MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 36. BERDUA


__ADS_3

"Kamu berani-beraninya lakukan ini padaku" Raisa bertubi-tubi menyerang Diki.


"Hei! Biar aku jelaskan. Tenanglah dulu!" Diki mencoba menahan Raisa dan ia refleks memegang kedua lengan Raisa untuk menghentikan serangan Raisa. Sekian detik Raisa diam lalu menatap ke Diki.


Kecanggungan terjadi di antara mereka, meski status mereka suami istri tapi ini terlihat memalukan bagi Raisa dengan kondisinya yang sekarang.


Mereka terdiam membisu sesaat, tatapan mata indah Raisa yang menyapu wajah Diki seketika itu Diki tersadar lalu memalingkan wajahnya. Spontan Diki melepaskan kedua tangannya.


Dia berdehem memecah kecanggungan. "Aku bisa jelaskan dulu, jangan salah paham"


Raisa menunduk dengan berharap Diki tidak bertingkah liar saat dia sedang lemah tak berdaya.


"Apa kau sudah melihatnya? Padahal aku belum ijinkan" suara Raisa parau dan wajahnya muram, tergambar ekspresi kekecewaan yang terpendam.


Diki mengangkat alisnya, apa maksud perkataan Raisa. Melihat apa? Matanya masih suci kok meski hampir saja Emilia bertindak gegabah.


"Aku tidak seperti yang kau pikirkan, kau salah paham"


"Bohong! Sekarang kita berada di mana? Dengan kondisiku yang begini tidak mungkin kalau kamu tidak ambil kesempatan. Kamu pria dewasa, tidak mungkin seekor kucing tidak memangsa ikan di depannya"


Karena saat ini hanya ada mereka berdua, wajar jika Raisa melayangkan tuduhan pada Diki.


"Kamu menuduhku?" Raut wajah Diki terlihat begitu dingin dan gelap, bagaimana bisa Raisa langsung menuduhnya tanpa mencari kebenarannya dan mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


"Biarpun kita sudah menikah resmi, tapi kan aku sedang berada dalam kondisi tidak sadar. Harusnya kalau kamu menginginkannya jangan ambil kesempatan dalam kesempitan" saat Raisa mengucapkan itu, rona merah muncul di wajahnya.


Kepala Diki sudah hampir meledak, terlalu berlebihan prasangka Raisa padanya. Wanita di hadapannya sudah tidak tahu harus diapakan, betapa kesalnya Diki pada Raisa karena penilaian dia yang secara sepihak.


Tidakkah Raisa tahu, siapa yang sudah menolongnya? Raisa bersikap seolah tidak tahu terima kasih. Diki jadi ingin memakannya hidup-hidup.


Diki mengacak-acak rambutnya, dia tidak bisa berkata apa-apa. Sedangkal itukah pemikiran Raisa. Ia frustasi dan merasa gerah, sudah sangat menahan emosi dan gejolaknya sejak tadi ditambah situasi ini tidak begitu menyenangkan di mata Diki.


Mau sampai kapan Diki akan menahannya. Akhirnya tanpa banyak bicara, dia memutuskan untuk melakukan sesuatu pada Raisa.


"A-apa yang mau kamu lakukan? Tidak bisa dipercaya," Raisa meremas erat selimutnya, tiba-tiba ia takut.


Diki hanya diam dan tanpa ekspresi. Wajahnya jadi gelap menyimpan sesuatu dibaliknya. Tindakan Diki ini sontak membuat Raisa makin panik. Diki membuka satu persatu kancing kemejanya.

__ADS_1


"Keluar!" Pekik Raisa


Diki bergeming tetap acuh, tak menghiraukan makian Raisa. Diki perlu lakukan ini. Diki sedang dalam mode kesabaran yang full.


"Kamu...." Raisa semakin gemetar, "Keluar! Aku bilang keluar!"


Diki menarik napas panjang, rasanya sudah di ubun-ubun. Ia juga tidak mau ribut dengan Raisa dengan kondisi Raisa yang sedang lemah. Daripada stok kesabaran Diki yang kian menipis, Diki memilih mengalah lalu keluar.


"Baiklah..."


Diki keluar kamar lalu membanting pintu, ia juga kesal kenapa Emilia dan Rio belum juga kembali.


Raisa kaget, kenapa Diki jadi marah harusnya kan hanya dia, toh Raisa kan yang jadi korban. Kemarahannya berangsur mereda. Raisa jadi takut melihat kemarahan Diki.


