
Benar saja, inilah yang tidak diinginkan Diki.
Tetapi sikap Diki sama sekali tidak terkejut, karena sesuai prediksi Diki, jika kejadian yang menimpa Raisa kemarin terdengar sampai ke telinga kakek Diki maka situasinya akan dimanfaatkan untuk memaksa Diki kembali. Sejak awal Diki mulai berpikir cara mengantisipasinya.
Sejenak terdiam, Diki tengah berpikir sebelum mengambil keputusan.
Kemudian dengan tegas Diki menyatakan, "Aku tetap memilih di jalanku. Istriku tidak ada hubungannya tentang apapun. Jangan kau ganggu dia!" Diki berjalan mendekati Hendrik lalu menunjuknya. Hampir saja Diki ingin mencengkeram kerah baju Hendrik karena emosi namun Diki tahan.
Diki tidak suka menyeret Raisa dalam masalah apapun, dia hanya berharap Raisa tetap tidak mengetahui identitas tidak biasa pada Diki.
Tindakan kecil yang dilakukan Raisa dengan memasukkan anak buah Tedi ke dalam penjara membuat Hendrik bangga. Setidaknya Hendrik terbantu, menghancurkan sedikit demi sedikit jaringan The Black Jack. Sayang sekali, Diki malah tidak ingin kembali. Sikap suami istri yang bertolak belakang di mata Hendrik hingga membuatnya ingin tertawa.
Dengan senyum mengejek, Hendrik berkata, "Aku heran denganmu, sudah memiliki istri tetapi masih menyimpan cinta lama pada wanita lain hingga kamu bersikukuh menolak untuk melawan musuh kita. The Black Jack adalah mafia kelas atas yang sudah sepatutnya kita tangkap mereka. Istrimu telah membantumu membuka jalanmu tetapi kamu menolak? Itu lucu sekali."
Tertegun karena ucapan Hendrik, Diki tak bereaksi. Benar, seharusnya Diki sudah harus melupakan perasaannya yang dulu. Diki sudah memiliki istri yang sekarang mulai dia cintai. Sesulit itukah Diki melupakan masa lalunya? Terlintas memori berputar di otak Diki.
Hendrik menyorot ke arah mata Diki, Hendrik melihat ada sesuatu yang tengah Diki pikirkan hingga Diki terdiam.
"Baiklah, aku mengerti." Setelah itu Hendrik berbalik dan pergi begitu saja.
Hah?! Apa-apaan ini. Kenapa pembicaraan ini cukup singkat?
Diki heran dengan sikap Hendrik yang sangat mudah memakluminya padahal baru saja Hendrik mengatakan sesuatu yang terkesan mengejek Diki. Merasa ada sesuatu yang tengah disembunyikan, sepertinya Hendrik memiliki rencana lain. Diki sulit memahaminya.
Pandangan Diki tertuju lurus sampai siluet Hendrik menghilang dari pandangannya.
******
Di rumah.
Raisa melamun, dia masih memikirkan nama Emilia yang berputar di kepalanya. Rasa cemburu terus memburu hatinya. Merasakan sesuatu yang mengganjal di hati, Raisa merasa perlu melakukan tindakan.
Di sepanjang perjalanan, Raisa dipenuhi rasa curiga. Jadi dia perlu menemui seseorang.
"Raisa? Ada apa kamu mencariku?"
Emilia mengerutkan alis, dia tidak mengerti seketika Raisa datang dan langsung menemuinya bahkan ketika dia sedang bekerja.
__ADS_1
Raisa mendaftar sebagai pasien Emilia sehingga mudah baginya bertemu Emilia dengan dalih berobat.
"Maaf, kita perlu bicara."
Emilia yang mengerti dengan kode yang diberikan Raisa lalu Emilia menoleh ke arah assistantnya, "Dia pasien VIP, bisakah kamu keluar sebentar?"
"Baiklah, Dok."
Kemudian di ruangan hanya ada mereka berdua.
Emilia tersenyum melihat wajah serius Raisa. Dia menyambutnya dengan ramah selayaknya dokter terhadap pasien. Emilia tidak berpikiran negatif.
Berbeda dengan Raisa. Dia terlihat kesal.
"Sepertinya kamu terlihat serius, ada hal penting apa yang kamu ingin bicarakan?" tanya Emilia dengan polos.
"Jelas ini penting sekali. Aku mau tanya, apakah kamu mencoba untuk mengganggu suamiku?" Raisa berkata terus terang, dia merasa tidak perlu memikirkan perasaan Emilia. Sorot mata tidak bersahabat terpancar dari tatapan Raisa. Jelas, dia tidak menyukai Emilia sedikitpun. Dia terbakar cemburu buta bahkan otaknya tak bisa berpikir rasional.
