MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 16. MELAMAR RAISA


__ADS_3

Diki masih diliputi kebingungan setelah kedatangan Fatma-tante Raisa. Sampai sekarang ia belum memutuskan apapun dan ingin membicarakannya dulu pada Raisa. Diki mencoba menghubungi Raisa untuk bertemu sore ini dan membahasnya.


Suasana sore di sebuah taman dekat sudut kota terlihat sangat ramai. Banyak anak kecil berlarian dan orang tua yang menemani anaknya bermain. Tak luput juga dari pandangan, para ABG sedang bersenda gurau dan berkumpul dengan sebayanya.


Di sebuah kursi panjang, Raisa duduk dengan memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan Diki.


"Di sini? Apa nggak salah?" celetuk Diki yang begitu baru datang, pandangannya masih memerhatikan di sekitarnya. Rasanya Diki kurang suka bertemu di taman.


Celetukan Diki terdengar oleh Raisa dan pandangannya beralih melihat Diki sudah berada tepat di depannya. Lalu Raisa mendongak "Iya, memangnya kenapa? Apa kamu risih kita bertemu di sini?"


Diki mendengus, "Aku kurang suka, bisakah kita mencari tempat lain selain tempat ini?" Diki masih berdiri dan tak mau duduk.


"Duduklah dulu! Nggak enak bicara sambil berdiri tau"


"Kita cari tempat lain aja" Diki bersikukuh


"Di sini lebih nyaman," Raisa pun tak mau kalah


"Kau ini gadis yang keras kepala" Diki mendengus. 'Menyebalkan sekali' umpatnya dalam hati.


Raisa menarik lengan Diki hingga membuatnya jatuh terduduk di sampingnya. Diki terkejut lalu mengarah pandangan ke Raisa tetapi Raisa menatap lurus ke arah depannya.


"Duduklah dan nikmati sore hari di taman ini. Kamu akan merasakannya bahwa di sini nyaman" ujar Raisa.


Diki menghela napas akhirnya Diki mengalah, ia duduk di samping Raisa.


"Ada apa? Kayak ada perlu penting yah untuk kita bicarakan?"


"Ya" jawab Diki singkat, "Ini tentang Tantemu..."


"Kenapa dengan Tante? Kamu udah bertemu dengannya?"


"Begitulah, kemarin dia datang ke kantorku katanya acara lamaranmu diadakan di rumahnya. Apa kamu udah kompromi dengannya?"


"Nggak, bahkan aku kesulitan menemuinya. Jangankan Tante bahkan pamanku sendiri aku nggak bisa menemuinya dengan berbagai alasan yang aku sendiri gak tau. Kenapa dia justru menemuimu bukan aku. Aku heran jadinya," ujar Raisa keheranan dengan tingkah Tantenya ini pasti ada sesuatu.

__ADS_1


"Entahlah, aku nggak tau soal itu. Yang pasti aku belum tahu yang benar yang mana, antara kamu dan tantemu"


"Trus dia bilang apa lagi?" tanya Raisa


"Dia minta acara lamaranmu diadakan di rumahnya dan katanya biar dia yang urus semua keperluannya. Dan ia..." ucapan Diki terpotong, ia diam tak melanjutkan karena bingung. Haruskah ia bicara terus terang pada Raisa.


"Dan apa??? Ayo ngomong aja, aku siap dengerin kok" Raisa malah makin penasaran.


"Tantemu minta dana dariku"


"Dana? Dana apa? Jujur aku belum menemui Tante lho ya, jadi bukan aku yang nyuruh" Raisa tidak mau Diki jadi salah paham padanya.


"Dana untuk acara lamaranmu"


"Apa? Dana untuk acara lamaranku?" Raisa makin terkejut, ia tak menyangka bahwa Tantenya jadi seberani itu. "Emang berapa yang ia minta?"


"Hmm... Ia minta 100 juta"


"Hah?!!! 100 juta? Buat apa sebanyak itu? Aku harus menemui Tante mau menanyakan apa maksudnya itu tiba-tiba minta sesuatu tanpa kompromi denganku. Ini kan acaraku, seenaknya aja dia bikin aku malu di depanmu" Raisa berdecak kesal mendengar cerita Diki.


