MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 50. PERSAINGAN


__ADS_3

Diki membuka selimut yang membungkus Raisa, ia melihat wajah teduh Raisa yang tengah tertidur pulas. Sebersit keinginan untuk menyalurkan sesuatu yang ada dalam dirinya.


"Raisa..." Suara lembut Diki di telinga Raisa.


"...hmm..." tanpa sadar Raisa menjawab dengan mata yang masih terpejam. Dia mengantuk berat, sampai-sampai suara Diki yang terdengar seperti dengungan nyamuk di telinganya.


"Bolehkah aku untuk mencicipinya? "


"Zzz..." Raisa terlelap.


Dengan keberanian yang Diki kumpulkan, ia segera bertindak untuk melakukan sentuhan kecil dengan menekan secara lembut bibir Raisa yang menggoda dengan bibirnya. Awalnya Diki hanya mencoba, tetapi setelah merasakan sensasinya membuat Diki merasa ketagihan jadi ia melakukannya lagi.


Seketika, Diki merasakan sesuatu yang dahsyat hingga membuatnya harus pergi ke kamar mandi. Raisa menggeliat, ia seperti merasakan sesuatu menyentuh bibirnya entah itu apa, ia pun mengerjap. Karena merasa tidak ada yang aneh, Raisa melanjutkan tidurnya kembali.


****


Pagi telah menyapa, di meja makan Diki terus menunduk dan menikmati makannya tanpa sekalipun menghiraukan kehadiran Raisa.


Raisa belum menyadari sikap aneh Diki, ia bertanya tanpa canggung, "Apakah kamu sudah memanggil tukang untuk membetulkan atap kamarku yang bocor?"


"Aku sudah menelpon Rio untuk mengurusnya jadi kamu tenang saja" Diki tak mau menatap Raisa. Dia masih mengingat jelas momen semalam saat mencoba mencuri ci*man dari Raisa. Betapa setelah itu gelombang panas memenuhi tubuhnya. Diki terbakar gelora dalam tubuh yang tak terbendung hingga ia harus ke kamar mandi kemudian.


Raisa duduk berhadapan dengan Diki, wanginya yang khas menggelitik indera penciuman Diki.


"Syukurlah, apakah akan selesai dalam satu hari?" Raisa terus bertanya.


"Tergantung, tapi aku rasa itu tidak akan memakan waktu lama"


"Aku harap tukang menyelesaikan pekerjaannya secara profesional" gumam Raisa.


Diki mendengar itu walau samar, ia malah berharap sebaliknya Raisa akan tidur bersamanya tiap hari. Kini dia malah bingung membuat alasan tepat untuk itu.


Sepertinya ke depannya Diki berpikir harus membuat rencana agar mereka selalu tidur di kamar yang sama. Diki menyeringai.


Kemudian mereka telah menyelesaikan sarapan dan berangkat kerja bersama.

__ADS_1


Sesampainya Raisa di kantor, ia heran dengan Diki. "Apakah sekarang kamu masih memiliki keperluan di sini?"


"Ya, aku adalah klien." Diki menjawab santai dan berjalan beriringan dengan Raisa.


Entah kenapa Raisa merasa risih dengan tingkah Diki tapi dia tidak tahu harus berkata apa. Raisa pun menuju meja kerjanya dan tidak menghiraukan Diki.


Diki memasuki ruangan Haris dan menyapanya. "Bagaimana kerjasamamu dengan PT. Teknik Maju?"


"Hari ini aku akan mengadakan rapat dan pertemuan dengan CEO nya. Lantas apakah kamu akan setiap hari mengontrol kemari?" Haris menghela napas.


"Yah, sebagian produk masih memakai material dari perusahaan sebelumnya dan stok masih ada. Jadi diperkirakan bulan depan produk sudah memakai material baru. Jangan menunda waktu"


"Aku mengerti mengenai masalah itu, maksudku apakah kamu akan selalu memantau istrimu dengan dalih pekerjaan?"


"Aku lebih mengedepankan profesionalitas" ujar Diki mantap.


Haris terkekeh, "Tapi menurutku kamu lebih ke arah posesif"


"Baiklah, hentikan membicarakan masalah pribadi. Kita harus fokus dengan pekerjaan. Apakah kamu akan menugaskan Raisa ke PT. Teknik Maju untuk audit kualitas material dan melakukan uji kelayakan material di sana?"


Keterkejutan mewarnai wajah Diki. Jelas, dia gengsi mengakuinya. Sebagai sohib yang telah lama menjalin pertemanan, sepertinya Haris memang mengenali Diki bahkan dia bisa menebak pikiran Diki.