"Mengganggu?" Alis Emilia terangkat lalu ia menertawai lelucon Raisa. Ini pasti ada sebuah kesalahpahaman. "Aku bukan penggangu," jawab Emilia. Lalu dia berkata dengan bijak, "Kamu salah paham."
Emilia yang paham arah pembicaraan Raisa, dengan cepat dia mengalihkan topik, "Jika kau ingin berbicara masalah pribadi, kita bisa cari waktu. Maaf sebelumnya, di luar ada banyak pasienku yang menunggu."
Raisa merasa malu, dia akhirnya mengerti. "Tentu saja kita harus bicara saat kamu ada waktu luang, bolehkah aku minta nomor handphonemu?"
Emilia menyetujui, dia memberikan nomor handphonenya. Mungkin setelah ini, akan ada obrolan panjang antara Raisa dan Emilia.
Begitu Raisa keluar dari ruangan Emilia, dia tak sengaja bertabrakan dengan Vera, teman yang pernah bertemu dengannya tempo hari saat bersama Diki.
"Raisa?!" Vera terkejut sekaligus panik. Dia menyembunyikan sesuatu dan langsung dimasukkannya ke dalam tas.
Sekian detik Raisa memerhatikan ekspresi Vera, dia tidak mengerti kenapa Vera bersikap demikian. Untuk apa Vera menyembunyikan sesuatu, apakah dia malu karena sama-sama sedang sakit?
Tetapi setelah Raisa membaca plang yang tertera, Raisa tahu Vera baru saja keluar dari ruang dokter spesialis obgyn. Raisa yang tidak mau ikut campur urusan Vera, dia memilih tidak akan bertanya. Raisa malas untuk lebih jauh terlibat dengan Vera. Raisa pun hanya menyapa singkat, "Hai...!" Kemudian dia berbalik pergi.
Vera mengejar Raisa dan terus memanggilnya. "Raisa, tunggu...!" Suara Vera menggema di sepanjang lorong rumah sakit.
Raisa berbalik badan karena tidak tega dengan Vera yang berusaha mengejarnya, pasti itu melelahkan bagi Vera yang sedang hamil muda. Memang perut Vera belum membuncit, tetapi Raisa dengan mudahnya menebak hanya dengan berasumsi Vera baru saja periksa ke dokter kandungan. Vera seperti kehabisan napas ketika berjalan cepat menyeimbangi langkah Raisa.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengikutiku?" Raisa pun akhirnya menghentikan langkahnya.
Vera mengatur napasnya sebelum berkata, "Apakah kamu masih ingat undangan yang tempo hari aku berikan?"
Raisa berpikir sebentar, "Oh... iya aku ingat."
"Jangan lupa untuk datang di acara pestaku, nanti malam."
"Ya, kalau tidak ada halangan." Raisa berkata dengan acuh tak acuh.
"Sayang sekali kalau kamu tidak hadir padahal aku juga mengundang beberapa teman dekatmu semasa sekolah." Vera memancing Raisa. Dengan begitu, Raisa sudah dipastikan akan hadir. Ini yang diharapkan Vera.
"Baiklah, aku akan datang," ujar Raisa dengan cepat. Raisa berpikir, mungkin ini kesempatan langka bisa bertemu teman-temannya dan menganggapnya sebagai nostalgia.
"Terima kasih." Vera sumringah, dia melanjutkan, "Oh ya, jangan lupa ajak suamimu juga." Kemudian Vera melambaikan tangan ke Raisa dan dia meninggalkan Raisa begitu saja dengan tergesa-gesa.
'Hah?! Belum selesai masalah Emilia, kini si Vera datang, seolah dia ingin menyeruak masuk ke kehidupanku. Menyebalkan!' umpat Raisa dalam hati dengan penuh kekesalan.
Sebenarnya apa niat Vera? Mengundang Raisa atau ingin melihat Diki lagi? Raut wajah Raisa kusut setelah pulang dari rumah sakit.
----
----
Bersambung...
notes :
Aku mau mulai bangun konflik antara Raisa dan Diki dengan beberapa tokoh yang berkaitan seperti Irfan, Emilia, Hendrik dan first love–nya Diki. Kalau Vera hanyalah tokoh penyebab awalnya konflik.
Jangan lupa vote, like, komen dan subscribenya yah.
akan ada banyak plot twist di setiap alur ceritanya.
Terima kasih.
Maaf kalau author kadang agak lama update. Maklum butuh waktu untuk riset.
__ADS_1