
Fatma kebakaran jenggot mendapat surat panggilan untuk Rian dari kantor kepolisian, ancaman keluarga Prasetyo tidak main-main. Bukankah ia sudah meminta bantuan Diki. Tapi apa yang sudah diperbuat Diki, kenapa tidak membuahkan hasil. Fatma kebingungan.
Bukan hanya Fatma, Anton juga kepusingan. Anak semata wayangnya sedang tersandung kasus yang melibatkan keluarga konglomerat. Apa yang bisa diperbuatnya, sedangkan ia hanyalah orang yang berasal dari kalangan biasa.
"Bagaimana pah kalo anak kita sampai ditahan? Aduuh..." Fatma mondar mandir sambil memijit kepalanya. Ia gusar sekali.
"Berhentilah kau mengeluh, aku sedang memikirkan jalan keluarnya" wajah Anton terlihat stress. Masalahnya tidak sesimple itu.
"Kita harus siapkan uang jaminan, kemarin aku sudah meminta bantuan Diki. Atau memohon pada keluarga Prasetyo mencabut tuntutannya"
"Apa nggak salah denger, kenapa harus Diki? Bikin malu aja, Mah"
"Habis mau gimana lagi dong pah, dia dan keluarganya kan orang mampu, masa iya dia nggak mau bantu keluarga istrinya sendiri"
"Kamu ini ya, bukannya sebelumnya kamu ingin kita memutuskan hubungan dengan Raisa karena ia sudah banyak menguras uang kita"
Anton tidak tahu bahwa itu perbuatan Fatma yang sudah membohonginya dengan mengatasnamakan Raisa. Dia selalu meminta banyak uang dengan dalih untuk membantu Raisa yang yatim piatu padahal uangnya ia makan sendiri. Sampai sekarang kebenaran itu belum diketahui Anton hingga muncul kebenciannya pada Raisa.
"Sekarang dia itu menikah dengan keluarga kaya, kamu tau kan maharnya saja nominalnya nggak main-main. Itung-itung anggap saja ini sebagai bayar hutangnya"
Anton tertegun sebentar, ucapan Fatma ada benarnya juga. Apa salahnya dia meminta ganti atas apa yang sudah Raisa lakukan padanya, setidaknya Raisa harus balas budi.
Secercah ide muncul di benak Anton. Dia harus mengikuti apa kata istrinya demi keluarganya.
*****
"Bu Raisa!"
"Eh...iya ada apa? Maaf aku melamun"
"Aku cuma mau kasih data laporan hasil pengukuran produk"
"Oh..."
"Apa anda sedang tidak sehat?"
"Tidak, aku cuma tidak fokus saja hari ini. Maaf yah"
Kabar buruk tentang Rian terdengar hingga ke Raisa, itulah alasannya dia tidak bisa konsentrasi.
"Baiklah, aku akan ke ruangan Pak Haris minta tanda tangan proposal pengadaan material "
Di ujung sana ada Irfan yang memerhatikan Raisa. Beribu alasan untuk bisa menemui Raisa dengan dalih sebuah pekerjaan.
Tak sengaja Raisa melihat Irfan saat akan berjalan di koridor kantor. Sebuah senyuman tersungging di bibir Irfan.
__ADS_1
"Kita bertemu lagi, Raisa"
"Berhentilah seakan kita mengenal satu sama lain. Selain urusan pekerjaan, aku tidak mau bersinggungan denganmu"
Raisa pun berlalu melewati Irfan dan mengacuhkannya.
Irfan tersenyum smirk, "Kamu tidak penasaran apa yang aku bicarakan dengan suamimu tempo hari?"
Raisa tercekat, sesaat dia membeku. Ucapan Irfan menahan langkahnya, rasa penasaran yang telah pudar kini kembali. Raisa berbalik, menatap ke arah Irfan. "A-apa yang kau katakan padanya? Jangan bilang kau membahas hubungan kita di masa lalu. Ingat itu sudah berlalu"
"Ternyata kamu tidak sedekat itu dengan suamimu, sepertinya dia tidak membahasnya denganmu yah?"
"Irfan, aku sedang tidak mau bertengkar denganmu di sini. Ini perusahaan memiliki cctv"
Raisa sedang ada masalah, Irfan malah menambah masalah betapa itu menguras emosi di dadanya.
"Sedikitnya aku tahu, kamu menikah dengannya hanya sebuah pelarian dariku, iya kan? Karena aku berkesimpulan kalian pasti menikah tanpa ada perasaan di antara kalian"
Irfan terlalu percaya diri menganggap Raisa masih memiliki perasaan padanya padahal Raisa sudah berusaha move on.