"Hei, posisiku berbeda dengannya" Diki terdiam sejenak, pikiran melintas di benaknya tidak mungkin sebagai suami membiarkan istrinya ditugaskan pergi ke tempat jauh meski hanya sehari. Jejak kegelisahan merasuk hatinya. "Kamu bisa tugaskan orang lain sebagai penggantinya"


Lalu setelah itu Diki melangkah keluar dengan sikap angkuh.


"Ah dasar, begini nih kalau aku mempekerjakan istri dari seorang klien" Haris mengacak-acak rambutnya frustasi, dia yang sebagai seorang pemimpin seakan tidak berdaya memutuskan.


Dari kejauhan, pandangan Diki teralihkan pada Raisa yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia belum pernah melihat wajah Raisa yang begitu serius. Bagaimana bisa Raisa semakin terlihat menarik di mata Diki setiap waktunya?


Raut wajah Raisa yang terkesan dia wanita cerdas dan berpendidikan memancarkan daya tarik bagi orang yang melihatnya. Tanpa sengaja Diki melihat pria dengan tatapan kekaguman pada Raisa meski sikap Raisa acuh tak acuh. Tentu saja hati Diki terasa terbakar, matanya panas melihat itu.


Diki langsung menghubungi Raisa, perasaannya diliputi tidak tenang.


"Temui aku sekarang di lobi!" Setelah itu Diki memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


"Hah???" Raisa terkejut Diki menelponnya tiba-tiba dan menimbulkan pertanyaan di benaknya. Ada apa dengan Diki? Ini aneh.


"Kenapa kamu masih di sini? Apakah keperluanmu masih banyak? Kau tahu, ini menganggu pekerjaanku" Raisa berbisik. Sambil celingak celinguk, dia rasa perlu waspada agar tidak tersebar gosip Raisa menemani klien secara khusus.


Melihat tingkah hati-hati Raisa, Diki tersenyum. "Duduklah, kita bicara santai sebentar di sini. Kamu tidak perlu waspada, menghormati seorang klien juga termasuk bagian dari pekerjaan"


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak punya banyak waktu luang" Raisa duduk dengan gelisah.


"Aku ini suamimu jangan perlakukan aku sembunyi-sembunyi begini,"


"Iya tapi kan kalau urusan pribadu kita bisa bicarakan di rumah, untung di sini hanya Pak Haris yang tahu status kita."


"Maka dari itu seharusnya aku umumkan status kita agar semua orang tahu jadi kamu tidak perlu khawatir jika bertemu denganku"


Diki tidak mungkin bilang, ia cemburu melihat karyawan yang menyukai Raisa. Sebagai seorang pria Diki tahu pandangan mata pria yang jatuh cinta. Tentu itu mengusik ketenangan Diki.


"A-apa???" Raisa terkejut. "Jangan bicara sembarangan, aku takut ini memengaruhi pekerjaanku. Mereka mengira aku mencari muka. Aku tidak mau dikira bertindak curang jadi biarkan aku bekerja secara profesional tanpa membawa embel-embel statusku. Aku ingin mereka menilai hasil kerja kerasku. Aku mohon padamu"


Diki tertegun sejenak mendengar penjelasan Raisa. Ia semakin terpikat pada Raisa, jarang dia menemukan wanita yang berpikiran sederhana.


Sudah banyak wanita yang berusaha mendekati Diki karena latar belakang status keluarga Diki.


Itulah alasan Diki belum menemui wanita tulus sampai ia bertemu Raisa. Diki kira Raisa sama seperti wanita lainnya yang memiliki motif. Diki merasa yakin akan pilihannya bahwa Raisa cocok menjadi istrinya. Dengan begitu Diki tidak akan melepaskan Raisa.


"Baiklah nanti kita bicara di rumah, aku hanya memastikan kamu tidak selingkuh dariku" Lalu Diki berdiri, kini hatinya tenang. Ia tak mau menyulitkan Raisa di kantor.


"Selingkuh? Darimana kamu bisa menilaiku begitu?" Alis Raisa mengerut, dia mendongak padahal baru saja Raisa duduk tapi Diki malah berdiri.


Sebelum pergi Diki mengusap rambut Raisa, mereka tampak sepasang kekasih. Pria tadi yang mengagumi Raisa melihatnya dari kejauhan, wajahnya berubah muram dan terpancar raut kecewa.


Diki yang menyadari, tersenyum puas. Dia berbalik meninggalkan Raisa tanpa merasa bersalah. Raisa masih dibuat bingung dengan tingkah Diki, ia membeku menatap Diki pergi meninggalkannya.


---


---

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2