
Begitu Raisa melangkah melewati Diki, semilir kesejukan angin menyapu hati Diki. Ada kesenangan tersendiri bagi Diki saat Raisa memutuskan untuk tidur bersama. Di belakang Raisa, Diki tersenyum simpul dan wajahnya berseri.
Raisa melangkah masuk dengan terpaksa ke kamar Diki. Seketika mata Raisa tertegun melihat kamar Diki yang didekorasi dengan memakai konsep warna yang berfokus pada minimalis nan elegan karena lebih menonjolkan warna monokrom untuk setiap tampilan warna perabotannya. Look kamar pria yang tertata rapi mengejutkan Raisa.
Lalu pandangan Raisa tertuju pada ranjang yang berukuran King size, sepertinya cocok untuk ditiduri berdua. Raisa berpikir tidak perlu merasa khawatir akan tidur berdesakan dengan Diki.
"Aku harus memberi pembatas agar kamu tidak melampaui dan mengambil kesempatan di saat aku lengah" Raisa memperingatkan Diki sebelum dirinya merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Diki menertawakan kekonyolan Raisa, "Aku bukan tipe pria yang menyerang tiba-tiba." Diki terus menatap Raisa penuh arti.
"Mustahil, kamu tidak ingat apa yang kamu lakukan sebelumnya?" Mata Raisa menyipit dengan tatapan penuh curiga.
Raisa sebagai seorang wanita jelas memiliki ingatan kuat apalagi momen yang pertama kali terjadi dalam hidupnya. Saat itu Diki melakukannya tanpa permisi seketika perasaan Raisa dibuatnya melambung tetapi langsung jatuh dalam sekejap.
"Memangnya apa yang pernah aku lakukan sebelumnya?" Kali ini giliran Diki yang ingin memancingnya. Diki menyeringai.
Bagaimana bisa Diki melupakannya? Hah?!! Itu adalah first kiss bagi Raisa. Ia pun jadi tak habis pikir. Kekesalan memenuhi dada Raisa.
"Ah sudahlah, aku tidak mau membahas itu. Yang aku inginkan sekarang adalah tidur dengan nyenyak" Raisa menaruh dua bantal guling disusun horizontal dan diletakkan di tengah sebagai pembatas tidur mereka.
Sulit dipercaya, ini jadi yang kedua kalinya sejak menikah, Diki baru merasakan tidur satu ranjang lagi dengan Raisa. Ada perasaan yang sulit digambarkan dari raut wajah Diki.
Raisa tidur begitu saja tanpa menghiraukan kehadiran Diki di sampingnya. Kemudian Raisa tidur membelakangi Diki.
Sebelum tidur, Diki memadamkan lampu tidur. Dia terbiasa tidur dalam ruang gelap.
Meski Raisa tertidur seketika dia menyadari sesuatu yang membuatnya terbangun tiba-tiba dalam gelap. Itu tentu mengejutkan Diki karena Raisa menepuk berulang kali ke lengan Diki.
"Bangun!"
Diki sontak menyalakan lampu lagi, "Kenapa?" Ruangan kamar kembali terang, keduanya pun terduduk bersamaan. Nampak wajah muram Raisa tersorot cahaya lampu.
__ADS_1
"Aku tidak suka tidur di kamar yang gelap, aku lebih nyaman dengan lampu yang menyala"
"Tapi aku terbiasa dengan lampu padam, tidurku jadi lebih rileks. Aku ingat sebelumnya saat pertama kita tidur bersama, kamu tidak mempermasalahkan lampu yang padam"
"Ya, mungkin saat itu aku sangat lelah dan tertidur nyenyak jadi tidak menyadari kamu memadamkan lampu saat tidur"
"Sekarang kamu tidur di kamarku, apakah aku harus menurutimu?"
"Ya, seharusnya kamu mengalah, hanya malam ini saja aku menumpang tidur di kamarmu. Setiap hari kan kamu berada di kamarmu dan nanti ke depannya kamu bebas untuk memadamkan lampu setelah aku kembali tidur di kamarku"
"Tunggu, Apa kamu berniat selamanya kita akan tidur di kamar yang terpisah? Padahal kita sudah menikah" Diki menatap dalam ke mata Raisa. Ada gelombang emosi yang mulai naik dan memenuhi dadanya.