Raisa lebih fokus ke masalah keluarganya dan impiannya untuk memiliki kembali rumah orangtuanya dengan bersabar menerima Diki sebagai suaminya. Lambat laun Raisa akan mencoba mencintai suaminya, karena untuk mendapatkan kembali rumahnya itu Raisa harus berusaha menaklukkan hati Diki jadi tak ada tempat lagi untuk memikirkan Irfan.
"Terserah, apa yang kau pikirkan aku tidak peduli" Raisa yang kesal langsung meninggalkan Irfan.
"Kenapa sekarang kamu berubah dingin, Raisa" gumam Irfan sambil memandang Raisa yang berjalan menjauhinya. Raisa memilih menyibukkan dirinya daripada menghiraukan Irfan.
****
"Aku harus menemui mereka agar mencabut tuntutannya"
"Tapi siang ini kita ada rapat pertemuan dengan tim marketing tentang pemasaran produk kita yang sudah mencapai target"
"Ok, setelah rapat jadwalkan pertemuanku dengan keluarga Prasetyo. Aku tidak mau istriku yang mengurusnya"
Rio mengangguk mengerti apa yang harus dilakukannya.
Kemudian Diki menelpon Raisa.
"Hari ini buatkan aku makanan, aku akan pulang secepatnya tidak ada lembur sampai larut malam"
"Ta-tapi aku ada keperluan, bagaimana setelah keperluanku selesai aku akan membuatkanmu makanan"
Awalnya Raisa ingin meminta ijin untuk kembali lagi mengurusi masalah Rian rupanya Diki menghalanginya. Sedikit kekecewaan terlintas di wajahnya. Ia masih mencemaskan nasib Rian.
"Raisa, aku tidak suka dibantah. Aku tidak akan mengijinkanmu kemana-mana. Setelah kerja, pulanglah ke rumah"
__ADS_1
Raisa frustasi menghadapi Diki, apa yang dimintanya Raisa tak bisa membantah. Diki tetaplah suaminya.
"Baiklah"
Diki menyukai Raisa yang penurut, dibalik telepon tersamar senyumannya.
Rio melihat itu, kini atasannya sedikit berubah selalu punya alasan untuk pulang ke rumah lebih cepat tidak seperti sebelum menikah. Sebelumnya Diki gila kerja hingga membuat Rio harus mengikuti kegilaannya dan melupakan kencannya.
Pada akhirnya Rio masih menjomblo karena Diki yang tidak memberinya waktu luang.
*****
Sore hari...
Siapa sangka Raisa dikejutkan oleh kedatangan Fatma dan Anton yang sudah menunggunya di depan rumah.
"Paman? Tante?..." Raisa terkejut
Fatma dengan terpaksa menemui Raisa. Satu-satunya jalan memohon pada Raisa agar bisa membebaskan Rian.
Fatma langsung mengubah mimik wajahnya agar dapat belas kasihan dari Raisa. Dia yang pandai berakting tentu mudah baginya.
"Raisa..." Nadanya dibuat memelas.
"Ayo, masuk dulu! Kita bicara di dalam"
Fatma dan Anton mengikuti Raisa di belakangnya. Mereka sudah tidak sabar ingin menyampaikan maksud kedatangannya.
"Aku buatkan minum dulu, yah sebentar"
"Eh, tidak usah Raisa. Kita ke sini cuma sebentar saja kok. Suamimu belum pulang?"
"Belum, masih ada kerjaan kayaknya. Biasanya sih abis isya juga pulang. Terus ada keperluan apa yah? Apakah ada sesuatu yang penting?"
Anton terdiam karena ia sedikit bingung untuk menjelaskannya. Berbeda dengan Fatma yang antusias, dia tidak punya nurani yang dipikirkannya hanyalah kepentingannya sendiri.
"Langsung aja, kamu sudah tau tentang masalah Rian?" ucap Fatma dengan memasang wajah seriusnya.
"Masalah Rian" sejenak Raisa berpikir apakah paman dan tantenya sudah tahu padahal Raisa sudah merahasiakannya. Darimana mereka tahu? Apakah Rian yang memberitahunya sendiri? katanya dia takut untuk menceritakannya. Lalu kenapa? Raisa dihujam banyak pertanyaan di benaknya.
"Pasti kamu sudah mengetahuinya kan dari Rian" tebak Fatma.
----
----
__ADS_1
Bersambung...