MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 27. RIAN SEPUPU RAISA


__ADS_3

Kemarahan Diki mungkin sudah melewati batasnya tapi bagaimanapun menurut Diki itu sudah sepantasnya Raisa menerima itu.


Tak bisa dipungkiri jika orang lain yang melihat sudah sewajarnya Diki akan marah atau paling tidak perasaannya terkhianati oleh Raisa. Sungguh Diki akan malu jika apa yang sudah ia nilai terhadap Raisa adalah sebuah kesalahpahaman.


Raisa tidak habis pikir, Irfan terlalu melampaui batas untuk mengganggu hubungannya dengan Raisa. Dan Raisa pun masih memusatkan prasangkanya pada Irfan. Padahal semua kesalahpahaman terjadi hanya karena Raisa yang tertutup soal masalah Rian.


Untuk sebuah rumah tangga, memiliki rahasia terhadap pasangan akan menimbulkan konflik jika salah satu di antaranya memiliki prasangka yang tidak baik. Raisa tidak berpikir sejauh itu. Itulah kesalahannya.


Setelah pertengkaran saat itu di meja makan, hubungan Diki dan Raisa merenggang. Tapi Raisa tetap membuatkan masakan untuk Diki setiap harinya.


Dalam satu atap saling diam dan tidak ada sapaan ataupun basa basi, terasa asing jadinya.


Mereka berkomunikasi lewat notes yang ditulis, Diki pasti akan membaca pesan yang disampaikan Raisa melalui tulisan.


Seperti pagi ini, terhidang sajian masakan Raisa di meja makan dan Raisa hanya menuliskan catatan kecil agar dibaca Diki. "Aku berangkat dulu, aku sudah siapkan makanan untukmu" Begitulah tulisan yang tertulis.


Saat Diki membacanya ada perasaan bersalah, dia sudah memarahi Raisa tetapi Raisa masih berbaik hati membuatkannya makanan bahkan tetap mengerjakan pekerjaan rumah dengan tuntas. Diki pikir jika orang sedang tidak suka atau merasa kesal dimarahi akan melalaikan tugasnya tapi Raisa berbeda, dia memang baik hati.


Harusnya itu sudah cukup untuk memberi bukti, Raisa adalah wanita yang tidak seburuk yang dipikirkan Diki. Tapi Diki tetap belum bisa menerima Raisa yang sudah menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Ya, Diki mengira ini bentuk permintaan maaf Raisa padanya karena telah bermain dengan pria lain di belakangnya.


****


Nia Prasetyo-ibu Devin- datang mengunjungi ke kediaman Fatma. Dengan langkah yang hati-hati dan kepala berdongak, Nia menganggap dirinya wanita kelas atas. Ditemani oleh pengawalnya, Nia berdiri tepat di pintu masuk rumah Fatma.


Nia menyuruh pengawalnya memencetkan bel untuknya.


Suara bel yang berbunyi membuat Fatma keluar. Sedikit terkejut melihat seorang wanita ditemani pria di sampingnya.


Meski warna pakaian Nia tidak mencolok warnanya tetapi sudah dapat ditebak warna pakaian sederhana yang dikenakannya begitu anggun dan elegan dipakainya. Ya, terlihat gambaran Nia memang seperti wanita sosialita yang sangat memerhatikan penampilan. Modelnya sederhana tapi berkelas.


"Siapa, ya?" tanya Fatma.


"Tidak usah berlama-lama, aku cukup di sini saja hanya ingin memberitahukan sebentar karena aku tidak mau membuang waktu banyak"


Fatma masih terdiam mencerna maksud kedatangan Nia. Ia benar tidak tahu siapa Nia dan apa maksud tujuannya datang ke rumahnya padahal Fatma jelas tidak mengenalnya sama sekali.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak mengerti. Anda siapa?"


"Aku adalah Nia Prasetyo, istri dari seorang pengusaha yang bernama Ringgo Prasetyo salah satu penerus perusahaan Prasjaya Group, aku hanya ingin memberitahumu bahwa anakmu sudah membuat masalah dengan keluarga kami. Dan keluarga kami ingin menuntut perbuatan anakmu yang sudah menyinggung keluarga besar Prasetyo"


Bagai petir di siang bolong, Fatma tercekat mendengarnya. Dadanya bergemuruh seketika Fatma membeku, ia tidak percaya akan menghadapi masalah besar akibat ulah anaknya.


"A-Apa yang sudah anak saya lakukan?"


"Kamu tidak tahu? Anakmu menyembunyikan masalah besar dari orang tuanya, Heh...sungguh tidak bisa dipercaya. Dengar yah baik-baik! anakmu sudah memukul wajah tampan dari anakku dan itu menyakiti hatiku sebagai ibunya. Tentu saja keluarga besar Prasetyo marah besar, mereka menganggap tindakan anakmu itu telah menginjak harga diri keluarga besar Prasetyo"


"Be-benarkah?" Tentunya setelah ini Fatma akan memarahi Rian. Kenapa masalah besar sampai harus ditutupi. Rian tidak akan mampu menyimpan rahasia sudah pasti akan terkuak dengan sendirinya.


