MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 39. MEMBAHAS MASALAH


__ADS_3

Diki sudah berada di kantor dan Haris sudah menunggunya di ruangan.


"Perusahaan mana lagi yang kompeten selain perusahaan itu?" Diki membuka percakapan dengan Haris saat kakinya sudah menginjak ruangannya. Ia berangkat dengan terburu-buru begitu mendengar kabar dari Haris.


"Aku belum mendapatkannya dan saat ini masih dalam proses pencarian. Waktu kita memang urgent, permintaan pasar melonjak"


"Kau tahu apa penyebabnya?"


"Aku tidak tahu, tapi tim purchasing sudah aku perintahkan ke sana. Dan rencana aku ingin membicarakannya dengan Pak Irfan"


"Aku sih sudah menduganya sebelumnya, kamu tahu perusahaan Irfan bekerja sama dengan siapa?"


"Info yang kudengar, dia bekerja sama dengan perusahaan PT. Pras Teknik anak perusahaan dari Prasjaya group yang dikelola oleh Revan. Dia kan kompetitor kita"


Diki diam, menatap tajam. Ada sesuatu yang masuk ke dalam pikirannya. Semburat wajah dingin tanpa ekspresi terlihat jelas. Bahkan Haris yang sudah mengenal Diki merasakan dingin dari auranya yang terpancar. Haris mengenal sifat Diki.


Sikap diamnya awal dari ledakan emosinya yang terdalam.


Diki menganalisa mungkin setelah kejadian itu, Revan bertindak cepat dengan mengambil langkah untuk membalikkan keadaan. Revan berusaha mengambil pangsa pasarnya dengan cara curang, dari sekian supplier material perusahaan Irfan lah yang berkualitas. Bagaimana bisa Revan merebutnya.


"Irfan dan Revan, dua pria itu mengincar istriku" gumam Diki yang sangat geram sambil menggertakkan giginya. Sorot kemarahan yang hampir meluap.


Haris yang berada di depannya dengan jelas mendengar itu sontak terkejut, "Hah!!! Apa yang kamu katakan?"


"Yah, mereka sengaja ingin menjatuhkanku"


"Kamu terlalu berlebihan, atas dasar apa kamu bisa menduga hal konyol itu"


"Irfan adalah mantan kekasih dan Revan adalah pria menjijikan yang menjebak istriku untuk kepuasannya"


"Serius??? Wah...wah... aku tidak tahu tentang masalah sebesar itu, dampaknya jadi luar biasa" alis Haris terangkat dan matanya melebar.


Sepintas Haris ingat tentang Raisa saat itu seketika memakai masker, Haris pikir ia hanya menutupi dari Diki tapi sepertinya bukan. Pasti karena Raisa tahu pekerjaannya berkaitan dengan Irfan. Haris tidak tahu itu, seandainya saat itu ia sudah tahu mungkin tidak akan memerintahkan Raisa mengaudit perusahaan Irfan jadi itu jelas salahnya.


Kenapa Raisa tidak bilang. Haris mengusap pelipisnya, ia sedang berpikir keras.


"Itu bahaya, kamu tidak boleh membiarkan mereka mengambil kesempatan. Ingat jangan sampai lengah. Pertahankan istrimu yang membuat banyak pria terpesona padanya"


"Raisa wanita misterius bagiku, aku belum mengenalnya lebih jauh. Tapi aku lebih fokus pada perusahaanku"


"Perusahaan dan istrimu itu sama pentingnya, bagaimana bisa kamu menganggapnya sepele"


"Wanita sumber masalah"


"Tidak...aku tidak setuju dengan pendapatmu yang itu, justru wanita sumber kekuatan pria" Haris membantahnya, mungkin Diki belum merasakannya jadi berpendapat seperti itu.

__ADS_1


Diki tidak bisa berkata apa-apa, kehidupan asmaranya saja masih minim ditambah pernikahannya yang terkesan mendadak dan tak disengaja. Apa yang harus dia lakukan, di otaknya masih belum bisa berpikir jernih.


"Terserah itu pendapatmu" Diki acuh.


"Selalu saja begitu..." Haris menghela napas.


******


Di rumah...


Karena masih cuti, Raisa mengerjakan kesibukannya dengan melakukan pekerjaan rumah dan tentunya memasak makanan yang enak.


Terdengar suara ketukan pintu, Raisa bergegas untuk membukanya.


"Ibu?" Raisa terkejut, Bu Lidia berkunjung. "Silahkan duduk, Bu! Aku ke dalam sebentar"


Bu Lidia pun duduk di sofa.


"Ibu tahu darimana aku ada di rumah?" Raisa membawa nampan yang berisi minuman dan kudapan.


"Diki bilang kamu sakit, jadi ibu khawatir langsung ke sini menengok keadaanmu. Ia meminta Ibu untuk menemanimu sebelum dia pulang begitu katanya"


Raisa tidak menyangka dibalik sikap dingin dan cueknya Diki ternyata menyimpan kepedulian pada Raisa.


