
Raisa masih terpaku, dirinya masih tidak bisa membayangkan nanti di kamar saat berdua dengan Diki. Lalu ia pun menyadarkan pikirannya sendiri. "Aku sudah selesai makan," Raisa pun beranjak lalu menyibukkan dirinya membereskan piringnya.
Diki menghentikan makannya, "Ada apa dengan sikapmu?"
"Bersikap apa? Aku hanya bersikap wajar." Raisa mengangkat bahunya kemudian berbalik meninggalkan meja makan.
Jujur jantung Raisa berdebar dan hatinya tak karuan. Dia tidak mau berlama-lama berhadapan dengan Diki, jelas karena Raisa sedang merasakan dirinya...
'Jatuh cinta? Apakah aku ini sedang bermimpi?' gumam Raisa.
Seketika Raisa menutup wajahnya karena malu. Raisa merasa Diki menyadari sikap canggungnya.
Apa yang salah dengan perasaannya? Raisa yang berniat membuat Diki terjerat perasaan dengannya malah kini Raisa sendiri yang terjebak permainannya sendiri. Raisa menyadari dirinya mulai jatuh cinta. Entah kenapa terasa berbeda saat dia memulai hubungan dengan Irfan.
Raisa merasakan gejolak hatinya mengebu-gebu bahwa dia memang menginginkan Diki jauh di lubuk hatinya. Keinginan memiliki kembali rumah peninggalan orang tuanya kini menjadi turun peringkat dari prioritas hidupnya. Raisa merutuki kecerobohannya karena perasaan hatinya sendiri yang mulai terpikat pada Diki.
Diki yang ditinggalkan sendiri di meja makan masih terpaku. Dia merasa aneh pada Raisa. Bukankah pada awalnya Raisa berniat merayunya? Kenapa sekarang seakan berbalik keadaannya? Diki sulit memahami wanita itu. Sikapnya dengan jelas menghindari Diki.
Diki melangkah masuk kemudian mendapati Raisa tengah tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "Kamu menghindariku sekarang, Raisa?"
Raisa tak menjawab, dia berusaha keras menahan diri dari balik selimut. Ia gugup karena malu.
"Aku tahu kamu belum tidur," suara Diki terdengar semakin jelas di telinga Raisa.
Raisa tetap bersikukuh tidak mau menyahuti ucapan Diki. Ia pun tidak menggerakkan tubuhnya dan berpura-pura tidur nyenyak. Sebisa mungkin Raisa tidak terpengaruh.
Sikap Raisa membuat Diki semakin tertarik. Diki mendekati Raisa dan duduk di samping Raisa, tubuhnya mengukung Raisa sambil berkata, "Kamu sedang berpura-pura, apakah sekarang kamu tidak berani berhadapan denganku?"
Raisa tahu kedua lengan Diki berada di kedua sisi lengannya tetapi Raisa masih bergeming walau keringat dingin mengucur di dahinya.
'Menjauhlah...menjauhlah...! Berdekatan denganmu membuat jantungku terus berdebar,' bisik hati Raisa. Dia tahu posisi Diki sangat dekat dengannya.
Suara ponsel Raisa berdering, secara refleks dia membuka selimut. Keterkejutan mewarnai wajahnya ketika melihat wajah Diki berada tepat di depannya dengan jaraknya sangat dekat. Mereka saling berpandangan. Setelah itu Raisa tahu bahwa ternyata Diki sedang mengerjainya
__ADS_1
Raisa mengetahui itu ketika membuka selimut Diki sedang menggenggam ponselnya dan di layarnya terlihat memanggil Raisa.
"Aishh...aku ditipu, kamu missedcall ke nomorku?"
Diki senang karena triknya berhasil membuat Raisa membuka selimutnya. "Kalau ada suara ponsel berdering langsung cepat menanggapi, padahal dari tadi kamu mengabaikanku"
Raisa duduk dan memberi jarak antara posisinya dengan Diki. "Aku tidak mengabaikanmu, mau kamu apa sih menggangguku terus?"
"Sikapmu aneh dan kekanak-kanakan"
"Itu hanya menurutmu saja," bantah Raisa. "Sekarang aku mau tanya, apakah kamu jadi menyukaiku?"
Diki membeku ketika Raisa secara blak-blakan melontarkan pertanyaan padanya.
"Kamu yang memulai ini dulu, bukan?" Diki tak menjawab pertanyaan Raisa malah menanyai balik.
