MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 84. VIDEO VIRAL


__ADS_3

Diki masih mencerna maksud pembicaraan Bu Lidia, padahal dia baru saja menenangkan diri tetapi otaknya dipaksa untuk berpikir kembali. "Video apa? Aku belum tahu."


Bu Lidia menunjukkannya pada Diki, video yang ada di handphonenya. "Seorang wanita tak berdaya dibawa pergi oleh seorang pria, semua menebak bahwa wanita itu adalah Raisa. Perhatikan baik-baik!"


Begitu mata Diki menatap lurus ke layar handphone dan memerhatikan dengan seksama video itu, raut wajah Diki seketika berubah muram. Terlintas kekesalan di matanya. Diki mengenali siapa pria itu. Diki membeku dan tak mengatakan apapun setelah melihatnya.


"Ini seperti sebuah pukulan bagi mama. Ketenangan mama di pagi hari jadi terganggu, makanya mama langsung ke perusahaan untuk memastikan sendiri. Dugaan mama benar, bahwa akan ada rapat umum mendadak. Semua karena masalah ini yang mempengaruhi reputasi perusahaan."


Belum juga Diki membuat perhitungan dengan Revan tetapi Revan sudah lebih dulu melangkah maju untuk terus menjatuhkan dan menyerangnya. Rupanya genderang perang baru mulai dibunyikan tetapi musuh sudah maju.


"Aku akan menyelidiki ini, Mah. Aku pastikan kondisi perusahaan akan kembali normal."


Bu Lidia terkejut dengan pernyataan Diki, dia pikir Diki akan bersikap arogan. "Kamu yakin?" Bu Lidia menatap ragu ke arah Diki.


"Aku yakin sepenuhnya. Aku juga percaya dengan istriku." Diki berbicara mantap tanpa ada keraguan, dia tahu dengan jelas bahwa malam itu yang merasakan keperawanan Raisa hanyalah dia. Jadi Raisa tidak mungkin melakukannya dengan pria lain. Meski Diki dipenuhi rasa cemburu di dalam dadanya. Dia berusaha untuk menekan perasaan itu.


Diki merasa ada seseorang yang mencoba memanfaatkan situasi dengan menggunakan video cctv. Diki menduga pasti orang yang bisa mendapatkan video cctv itu tidak lain adalah orang yang mempunyai kewenangan penuh.


Diki mulai mencurigai Vera. Rupanya wanita itu berani sekali mencoba mengganggu hubungannya dengan Raisa. Dengan tangan yang mengepal kencang, Diki menahan emosi di dada. Dia tidak akan membiarkan wanita itu lolos dari target selanjutnya setelah Revan.


Bu Lidia hanya bisa memandang Diki dengan memelas. Bagaimanapun sebagai seorang ibu, nalurinya tetap mencintai anaknya.


Raisa memang menantu kesayangan Bu Lidia tetapi dikejutkan sesuatu oleh video skandal, hatinya mendadak sakit sekali. Bu Lidia seolah terkhianati, dia tidak mau anak semata wayangnya disakiti. Karena Diki sudah meyakinkannya untuk percaya, maka Bu Lidia tak ada pilihan lain selain menerima keputusan Diki.


"Baiklah, mama pulang dulu. Semua masalah mama serahkan padamu untuk diselesaikan. Apapun yang terbaik untukmu, mama akan ada di pihakmu untuk selalu mendukungmu sepenuhnya." Bu Lidia hanya bisa menyemangati putranya agar semakin tegar menghadapi segala macam masalah yang timbul.


"Makasih, Mah. Dukungan mama adalah kekuatanku."


Sebelum pergi, Bu Lidia memberikan senyuman hangat. Dia memang orang yang penyayang.


Kemudian Diki memanggil Rio dan telah bersiap untuk menginterogasinya.


Rio yang sudah tahu, dia dengan pasrah siap menerima segala luapan amarah Diki padanya. Dia tahu telah salah karena lalai dalam tugas, ini adalah yang pertama kali baginya dan Rio berharap semoga jadi yang terakhir dia melakukan kesalahan.


"Katakan semua padaku, apa yang terjadi di pesta itu!" Suara Diki terdengar mengintimidasi. Suhu ruang mendadak dingin.


"Maaf, Pak. Ini kesalahanku, saat itu..." Rio menceritakan sebenarnya dengan panjang lebar tanpa satupun yang terlewat.

__ADS_1


Diki yang mendengarkan penjelasan Rio, dia mengerti apa yang harus dilakukannya.


"Rio, kamu telah melakukan kesalahan besar meskipun itu tidak sengaja. Kamu tahu? Dampak dari kelalaianmu apa?" Diki menatapnya tajam. Auranya menakutkan.