"Aku baik-baik saja, Bu. Makasih udah perhatian"


"Iya, kemarin ada dokter Emilia yang memeriksaku"


"Dokter Emilia?" Ada raut keterkejutan di wajah Bu Lidia.


"Kenapa, Bu?" Raisa melihat wajah Bu Lidia yang tak biasa.


"Apa Diki yang memintanya?"


"Mungkin, aku kan tidak tahu"


"Bagaimana kamu melihat mereka? Apakah kamu tidak cemburu?"


"Kenapa aku harus cemburu?" Raisa berpura-pura tidak peduli. "Memangnya mereka memiliki hubungan spesial?" Hati Raisa mulai gundah melihat raut wajah Bu Lidia seperti menyimpan sesuatu.


Sebenarnya Raisa tahu kalau Emilia sudah menceritakan bahwa ia menyukai Diki. Raisa menutupi dulu, ia ingin tahu cerita dari Bu Lidia.


"Dia itu wanita yang dijodohkan kakek Diki tapi Diki menolaknya. Yah mungkin dia sudah mempunyai wanita pilihannya yaitu kamu, iya kan?Ibu sih tidak mau memaksakan Diki"


Raisa ternganga, ia tidak tahu bahwa Emilia wanita yang dijodohkan untuk Diki. Kalau bukan Bu Lidia yang menceritakannya, mungkin Raisa terlihat seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa.

__ADS_1


Bu Lidia sungguh baik, Raisa jadi merasa bersalah seolah niatnya hanya untuk memiliki rumah jadi terkesan Raisa jahat. Raisa malu. Apa jadinya jika Bu Lidia tahu motif Raisa sebelumnya.


"Aku belum pernah bertemu dengan kakek Diki"


Mendengar itu, wajah Bu Lidia pucat. "Sebaiknya kamu tidak usah menemuinya, aku dan suami sebagai orang tua Diki sudah merestui kalian jadi untuk apa menemui kakek. Kamu harus menyiapkan mentalmu" Bu Lidia seakan tidak mau Raisa bertemu dengan ayah mertuanya. Dari perkataan Bu Lidia, Raisa sudah menangkap kesimpulan pasti sosoknya mengerikan.


Raisa jadi penasaran sosok kakek Diki. Apakah ia tidak merestuinya? Hingga Bu Lidia seolah mencemaskan Raisa.


"Oh ya, Raisa ibu bawa sesuatu untuk kalian" Bu Lidia membuka bungkusan plastik yang dibawanya. "Ini buah-buahan untuk kamu biar selalu fit sama minuman herbal untuk Diki"


"Makasih banyak, Bu. Udah repot-repot bawa oleh-oleh"


Setelah obrolan panjang antara Bu Lidia dan Raisa, Bu Lidia pamit karena sudah sore. Tak lama Diki pulang. Raisa menyambutnya dengan senyuman lebar.


Wajah Diki terlihat kusut, ia sedang banyak pikiran jadi ia tak menghiraukan Raisa.


Beberapa menit berselang, Raisa menunggu Diki di meja makan.


"Aku sudah buatkan makanan enak" Raisa mencoba berbicara pada Diki untuk mencairkan suasana.


Diki hanya diam, ia pun duduk lalu menikmati makan malamnya. Sikapnya itu membuat Raisa canggung, ia jadi bingung harus bicara apa.


"Tadi Ibu datang kemari,"


"Ya..."


Raisa menelan ludahnya, ia masih belum bisa mengakrabkan diri. Terlalu sulit sikap Diki yang belum berubah. Diki acuh tak acuh.


"Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?"


"Tidak ada"


'Ya ampun, nih orang susah amat yah diajak ngobrolnya' keluh Raisa membatin.


"Baiklah... aku tinggal ke kamar dulu. Besok aku sudah mulai masuk kerja lagi" Raisa kesal dengan menghentakkan kakinya.


Sebelum Diki masuk ke kamarnya, ia menuju dapur mengambil minuman untuk dibawa sambil mengerjakan sesuatu di kamarnya.


Diki membuka kulkas melihat sebotol minuman terlihat segar di matanya, akhirnya Diki mengambilnya lalu menuangkan ke dalam gelas. Ia rasa perlu minuman yang segar-segar karena tubuhnya yang lelah belakangan ini.


Sesaat setelah meminum beberapa tegukan, rasanya enak dan segar tetapi Diki merasa ada yang aneh. Entah kenapa tubuhnya seperti sedang bereaksi dan itu membuat Diki tak nyaman. Ia juga tidak bisa berkonsentrasi. Diki mulai gusar dan berkeringat.


Minuman itu pemberian dari Bu Lidia yang merupakan jamu herbal penambah stamina. Jamu racikan alami turun temurun dari eyang buyut yang kualitasnya terjamin manjur. Sebenarnya maksud tujuan Bu Lidia baik, ia ingin putranya sehat agar bisa memberinya seorang cucu. Dan sekarang Diki sedang meneguknya.


*******

__ADS_1


Bersambung....


kira-kira apa yang terjadi nanti yah?


__ADS_2