'Ya, itu betul. Aku yang memulainya hanya karena menginginkan rumah ini. Aku salah telah terjebak perasaanku sendiri,' ujar Raisa dalam hati. Ia tak berani mengungkapkannya. Raisa menatap ke arah sorot mata Diki. Pria di hadapannya memang tidak peka terhadap wanita, Raisa tahu itu dan hanya bisa menghela napas.
Sesaat mereka terdiam bersama.
"Lebih baik kita lupakan hal yang tadi, itu hanya..."
Diki langsung menyela, "Kamu meremehkanku, Raisa. Apakah itu nampak sepele di matamu? Kamu pasti lebih sering melakukannya dengan mantan-mantanmu sebelumnya. Iya kan?"
"Bukan itu maksudku... kamu salah"
"Apanya yang salah? Kamu terlihat tidak suka setelah melakukannya denganku."
"Aku belum pernah melakukannya dengan orang lain, kamu pria yang pertama. Yah walaupun aku sudah pernah memiliki hubungan asmara di masa lalu tapi tidak sedekat itu karena aku selalu menjaga jarak. Aku menginginkan hubungan sekali seumur hidup dengan satu orang pria saja. Aku tanya padamu, kalau kamu tidak menyukaiku untuk apa kita melakukannya bahkan di saat nanti kita akan menjadi orang lain jejak kenangan itu pasti akan tertinggal untuk selamanya jadi aku tidak mau itu terjadi," ucap Raisa panjang lebar. Dirinya pasrah jika Diki tidak menyukai ucapannya.
Diki tercengang, dirinya antara percaya dan tidak. Perasaannya pun bercampur aduk. Siapa yang menduga bahwa Diki mendengar langsung sebuah pengakuan Raisa yang mengejutkan.
Setelah berpikir lama, Diki berkata, "Aku tidak pernah sedikit pun terbesit dalam pikiranku bahwa kita akan menjadi orang lain di masa depan."
__ADS_1
Itu artinya Raisa sudah sepenuhnya memiliki Diki dan juga rumah ini akan jadi miliknya juga? Wajah Raisa berseri. Sebelumnya Raisa kira Diki tidak ingin selamanya terikat pernikahan dengannya.
"Artinya kamu serius dengan pernikahan kita? Dan tidak ada perasaan keterpaksaan lagi 'kan?"
Diki mengangguk, betapa itu menyejukkan hatinya karena saling terbuka di antara mereka.
"Jadi kalau begitu kita hentikan kecanggungan di antara kita. Ke depannya kita bersikap selayaknya seperti pasangan." Kemudian Diki menarik Raisa ke dalam pelukannya dan membisikkan sesuatu, "Ingat baik-baik aku ingin jadi pria pertama dan terakhir di hidupmu."
Raisa akhirnya merasa lega mendengarnya juga sekaligus malu. Wajahnya memerah apalagi setelah itu Diki memberikan ci*man yang hangat malam ini.
Keindahan malam yang tak terlukiskan. Cinta itu terasa menggelora. Begitulah gambaran hati Raisa dan Diki yang sedang memadu kasih selayaknya pasangan. Kini mereka saling terbuka satu sama lainnya dan tidak perlu lagi merasa malu.
Fajar menyingsing, Raisa dan Fitri melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Mereka ditugaskan untuk mengunjungi PT. Teknik Maju sesuai jadwal.
Karena hubungan Raisa dan Diki membaik, ia tidak lupa untuk memberitahu kegiatannya. Segera Raisa membuka ponselnya lalu menelpon Diki. Sayang Diki tak mengangkatnya, Raisa pikir Diki pasti sedang sibuk jadi dia men-chatnya.
Perasaan bahagia menghinggapi hati Raisa. Dia seperti seorang gadis yang baru menjalani hubungan asmara. Wajahnya berseri. Dia telah berjanji akan selalu menjaga komunikasi dengan Diki.
*****
"Bod*h!!!" maki seorang pria yang mengenakan kalung rantai di lehernya dan beberapa tato menghiasi kulitnya. Kemarahannya memuncak mendapati sebuah kabar bahwa anak buahnya sedang ditahan.
"Mereka dilaporkan oleh seseorang dan buktinya sudah ada di polisi. Tadi mereka tertangkap basah sedang melakukan transaksi, Bos." Seorang pria melapor pada Tedi tentang yang terjadi pada temannya.
"Siapa yang sudah melaporkan anak buahku?"
"Dia seorang wanita muda, Bos"
"Wanita?" Tedi mengernyit, ia terkejut sekaligus penasaran. "Siapa wanita itu?"
------
------
__ADS_1
Bersambung...