Raisa melihat tangannya yang masih diinfus tapi masih belum mengerti apa yang terjadi. Juga ia belum tahu sedang berada di mana. Kamarnya yang luas dengan dekorasi aesthetic begitu menawan di pandang mata. Raisa yakin ini bukan di rumahnya.


Pintu kamar kembali terbuka, Diki melempar pakaiannya tanpa menoleh ke arah Raisa.


Raisa terkejut, kemeja Diki mendarat ke badannya. Ia masih belum paham.


"Oh..." Raisa jadi kikuk


Ternyata Diki bermaksud membuka kemejanya untuk dipakai Raisa sementara tapi Raisa salah paham mengira hal-hal liar yang akan dilakukan Diki. Prasangka Raisa tadi malah membuatnya jadi malu. Ternyata pikiran Raisa sedikit kotor. Ya ampun...


Dengan hati-hati, Raisa memakainya. Tapi salah satu tangannya kan sedang diinfus jadi tidak bisa memasukkan lengannya yang satu. Ia butuh bantuan.


"Diki!" Raisa memanggil Diki dengan pelan, ia masih takut dengan kemarahan Diki. Tadi dengan jelas wajah Diki terlihat merah di mata Raisa, pasti Diki merasa kesal sekali padanya tapi apa boleh buat, "Diki!" Sekali lagi Raisa memanggil.


Karena memang suasana sunyi jadi panggilan dari Raisa sangat terdengar dari luar kamar meski tidak keras.


"Ada apa?" Kepala Diki menyembul dibalik pintu.


Raisa yang malu-malu, "Aku butuh bantuanmu, maukah membantuku. Hehehe...aku minta maaf tadi telah sangka padamu. Kumohon"


Mata Diki menyipit, ia memerhatikan selang infus menyulitkan Raisa memakai pakaian di tangan satunya. Sebelum memutuskan, sekian detik Diki terdiam memikirkan sesuatu.


"Tolonglah, aku kesulitan" Raisa mencoba merayunya.

__ADS_1


Diki rasa tidak ada salahnya membantu Raisa meski perasaannya masih kesal karena tuduhan Raisa.


Diki mendekat, ia mencoba membantu Raisa dengan menurunkan botol cairan infus.


"Ingat jangan membuka selimutmu untuk menggodaku" pandangannya tak sekalipun Diki arahkan ke Raisa, ia fokus membantu memasukkan tangan Raisa ke dalam lengan kemeja yang akan dipakainya sambil memegang cairan infusan. Diki menundukkan pandangannya.


"Eh??? Bukannya kamu yang buat aku begini?"


"Bukan. Aku tidak berminat, aku belum tahu isinya"


"Yang benar saja, aku tidak percaya eh ta-tapi apa maksudmu tidak berminat? Apa kamu tidak tertarik padaku? Jangan katakan kamu tidak tertarik pada wanita? Apakah itu alasan yang membuatmu menjadi pria jomblo dalam kurun waktu yang lama sebelum menikah denganku?" cerocos Raisa yang sekali lagi memancing kekesalan Diki.


"Raisa! Kamu ini yah, dari tadi membuatku kesal mendengar ucapanmu. Otakmu itu tidak masuk akal" Diki makin tersulut emosi. Betapa ia berusaha keras menahan nafsunya tapi ini tidak bisa ditolerir. Sudah sangat keterlaluan.


"Ma-maaf, aku salah bicara... aku sudah membuatmu tersinggung"


"Apa aku harus menunjukkan dan melakukan sesuatu padamu untuk membantah tuduhan tadi bahwa aku ini memang pria normal?"


"Te-tentu saja tidak" Raisa yang jadi malah gelagapan.


Setelah mengancing pakaiannya, tangannya terhenti karena melihat sosok kemarahan Diki yang makin membuatnya takut.


Setelah itu, Diki berbalik dan keluar kamar. Raisa memandang siluet Diki yang berjalan perlahan menjauhinya. Punggungnya berkata seakan Raisa memang menjengkelkan hingga Diki tak menoleh sedikitpun.


Diki tidak mau lagi masuk ke dalam. Dan tidak peduli jika nanti Raisa membutuhkan bantuannya. Diki tetap menunggu Rio dan Emilia di luar.


Akhirnya Rio datang dengan membawa beberapa belanjaan di kedua tangannya. Ia setengah berlari, karena tahu Diki pasti sudah menunggu dengan waktu yang agak lama.


"Lho mana Emilia?"


***********************************************


Jangan lupa like, favorit dan komentarnya yah biar author semangat


Akan ada banyak kejutan di setiap bab cerita dan alurnya...


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2