MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 44. MOOD YANG BERUBAH


__ADS_3

"Sudahlah jangan banyak bertanya, nikmati makananmu. Lagipula aku sudah sehat jadi tidak perlu membahas hal sepele yang tadi lagi, Ok?!"


"Ok" Raisa setuju dan ia kembali untuk melahap makanannya yang tersisa.


Kemudian Raisa tercengang melihat waktu di jam tangannya, waktu menunjukkan pukul satu lewat berarti ini sudah melewati jam istirahatnya.


"Aku sudah selesai,"


Lalu terdengar suara 'trang' bunyi yang ditimbulkan oleh sendok dan garpu secara bersamaan ketika jatuh mengenai piring. "Ayo kita pulang! Kita terlalu lama makan di luar. Ini sudah waktunya aku masuk kerja" Raisa gusar.


"Santai saja baru juga selesai makan, perlu waktu untuk menurunkan makanan ke perut" Diki nampak tidak nyaman jika harus terburu-buru pergi.


"Aku tidak bisa berlama-lama, aku ini hanya seorang karyawan sedangkan kamu adalah seorang pemimpin perusahaan jadi kita berbeda tentang keterikatan dan tanggungjawab terhadap pekerjaan"


Melihat Raisa terburu-buru, terpaksa Diki menyudahi makannya padahal ia masih ingin berlama-lama dan santai menikmati makan bersama Raisa.


"Tunggu sebentar, aku harus melakukan pembayaran dulu"


Raisa menelpon Haris, ia harus memberitahunya bahwa ia akan telat masuk kerja. "Pak, maaf saya masih di luar sepertinya saya akan datang terlambat"


"Ya, Raisa. Nikmati saja makan siangmu bersama suamimu. Aku sudah memberimu dispensasi kantor"


Raisa tak percaya, atasannya bermurah hati padanya. Belum sempat Raisa mengucapkan terima kasih, sambungan telepon terputus.


Raisa melirik sedikit ke arah bill yang dipegang Diki, ia membelalak melihat nominal yang tertulis. Hah?!! Li-lima juta? Makanan apa yang menghabiskan banyak uang untuk satu kali makan?


"Kamu kenapa?" Diki mengajak Raisa yang terbengong, "Ayo!" Tadi langkah Diki tertahan karena Raisa yang mematung.


"Itu beneran habisnya segitu?" Raisa berbisik di samping Diki lalu mengikutinya melangkah keluar.


"Untuk tempat seperti ini yah memang harga segitu sudah sepantasnya. Tapi tadi kita hanya makan makanan yang sederhana, lain kali kita perlu makan dari menu spesial restoran ini"

__ADS_1


"Tidak!" Raisa dengan tegas menolak. "Perutku ini tidak mau menampung makanan yang harganya selangit padahal makanan itu juga akan menjadi kotoran nantinya"


Raisa pikir sebelum mengenal jauh tentang Diki, suaminya itu orang yang sangat hemat. Dilihat dari aspek tempat tinggal yang dipilihnya - usia rumah Diki sudah tua. Juga, Diki berlangganan nasi goreng yang di seberang rumahnya. Dari apa yang terlihat tentu Raisa menilai bahwa Diki orang yang bersahaja meskipun Diki memiliki perusahaan kecil dan berasal dari keluarga yang terpandang.


Apa ini hanya mimpi? Bagaimana bisa Diki dengan santainya menghabiskan uang segitu hanya untuk makan siang berdua dengan Raisa. Sungguh Raisa tidak percaya itu. Rasanya ia ingin memuntahkan kembali makanannya.


Diki kecewa melihat reaksi Raisa, "Apa kamu tidak senang aku ajak makan di sini?"


"Seneng sih, tapi bukan itu maksudku...kamu terlalu menghamburkan uang" Raisa melengos berjalan mendahului Diki yang membuat Diki mengejarnya dengan langkah yang cepat.


Raisa tidak tahu jika sekarang Diki baru mengetahui apa artinya memiliki banyak uang kalau bukan untuk menyenangkan seseorang yang disukainya. Bagi seorang pria, itu tindakan yang keren. Pada dasarnya Diki memang bukanlah seorang pria yang pelit.


"Kamu khawatir aku akan kehabisan uang, iya kan? Kamu tidak usah mencemaskan hal itu" nada Diki meremehkan dan menganggapnya kecil.


