
Raisa keluar dari kamar mandi. Saat itu juga Raisa menunduk, sungguh ia tidak bisa mengangkat wajahnya. Ia masih terlalu malu menatap Diki. Semoga Diki mau memaafkannya, batin Raisa bergejolak.
Diki memerhatikan Raisa yang tertunduk, ia diam tak biasanya. Diki menarik sudut bibirnya.
"Makanlah, setelah itu minum obatnya agar cepat pulih"
"I-iya..." Raisa merasa canggung sekali setelah kesalahpahaman hilang. Perhatian Diki menghangatkan perasaan Raisa.
Pagi ini Raisa terlihat lebih cerah, Diki pikir Raisa tidur dengan cukup tadi malam.
"Terima kasih," ucap Raisa
"Seharusnya aku menghukummu karena telah mengabaikan perintahku. Kau tahu, kau sudah berurusan dengan siapa?"
"Iya, Revan dari keluarga Prasetyo"
"Kenapa kamu merahasiakannya dariku?"
"Maaf, tapi aku...aku..." Raisa bingung, ia harus menjelaskan darimana dulu.
Baru sedetik berlalu, Diki baik tapi kini berubah lagi. Cepat sekali moodnya berubah. Raisa memang salah, jadi wajar Diki memarahinya. Andai tak ada Diki yang menolongnya, apa jadinya nasib Raisa.
"Jangan pernah membantahku lagi dan tidak boleh ada yang disembunyikan dariku"
"Iya, aku mengerti. Tapi aku ingin tanya bagaimana kamu bisa mengetahui keberadaanku?"
Diki belum menjawabnya tetapi sudah mendapat telpon dari Haris.
"Dik, kemana saja kamu tidak ada kabar dua hari ini? Apa sedang honeymoon? Tidak biasanya kamu menghilang"
"Tutup mulutmu, aku sedang banyak keperluan"
"Sorry intermezzo...Ada berita terbaru dan ini sangat penting, perusahaan PT. Jaya Makmur Teknik membatalkan kerjasama kita secara sepihak. Pengiriman material pun dihentikan jadi aku tidak bisa mengirim produk semi assembling"
"Apa? Tidak bisa seperti itu. Melanggar kontrak perjanjian" Diki geram, perusahaan milik Irfan berubah haluan. Entah apa ada hubungannya dengan Raisa, Diki belum bisa memastikannya dan itu baru dugaannya saja.
Raisa dengan jelas mendengar percakapan Diki, itu masalah yang cukup serius. Ada apa dengan Irfan? Apa ia sengaja melakukannya setelah tahu perusahaannya mensupply material ke perusahaan Diki yang ternyata adalah suami Raisa.
Sungguh Irfan membuat sebuah kejutan yang luar biasa dan berdampak pada perusahaan hanya karena masalah wanita.
"Bagaimana menurutmu? Apa kita harus mengadakan rapat sekarang juga untuk membahas masalah ini"
"Baiklah kita adakan rapat hari ini, aku segera ke sana"
__ADS_1
Diki bersiap, meski hanya memakai kaos dan celana panjang tampilannya tetap terlihat keren. Ia memakaikan jam tangannya lalu mengambil ponselnya. Penampilan casualnya tetap memukau.
Sementara di luar, Emilia berjalan dengan enggan menuju meja makan di sana sudah ada Rio.
"Kita makan di sini, Rio. Beginilah nasib kita yang masih single. Mereka pengantin baru selalu berduaan" keluh Emilia.
"Mungkin saatnya Bu Dokter berhenti mengejar Pak Diki karena sekarang dia sudah menikah" saran Rio.
"Kabar pernikahannya terlalu tiba-tiba, move on tidak semudah itu tahu. Apa kamu pernah merasakan di posisiku?" Emilia mengambil kursi dan duduk di posisinya yang berhadapan dengan Rio.
Rio terdiam, ia malas menimpali Emilia. Dia sibuk makan sendiri.
Tingkah cuek Rio membuat Emilia kesal.
"Hei! Kau ini yah, sifatmu itu mirip dengan bosmu"
Emilia mengambil makanannya dan tak sengaja ia memerhatikan wajah Rio yang agak pucat dan sayu. Dan sedikit memar di tangannya. Betapa itu mengganggu mata Emilia, ia sangat peka jika melihat seseorang sakit. Intuisi Emilia tajam. Bagaimana bisa Rio makan dengan santainya sambil menahan sakitnya.
"Kenapa hanya bengong, apa makanannya membuat anda tak selera karena sedang patah hati?" Rio berkomentar.
