MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 25. DIKI SALAH PAHAM


__ADS_3

Raisa menelpon Diki untuk memberitahunya bahwa ia pulang agak terlambat dan ia tidak menjelaskan alasannya. Bagi Diki itu tidak masalah selama tidak larut malam dan juga tidak lupa untuk membuatnya makanan. Raisa menerimanya.


Raisa menemui Rian sepulang kerja, sesuai janjinya.


Di sebuah Cafe Rian menunggu Raisa datang. Rian datang sendiri dan menyambut Raisa dengan wajah muramnya.


"Kenapa? Apakah kamu benar-benar mendapat masalah besar?" Raisa langsung bertanya, wajah khawatirnya tidak bisa ia tutupi saat melihat kondisi Rian.


"Duduklah dulu, Kak!"


Raisa mengambil posisi duduk dan menghadap ke Rian, "Coba ceritakan padaku dengan jelas!"


"Aku terlibat perkelahian dengan seseorang yang berasal keluarga berpengaruh di kota ini, wajahnya luka dan aku diminta ganti rugi atas perbuatanku, Kak"


"Ya ampun, bagaimana ini bisa terjadi. Terus apa kamu juga mengalami luka?" Raisa lebih mencemaskan kondisi Rian tanpa memikirkan berapa biaya yang akan dikeluarkan. Baginya Rian dalam kondisi baik-baik saja tentu membuatnya lega.


"Aku nggak apa-apa, Kak. Tapi bagaimana dengan keluarga mereka? Aku takut akan dijebloskan jika tidak membayar ganti rugi. Sedangkan nominal yang mereka sebutkan aku tak sanggup untuk memenuhinya. Karena memang kondisi keuangan keluargaku sedang tidak dalam kondisi stabil"


Raisa turut prihatin mendengarnya, apakah benar pamannya sedang mengalami kesulitan ekonomi? Raisa berpikir sejenak, pasti akan ada jalan keluarnya. "Bagaimana jika aku menemui mereka untuk membicarakan masalah ini dan memilih jalur damai"


"Kak Raisa tidak mengenal keluarga mereka, keluarga Prasetyo bukan keluarga sembarangan, mereka akan lakukan berbagai cara untuk memberi seseorang hukuman jika sudah menyinggung keluarga mereka. Sungguh aku takut" Rian menciut.


"Keluarga Prasetyo?"


"Ya, keluarga Prasetyo pemilik Prasjaya Group"


"Kenapa kamu bisa bersinggungan dengan mereka?" Raisa sedikit frustasi mendengarnya.


"Devin yang mulai duluan, aku tidak tahan atas perlakuannya"


"Devin itu anak mereka? Terus kamu berurusan dengan anaknya lalu keluarganya turun untuk ikut campur?"


"Iya..." Rian melemah, rasanya ia sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi. Berat bagi Rian jika harus mengingat lalu menceritakan kembali kejadiannya pada Raisa.

__ADS_1


"Ok, biar aku yang urus. Kamu tidak usah cemas" dengan rasa percaya diri yang tinggi Raisa berdiri di garda terdepan melindungi Rian. Raisa menenangkan Rian yang tengah kalut akan masalahnya. "Jangan terlalu memikirkannya, nanti Kak Raisa bantu. Sudah...tenangkan dirimu"


Raisa tidak tahu seberapa besar masalah yang akan dia hadapi nanti jika sudah berhadapan dengan keluarga Prasetyo.


Seseorang melihat Raisa dan Rian dari kejauhan lalu melaporkannya pada Diki. Diki belum mengetahui Rian adalah anak Fatma alias sepupu Raisa karena Rian belum pernah menemui Diki. Saat acara pernikahan itu, Rian tidak hadir. Tentu itu membuatnya salah paham dengan Raisa.


Di rumah, Raisa terkejut Diki sudah berada di rumah. Ia pikir Diki akan lembur seperti kemarin.


"Kamu udah pulang?"


Raisa disambut wajah dingin yang seperti menahan emosi. Tatapan tajamnya menusuk lurus ke mata Raisa. Diamnya Diki sangat menakutkan. Bahkan saat Raisa bertanya Diki tak menjawab, sungguh ini membuat Raisa gugup.


Apakah ini karena ada sesuatu yang terjadi dengannya dan Irfan yang tidak Raisa tahu, Raisa bertanya-tanya.


