diki seperti Elang yang siap menerkam. "Aku sudah mengakhiri kontrak kerjasama dengan perusahaanmu sejak aku mengetahui bahwa kamu adalah mantan kekasih Raisa. Jadi kita tak ada lagi keterkaitan di masa yang akan datang." Kemudian Diki melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah Irfan. Dia tidak mau mengotori tangannya hanya untuk manusia sampah seperti Irfan.


Rio yang berada di belakang Diki, dia bergidik. Rio tahu sekejam apa tindakan Diki untuk menghancurkan musuhnya. Diki tidak akan memberi toleransi apapun. Irfan termasuk orang yang beruntung bisa lepas dari cengkeram tangan Diki dan hanya diberi sedikit pelajaran.


Tak lama setelah itu, suara handphone Irfan berdering. Ada telepon masuk yang mengabarkan bahwa ada masalah mengenai perusahaannya. Perusahaan Irfan sedang diselidiki karena tersandung kasus pencemaran lingkungan. Entah siapa yang menyelidiki ini, Irfan tidak tahu. Dengan cepat dia bergegas pergi dan meninggalkan Diki begitu saja.


Diki menyeringai memandang kepergian Irfan dari hadapannya. "Kerja yang bagus, Rio."


..........


Kejadian tadi di sore hari yang menyebalkan, Diki tak bisa melupakannya, sekarang Raisa malah ingin membahasnya kembali. Sama saja menuangkan minyak ke dalam api. Itulah yang membuat Diki marah dan kesal.


Malam ini Diki hanya ingin bermanja-manja dengan Raisa, bermesraan dengan pasangan bisa melepaskan stres dan tekanan yang terjadi di luar rumah.


"Apakah kamu bisa melayaniku malam ini?" Diki berbisik.


-----


-----


Bersambung...


Note :


Terima kasih para readers baik hati yang sudah mendukung karyaku ini. Doakan selalu author sehat agar bisa update terus yah.


Aku yang menulis aja deg2an, serasa masuk ke dalamnya. Aku gak sanggup membayangkan sosok Diki.

__ADS_1


Ikuti terus keseruan kisah hubungan Diki dan Raisa. bagaimana keduanya menghadapi masalah yang menerpa hubungan mereka.


Happy reading.


__ADS_2