MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 15. TOPENG TANTE


__ADS_3

Wajah Anton yang terlihat lesu menimbulkan pertanyaan bagi Fatma. "Ada apa?" tanya Fatma yang masih berdiri depan pintu menyambut suaminya pulang kerja.


"Raisa, akan menikah diperkirakan dua minggu yang akan datang" celetuk Anton setelah pulang kerja dan disambut istrinya - Fatma.


"Apa? Menikah? Bukannya kita sudah berusaha menghindari anak itu, bagaimana kamu bisa dapat kabar tentangnya?" Fatma membantu melepas jas lalu menentengnya. Wajahnya seakan tidak percaya mendengar kabar tentang Raisa lagi.


Anton menghela napas, "Tadi siang aku bertemu dengan calonnya" kemudian ia melangkah menuju sofa dan duduk. Anton merahasiakan bahwa sebelumnya Raisa pernah menelponnya, ia khawatir Fatma yang tahu akan marah. Karena Anton sudah berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Raisa dan ia tidak mau dibilang melanggar janji.


"Memangnya siapa calonnya Raisa?" Fatma yang penasaran mendekati Anton dan duduk di sebelahnya dengan memasang telinganya. Hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa telinganya tidak salah dengar.


"Diki Sanjaya seorang CEO PT. GOLDEN LIFE dia juga anak dari Bambang Sanjaya"


"Benarkah?" Fatma terkejut seperti tidak percaya mendengar ponakan suaminya itu mendapat keberuntungan bisa menikah dengan keluarga kaya. Ada gejolak panas di dadanya, sampai saat ini rasa iri itu selalu muncul setiap mendengar tentang Raisa yang lebih beruntung darinya.


"Ya, dia memintaku untuk hadir menjadi wali Raisa, menurutmu apa aku harus hadir? Yah setidaknya ini yang terakhir kali aku ingin berbuat baik bagaimanapun juga Raisa tetap ponakanku"


Fatma yang masih diselimuti perasaan dengki, sesaat pandangannya kosong dan pikirannya melambung ia tidak fokus mendengarkan Anton. Dan ia tersentak saat Anton mengejutkannya " Ma? Ma?? Kok kamu malah melamun sih"


"Ah... iya apa tadi? Maaf aku nggak fokus"


"Mereka memintaku hadir untuk menjadi wali Raisa di pernikahannya" Anton mengulangi perkataannya tadi.


"Ya udah, nggak apa-apa. Aku nggak marah kok kalau cuma itu tapi kamu nggak bakal nyumbang apa-apa kan buat dia ehm maksudku untuk Raisa?"


"Ya nggak lah lagian keuangan kita juga belum stabil iya kan?"


Fatma merasa lega mendengar Anton tetap berada di pihaknya dan masih berada dalam kendalinya. "Aku siapkan air hangat untukmu mandi" Fatma masuk ke dalam sementara Anton yang duduk menyandarkan kepalanya pada sofa.


Anton sungguh tidak tahu wajah Fatma yang lainnya. Anton rela memusuhi Raisa diam-diam dan lebih memercayai Fatma. Padahal Fatmalah biang masalahnya. Fatma pandai memakai topengnya hingga saat ini Anton belum bisa melihat wajah asli Fatma. Fatma memang bermuka dua.


*****


● ESOK HARI


TING...


Sebuah notif chat muncul di layar ponsel Raisa.


[Aku sudah menemukan pamanmu dan katanya dia akan hadir nanti] by : Diki

__ADS_1


[Makasih banyak 😘] by : Raisa, ia pun menyelipkan emoticon pada chatnya yang membuat cekikikan.


Diki mengangkat alisnya setelah membaca balasan chatnya ada emoticon itu. "Apa-apaan ini apa dia kira aku masih anak ABG, yang benar saja" Diki mendengus lalu meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Lalu diambilnya lagi dan diletakkan lagi, begitu seterusnya.


Dibalik itu Diki sedikit senyam senyum, ya karena baru pertama kalinya ia berkomunikasi dengan lawan jenis. Tingkahnya yang aneh itu tertangkap oleh Rio, Diki tak menyadari Rio sudah di depan meja kerjanya.


"Pak! Pak!" Panggil Rio


Diki tersontak kaget dan hampir saja ponselnya jatuh dari tangannya.


"Kapan kamu masuk?" tanya Diki lalu membelakangi Rio, ia menutupi karena kepergok yang bikin Diki jadi salah tingkah.


"Baru aja, maaf tadi aku sudah mengetuk pintu berkali-kali jadi aku langsung masuk.