"Kamu masih belum percaya apa yang aku katakan tadi? Tanyakan saja pada anakmu"


"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan anak saya? Tidak bisakah kita bicarakan baik-baik?!" Fatma memelas dengan tangan yang gemetar.


"Aku akan menuntut anakmu"


"Apa???" Fatma terkejut. Entah apa yang akan keluarga besar Prasetyo lakukan padanya. Ada ketakutan besar memasuki pikirannya.


Dengan tidak tahu malu, Fatma berniat meminta bantuan Diki. Ia tidak ingat perbuatannya yang sudah ia lakukan pada Raisa kini ia mengemis dan berharap bantuan pada suami Raisa.


Raisa yang notabene adalah istri Diki bahkan tidak berani meminta pada Diki dan ia bersiap bertanggungjawab sebagai rasa persaudaraan yang tinggi. Dan dengan berani menghadapi keluarga Prasetyo.


Fatma sebagai orangtua malah melempar tanggungjawabnya dengan menyerahkan urusan anaknya pada Diki.


Sore ini Fatma berkunjung ke rumah Diki. Fatma tentu tahu kediaman Diki, rumah yang ditempati Diki adalah rumah peninggalan kakak ipar Fatma yang telah ia jual tanpa sepengetahuan Raisa. Hasil penjualannya tentu sudah ia nikmati sendiri.


Diki menunggu kedatangan Fatma yang sebelumnya sudah membuat janji lewat telpon.


Ternyata Fatma tidak sendiri, ia mengajak Rian untuk menemaninya menemui Diki.


Diki melebarkan matanya saat Fatma datang bersama pria yang sudah ia cemburui, dialah Rian. Wajah Rian sama seperti di photo saat sedang makan bersama Raisa. Seseorang memotretnya diam-diam lalu melaporkannya. Sepertinya ada sebuah kesalahpahaman yang tersirat.


"Maaf, ya nak Diki. Ini sangat mendesak sekali. Aku memang butuh bantuan nak Diki"

__ADS_1


"Dia siapa, Tante?"


"Oh ini, lupa Tante mau mengenalkannya. Dia anak Tante namanya Rian. Kamu belum tahu yah soalnya dia memang jarang ada di rumah"


Itu artinya Rian sepupu Raisa. Astaga! Betapa malunya Diki sudah salah paham dengan Raisa dan memarahinya tidak jelas. Diki cemburu buta yang tidak beralasan. Segera Diki menepis memori memalukan yang terlintas di otaknya bahwa ia sudah cemburu dengan sepupu Raisa.


Mungkin wajah merah Diki yang malu sudah tidak tergambarkan lagi. Bagaimana bisa pikirannya saat itu terlalu dangkal dan langsung menuduh tanpa mencari tahu kebenarannya dulu.


Diki sudah sangat bersalah pada Raisa tapi egonya yang tinggi tetap menyalahkan Raisa. Kenapa sebelumnya Raisa tidak menceritakan yang sebenarnya. Diki kesal dianggap seperti orang lain bagi Raisa.


"Terus maksud tujuan Tante ke sini, ada perlu apa?"


Fatma menjelaskan maksud tujuannya dan menyuruh Rian bantu bicara menceritakan kronologinya.


Ditarik kesimpulan oleh Diki bahwa saat ini keluarga Raisa sedang dalam masalah besar karena berurusan dengan keluarga besar Prasetyo.


"Baiklah, Tante. Aku akan usahakan semaksimal mungkin dan siap akan membantu Tante untuk menyelesaikan ini"


"Terima kasih nak Diki. Sungguh Tante sangat beruntung keponakan Tante memiliki suami baik hati seperti nak Diki"


"Tidak usah sungkan" Diki tidak bisa menolak permintaan itu.


"Ya sudah kalau begitu Tante pamit dulu, nanti kalau Raisa sudah pulang sampaikan salam Tante padanya, yah?!"


Fatma dan Rian akhirnya pulang. Sementara Diki tidak sabar menunggu Raisa pulang. Padahal ia tahu, Raisa sudah minta ijin untuk pulang telat lewat chatnya.


Tapi Diki tidak tenang masih memikirkan kesalahpahamannya pada Raisa. Niat hati ingin berbaikan lagi dengan Raisa.


Hingga jarum jam terus berjalan menunjukkan pukul 10 malam, Raisa belum juga pulang. Diki mulai resah.


Diki mencoba menelpon Raisa tapi nomornya tidak aktif. Pikiran buruk mulai menghantui Diki.


-----


-----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2