MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 55. BERTINDAK SENDIRI


__ADS_3

Raisa mengecek hasil renovasi kamarnya yang nampak belum selesai. Ia masih kecewa. Raisa berharap kamarnya selesai direnovasi.


Bahkan sudah beberapa hari pekerjaan renovasi pun belum juga kelar.


Malam ini, Raisa yang masih harus tidur di kamar Diki tidak bisa memejamkan mata, ia terlihat gelisah. Ia merasa kurang nyaman tidur sendirian di kamar Diki. Padahal seharusnya ia senang tak ada Diki di sampingnya tetapi perasaan kosong menghinggapinya.


Raisa merasa aneh dengan dirinya sendiri. Tidak ada ketenangan jika ia harus sendirian tidur tanpa ditemani Diki.


Selain itu, Raisa juga merasa penasaran apa yang sedang dilakukan Diki. Kemudian Raisa memutuskan untuk mengecek kegiatan Diki di tengah malam.


Perlahan ia berjalan melewati ruang kerja Diki yang pintunya tidak ditutup. Jika nanti dia kepergok Diki, Raisa beralasan ke toilet karena letak toiletnya melewati ruang kerja Diki.


Raisa menoleh, di sana terlihat Diki sedang duduk tenang dengan posisi menghadap ke arah pintu. Ia nampak sibuk berkutat depan laptopnya.


Walaupun sudah mengenakan piyama, rambut Diki masih rapi dan kacamata dengan bingkai warna emas bertengger di hidungnya. Sungguh memunculkan penggambaran sosok seorang cendekiawan. Aura terpelajar memancar dari wajahnya yang rupawan.


Raisa tertegun, ia tidak heran banyak wanita yang melihat Diki sepintas jadi terpesona. Sekarang dia bahkan matanya pun tidak bisa berkedip untuk mengagumi sosok Diki.


Kekaguman Raisa sedikit membuatnya minder. Dia tak yakin apakah Diki akan jatuh cinta padanya atau tidak. Raisa harus banyak bersaing dengan para wanita pengagum Diki di luar sana. Rumah warisan yang sedang diincar Raisa rasanya semakin jauh seperti angannya yang terlalu tinggi bisa menaklukkan hati Diki.


Ketika ia akan mengalihkan pandangannya tak sengaja tertangkap oleh mata Diki. Tatapannya bertemu dengan tatapan Diki, Raisa jadi salah tingkah.


"Kamu belum tidur?" Raisa berpura-pura bertanya lalu langsung menjelaskan, "A-aku mau ke toilet tapi melihat lampu kamar ruang kerjamu menyala jadi tak sengaja aku menoleh"


"Iya, aku sibuk. Kamu bisa tidur tenang di kamarku tanpa aku."


"..." Raisa kehilangan kata-kata. Ia pun terus berjalan melewati ruangan Diki. Raisa tak mau mengganggu Diki.


Pagi hari...


Setiap pagi Diki selalu terlihat segar dan bersemangat kerja, padahal malamnya dia begadang. Raisa takjub akan kerja keras Diki. Tapi bukankah itu akan mengganggu kesehatannya. Raisa sedikit mencemaskan Diki.


Sebelum Diki menyalakan mesin mobilnya, ia menoleh ke arah Raisa. Dia sadar Raisa nampak memerhatikannya, "Ada apa?"


Diki menatap Raisa, untuk sekian detik pandangan mereka bertemu. Mata Raisa yang indah memancarkan pesona musim semi.

__ADS_1


Raisa kikuk dan wajahnya memerah karena tertangkap basah tengah memandangi Diki. "Ah...eh... tidak ada apa-apa" Lalu ia beralih pandangan.


Diki tersenyum tipis, ia semakin menyukai Raisa yang salah tingkah. "Jika ada yang ingin kamu katakan, katakanlah...!" Diki mulai mengemudi.


"Eh itu... Jika aku jujur apakah kamu akan marah padaku?"


"Katakan saja, aku tidak akan marah. Aku lebih menyukai kejujuran meski terkadang rasanya pahit"


"Aku ingin membantu tante dan pamanku"


"Kamu tidak usah mencemaskan mereka, biar aku yang bertanggung jawab mengurus masalah itu." Diki tahu siapa yang sedang dia hadapi, jadi dia tidak mau Raisa terlibat terlalu jauh dengan Tedi. Ia khawatir The Black Jack, akan berbuat licik membantu Tedi.


"Tapi aku bisa membantu mereka dengan caraku"


"Aku tidak suka dibantah" ucap Diki tegas hingga membuat bibir Raisa mengatup, Raisa pun terdiam. "Biar aku yang menyelesaikannya" sambungnya.


