MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 57. KEJADIAN MANIS


__ADS_3

"Oh...shiit..." Diki mengumpat, dia meringis sambil terpincang-pincang saat salah satu kakinya diinjak oleh Raisa. "Kamu!!!" Kekesalan memenuhi wajah Diki.


"Apa?" Raisa menantang balik, "Kamu pikir aku tidak tahu, otakmu kotor karena terpesona oleh tubuhku yang indah. Jangan macam-macam yah, biarpun kita sudah menikah tapi kamu belum menyukaiku. Aku tidak mau disentuh oleh pria yang tidak mencintaiku. Diriku ini berharga"


"..." Diki belum juga mengeluarkan kata-kata, Raisa sudah mendorongnya untuk keluar.


Raisa akhirnya memiliki kekuatan untuk mengusir Diki keluar dari kamar. Di balik pintu kamar, Diki mendengus. "Cih...sombong sekali dia. Siapa yang pertama kali mengusik diriku dan juga menjebakku hingga menikahinya karena permintaan mama, kalau bukan dia yang membujuk mamaku. Awas kau Raisa"


Sambil menunggu, Diki duduk di ruang tengah dengan berwajah muram. Kemudian tak lama Raisa keluar kamar tanpa merasa bersalah.


Raisa melewati Diki begitu saja tanpa bertanya, dia memilih ke dapur untuk menyiapkan hidangan di meja makan. Diki beranjak dan sekarang giliran dia yang mandi.


Setelah makanan sudah terhidang di meja makan, Raisa menuju ke kamar memanggil Diki. Raisa tidak tahu saat melangkah masuk ke kamar ternyata Diki baru masuk setelahnya. Begitu Raisa berbalik, betapa ia terkejut mendapati Diki hanya memakai...handuk??? Mata Raisa mengerjap.


Handuk itu melilit di pinggang Diki yang sempit, sebagian dadanya terekspos. Dikejutkan oleh kehadian Raisa di kamar, Diki malah bersikap santai.


"Ka-kamu...abis mandi?" tanya Raisa dengan malu lalu menunduk, wajahnya memerah. "Maaf..."


"Kenapa kamu ke kamarku? Apa kamu ingin melihatku berpakaian di depanmu?" goda Diki dengan senyuman mengejek.


"Bukan..." Dengan cepat Raisa menyangkal, "aku cuma mau memanggilmu kalau makanan sudah tersaji di meja makan." Kemudian Raisa berbalik badan membelakangi Diki, telapak tangan menutupi wajahnya.


Kemudian Raisa bergegas menuju pintu keluar tapi sayang Diki menghalangi Raisa. Sejenak Raisa membeku lalu ia mendongak. Raisa merasakan suhu tubuhnya memanas saat melihat penampilan Diki.


Rambut Diki yang terbiasa rapi kini terlihat berantakan. Beberapa helai rambutnya menutupi dahinya. Raisa menelan ludah, ia akui benar-benar terpesona oleh tubuh Diki yang berotot. Pertama kali melihat Diki joging, Raisa tahu bentuk tubuh Diki memang bagus. Siapa yang mengira kini Raisa melihatnya tanpa ditutupi oleh baju. Itu membuat Raisa kehilangan kata-kata bahwa matanya tanpa disadari tidak bisa beralih pandangan.


Diki yang sadar Raisa masih diam menatapnya, ia berniat menggodanya dengan iseng. Sambil tersenyum smirk, Diki berkata, "Aku akan membiarkanmu melihatku sepuasnya..."


"A-apa???" Jelas Raisa salah tingkah lalu mengalihkan pandangannya, "Minggir aku mau keluar"


Diki bergeming menghalangi Raisa. Jantung Raisa berdetak semakin kencang.

__ADS_1


Dengan cepat Diki menarik Raisa tepat ke dalam pelukannya. Tangannya melingkar di pinggang Raisa, ia pun mendaratkan bibirnya ke bibir Raisa. Seketika Raisa tecengang. Sentuhan tipis bibir Diki seperti sebuah kecupan. Lalu Diki mengambil napas memberi jarak, matanya menatap Raisa penuh arti.


Sejenak Raisa linglung. Diki melakukannya dengan tiba-tiba.


Raisa yang terdiam dan tanpa penolakan membuat Diki berpikir bahwa ia pasti diijinkan melakukannya lagi. Tanpa aba-aba Diki mencoba melakukannya lagi. Sebelumnya Diki pernah melakukan cium*n tapi di bawah pengaruh minuman stimulan, kini dia bertindak secara sadar dan Raisa tidak menghindarinya. Ini mengejutkan bagi Diki.


Tak ada yg salah jika mereka melakukannya dalam hubungan yang halal. Raisa tidak bisa menolak pesona Diki, dirinya tanpa sadar hanyut dan terbuai oleh tindakan Diki.