Ini hanya sebagian kecil dari harga makanan yang dimakan Diki, sebelumnya Diki pernah menghabiskan banyak uang seharga 10 kali gaji Raisa. Bayangkan, jika Raisa juga mengetahuinya reaksi apa yang akan ditunjukkan Raisa. Diki tersenyum dalam hati.


"Aku pikir kamu pria yang hemat" Raisa salah menilai.


"Apanya yang bijak, kita hanya makan siang dengan mudahnya kamu keluarkan uang segitu" Raisa masih belum ikhlas meskipun itu bukan uangnya tapi di matanya Diki terlalu boros di luar nalar. "Kenapa tidak kamu investasikan saja uangnya kalau memang merasa banyak uang. Kamu pamer padaku?"


"Aku bukan tipe pria yang pamer" Diki mengangkat alisnya. Raisa menilai Diki secara dangkal hanya dari penglihatannya hari ini. Frustasi melintas di kepalanya.


Kenapa setelah makan siang hubungannya kembali bermasalah padahal ini hanya sekedar uang yang sepele di mata Diki. Diki tak memahami wanita, harusnya Raisa berterima kasih karena Diki sedang berbaik hati eh ini malah kena omelan.


Setelah ini, Diki pasti akan meminta saran Haris tentang bagaimana menghadapi wanita yang memiliki kerumitan tersendiri.


Dari kejauhan pandangan Raisa menangkap sesosok wanita yang tidak asing di matanya. Wanita itu berjalan semakin mendekat. Ah wanita itu ternyata Vera teman sekolah Raisa dulu. Betapa wanita itu selalu meremehkan Raisa sejak sekolah, dia begitu sombong dan angkuh.


"Berikan blazermu padaku, cepat!" Raisa berbisik. Diki menuruti permintaan Raisa, dia memberikan blazernya yang kemudian Raisa pakai. Diki tak mengerti maksud Raisa.


"Raisa!" Suara seorang wanita memanggil namanya saat sedang bicara dengan Diki. Lalu keduanya menoleh.

__ADS_1


"Vera?" Raisa berpura-pura terkejut padahal dia sudah melihatnya dari kejauhan.


Dia teman sekolah Raisa. Sungguh aneh Vera menyapanya tiba-tiba padahal dulu waktu sekolah mereka tidak seakrab itu.


Raisa tanpa malu-malu mengaitkan lengannya ke lengan Diki, melihat tingkah Raisa yang begitu tiba-tiba Diki merasa keheranan.


"Wah tidak disangka kita bertemu di sini setelah sekian lama sejak kelulusan sekolah trus kamu juga tidak pernah hadir saat reunian. Aku merindukanmu" Vera yang sok manis dan imut, sesekali matanya melirik ke arah Diki.


Raisa menyadari itu, tingkah Vera menyebalkan sekali. Raisa tahu apa yang ada dalam pikiran Vera. Wanita itu dengan jelas ingin menggoda Diki.


Betapa Vera terpikat pada penampilan Diki yang memakai kemeja yang pas di tubuhnya yang proporsional serta kakinya yang panjang itu menggambarkan seorang pria yang menawan dan berkelas. Wajar matanya tak beralih selain memandangi Diki yang berada di samping Raisa bahkan Raisa seolah tak dilihatnya.


"Iya, aku sibuk dan setelah lulus sekolah aku merantau keluar kota" lalu Raisa menarik lengan Diki untuk melangkah pergi.


"Tunggu sebentar! Mumpung kita bertemu di sini, aku ingin mengundangmu ke pestaku minggu depan. Acara pesta peresmian perusahaanku" Vera memberikan undangan yang dia keluarkan dari dalam tasnya.


Raisa yang hendak pergi tertahan begitu mendengar ucapan Vera.


"Perusahaan?" Raisa terkejut ketika mendengar ucapan temannya yang ternyata memiliki sebuah perusahaan.


Raisa tidak menyangka bahwa karir temannya telah meningkat pesat dibanding dirinya. Pasti Vera akan lebih menyombongkan dirinya sendiri. Tertera di atas undangan itu nama perusahaan Rosevera cosmetic. Raisa menatap undangan itu ditangannya.


"Perkenalkan namaku Vera teman sekolah Raisa" Vera mengulurkan tangannya yang putih bersih dan mulus ke arah Diki. Dengan percaya dirinya, dia mengenalkan diri sendiri.


Diluar dugaan Diki menerima uluran tangan Vera, belum sempat mereka berjabat tangan ternyata Raisa sudah lebih dulu menepisnya. "Ya, aku sudah tahu" Raisa menyela.


Mereka spontan bereaksi melihat sikap Raisa.


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2