
"Nomor Pak Haris, Pak?" tanya Fitri yang naif.
"Bukan nomor kalian berdua, karena kalian yang ditugaskan oleh Pak Haris jadi kalau ada apa masalah tentang hasil audit aku bisa hubungi kalian"
"Oh... iya Pak" Fitri memberitahu nomor handphonenya sedangkan Raisa masih terdiam.
Untuk apa memberinya nomor Hpnya, Irfan pasti masih menyimpannya karena Raisa tidak berniat untuk menggantinya. Pikirannya bingung, haruskah ia membuka blokir nomor Haris hanya karena urusan kerjaan?
"Bu Raisa...!" Fitri menepuk pelan lengan Raisa, Raisa sedang tidak fokus dan pikirannya yang melalang buana. "Bu Raisa melamun? Itu Pak Irfan minta nomor Ibu"
Raisa yang tersentak, "Ah...iya, ini Pak nomorku, Silahkan disave!" dengan sikapnya yang kikuk Raisa berpura memberi nomornya. Mereka bersikap seakan baru mengenal. Tersamar senyuman tipis di bibir Irfan.
"Ok, terima kasih. Nanti aku akan menghubungi kalian jika aku membutuhkannya"
"Iya, Pak sama-sama" Di sini Fitri yang terlihat lebih aktif bicara berbeda dengan Raisa.
Atensi Irfan tertuju pada cincin di jari manis Raisa.
"Bu Raisa jangan pulang dulu, sepertinya ada urusan penting yang harus kita bicarakan"
"Urusan penting apa yah Pak Irfan?" Raisa berkeringat dingin.
"Masalah pekerjaan,"
"Tapi kan di sini aku bekerja sama dengan Fitri" Raisa berusaha mengelak. Kenapa juga hanya ingin bicara dengannya, Raisa sudah menebak dari awal Irfan akan cari alasan agar bisa bicara berdua dengannya. Bikin Raisa malas.
"Iya, apakah semua orang harus tahu masalah apa yang ingin kita bicarakan?" Tatapan Irfan kali ini berbeda, ada sesuatu yang tersembunyi dari wajahnya yang berubah dingin. Raisa menyadari itu. Tujuh bulan adalah waktu yang cukup untuk Raisa mengenal sifat Irfan.
"Baiklah, Pak" dengan lesu Raisa menjawab. Raisa jadi terpaksa dari pada Irfan membocorkan masalah di antara mereka.
"Aku tunggu di ruanganku!"
"Fitri, kamu tunggu di lobi yah sebentar. Aku cuma lima menit aja kok"
"Iya, Bu Raisa"
Dengan langkah yang takut-takut, Raisa mencoba menenangkan dirinya menghadapi Irfan.
__ADS_1
"Kamu nggak usah takut, ruanganku ini kedap suara" sesaat Irfan memerhatikan langkah Raisa yang memasuki ruangannya.
Irfan berdiri, aura ruangan semakin dingin. Ada kabut hitam yang tak terlihat memenuhi ruang Irfan. Raisa tahu Irfan semakin menakutkan.
Raisa terdiam, ia tidak mau memercikkan keributan dengan Irfan.
"Setelah kau cuti saat itu, seketika kau kembali lalu ingin mengakhiri hubungan kita hanya karena salah paham ada Donna, kamu tidak memberiku kesempatan bicara, lalu kamu mengundurkan diri dan menghilang tanpa jejak. Saat itu kita tak sengaja bertemu dan ada seorang pria mengaku bahwa kamu adalah istrinya. Dan itu..." Irfan menunjuk ke arah jari Raisa yang tersemat sebuah cincin, "Benarkah kau sudah menikah?"
Irfan ingin minta penjelasan Raisa yang selalu menghindarinya. Irfan kesulitan untuk menghentikan kesalahpahaman di antara mereka. Donna sudah Irfan singkirkan, Donna hanya ingin mengincar jabatan. Donna pikir Irfan akan seperti pria brengsek lainnya yang mudah terjebak oleh wanita tapi perasaan Irfan tak tergoyahkan, Irfan ingin Raisa tahu itu.
"Maaf Pak Irfan ini bukan tempat yang tepat kita membicarakan masalah pribadi bukankah hubungan kita hanya sebatas kerjasama antar perusahaan" Perasaan Raisa sudah dingin, tak akan ada kehangatan cinta lagi untuk Irfan.