"A-aku akan buatkan makanan untukmu, tadi aku mampir sebentar ke swalayan membeli beberapa bahan makanan"


Tak ada respon yang diberikan Diki, ia tetap dengan posisi duduknya yang acuh terhadap Raisa.


Di meja makan dengan suasana kelam mencekam, aura dinginnya menelusuk hingga ke tulang. Dua orang yang tak bicara bagai berada di kuburan. Sepi tak bersuara. Raisa bingung harus memulai dari mana untuk bisa mencairkan suasana di antara mereka yang tengah menegang.


"Bicaralah sesuatu agar aku bisa mengerti dirimu bukankah kita suami istri" Raisa menatap lekat ke arah Diki. "Apakah ada sesuatu yang kau rahasiakan?" Raisa nekat bertanya padahal dirinya masih dirundung ketakutan.


"Darimana saja dirimu setelah pulang kerja?"


"Eh... aku jalan-jalan ke swalayan" Raisa tidak bisa menceritakan masalah ini pada Diki.


Raisa pikir, ia harus merahasiakannya dan menyelesaikannya sendiri tanpa meminta bantuan Diki. Karena ia tahu harus menjaga nama baik suaminya. Tidak mungkin bagi Raisa untuk menyeret Diki ke dalam masalah keluarganya.


Sikap Raisa inilah yang membuat Diki semakin salah paham. Ia tidak tahu, ada seseorang melapor pertemuan Raisa dan Rian yang terlihat seolah Raisa memiliki hubungan di belakang Diki.


Betapa itu menghancurkan harga diri Diki sebagai pria. Mana ada pria yang tidak marah memiliki istri yang berselingkuh, meski masih belum ada perasaan mendalam Diki merasa harga dirinya terluka.


"Kamu yakin hanya itu yang kamu lakukan?"

__ADS_1


Raisa semakin tidak mengerti arah pembicaraan Diki, Raisa tidak tahu kalau Diki telah salah paham padanya.


"Iya" Raisa memalingkan wajahnya menutupi raut wajahnya yang tengah berbohong. Ia takut Diki melihatnya.


"Aku tidak tahu apapun apa yang kau lakukan di belakangku, kau tau perilakumu itu memengaruhi nama baik keluargaku dan selalu jadi sorotan mengingat kau masuk dalam nama besar keluargaku"


"Maksudnya apa? Aku ngga mengerti. Aku tahu sebelumnya kau sudah mengatakan itu, tentu saja aku akan menjaga nama baik keluargamu"


"Kamu munafik!"


"Munafik? Kamu marah padaku, cepat katakan saja tidak usah berbelit yang membuatku tidak paham" Raisa jadi kesal. Raisa kira ini masalah dengan Irfan, kemungkinan Irfan mengatakan sesuatu yang membuat Diki marah. Raisa menduga seperti itu.


"Aku tidak tahu daya tarik apa yang ada pada dirimu sehingga para pria diluar sana menggilaimu"


"Apa??? Ucapanmu itu sangat merendahkanku" Raisa marah dan tidak terima dengan ucapan Diki yang tajam hingga menusuk ke dalam batinnya.


'Ini pasti gara-gara Irfan' tebak Raisa dalam hati, ia belum pernah melihat Diki semarah ini dan ucapannya sungguh menyakitkan.


"Aku muak dengan tingkah lakumu dan awal pernikahan kita sudah dibumbui oleh banyak masalah, semua itu gara-gara dirimu" rahang Diki mengeras juga ada kilatan emosi di matanya dan Diki tidak bisa mengatakan sebenarnya terlalu malu baginya untuk mengakui bahwa ia cemburu.


"Apa yang membuatmu menilaiku seperti itu?Perlu kamu tahu, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Ucapanmu tadi membuatku tidak suka mendengarnya. Kamu tidak memahamiku" Mata Raisa mulai berair, ia sungguh kesal dengan sikap Diki yang tidak memiliki perasaan mengatakan itu.


"Tapi itulah kenyataannya, suka tidak suka memang seperti itulah dirimu"


"Stop! Hentikan! Aku nggak mau mendengarnya lagi. Telingaku bisa sakit"


Raisa meninggalkan meja makan, dengan makanan yang masih bersisa banyak di piringnya. Ia tidak tahan jika terus berada di sana. Dengan membawa perasaan yang sakit, Raisa masuk ke kamar. Ia tidak bisa mengatakan 'benci' pada Diki.


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2