MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 56. TINGKAH RAISA


__ADS_3

Diki telah memerintahkan Rio untuk menemui Tedi dan melunasi hutang Fatma sebesar 100 juta. Setelah transaksi terjadi, kedua belah pihak sepakat untuk memutuskan hubungan. Agar tak ada lagi keterkaitan di masa mendatang. Ini semua demi keamanan juga demi melindungi Raisa.


"Saya bertemu dengan Tedi dan anak buahnya kemudian membuat kesepakatan dengan mereka bahwa setelah hutang piutang beres, mereka berjanji tidak akan mengganggu lagi. Ini hanya sebatas masalah hutang piutang saja." Rio melapor pada Diki.


"Bagus, lalu pantau terus istriku agar dia tidak terlibat terlalu jauh dengan urusan Tedi. Terkadang dia selalu melakukan hal yang tidak terduga." Diki duduk bersilang kaki dan jarinya sambil memijit dagunya, ia pun melanjutkan, "Awalnya aku ingin memberi sedikit pelajaran pada Tedi karena ia telah melecehkan istriku secara verbal dan itu membuatku marah tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat."


"Maaf, Pak. Ada hal lain lagi yang ingin saya sampaikan pada anda. Saya mendapat laporan dari orang yang mengikuti Bu Raisa, kemarin dia mengikuti Bu Raisa pergi ke suatu tempat."


"Pergi ke suatu tempat?" Alis Diki mengerut.


"Iya, Pak. Bu Raisa masuk ke toko jual beli barang. Saya tidak tahu apa yang sedang dilakukannya di sana. Karena toko itu menjaga privasi pelanggan yang mau melakukan transaksi terutama transaksi pelanggan yang mau menjual sebuah barang"


Diki terkejut mendengarnya, ia tidak tahu karena Raisa sekali lagi menyembunyikan sesuatu dari Diki. Kekesalan memenuhi wajahnya yang tampan.


"Aku tidak tahu akan hal itu. Sepertinya istriku memiliki rencana di belakangku." Kilatan melintas di matanya, Diki mulai mencurigai Raisa.


"Masih ada lagi, setelah itu Bu Raisa bertemu dengan seorang wanita paruh baya. Anak buah saya tidak bisa mengambil jarak dekat dengan Bu Raisa jadi dia memantau dari kejauhan karena kalau dekat nanti akan dicurigai sebagai penguntit. Jadi sangat disayangkan tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, Pak."


Diki terdiam, ia sedang menelaah beberapa informasi yang diberikan Rio. Nampaknya Diki sedang berpikir keras apa korelasinya dari tindakan yang dilakukan Raisa. Dia tidak bisa menebaknya.


Di tempat kerja Raisa.


Haris meminta Raisa untuk ke ruangannya. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


"Raisa, besok kamu akan aku tugaskan untuk audit ke perusahaan PT. Teknik Maju. Nanti seperti biasa, kamu akan ditemani oleh Fitri"


"Apakah lokasinya jauh, Pak?" Sedikit kekhawatiran memenuhi wajah Raisa jika lokasinya jauh karena akan memakan waktu perjalanan jadi ia pasti akan pulang telat.


"Ya lumayan jauh sih. Apa boleh buat sekarang kan supplier material dari sana."


"Baiklah," Raisa menghela napas pasrah.

__ADS_1


"Tapi Raisa..."


"Kenapa, Pak?"


"Ehm, ini soal pekerjaan yah. Kamu harus profesional,"


"Tentu saja dong, Pak. Apa ada sesuatu yang Pak Haris cemaskan?"


"Suamimu..." Dengan nada merendah, seolah Haris malu mengucapkannya. Haris menilai Diki sudah mulai posesif pada Raisa.


"Aku mengerti, Pak Haris tenang aja nanti aku pastikan dia tidak akan mengomeli anda Pak."


"Nah ini... aku bersyukur kamu pengertian. Kamu memang yang terbaik." Haris terkekeh. Setidaknya dia merasa lega Raisa berpihak padanya.


Sore hari sepulang kerja.


Kali ini Diki dan Raisa tidak pulang bareng. Diki sudah memberitahu Raisa bahwa dia akan pulang telat. Jadi sore ini Raisa sudah lebih dulu di rumah.


