MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 90. TAKTIK DIKI


__ADS_3

Suara Diki terdengar jelas di telinga Raisa. Perubahan sikap Diki sangat cepat, dia yang dulu dingin, kini dalam sekejap berubah menjadi sosok pria perayu.


"Me–melayani?" Raisa tergagap. Dia berusaha melepaskan tangan Diki. "Dasar m3sum!" maki Raisa dipenuhi rona merah di pipinya.


Raisa mencoba membalikkan tubuhnya dan ingin mendorong dada Diki agar terlepas dari pelukannya. Namun Diki masih mengeratkan lengannya dan tidak melepaskan Raisa. Begitu Raisa berbalik, dengan jelas wajahnya bertemu wajah Diki yang sedang menggodanya. Jarak mereka sangat dekat. Raisa berada dalam dekapan Diki.


Mata jernih Raisa memancar indah, bak pesona musim semi yang terlihat cantik alami. Keindahannya menyejukkan saat memandangnya. Pantulan Diki terlihat jelas di matanya. Sorotannya yang lembut dan dalam, menggambarkan perasaannya. Diki yang tak pernah bisa melupakan tatapan Raisa, saat ini dia tersihir dan ditarik masuk.


Diki betah berlama-lama memandang mata Raisa, daya pikat Raisa terletak pada tatapan matanya.


Tersadar karena hampir terhanyut oleh tatapan Raisa, Diki menarik dirinya kembali. Dengan posisi yang agak canggung, Diki menggodanya, "Memangnya kamu tahu apa yang aku pikirkan?" Diki mengangkat alisnya sambil tersenyum.


Sekian detik Raisa terdiam dan pikirannya mencerna maksud perkataan Diki. Wajah polos Raisa membuat Diki tidak tahan. Akhirnya Diki segera memberitahunya dengan tidak sabar.


Kemudian jarinya menunjuk ke kepalanya, "Pijat kepalaku!"


Hah?!


Ternyata Diki meminta Raisa memijatnya, jadi ini yang disebut melayani? Ya ampun, Raisa salah paham. Raisa jadi malu, rasanya dia ingin membenamkan wajahnya ke dalam bantal.


Bibir tipis Diki tersenyum lebar, dia mengejek Raisa, "Wah ternyata pikiranmu yang m3sum. Melayani suami bukan hanya urusan ranjang." Suara magnetis Diki terdengar dekat di telinga Raisa.


Jika wanita bisa memikat pria hanya dari tatapan matanya yang indah, pria pun bisa. Diki memandang Raisa dengan mengeluarkan aura jantan dari pesona pria dewasa.


Wajah Raisa memerah dan asap mengepul ke udara, dia menahan malu. Beberapa hari terakhir Diki selalu bertingkah seperti pria nakal dan brengsek.


Raisa malah memukul manja. "Diki, kamu sengaja, yah? Kamu memang menyebalkan." Wajah Raisa seperti anak singa yang mengaung, tidak menyeramkan malah menggemaskan.


Diki tertawa renyah, melihat ekspresi marah Raisa adalah hiburan baginya. "Lho, apa aku salah?"


Pria memang paling senang menjahili wanita yang disukainya.


"Sejak kapan kamu jadi begini? Aku bicara serius, kamu malah selalu menggoda dan meledekku."

__ADS_1


"Jangan terlalu serius, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu sekarang." Seketika jemarinya yang nakal mulai menjelajahi secara liar.


"..." Dalam hitungan detik, Raisa hanyut oleh sentuhan Diki.


******


Setelah membereskan masalah Irfan, kini waktunya Revan mengalami masalah juga. Tak ada lagi pengiriman material berkualitas ke perusahaan Revan.


Itu dikarenakan, sebelum menemui Diki, Irfan menemui Revan terlebih dahulu. Irfan telah memutuskan untuk mengakhiri kontrak kerjasama dengan perusahaan Revan.


Akhirnya Revan mengajukan gugatan kepada perusahaan Irfan karena menyalahi kontrak kerjasama secara sepihak. Saat ini Irfan tengah dirundung masalah bertubi-tubi.


Diki menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia beranjak dan memberi isyarat bahwa dia perlu keluar untuk menelpon.


Kemudian Diki mengambil handphonenya yang berdering dan melangkah keluar kamar untuk menerima panggilan masuk.


Keringat masih membasahi tubuhnya, dan Diki hanya membalut bagian bawahnya dengan handuk. Dia membiarkan bahunya yang lebar dan dadanya yang berisi otot kencang dan padat, terpampang. Tak ada celah untuk lemak berlebihan yang mengisi tubuhnya.