Diki memutar lagi badannya mengarah ke Rio, ia berdehem berusaha mengembalikan wibawanya, "Ada apa?" tanyanya.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, Pak. Apa boleh saya mempersilahkannya masuk?"


"Siapa? Apa dia udah buat janji?"


"Belum, tapi dia bilang ini penting menyangkut calon istri anda, Pak. Begitu katanya"


"Siap, Pak"


Rio membuka pintu dan meminta tamu itu masuk karena sudah diijinkan.


Diki menatap kedatangan tamu seorang wanita yang sepertinya pernah ia kenal sebelumnya. Sambil mengingat-ingat wajah rasanya tidak asing.


"Selamat siang Pak Diki, masih ingat dengan saya?"


"Anda Bu Fatma?"


"Ya betul sekali, suatu kebetulan ternyata anda calon pendamping dari keponakan suamiku"


"Maksudnya? Bu Fatma itu Tantenya Raisa?" Diki ingat Fatma adalah orang yang menjual rumah Raisa padanya. Diki masih belum mengetahui alasan Fatma menjual rumah Raisa yang Diki kira itu rumah Fatma.


"Hmm begitulah" Fatma pun duduk sambil pandangannya menyapu ruangan kerja Diki. Ia merasa sedikit tertegun. "Aku tidak menyangka kita bertemu kembali ternyata dunia begitu sempit" ujarnya tanpa basa basi.


Diki yang berdiri menghampiri Fatma yang duduk lalu berhadapan dengannya. "Ya, aku juga tidak menduganya. Aku kira Bu Fatma bukan tante Raisa karena Raisa tidak cerita apa-apa"

__ADS_1


"Ya begitulah anak itu, tidak ingat kebaikan tantenya ini. Bisa-bisanya dia merahasiakan keluarganya sendiri" Fatma memutarbalikan fakta. Mulutnya memang berbisa.


"Ada perlu apa yah, Bu Fatma jauh-jauh datang kemari?" Diki heran dengan tingkah Fatma itu yang terlihat sok berkepentingan sekali.


"Rencana pernikahanmu dengan Raisa apakah sudah dibicarakan dengan keluargamu atau sudah ada acara lamaran?"


"Tentu sudah, orang tuaku malah yang menginginkannya. Acara lamaran sabtu ini diadakan sederhana di kos-an Raisa"


"Apa???" Fatma kaget mendengarnya, masa iya Raisa akan menikah dengan seorang pria kaya tapi mengadakan acara lamaran di kos-an sempit? Fatma tidak akan membiarkan itu terjadi, ia pikir Raisa pasti sudah meminta anggaran besar tapi mengadakan acaranya hanya sederhana biar Raisa bisa dapat untung banyak. Lagi-lagi Fatma berprasangka buruk.


"Kenapa memangnya Bu Fatma?"


"Kasihan sekali, itu kan sempit. Di rumahku saja yang lumayan bisa menampung beberapa orang"


Kening Diki mengerut, tidak mengerti maksud ucapan Fatma. "Tapi Raisa kan tidak tahu tempat tinggal pamannya dia bilang"


"Ah masa?! Nggak mungkinlah, pasti dia sengaja menutupi itu darimu"


"Benarkah?" Diki bingung siapa yang harus dia percaya sedangkan dirinya pun belum sepenuhnya mengenal Raisa.


"Iya, itu pasti. Sudah di rumahku saja biar aku yang siapkan untuk menyambut kedatangan keluargamu melamar Raisa" Fatma yang tidak tahu malu terus mendesak Diki. Tetapi Diki masih menimbang ucapan Fatma.


"Nanti aku bicarakan lagi dengan keluargaku dan Raisa"


"Baguslah, oh ya jangan lupa siapkan anggarannya juga biar aku yang urus semuanya. Yah, nggak besar sih cuma 100 juta lah. Itu kecil bagi keluargamu yang kaya raya itu kan?"


"HAH?!!!" Diki tercengang permintaan Fatma yang begitu berani.


"Ya sudah aku nggak bisa lama-lama, masih ada keperluan. Saya cuma menyampaikan itu aja kok" Fatma berdiri dan pamit pada Diki "Permisi, saya pulang dulu"


Diki yang masih terbengong hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa berkomentar banyak.


Fatma pun melangkah ke pintu, tapi membalikkan tubuhnya lagi lalu berkata "Nanti kalau udah ada dananya langsung kasih ke aku aja yah, jangan ke Raisa. Takut nggak amanah dia" Padahal Fatmalah yang tidak amanah. Dia berani mengambil keuntungan setelah memfitnah dan menipu Raisa.


Andai Raisa tahu.


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2