MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 62. KABAR TENTANG HENDRIK


__ADS_3

Ditengah keterkejutan Rio, dia mulai berpikir. Apakah Hendrik mengetahui bahwa ada keributan kecil yang dilakukan anak buah The Black Jack? Gawat! Setelah ini Rio merasa perlu memberitahu Diki secepatnya kabar mengejutkan ini.


Melihat respon Rio yang menunjukkan ketegangan di wajahnya, Emilia tetap melanjutkan bicara, "Sekedar ingin bertanya, apakah kamu dan Diki mengetahui sesuatu? Karena yang saya tahu selama ini kalian berdua sedang tidak aktif di organisasi. Saya juga sudah melihat luka memar di tanganmu, yang menandakan kamu kembali melakukan aksi lagi. Sepertinya lawanmu kuat hingga meninggalkan bekas di tubuhmu."


Rio terdiam sejenak, menatap Emilia. Wanita itu memang cerdas, analisanya benar. Rio hampir memujinya karena tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Emilia.


Sekian tahun berjalan, menjadi orang biasa dan berbaur dengan masyarakat biasa ternyata tidak sesulit itu hingga Diki bertemu dengan Raisa. Raisa banyak sekali menyebabkan masalah hingga Diki dan Rio harus terlibat secara tidak sengaja. Rio tak mungkin memberitahu hal ini pada Emilia, akan berbahaya jika semua anggota tahu. Karena Rio masih belum yakin Emilia berada di pihak Diki.


"Kamu terlalu banyak berpikir," Rio mencoba menyangkalnya dengan cepat meski sebenarnya ucapan yang dikatakan Emilia hampir benar. "Di luar dugaan, Bu Dokter akan membahas hal yang tidak penting ini. Saya kira Bu Dokter akan membahas soal cinta."


"Diki sudah memiliki istri, sebagai seorang wanita yang memiliki harga diri, saya tahu batasan. Tentu saja saya harus menyerah. Yah, walaupun tidak mudah bagi saya untuk move on." Kemudian Emilia menghela napas, menyadari dirinya sendiri yang nampak menyedihkan setelah ditolak berkali-kali oleh Diki.


Memandang wajah sayu Emilia, entah mengapa menggelitik hati Rio. Yah, dia merasa sedikit simpatik.


"Syukurlah, secepatnya Bu Dokter harus move on. Karena tidak baik memendam perasaan pada suami orang."


Mendengar perkataan Rio, ini seperti sebuah ejekan bagi Emilia. Dia pun hanya tertawa hampa.


Lalu Rio mengerutkan alis, dia tidak mengerti mengapa Emiia tertawa.


"Saya lega, setelah berbicara denganmu hari ini, saya menganggap kita seperti teman dekat."


Dipenuhi pandangan mata yang cerah, Emilia merasa senang. Sudah lama Emilia bergabung di sebuah kelompok yang sama dengan Diki dan Rio. Dia tidak pernah merasa sedekat ini, karena Rio selalu menghindarinya. Sikap Rio menjaga jarak hanya demi privasi Diki. Karena dulu Emilia akan selalu mengejar Rio hanya untuk mendapatkan informasi tentang Diki. Saat itu, Emilia tergila-gila pada Diki. Dia telah sering menganggu Rio.


"Hanya mentraktir secangkir kopi, Bu Dokter menggangap kita telah berteman dekat?"


"Bukan itu, tadi saya seperti mendengar seorang teman tengah menasihati, itu tandanya kamu perhatian. Kamu merasa kasihan kan dengan saya yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan?"

__ADS_1


"..." Rio kehilangan kata-kata.


Kemudian handphone Rio berdering, Diki menelponnya. Sebelum pergi meninggalkan Emilia, Rio berkata, "Sekali lagi terima kasih, tapi bermimpilah bahwa kita bisa menjadi teman dekat karena posisi kita tidak sama. Saya hanyalah seorang bawahan..." kemudian Rio berbalik dan bergegas menemui Diki.


Dari belakang Rio, Emilia hanya tersenyum lalu berteriak kecil, "Kita tetap teman..." Entah dengar atau tidak, Rio berjalan semakin menjauh. Meskipun begitu, ada kepuasan dalam hati Emilia karena telah mengatakannya.