Setelah menyiapkan masakan, Raisa bersiap untuk mandi. Biasanya Raisa akan membawa baju ganti ke kamar mandi tapi kali ini tidak karena Raisa seorang diri di rumah jadi dia tidak perlu waspada. Alasannya dia tidak mau Diki melihatnya keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk. Jujur hingga saat ini Raisa masih bertindak malu-malu. Hubungan keduanya pun belum ada kemajuan.


Raisa yang merasa bebas sendirian di rumah, mengekspresikan kebebasannya. Dengan duduk bersantai sambil masih memakai bathrobe lalu dia mengoles handbody lotion. Sesekali Raisa bernyanyi, ia merasa senang bebas melakukan apa saja yang dia suka tanpa ada Diki. Ketenangan mewarnai wajahnya.


Raisa menggunakan hairdryer untuk rambut panjangnya yang tergerai lalu dia berlenggak lenggok menari sambil bernyanyi. Dia nampak begitu narsis di depan cermin.


Di luar dugaan ternyata Diki pulang selang beberapa waktu kemudian, sebelum magrib Diki sudah sampai di rumah. Dia masuk begitu saja karena memang pintu depan tidak dikunci, kemungkinan Raisa lupa.


Kemudian Diki membuka pintu kamar, sesaat dirinya tertegun melihat tingkah konyol dan kekanak-kanakan Raisa yang masih tetap bernyanyi sambil menari tanpa menyadari kehadiran Diki. Dia diam menatap Raisa sambil menahan tawa, wajahnya berubah cerah seolah terhibur oleh tingkah Raisa. Sampai pada akhirnya Raisa berbalik lalu Raisa terkejut, ia langsung malu seketika oleh kelakukannya yang konyol.


Raisa yang salah tingkah langsung bertanya, "Kamu udah pulang?" Wajahnya pun memerah.


Senyum merekah di bibir Diki tanpa menjawab. Awalnya dia sedang kesal pada Raisa tetapi sekarang ketika melihat kekonyolan Raisa, Diki menekan kekesalannya. Istrinya begitu menggemaskan dan kocak hingga membuat Diki sedikit terhibur.

__ADS_1


Raisa yang sadar hanya memakai bathrobe berusaha mendorong Diki keluar. "Tunggu di luar, aku mau pakai baju dulu"


"Ini kamarku, kenapa aku harus keluar?" Diki bertindak tidak tahu malu dan tetap bertahan. Raisa merasa kesusahan saat tangannya mendorong dada Diki agar membuatnya keluar.


"Kamu bisa masuk ke kamar setelah aku memakai baju"


"Aku tidak mau"


"Hei..." Raisa mendelik. Matanya yang bulat dengan bulu mata yang lentik menarik perhatian Diki.


Diki seperti tembok besar yang kokoh, tenaga Raisa tidak cukup kuat untuk membuatnya keluar dari kamar. Diki bergeming. Raisa mulai panik dan terus mendorong dada Diki tapi Diki menahan tangan Raisa. Siapa yang sangka kulit Raisa begitu halus dan lembut hingga membuat jakunnya naik turun.


Raisa hampir menyerah, "Ayolah, kumohon...! kamu jangan keras kepala"


Entah kenapa Diki semakin senang melihat ketidakberdayaan Raisa. Wajah merah Raisa seperti gadis polos yang belum terjamah, semakin membuatnya tertarik.


"Aku kan suamimu, kenapa kamu harus malu?"


Raisa tak bisa berkata apa-apa. Dia tak percaya, Diki menantangnya. Raisa merasakan jantungnya terus berdebar. Kenapa ia jadi merasa begini, Raisa pun tak tahu.


Ada sesuatu yang membuat Raisa takut jikalau Diki akan bertingkah liar dan Raisa belum siap sepenuhnya. Tatapan Diki terlihat begitu berbeda seakan ingin memangsanya. Diki terus menatap Raisa.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Raisa dengan gugup. Pesona kecantikan alami memancar dari wajah Raisa.


Setelah lelah bekerja seharian disambut oleh penampilan seorang istri yang mengundang hasr*tnya, siapa yang akan menolak kesempatan itu. Begitulah yang ada dalam otak seorang pria.


----


----


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2