Masih dalam kukungan Diki, ia memperdalam cium*n itu yang penuh gair*h. Apakah kini cinta itu hadir di antara mereka? Mereka merasakannya penuh perasaan seperti sedang dimabuk asmara.


Indahnya perasaan cinta memenuhi hati mereka seiring dengan tindakan yang mesra membuat mereka hanyut dalam manisnya keromantisan. Tak ada yg bisa menggambarkan betapa mereka sedang menikmatinya.


Seketika waktu magrib menghentikan aktivitas mereka. Raisa mencoba mendorong dada Diki dengan lembut, "Maaf ini sudah masuk waktu magrib"


Setelah mereka menyudahinya, kini keadaan mulai canggung.


Diki mengerti lalu menghentikannya dan membuka matanya. Wajahnya penuh rasa puas menatap Raisa. Perasaannya telah tersalurkan dengan baik. Ia membiarkan Raisa keluar kamar. Dengan jelas tadi Diki melihat wajah kemerahan Raisa. Ia pun tersenyum. Hatinya senang.


Raisa terus menunduk sambil menikmati makanannya. Ia masih diliputi rasa malu dan tegang.


Berbeda dengan Diki yang sesekali mencuri pandang ke arah Raisa sambil makan. Entah kenapa Diki senang melihat tingkah Raisa yang malu. Ia merasa lucu.


Dalam hati, sekarang Diki mengerti sebagai seorang pria ternyata memang membutuhkan seorang wanita. Itu tidak bisa dipungkiri. Kesehariannya yang selalu bersama Raisa menimbulkan perasaan penuh warna di hatinya.


Apakah itu artinya dia mulai jatuh cinta pada Raisa? Wanita misterius yang tiba-tiba hadir di hidupnya. Padahal sebelumnya Diki masih ingin mengembangkan karir. Tapi ternyata kehadiran Raisa menyegarkan otaknya yang penat.


Pantas saja Haris selalu mengejeknya untuk segera memiliki pasangan. Begini rasanya memiliki pasangan, Diki baru merasakannya. Meski terkadang hubungan mereka pasang surut karena kesalahpahaman, Diki tetap menyukainya.


"Aku suka masakanmu, ini rasanya enak" Diki membuka percakapan.


Raisa menggangguk dan tetap melanjutkan makannya. Sikapnya seakan menghindari obrolan panjang dengan Diki di meja makan.

__ADS_1


Diki terus menatapnya, ia menunggu momen Raisa mengangkat wajahnya dan bertemu pandang secara tidak sengaja.


Raisa menyadari bahwa Diki tak mengalihkan pandangannya. Sebenarnya tingkah Diki ini membuat Raisa sedikit gugup tapi sebisa mungkin Raisa berusaha untuk menutupinya. Debaran jantungnya terus berdetak kencang. Ia merasa seolah telah jatuh cinta dan sedang malu.


Raisa sesegera mungkin menghabiskan makanannya dengan cepat. Karena terburu-buru saat makan, Raisa hampir tersedak. Kerongkongannya penuh dengan makanan dan belum turun secara sempurna. Wajahnya seperti orang kehabisan napas, lalu tangannya reflek mencari segelas air minum. Raisa terus menepuk dadanya.


Diki panik melihat Raisa begitu, dengan cepat membantunya tapi Raisa sudah bisa mengkondisikan dirinya kembali seperti semula.


Raisa meneguk segelas air minum.


"Kenapa kamu makan terburu-buru? Apa kamu mulai tidak nyaman denganku karena tadi?" Dengan santainya Diki bertanya.


"...UHUK" Raisa terkejut karena Diki mulai membahasnya. Padahal ini yang ingin Raisa hindari. Ia masih belum yakin dengan perasaannya.


Raisa memberanikan diri untuk menatapnya dan bertanya, "Apa kamu memikirkan sesuatu?" Sebelum Diki menjawab, Raisa memberi alasan. "Tadi aku hanya ingin cepat menghabiskan makanan lalu segera beristirahat karena badanku lelah. Hanya itu"


"Oh... berbeda denganku, pikiranku dipenuhi oleh kejadian manis tadi"


"Eh??? Ma-maksudmu kamu melihat ke arahku terus sambil memikirkan hal yang tadi kita lakukan?"


Diki tersenyum sebelum melanjutkan.


"Tentu saja, aku tidak bisa melupakannya dengan mudah." Tatapan lurus Diki yang dalam memiliki arti tersembunyi. Kilatan kelembutan mewarnai di matanya.


Untuk sesaat Raisa tertegun, ia tidak menyangka Diki akan berkata terus terang padanya. Ia pun mulai bingung harus bersikap apa.


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2