Diki menuju basement parkir, dia bertemu Rio yang sudah menunggu tepat di depan mobilnya.


"Kita bicara di dalam mobil," Diki menginstruksi.


Alasan Diki memilih berbicara di dalam mobil karena menghindari cctv. Dia khawatir percakapannya akan terdengar dan terekam.


"Kemungkinan Tedi ingin membalas dendam karena Bu Raisa telah menjebloskan anak buahnya ke dalam penjara. Aku sudah menyelidiki wanita paruh baya yang ditolong Bu Raisa, karena anak buah Tedi meresahkan, jadi Bu Raisa bertindak terlalu jauh."


"Aku tahu ini pasti ulah anak buah The Black Jack yang menyerang istriku. Dia telah melampaui batas kesabaranku."


"Lantas langkah apa yang harus kita ambil, Pak? Ini terlalu beresiko, selama ini kita telah bersembunyi jika kita bertindak itu akan memicu hal yang lebih besar."


"Apakah anda sudah tahu bahwa Hendrik akan kemari? Aku mendapat informasi dari Bu Emilia. Tadi dia memberitahuku."


"Hendrik?" Diki terkejut.


"Bu Emilia bilang, Hendrik ingin mengurus sesuatu yang berhubungan dengan The Black Jack,"


"Apakah dia mengetahui kekacauan kecil yang sedang terjadi ini?" Diki yang panik terus bertanya pada Rio.


"Aku belum mengetahuinya lebih jauh, Pak."

__ADS_1


Diki terdiam, dia masih berpikir keras. Jika hal kecil yang dilakukan anak buah Tedi sampai terdengar oleh Hendrik, apakah itu artinya ini bukan lagi hal kecil? Diki masih belum bisa membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi dan apakah hal kecil ini malah berdampak besar?


Diki sudah lama bersembunyi dari kakeknya, tapi bahkan orang kepercayaan kakeknya diutus untuk menyelidiki ini berarti kakeknya sudah mengintai Diki sejak lama. Kakeknya bahkan tahu hal sekecil ini. Jika saja dulu, bukan karena cinta terpendam Diki, kemungkinan Diki masih mengikuti kakeknya untuk melawan The Black Jack sampai tuntas.


Diki akhirnya menyerah dan memilih menjadi orang biasa dan mengikuti jejak ayahnya hingga merintis karir dari nol untuk mendirikan sebuah perusahaan kecil.


Kehidupan aman dan damai Diki telah berubah, takdir seakan membuatnya kembali berhubungan dengan The Black Jack dan kakeknya. Semua karena Raisa.


"Aku akan memikirkan jalan keluarnya nanti, sekarang kita jangan menampakkan diri dulu. Biarkan ini mengalir seperti air sampai kita bisa lihat situasinya dengan tepat untuk bertindak. Sementara kamu perlu menjaga penjagaan ketat pada Raisa. Istriku itu selalu saja bertindak di belakangku hingga membuat masalah. Selama Raisa di sampingku, aku harus menjamin keselamatannya. Lalu, aku minta jangan sampai ada yang membongkar kasus penyerangan ini, karena aku tahu mereka ingin memancing kita untuk keluar jika kita tahu identitas mereka."


"Siap, Pak. Aku mengerti."


Setelah berbicara dengan Rio, Diki kembali ke kamar inap Raisa. Diki datang bersamaan dengan Rio.


"Kamu lama sekali, kemana saja? Jam besuk sudah hampir habis. Mama mau pulang."


"Ya, biar Rio yang mengantar." ujar Diki.


"Tidak perlu, mama diantar Pak Rahmat tadi. Dia sedang menunggu di parkir." Kemudian Bu Lidia beralih ke Raisa, "Semoga cepat sembuh yah, Nak. Ibu pulang dulu. Kalau Diki tidak becus merawatmu, bilang dan telpon Ibu, Oke?!"


Raisa mengangguk dan tersenyum.


Kini yang tersisa di ruangan ada tiga orang, Raisa, Diki dan Rio. Raisa yang masih berpikir Diki marah padanya, dia malah meminta bantuan Rio. "Rio, bantu aku! Aku mau minum, dan gelasnya ada di sana!"


Siapa sangka, sikap Raisa malah memancing emosi Diki.


-----

__ADS_1


-----


Bersambung...


__ADS_2