Rupanya Rio menelpon dan memberi laporan kepada Diki. Perusahaan Irfan dan Revan saling menyerang satu sama lainnya. Mereka saling menggugat, kemungkinan besok mereka akan menyelesaikannya di pengadilan.


Diki tersenyum puas, lalu berkata, "Besok saatnya kamu keluarkan kartu AS yang sudah kita sembunyikan. Aku yakin mereka tidak bisa lepas dari jeratan hukum." Itu adalah masalah besar perusahaan Revan yang selama ini disembunyikan dan Diki sudah menyelidiki semuanya. Diki bersiap membongkarnya dan mempublikasikan di depan umum.


"Saya mengerti, Pak." Rio tahu kartu AS apa yang dimaksud Diki.


Beberapa detektif hebat telah diturunkan dan dukungan orang kuat siap mengerahkan bala bantuannya. Sehebat apapun Revan, dia tidak akan mampu mengalahkan kecerdasan dari taktik yang digunakan Diki. Itulah alasan organisasi membutuhkan Diki, karena Diki sangat kompeten di bidangnya dalam mengusut sebuah masalah.


Diki mengakhiri pembicaraan di telepon, dia kembali ke kamar. Terasa kurang puas jika belum menuntaskannya. Diki melanjutkan kembali aktivitas yang tertunda.


Raisa tengah menunggunya dibalik selimut.


******


Pagi hari terlihat cerah ditambah dengan suara burung berkicau yang terdengar merdu mampu memberikan semangat baru. Hidup ini penuh dengan pertempuran, dan untuk menghadapi itu diperlukan semangat pagi yang membara karena itu Diki sangat bersemangat pagi ini.

__ADS_1


Semalam, stamina Diki memang luar biasa, Raisa sampai dibuat kewalahan. Belakangan, mereka sering melakukannya.


Raisa membetulkan dasi yang dipakai Diki, dia bersikap selayaknya seorang istri yang patuh. Meski begitu, Raisa sedikit mengeluh, "Kapan aku diijinkan kembali bekerja? Aku bosan."


Setelah dasi telah rapi, Diki bersiap berangkat. Namun sebelum pergi, dia mengecup pipi Raisa, "Aku rasa, kamu lebih baik di rumah."


"Aku sudah menerima hukuman dari selain ini." Raisa merasa terpenjara dalam rumah, Diki tidak mengijinkannya keluar. Dia menunjukkan kekesalan dalam wajahnya. "Semalam kamu membuatku kelelahan."


Mendengar hal itu Diki berbalik. Dia memandang wajah Raisa sejenak. "Semalam bukan hukuman."


"Lalu apa?"


Senyuman misterius mengembang di bibir Diki dengan penuh pesona. Raisa terpaku dan dibuat tak berkutik. Diki tak menjawab pertanyaan Raisa. "Aku berangkat kerja dulu, kamu hati-hati di rumah. Hubungi aku jika sesuatu terjadi padamu. Oh ya, satu lagi, kalau kamu bosan kamu bisa belanja sepuasmu secara online. Pakai akun mbangking punyaku untuk transaksi. Pinnya tanggal pernikahan kita."


Kata orang, wanita paling suka diberi kebebasan belanja, itu adalah hiburannya. Diki mempelajari hal itu dari nasehat Haris. Beberapa kali Diki sudah mencoba menerapkan nasehat Haris dan itu selalu berhasil. Trik yang biasa dimainkan oleh para pria di dunia.


Tidak munafik, sebagai wanita Raisa menyukai belanja walaupun dia terbiasa hidup berhemat karena tuntutan hidup. Namun semenjak Diki tergila-gila padanya, Raisa seolah dimanja oleh Diki. Tentu saja hati Raisa berbunga dan merasa kesenangan. Kali ini dia tidak akan menahan lapar matanya lagi.


*******


Sebelum ke kantor, Diki pergi menemui seseorang. Dia menuju ke sebuah tempat rahasia. Orang itu adalah saksi kunci dalam kasus Revan. Diki berencana menghadiri sidang Revan dan Irfan, dia akan memunculkan orang yang akan memberikan kesaksiannya. Ini akan jadi momen penting yang tidak akan bisa dilupakan, hari kejatuhan Revan akan tiba. Diki menyeringai.


-----


-----


Bersambung...


Note : Maafkan author ya terlalu lama update.


Bab ini, tanganku gemetar untuk menulis. maaf tidak sanggup menjabarkan secara eksplisit yang terjadi antara Diki dan Raisa.


Meskipun ada banyak konflik tetapi satu persatu orang yang mengganggu hubungan Diki akan dibuat jatuh.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


Happy Reading.


__ADS_2