MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 43. MAKAN SIANG


__ADS_3

Diki sudah menunggu Raisa di dalam mobilnya. Ia sangat tidak sabaran, ia gelisah sambil mengetuk-ngetuk jari di stirnya.


Sepuluh menit sudah Diki menunggu. Tak lama ponselnya berdering yang memunculkan nama Raisa.


"Kamu dimana?" tanya Raisa sambil celingak celinguk di parkiran mencari keberadaan Diki. Ia tidak melihat mobil yang dipakai Diki.


"Aku di sini!" Diki keluar dari mobil kemudian ia menunjukkan keberadaan posisi dirinya.


Raisa menghampiri Diki, ia melihat mobil yang berbeda dari mobil yang biasa dikendarai Diki. Raisa tahu mobil Diki yang itu masih di bengkel karena menabrak beberapa waktu yang lalu. Raisa tidak hapal mobil Diki lainnya.


Melihat Raisa dari kejauhan yang akan berjalan mendekat, sebelumnya Diki telah mempersiapkan dirinya. Bodohnya Diki tanpa sadar tersenyum, ia seperti pria yang baru jatuh cinta dan akan melakukan kencan pertama padahal ini hanya sekedar makan siang biasa bersama sang istri.


"Naiklah!" Diki membuka pintu mobil lalu mempersilahkannya. Raisa mengernyit sesaat, di matanya tindakan Diki ini terlihat aneh. "Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Kamu meminta Rio menjemput?" Raisa menduga hal yang biasa Diki lakukan sebelumnya.


"Tidak. Aku tidak selalu meminta bantuannya setiap saat" Diki terlalu malu untuk berkata, ia ingin makan siang berdua dengan Raisa setelah tadi ia meminta Haris untuk mengijinkan anak buahnya keluar kantor dan pergi bersamanya yang akhirnya Diki harus menerima ejekan dari Haris.


"Baiklah" Raisa tidak banyak bertanya lagi. Kali ini Raisa malas berdebat.


Di dalam mobil keduanya saling diam, mereka berkutat dengan pikirannya masing-masing.


Sesekali Diki melirik ke arah Raisa yang terdiam, biasanya Raisa lebih banyak bicara dibanding dia tapi kali ini berbeda. Kini muncul perasaan tidak menyenangkan menghampiri Diki. Ia mengusap pelipisnya, dia ingin mencoba memecahkan keheningan tapi kesulitan menemukan topik pembicaraan. Hingga pada akhirnya mereka tetap terdiam sampai di tempat tujuan.


Mereka tiba di sebuah restoran mewah, Diki membawa Raisa ke table yang di arahkan pelayan untuk mereka.


Raisa tidak mengerti alasan Diki membawanya ke restoran sebagus ini padahal Raisa pikir hanya ingin makan siang biasa jadinya pasti hanya ke tempat makan biasa. Kenyataan diluar ekspetasinya.


Raisa mengedarkan pandangannya, dalam benaknya berkata bahwa restoran seperti ini bukankah harus reservasi dulu. Apakah Diki memang ingin mengajaknya secara khusus? Raisa tertegun.


Raisa duduk dengan ragu-ragu, ia tidak terbiasa karena belum pernah datang ke tempat mewah seperti ini. Bahkan saat ia berpacaran dengan Irfan yang notabenenya seorang pengusaha belum pernah sekalipun diistimewakan dan di ajak ke restoran mewah.


Diki berdehem, "Kamu mau pesan apa?"

__ADS_1


"Eh?" Wajah Raisa nampak bingung. "Sama sepertimu saja" sikapnya agak canggung dan malu-malu.


Melihat Raisa begitu membuat bibir Diki melengkung. Raisa terlihat menggemaskan di matanya.


"Baiklah jika kamu ingin sama dengan makananku" Diki membuka menu makanan yang dipilih lalu memesannya setiap makanan dua porsi yang sama.


"Bukankah ini terlalu berlebihan? Kita kan hanya makan siang" Raisa mencondongkan wajahnya ke Diki sambil ditutupi dengan telapak tangan yang diletakkan dipipinya.


"Ya, tapi aku perlu ketenangan" ucap Diki santai.


"Kalau tahu mau dibawa ke tempat begini seharusnya bukan pas hari kerja jadinya kan aku bisa memakai pakaian yang pantas, aku malu keluar ke tempat begini masih pakai seragam kerja" Raisa mengerucutkan bibirnya yang mungil. Di nampak kesal karena malu, kostumnya tak sesuai dengan tempatnya.