"Aku minta maaf."


"Baiklah, aku akan menghukummu."


Diki memerintahkan Rio untuk membantu menyelidiki masalah yang tengah menimpa perusahaannya. Sebagai hukuman, Diki meminta Rio agar menggunakan kemampuannya untuk melakukan take down video viral Raisa yang sudah beredar.


Hanya butuh waktu sebentar, video viral itu telah lenyap dari peredarannya hingga kabar video Raisa yang sudah di take down terdengar oleh Vera.


Jelas setelah mendengar kabar itu, Vera menggeram kesal dengan penuh amarah karena dia gagal lagi dalam mempermalukan Raisa. Sepertinya Vera tidak bisa meremehkan orang yang selalu melindungi Raisa di belakangnya. Kemudian Vera kembali menemui Revan untuk membahas rencana jahat mereka selanjutnya.


*****


Menjelang malam.


Diki masih berkutat di depan layar monitor laptopnya. Dia sedang menganalisis laporan keuangan yang dirasa agak janggal. Merasa ada yang aneh, kemudian Diki memanggil Rio.


"Baru beberapa waktu lalu, penjualan produk meningkat. Kenapa sekarang menurun drastis? Aku sudah mengecek beberapa laporan penjualan dan laporan keuangan. Mengapa ada sedikit perbedaan antara laporan dari departemen marketing dan accounting?" Diki terus bertanya pada Rio. "Coba kau cek!" Dia kemudian menyodorkan beberapa berkas pada Rio.


"Kamu selidiki seseorang yang bekerja di departemen accounting, aku merasa ada seseorang yang memanipulasi data laporan."


"Baiklah, Pak."


Diki bekerja keras menyelesaikan masalah di perusahaan. Hingga dia lupa karena tidak sadar bahwa waktu hampir menyentuh dini hari. Sudah beberapa gelas kopi menemaninya agar bisa menahan kantuk. Meski begitu sesekali Diki menguap, tubuhnya juga sudah merasa lelah.


Tak hanya Diki, Rio pun masih belum pulang. Dia menemani dan membantu Diki.


Kemudian Diki meregangkan tubuhnya yang terasa pegal dan ada lingkaran hitam di matanya. Akhirnya Diki memutuskan untuk pulang.


"Kita pulang!"


Di rumah, Raisa tidak bisa tidur. Selain menunggu Diki pulang, dia juga dipenuhi oleh banyak pikiran yang mengganggunya.


Di tengah lamunannya, Raisa mendengar suara mobil Diki dan disusul suara pintu dibuka. Lalu Raisa bergegas bangun untuk menyambut Diki.

__ADS_1


Tetapi setelah Raisa membuka pintu kamar, dia melihat penampilan Diki terlihat kusut. Diki tengah duduk sambil memijat kepala dan nampak dasinya telah longgar.


Raisa berjalan perlahan menghampiri Diki, kemudian dia bertanya, "Kenapa kamu baru pulang jam segini?" Jam dinding menunjukkan waktu pukul 03:00 dini hari.


"Apakah aku membangunkanmu?" Diki bertanya balik, dia menatap Raisa dengan tatapan tanpa ekspresi dan tidak bergairah.


Raisa menggeleng. Raisa merasa canggung melihat ekspresi Diki. Dia jadi bingung bersikap.


"Uhm, aku mengerti. Sebelumnya kamu sudah memberitahuku bahwa kamu akan sibuk beberapa waktu ke depan. Apakah kamu lapar? Nanti aku buatkan makanan untukmu."


"Tidak perlu."


Raisa terdiam sejenak mendengar perkataan Diki yang rasanya seperti es yang ditumpahkan ke kepalanya. Rasanya dingin sekali.


Raisa menarik napasnya, mencoba untuk tenang menghadapi Diki. Dia mengerti, mungkin Diki kelelahan bekerja.


"Ya sudah, aku akan kembali ke kamar."


"Tunggu!" Diki menahan langkah Raisa, dia kemudian berdiri.


Raisa berbalik, "Ada apa?"


"Aku ingin bicara sebentar denganmu."


Diki menatap lurus Raisa, kilatan melintas di matanya. Aura dingin memancar dari raut wajah Diki. Dia seolah sedang menyimpan amarah.


Raisa menelan ludahnya, dia menatap takut ke arah Diki. Entah kenapa dia merasa takut melihat Diki yang berbeda. Keringat dingin membasahi dahinya.


----


----


Bersambung...


Note :


Terima kasih pada readers yang sudah mendukung karya ini.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu mendukung author agar author semangat untuk bisa meneruskan cerita ini dengan plot yang menarik dan tidak bisa ditebak.


Happy reading.


__ADS_2