"Setelah makan, apa kamu mau aku periksa?"
Ucapan Emilia yang mendadak membuat Rio kaget dan hampir menyemburkan makanannya.
"Bosmu terlalu memporsir tenagamu, kamu kelelahan fisik, Rio" pandangan Emilia tak bisa teralihkan ke arah lainnya. "Apa kamu dan Diki kembali lagi?"
Emilia tahu sudah lama Rio dan Diki melepaskan diri dari anggota agen rahasia. Mereka berusaha hidup normal dan selalu menghindari perkelahian. Tapi ini, Emilia dengan jelas melihat memar di tangan Rio.
"Itu tidak mungkin, keputusan Pak Diki tidak akan berubah jadi aku akan selalu setia mengikutinya"
"Yah, semoga saja. Tapi kamu tidak bisa menutupi itu. Aku tau, Rio. Tanganmu cedera"
Rio menatap Emilia, dalam hatinya berkata kenapa Emilia tahu itu. Ia tidak mungkin cerita tentang perkelahiannya. Tidak pantas bagi Rio berbagi cerita karena statusnya yang menurut Rio rendah dibanding Emilia. Rio merasa rendah diri dan cukup tahu diri.
"Anda salah lihat, aku cuma kelelahan bekerja. Makan makanan ini juga akan memulihkan kembali staminaku. Bu dokter terlalu berlebihan"
"Aku ini dokter..."
"Ya...ya... berapa kali kau katakan aku sudah tau profesimu, Bu dokter" Rio menyela.
"Maksudku..."
Rio pun segera menyumpal mulut Emilia dengan menyendokkan makanan milik Emilia sendiri.
__ADS_1
"Hmmp..." mulut Emilia penuh dengan makanan. Matanya mendelik ke arah Rio.
"Makanlah yang banyak ya Bu dokter jangan berisik. Maaf kalau aku lancang"
Segera Rio beranjak, ia menyapa Diki dan berpura tidak terjadi apa-apa. Sayang, Diki melihat adegan itu tapi tak berkomentar. "Rio, aku ingin mengunjungi perusahaan. Kamu temani Raisa di sini bersama Emilia"
Tapi tiba-tiba dari arah belakang Raisa menyahut tidak setuju. "A-aku baik-baik saja sekarang, aku mau ikut pulang. Aku tidak betah di sini"
Diki menoleh ke belakang, "Kamu masih harus beristirahat, perjalanan pulang ke rumah agak jauh. Apa kamu yakin fisikmu kuat?"
"Aku lebih betah istirahat di rumah sendiri"
"Aku juga banyak pasien yang harus diperiksa jadi tidak bisa berlama-lama di sini" sahut Emilia setelah menyelesaikan makannya.
"Kita semua pulang hari ini,"
*********
Raisa diantar Rio sampai di rumahnya. Setelah itu Rio dan Diki menuju kantor setelah berganti pakaian.
Di rumah, Raisa merasa tak tenang dan langsung mencoba menghubungi Irfan.
"Ada apa, Raisa? Kamu tiba-tiba menelponku. Apa menyangkut pekerjaan"
"Ya, tentu saja. Kenapa perusahaanmu menarik pengiriman material?"
"Hahaha... datanglah kemari jika ingin menanyakan alasannya"
"Apa??? Kamu tidak bisa bermain-main seperti ini, kamu kira ini hanya lelucon. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan"
"Terserah, ini sudah keputusanku tidak ada yang lebih baik selain memutuskan kerja sama dengan perusahaan suamimu. Aku sudah membatalkannya dan beralih ke perusahaan lainnya. Jadi perasaanku jauh lebih tenang"
"Hei, ini bukan masalah sepele jangan kau kaitkan dengan masalah pribadi"
"Aku tunggu kamu datang kemari Raisa"
Irfan memutuskan sambungan teleponnya. Raisa kesal, kenapa Irfan bertindak seenaknya.
"Dasar, Irfan seenaknya saja. Dia pikir sudah merasa hebat apa? Kenapa aku selalu berkaitan dengannya. Menyebalkan sekali dia, apa Irfan ingin bertarung melawan Diki?" umpat Raisa dibalik teleponnya.
Siapa yang tahu Irfan malah bekerja sama dengan perusahaan Revan. Rival bisnis Diki.
Irfan tidak tahu, Revan juga memiliki masalah dengan Raisa. Kolaborasi dua pria yang memiliki kesamaan, sama-sama dikecewakan karena tidak bisa mendapatkan Raisa.
__ADS_1