"Eh???" Raisa membeku lalu dengan canggung dia menjawab, "Bukannya kamu tidak memiliki minat secara romantis denganku jadi ku pikir kita lebih nyaman hidup masing-masing meski kita tinggal seatap"
"Oh... aku mengerti, kamu berpura-pura menikah denganku karena ada sesuatu yang kamu inginkan dariku. Kamu sudah tahu bahwa pernikahan kita seperti sebuah jebakan karena dari awal aku memang tidak menyukaimu dan terpaksa membuatku harus menuruti permintaan orangtuaku karena ulah dirimu. Kita terikat pernikahan sedangkan dirimu ingin aman dari jeratanku"
Intuisi Diki yang mengerikan. Lagi dan lagi Raisa kehilangan kata-kata. Untuk sesaat mereka saling melempar pandang tapi tidak ada yang bisa saling memahami pikiran lawan bicara.
"Kuingatkan kamu, Raisa. Jangan pernah kamu mencoba berpikir untuk berkhianat dariku meski aku belum memiliki perasaan padamu"
'Apa-apaan dia' Raisa mencemoohnya dalam hati. Tersirat dari maksud ucapan Diki bahwa mereka ke depannya harus selalu tidur di kamar yang sama padahal sebelumnya Diki lah yang tidak menginginkannya. Kenapa sekarang malah bertindak sebaliknya?
Melihat situasi yang tegang, Raisa berusaha tenang menghadapi Diki. Ia tak mau Diki semakin mencurigai motif Raisa sebelum ini.
"Baru saja kita berdamai dan makan bersama, sekarang kita bertengkar lagi. Jujur, aku masih belum memahamimu. Aku tahu, sampai sekarang aku belum kompeten untuk memikatmu. Lalu kenapa kamu berkata seolah kamu takut aku akan melakukan hal tercela?"
"Tidak ada yang patut aku takutkan, hanya saja aku berpikir kamu ingin bermain-main denganku."
"Apa ada yang salah dengan kata-kataku, tadi?"
"Ya, dari apa yang aku terka, ucapanmu seolah kita menikah hanya sebagai status lalu dengan itu kamu diam-diam menyiapkan dirimu untuk orang lain karena kamu tahu aku tidak akan mampu melakukannya tanpa memiliki perasaan"
__ADS_1
"Maksudnya kamu ingin menjeratku selain status pernikahan kita?"
"Ya, "
Terdengar jelas sekali, itu artinya Diki menginginkan Raisa tapi dia terlalu arogan untuk mengakuinya.
Melihat sikap Diki membuat Raisa terlalu lelah untuk menghadapinya.
"Baiklah, katakan saja jika sekarang kamu mulai menyukaiku. Jadi, tidak perlu berbelit hingga membuatku bingung dengan sikapmu. Tidak ada yang salah bagi seorang suami yang menyukai istrinya sendiri" Raisa sudah tidak tahan, dia hampir membenci Diki. Sikap Diki yang menyebalkan, selalu saja menyebabkan ada pertengkaran di antara mereka.
Mereka saling menatap dengan penuh emosi dalam kilatan matanya. Hingga suara Guntur yang menggelegar mengejutkan keduanya dan Raisa berteriak kaget lalu dia bertindak spontan memeluk Diki.
Meski di luar suara hujan dan guntur terus bersuara dalam malam tetapi ada keheningan tercipta di ruangan.
Diki membeku, lengannya yang ditarik Raisa menyentuh dada Raisa dan itu membuat dirinya seketika terdiam. Diki tak bisa berkata apa-apa. Suasana dingin berubah menjadi hangat.
Sekian detik, Raisa yang sadar akan tindakannya yang menarik lengan Diki hingga menekan bagian dada Raisa, segera ia langsung mendorong Diki, "Maaf, ta-tadi itu..." Raisa menjadi kikuk dan sulit berkata-kata. Dia terlalu malu.
"Malam ini, kamu sengaja ingin merayuku"
"Tidak," Rasanya Raisa ingin menangis. Dia berbalik lalu membenamkan kepalanya ke dalam selimut. Raisa meringkuk dari balik selimut dan tidak mau menampakkan wajahnya ke hadapan Diki.
Setiap kali ada pertengkaran pasti selalu berakhir begini. Ada adegan yang membuat keduanya canggung dan malu. Wajah keduanya sama-sama memerah.
Jujur, tingkah Raisa telah membangunkan sesuatu yang tengah tidur. Diki, pria yang normal. Di tengah cuaca yang dingin malam ini, suhu tubuh Diki mendadak panas. Pikiran liarnya mulai menguasai otaknya.
Entah masih bisakah mereka berdua tidur bersama tanpa terjadi apa-apa? Diki tak bisa menjamin dirinya sendiri karena Raisa yang malu terlihat manis di matanya.
----
----
__ADS_1
Bersambung...