"Terserah kamu tapi yang jelas aku tidak mau berhutang budi pada siapapun termasuk pada dirimu. Nanti aku akan mengganti dengan menyicilnya"


Dalam hati, Diki sedikit meremehkan Raisa. Ia hanya ingin menjerat Raisa agar tetap bersamanya.


Mata Raisa terbuka lebar, ia tidak menduga Diki akan perhitungan padanya.


"Iya, aku mengerti. Kamu hanya terpaksa menikah denganku karena dorongan ibumu jadi siapa yang tahu kamu akan meninggalkanku suatu hari nanti. Jadi aku tidak mau jika suatu saat ada perpisahan di antara kita, kamu tidak menuntut banyak padaku"


Baru saja Diki merasakan perasaan hangat pada Raisa tetapi Raisa malah membicarakan hal menyakitkan dalam suatu hubungan. Wajah Diki berubah muram.


"Kamu benar, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu bisa membayarnya. Tetaplah di sisiku"


"Hah?! Apakah aku seharga itu?" Raisa kesal. 'Ok, asalkan rumahmu sudah ku ambil kembali' batin Raisa berkoar. Bibirnya yang dipoles warna pink itu mengerucut. Diki melirik sekilas ke arah Raisa, wajah cemberut Raisa menggelitik perasaannya.


Bukan maksud Diki begitu, sekali lagi mereka berdua dalam zona kesalahpahaman dalam menangkap komunikasi di antara mereka.


Diki akan mempertahankan Raisa di sisinya tanpa berpikir ada perpisahan meski awalnya dia belum memiliki perasaan. Tapi Raisa terlalu jauh berpikir dan tidak melihat sikap Diki padanya yang menunjukkan kecenderungan mulai tertarik.


Pemilihan kata-kata Diki terdengar kejam bagi Raisa jadi dia salah mengartikan maksud Diki.

__ADS_1


Sesampainya di depan gerbang, Diki hanya mengantar Raisa dan tidak ikut seperti sebelumnya. Banyak pekerjaan yang harus Diki kerjakan di perusahaan. Diki bisa memerintah anak buahnya untuk memantau proses produksi di perusahaan Haris.


Jam istirahat.


Raisa mendapat telepon dari Fatma.


"Halo Raisa, maaf tante mengganggu"


"Iya, ada apa tante?"


"Bagaimana masalah hutang tante itu, orangnya masih menelpon tante tadi dan terus mengancam"


"Suamiku yang akan menyelesaikannya tante, aku diminta tidak ikut campur. Tante yang tenang yah, semua hutang tante akan dilunasi"


Fatma tercengang mendengarnya, betapa itu menunjukkan bahwa suami Raisa bertanggung jawab penuh atas Raisa juga keluarganya. Mata Fatma berbinar, ia senang bahwa keponakannya membawa keberuntungan baginya.


"Benarkah itu? Lalu teman tante bagaimana? dia menginginkan sedikit komisi dari tante" Fatma dengan tidak tahu malu memanfaatkan momen untuk mengambil keuntungan lagi.


"Oh itu, biar aku saja yang urus. Aku malu meminta pada suamiku lagi. Nanti tante katakan saja berapa yang dia minta lalu aku akan memberinya melalui tante"


Dari balik telepon, Fatma berteriak kegirangan dalam hati yang mengatakan itu, 'bagus'. Kemudian ia melanjutkan, "Ok, nanti tante ketik no rekening tante dan dikirim lewat chat"


Setelah itu pembicaraan berakhir.


Beberapa menit kemudian, tantenya mengirim chat nomor rekeningnya dan juga nominal yang diminta. Tanpa pikir panjang dan dengan bodohnya Raisa kembali ditipu Fatma. Raisa mentransfer sesuai nominal yang diminta Fatma, jumlahnya lumayan besar. Padahal itu hanya akal-akalan Fatma untuk meminta uang secara tidak langsung pada Raisa. Dia tahu status Raisa yang sekarang adalah istri orang yang berasal dari keluarga terpandang.


Sepulang kerja, Raisa berencana menjebak Tedi si lintah darat agar bisa dijebloskan ke dalam penjara karena korbannya tidak hanya tantenya tapi banyak hanya saja mereka semua bungkam. Raisa ingin menegakkan keadilan agar Tedi tidak membuat masalah di masyarakat lagi. Kemarin Raisa sudah menyelidiki sendiri, ia mendengar sepak terjang Tedi yang meresahkan. Tedi menjerat kaum kecil berkedok pinjaman tapi bunganya sangat mencekik hampir seratus persen bahkan lebih. Jadi Raisa bermaksud menghentikan aksi Tedi ke depannya dan juga memberi efek jera padanya. Tapi Raisa tidak tahu siapa Tedi dan kelompoknya yang sebenarnya.


Sekali lagi Raisa yang polos bergerak sendiri di belakang Diki. Raisa tidak tahu bahaya akan mengintainya.


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2