Melihat tingkah Raisa yang imut, semakin Diki ingin mencubit pipinya tapi Diki menahannya. "Ok, lain kali kita ke sini lagi"


"Bener?" Mata Raisa berbinar, tapi seketika berubah muram.


"Kenapa menatapku begitu?"


"Aku curiga kenapa kamu jadi baik pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan, ayo ngaku!"


"Aku tidak menyembunyikan apapun, kamu terlalu berprasangka"


Setelah memikirkan kejadian yang semalam, Raisa curiga Diki berselingkuh dan berbuat baik untuk menutupi kesalahannya pada Raisa.


Tak lama makanan datang, pelayan meletakkan semua pesanan di meja lalu pergi setelah itu. Ketika pelayan itu pergi menjauh, Raisa pikir cukup aman untuk bicara blak-blakan. "Kamu selingkuh?"


Diki yang baru memasuki satu suapan sudah hampir menyemburkan makanannya mendengar Raisa menuduhnya. Moodnya berubah, Diki kesal mendengarnya.


"Hei, tidak bisakah kamu melihat aku sedang berbuat baik padamu dalam suatu hubungan, kenapa kamu bisa berpikiran negatif tentang diriku?"


"Aku pernah menjalin suatu hubungan sebelumnya setidaknya aku mengenal karakter pria jika dia tiba-tiba berubah baik apakah itu tidak mencurigakan selain menutupi sesuatu dari pasangannya?"


"Wah rupanya kamu mengerti sekali tentang pria, memang sudah berapa kali kamu pernah menjalin sebuah hubungan sebelum menikah denganku?" Diki jadi berbalik menyerangnya.

__ADS_1


Raut wajah Raisa berubah, suasana romantis jadi berubah menegangkan. Apakah mereka jadi akan membahas tentang mantan Raisa? Raisa tak menjawab. Jika ia terus bicara maka bisa dipastikan suasana di meja makan akan terasa tidak menyenangkan padahal ini momen langka mengenai kemajuan hubungan Raisa dan Diki.


Raisa beralih ke arah piring makannya, ia mulai menyendok makanan itu.


"Kamu tidak bisa menjawab atau tidak mau menjawab. Kalau kamu tetap diam, aku jadi malas makan dan nafsu makanku menghilang" Diki menatap lurus ke Raisa.


"Sebenarnya aku cuma mau tanya kenapa semalam kamu tidak pulang setelah..."


"Aku ke rumah sakit" Diki langsung menyelanya sebelum Raisa melanjutkan ucapannya. Diki malu jika Raisa akan membahas tindakan Diki yang semalam padanya.


Diki jadi mengerti alasan Raisa menuduhnya hanya karena dia tidak pulang. Apakah Raisa cemburu padanya? Entah kenapa Diki merasa senang.


"Kamu sakit?" Raisa menatap wajah Diki, mata mereka saling berpandangan.


Pesona wajah cantik Raisa yang peduli padanya membuat jantung Diki berdebar. Bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang berwarna pink, juga riasan di wajahnya yang tidak mencolok, Raisa terlihat sangat manis seperti seorang remaja. Jauh di lubuk hatinya, Diki mengakui kecantikan alami Raisa hingga membuat hatinya terus bergetar.


"Ya, semalam aku bersama Rio. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja padanya"


"Maaf, aku tidak tahu" tanpa diduga Raisa langsung percaya, "Kenapa kamu tidak bilang padaku? Apakah sekarang kamu sudah merasa baikkan?" imbuhnya.


"Tentu saja, aku sudah merasa sehat. Gara-gara minuman itu aku jadi tersiksa"


"Minuman apa?"


"Hei, bukannya itu minuman yang kamu buat? Minuman yang ada di kulkas, aku kira itu jus"


Raisa ingat sebelumnya Bu Lidia memberikan minuman untuk Diki, "Oh yang itu... itu kan pemberian ibu katanya buat menjaga stamina kamu, aku tidak tahu kamu sudah meminumnya tanpa bertanya padaku. Apakah rasanya tidak enak? Atau kamu sakit perut setelah meminumnya? Atau rasanya pahit seperti jamu?"


Raisa yang polos tidak tahu apa yang dirasakan Diki itu membuat kening Diki berdenyut. Diki jadi tahu ini ulah mamanya yang sengaja memberinya minuman stimulan pasti mamanya menginginkan cepat memiliki seorang cucu.


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2