MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 41. MENGHINDAR


__ADS_3

Napas Diki terasa sekali di wajah Raisa, tangannya yang besar melingkar di pinggangnya yang ramping dan satunya menarik kepala Raisa hingga tubuh Raisa begitu rapat dengannya.


Walau awalnya Diki hanya ingin membungkam mulut Raisa tapi ia merasakan begitu manis jadi tanpa sadar ia tidak mau berhenti untuk menikmatinya. Diki pikir tidak ada yang salah dengan tindakannya. Mereka dalam status hubungan yang halal.


Diki jadi bertindak tidak rasional, ia jadi ingin menginginkan lebih dari ini. Gejolak panas menggebu dalam tubuhnya.


Kedua tangan Raisa mendarat di dada Diki. Ia seakan tersihir hingga dirinya pasrah berada di pelukan Diki. Raisa pun juga terlena. Ia membiarkan Diki berbuat semaunya, yang membuat Diki terheran tak ada penolakan dari Raisa.


Di malam yang semakin larut tanpa sadar keduanya mulai hanyut dan merasakan manisnya gejolak asmara.


Sebuah ketukan pintu menyadarkan aktivitas mereka. Seketika Diki menghentikan lalu tersadar dia merasa khilaf dengan tanpa permisi langsung menci*m Raisa dengan lama.


Sesaat Diki melepaskannya, Raisa linglung sejenak merasakan ketidakpuasan dalam dirinya ketika Diki terlihat meninggalkannya tanpa merasa bersalah.


Diki bergegas membuka pintu. Ternyata Rio, dia datang tepat waktu pikir Diki, meski merasa terganggu tapi setidaknya ia bisa menghentikan sebelum Diki jadi lebih beringas.


Rio datang karena sudah ditelpon oleh Diki sebelumnya ketika Diki mulai merasa tubuhnya tidak enak.


"Selamat malam, Pak"


"Masuklah! Tunggu sebentar" Diki menyuruh Rio menunggu di ruang tamu lalu ia kembali ke dalam.


Di ruang tengah Raisa masih berdiri tak percaya apa yang telah terjadi, jejak aroma Diki masih tertinggal tak lama Diki menyadarkannya. "Di depan ada Rio, aku mau keluar. Jangan berpenampilan seperti itu di depannya" Diki memperingatkan dengan tatapannya yang lurus.


Sudut bibir Raisa berkedut, 'apa-apaan dia?' Setelah apa yang telah Diki lakukan pada Raisa, ia pergi begitu saja?


Setelah itu Diki mengambil jaket kemudian ia meninggalkan Raisa. Ia menemui Rio dan mereka pun keluar bersama.


"Apa?" Raisa mengerutkan alisnya, dia tak percaya itu. Ia segera mengejar Diki ingin meminta penjelasan tapi sayang tak terkejar. Raisa tertahan sampai di depan pintu.


Sebuah pikiran buruk melintas di benak Raisa. Apakah Diki ingin menemui dokter Emilia tanpa memberitahunya? Raisa yakin tadi ia melihat wajah Diki yang menahan rasa sakit dan tak nyaman di tubuhnya.


Sekian lama waktu berjalan, tak ada kabar apapun dari Diki. Raisa lelah menunggu.


Karena Raisa tidak mau berlama-lama menunggu Diki pulang bagaimanapun juga ini sudah larut malam bahkan sudah menyentuh dini hari. Raisa memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur.

__ADS_1


Perasaannya bercampur aduk. Di satu sisi ia terkejut atas perlakuan Diki yang tiba-tiba dan di sisi lain ia sedikit kesal Diki meninggalkannya terkesan belum tuntas. Ada perasaan yang belum bisa dijelaskan.


Kegelisahan menggerogoti hati Raisa.


****


Hingga pagi menjelang, Diki belum juga muncul. Pikiran buruk Raisa melintas, terbayang di benaknya Diki melewati malam dengan Emilia sungguh hati Raisa bergemuruh. Meski perasaan Raisa masih belum jelas tapi semburat kecemburuan mewarnai di wajahnya.


Raisa mulai jatuh hati pada Diki setelah ia menyelamatkannya dari cengkeraman Revan. Raisa kesal dengan sikap Diki, ini pertama kali suaminya tidak tidur di rumah.


Meski perasaan kesalnya belum hilang, Raisa tetap membuatkan makanan. Siapa tahu Diki pulang setelah Raisa berangkat kerja.