"Aku tidak suka kita bersikap formal, kenapa dirimu tak mau menjawab pertanyaanku?
Raisa menarik napasnya, ia tidak boleh terpancing emosi. Meski saat ini dia malas menjelaskan pada Irfan. Hubungan di antara mereka memang sudah berakhir.
"Itu benar, aku sudah menikah, Pak. Jadi kita tidak perlu membahas masa lalu" Raisa dengan tegas menjawabnya.
Irfan terkejut, ia memastikan bahwa apa yang di dengarnya tidak salah. "Kamu nggak sedang berpura-pura, kan?"
"Aku tidak akting, ini sungguh nyata"
"Pak Irfan cukup! Aku sudah menikah, jadi berhentilah bertanya dan aku tegaskan lebih baik anda mencari wanita single daripada mengganggu wanita yang bersuami. Hubungan kita hanya sebatas pekerjaan. Terima kasih, aku pamit" begitu tegas dan lugas, Raisa langsung melangkah keluar.
Irfan menarik lengan Raisa hingga langkahnya tertahan. Debaran jantung Raisa semakin kencang, sungguh perasaannya semakin takut Irfan akan berbuat nekat.
"Kita belum selesaikan masalah di antara kita berdua"
Raisa menepis tangan Irfan, "Jangan sentuh aku! Aku bukan orang yang ingin membuat skandal dengan anda. Pernikahanku bukanlah main-main"
Mata merah Raisa mampu menghentikan Irfan untuk menahannya. Irfan melepaskan Raisa.
Saat ini perasaan Raisa tercabik. Hatinya yang masih tersisa kepingan-kepingan perasaan pada Irfan tak sanggup lagi melihat wajahnya.
Raisa mengatur napasnya, dadanya yang masih kembang kempis karena menahan emosi. Raisa tahu, suaminya masih belum memiliki perasaan padanya tapi selama tidak ada pengkhianatan di antara hubungannya sekarang Raisa akan mempertahankannya.
Memang sulit bagi Raisa memulihkan hatinya yang telah terluka. Tapi tidak akan ada airmata yang menetes untuk menangisi Irfan. Perasaan sakitnya masih membekas apalagi dengan teganya Donna yang jadi selingkuhan Irfan. Semakin besarlah kebencian Raisa pada Irfan. Jadi percuma Irfan menjelaskan sudah terlambat baginya dan tak ada peluang lagi untuk kembali, kini Raisa sudah menikah.
__ADS_1
"Bu Raisa kenapa?" Terlihat wajahnya yang berbeda.
"Nggak apa-apa, ayo kita pulang sekarang!"
"Apa urusannya sudah selesai?"
Raisa mengangguk, dia malas banyak bicara takut keceplosan. Betapa unek-uneknya ingin meletup keluar karena tidak kuat menahan perasaannya.
Di ujung sana, Irfan melihat kepergian Raisa. Dirinya masih belum yakin apa yang dilihatnya sekarang bahwa Raisa sudah berubah.
Raisa dan Fitri kembali ke perusahaan dan menyerahkan laporan hasil auditnya. Tapi Haris tidak ada, dia sedang keluar.
Haris pergi ke tempat Diki, dia perlu rapat membahas problem masalahnya dan meminta sedikit waktu untuk trial produknya sebelum dikirim ke perusahaan Diki.
"Wah pengantin baru nih" ledek Haris tiba-tiba ia masuk. Beginilah rasanya kerjasama dengan sahabat sendiri, tidak ada jaimnya.
"Kamu ke sini mau meledekku atau apa?" ketus Diki.
"Kamu dengan istrimu pekerja keras yah sampai tidak memikirkan honeymoon"
Diki menghela napasnya, "Untuk apa? Perusahaanku jauh lebih penting. Kalau kamu membahas itu lagi, aku memutuskan kerjasama dengan mu"
"Galak amat, santai aja bro. Aku cuma pengen bahas produkku yang sedang ada masalah"
"Lalu..."
"Kita perlu adakan rapat sebentar"
"Baiklah, nanti aku suruh Rio untuk siapkan ruangannya"
Rapat Haris dengan Diki yang memakan waktu lama. Diki jadi terlambat pulang sedangkan Raisa sudah berada di rumah. Sepulang kerja Raisa harus memasak untuk Diki.
Hingga menjelang jam 9 malam, Diki masih belum pulang. Raisa yang lelah menunggu akhirnya tertidur di sofa ruang tengah.
----
----
__ADS_1
Bersambung...