"Trus kita harus bagaimana?"


"Nggak, pokoknya aku nggak mau di rumah Tante. Trus jangan kasih apapun untuknya. Aku nggak tau maksud dia apa"


Lalu Raisa terdiam sesaat, dia jadi teringat sesuatu bahwa dia pernah ketipu sama Tantenya yang selalu meminta uang padanya.


Dari sikap yang ditujukan Raisa sepertinya memang Raisa tidak tahu apa-apa. Diki makin tidak mengerti dengan Tante Raisa itu. Kok, bisa-bisanya mengambil kesempatan atas nama Raisa.


Setelah kesepakatan itu, Diki mengikuti permintaan Raisa. Acara lamaran dilaksanakan dengan cara sederhana dan tanpa memberitahu Tante Fatma. Raisa tidak mau acaranya nanti dirusak oleh Tantenya.


Acara lamaran pun tiba, orang tua Diki datang menemani Diki untuk melamar Raisa. Meski sederhana, Raisa bersyukur berjalan dengan lancar. Semua penghuni kos-an ikut menyambut kebahagiaan Raisa, mereka makan bersama dan menemani Raisa.


Ada guratan rasa haru di wajah Raisa, dia tidak menyangka acara yang dinantikannya telah tiba. Ia jadi teringat kedua orangtuanya, andai mereka masih ada mungkin mereka juga akan merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan Raisa saat ini.


"Raisa, sekarang kamu sudah dipinang oleh anak aku Diki. Tiga bulan ke depan dari sekarang persiapkan dirimu untuk acara pernikahan nanti. Semua acara biar aku yang urus dan dilaksanakan di rumahku aja" ucap Pak Bambang.

__ADS_1


"Iya, Pak"


Senyum sumringah terpancar dari wajah Bu Lidia. Hari ini ia senang, anaknya akan menikah jadi ia tidak perlu mendengar lagi cibiran orang lain mengenai anaknya selama ini yang selalu jomblo.


"Aku seneng akhirnya kamu dan Diki akan segera menikah, semoga acara nanti tidak ada halangan" timpal Bu Lidia pada Raisa.


Raisa mengangguk. Sedangkan Diki yang tanpa ekspresi memandang ke arah Raisa dan mamanya yang sedang bicara.


"Ayo, semuanya silahkan makan sampai kenyang jangan sungkan yah" sahut Bu Lidia pada penghuni kos-an dan juga pemiliknya.


Raisa yang berpenampilan sederhana tapi aura wajahnya yang nan ayu memesona terpancar. Meski Diki diam, dalam hati ia mengakuinya bahwa Raisa manis dan cantik.


"Kenapa liat-liat? Kamu mau bilang aku cantik yah?" ujar Raisa memergoki Diki yang terus menatapnya


"Hei, ke-PeDe-an sekali kalo ngomong" Diki gelagapan, ia malu. Akhirnya pandangannya ia alihkan ke arah lainnya.


"Mengakui aja begitu sulit bagimu" Raisa bergumam sambil mencibir.


Acara yang tak berlangsung lama itu pun berjalan lancar. Meski diadakan sederhana tapi tak menyurut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Raisa dan orang tua Diki, hanya Diki lah yang sikapnya datar. Mungkin ia malu mengakuinya.


Semua penghuni kos-an kembali ke aktivitasnya karena acara telah selesai. Raisa membereskan barang-barang dan merapikannya ke tempat semula.


"Wah, hebat yah calonmu" seru salah satu penghuni kos-an yang ikut membantu Raisa beberes. Dia adalah Tika, seorang pegawai swasta yang nge-kos bersebelahan dengan Raisa.


Raisa hanya tersenyum menanggapinya karena Raisa tidak mau besar kepala. Mereka hanya tahu luarnya saja belum tahu isi di dalamnya.


Tiga bulan Raisa akan menikah dengan Diki, dirinya jadi tidak sabar ingin cepat-cepat menempati rumah itu. Rumah peninggalan orang tuanya.


Mata Raisa jadi berbinar-binar karena membayangkannya betapa bahagianya hati Raisa. Tujuannya Raisa selalu rumah itu....


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2