"Baiklah sepertinya aku tidak perlu memikirkannya lagi, itu akan mengganggu konsentrasi aku bekerja" Raisa mendumel sambil menyemangati dirinya.


Jauh di lubuk hati Raisa, berapapun ia berusaha pikiran tentang Diki selalu melintas di otaknya.


Kemudian Raisa menemui Haris, baru saja ia menerima panggilan lewat telpon interkom memintanya untuk datang ke ruangan Haris.


"Bagaimana kondisimu? Kudengar kamu sakit"


"Duduklah!" Wajah Haris nampak serius kali ini. "Ini masalah serius mengenai peluncuran produk baru yang sudah masuk tahap produksi"


Deg, filling Raisa tidak enak. Raisa sudah menduganya, ia pernah mendengar sedikit percakapan Diki tentang Irfan lewat telepon.


"Jujur aku nggak tau, kalau kamu pernah memiliki hubungan dengan Pak Irfan. Kenapa kamu tidak bilang?"


Raisa menduga pasti Haris mengetahuinya dari Diki.


"Maaf, Pak. Saya juga tidak tahu kalau ternyata pekerjaan ini yang membuat saya bertemu lagi dengan dia. Saya kan karyawan baru"


"Iya, juga sih. Tapi apa kamu tahu masalah besar sedang menimpa perusahaan kita?"


"Tidak tahu, Pak" Raisa berpura-pura tidak tahu. Itu lebih baik.


"Aku juga tidak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya secara mendadak perusahaan PT. Jaya Makmur Teknik secara sepihak memutuskan kerjasama dengan kita. Mereka menghentikan pengiriman material yang akan diproses di perusahaan ini. Lalu aku harus memutar otak mencari penggantinya yang lebih kompeten"

__ADS_1


"Apakah Pak Haris meminta bantuanku untuk memohon ke perusahaan Pak Irfan?"


"Haruskah aku melakukannya?" Ide Raisa membuat Haris berpikir itu bagus. Mata Haris bersinar. "Karena bagaimanapun ini penting. Tidak mudah mencari penggantinya dalam waktu dekat" Ucapan Haris tersirat seperti memohon bantuan Raisa.


Sejenak Raisa merasa jijik melihat Haris yang bertingkah harus menjilat anak buahnya sendiri. Dia merasa dimanfaatkan.


Raisa mengernyit setelah melihat tingkah Haris lalu ia mencibir, "Lebih baik untuk mencari penggantinya, Pak. Saya bisa membantu kalau itu. Jangan harap saya mengemis pada Pak Irfan"


"Aku tahu, dia mantan kekasihmu iya kan? Pasti kamu enggan melakukannya"


"Nah itu Pak Haris tahu, jadi saya tak perlu menjelaskannya lagi. Saya yakin banyak jalan lain kok Pak"


"Kamu yakin bisa mencari penggantinya?"


"Akan saya buktikan" Raisa pikir hanya dengan ini ia membalas kebaikkan Diki, dengan begitu ia tidak berhutang budi. Raisa tahu ini menyangkut perusahaan Diki juga.


"Kamu sangat percaya diri sekali Raisa, pantas Diki memilih kamu. Aku tunggu janjimu" Haris menyeringai, dirinya tersemangati melihat antusias yang tergambar dari wajah Raisa.


Di sudut hati Raisa, padahal ini bukan tugasnya tapi karena berkaitan dengan dirinya akhirnya pekerjaannya sedikit melenceng dari SOP. Demi menjaga rumah tangganya dengan Diki.


****


Diki sedang di rumah sakit menerima perawatan. Semalam Diki bersama Rio mengunjungi rumah sakit, Diki ingin menghilangkan efek dari minuman itu jadi lebih memilih menghindari Raisa. Diki pikir ini ulah Raisa yang ingin menjebaknya agar bisa tidur dengannya. Diki tidak mau melakukannya jika dengan cara licik seperti itu.


"Bagaimana kondisi anda sekarang, Pak?", Semalaman Rio menemani Diki. Wajahnya terlihat kusut.


"Sedikit membaik" Diki mengeluh "Hari ini kita berdua jadi tidak bekerja lagi, jika bukan karena minuman itu aku sudah ke kantor untuk menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi kemarin"


Ada rasa kesal di hati Diki, dia sekarang terbaring di rumah sakit untuk pengobatan demi menahan gejolaknya akibat efek minuman semalam. Seharusnya pagi ini ia menuntaskan permasalahan produksi di perusahaannya.


----


----


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2