MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 37. KEHADIRAN EMILIA


__ADS_3

"Tadi ada pasien darurat jadi ia pesan padaku untuk menyampaikan pada anda. Ia tidak bisa ikut denganku lagi tapi besok ia pastikan akan mengontrol Bu Raisa, begitu katanya"


Situasi yang tidak mendukung, apa yang harus Diki jelaskan pada Raisa karena kesalahpahamannya tadi kalau tidak ada yang bisa menjelaskannya karena Emilia tidak ada.


"Ya sudah, sini!" Dengan ekspresi dingin, Diki meraih belanjaan yang dipegang Rio.


Rio memerhatikan wajah Diki, dia pasti menyimpan amarah yang besar. Entah apa yang terjadi saat dia tidak ada, Rio tak tahu.


Diki kembali masuk ke kamar. Saat membuka pintu kamar, sejenak ia tertegun mendapati Raisa beranjak dari ranjangnya dan berdiri.


Matanya tak berkedip, dia terpaku. Belum pernah Diki melihat seorang wanita memakai kemejanya yang tampak kebesaran dipakai oleh Raisa. Tubuh Raisa terlihat mungil karena kemeja yang dipakainya.


Penampilan Raisa terlihat menawan dan menggoda. Memperlihatkan kakinya yang panjang dan ramping juga kulitnya yang putih mulus.


Sambil memegang infus stand, Raisa bertanya "Ada apa?"


Langsung kembali menyadarkan Diki, "Nih pakaianmu, aku sudah membawakannya"


"Makasih, aku mau ke toilet"


"Ke toilet? Dengan penampilan begitu?" Tentu Diki takkan mengizinkan, diluar ada Rio. Tak ada pria yang tak melotot melihat penampilan Raisa yang sangat mengundang pikiran liar pria.


"Kamu bisa pakai yang di sana, tidak perlu keluar dari kamar kan?"


"Tapi lampunya mati, aku takut. Juga aku tidak punya lampu senter untuk penerangan" ponsel Raisa lowbet.


Kenapa situasinya selalu membuat Diki resah. Dengan terpaksa, Diki harus membantunya. "Baiklah, pakai senter dari ponselku saja"


"Terima kasih. A-aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu"


"Ya, seharusnya memang begitu dan setelah itu beristirahatlah" Diki menyerahkan ponselnya pada Raisa.


Raisa menuju kamar mandi, Diki berbalik lalu keluar dan menutup pintu kamar.


Raisa masih memikirkan sesuatu, bagaimana ia bisa berada di sini bersama Diki bukankah saat itu ia sedang ditawan oleh Revan bahkan hingga ia kehilangan kesadarannya.


Raisa rasa ia perlu menanyakannya pada Diki, terutama bagaimana nasib Rian apakah benar ia sudah bebas.


Pagi sudah menyapa, kondisi Raisa juga agak membaik. Sesuai janji, Emilia datang untuk mengontrol Raisa di pagi hari.


Raisa terkejut ada seorang wanita yang masuk ke kamarnya. Emilia tersenyum hangat.

__ADS_1


"Bagaimana kondisimu? Apakah sudah merasa enak?" Emilia menyapa Raisa dengan penampilannya yang kasual dengan menenteng tas.


"A-anda siapa?"


Emilia mengeluarkan peralatan dokternya.


"Ya, suamimu semalam memanggilku untuk memberi pertolongan padamu yang saat itu kamu sedang tidak sadar" Emilia sambil mengecek cairan infus yang terpasang. "Sepertinya kamu sudah tidak memerlukan ini, kamu nampak sehat. Apakah sudah sarapan? Aku sudah membawa obat untukmu"


Sejenak Raisa terdiam, berarti apakah semalam dia juga yang melakukannya bukan Diki? Semakin jelas bahwa Raisa telah salah paham.


Emilia melirik ke arah Raisa karena tak menjawab, "Kenapa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan"


"Ehm tidak ada"


"Apakah kamu tidak ingin bertanya siapa aku?"


"Tentu saja, aku ingin tahu"


"Aku dokter Emilia teman suamimu" Emilia memperkenalkan dirinya.


"Ma-maaf apakah semalam kamu yang membuka pakaianku?"


"Iya, pakaianmu basah dan kotor. Aku pikir harus menggantinya dengan yang bersih tapi di sini tak ada. Semalam suamimu menyuruhku dan Rio untuk membelikan pakaianmu pas dini hari. Sungguh konyol dan tidak masuk akal. Dia seenaknya saja memerintah"


"Kenapa aku tidak dibawa ke rumah sakit? Haruskah dirawat di sini, apa ini rumahmu?"


"Bukan, Villa ini milik Diki. Yah mungkin kondisimu sangat darurat sedangkan jarak rumah sakit mungkin jauh" Emilia tak bisa menjelaskan yang sebenarnya. Ia juga tak tahu alasan Diki.


"Harusnya aku dibawa pulang"


"Tanyakan saja pada suamimu, semakin kamu bicara hatiku sakit tau"


"Kenapa?"


"Aku ini pengagum suamimu, kamu nggak tau yah. Aku sedang iri dan cemburu padamu yang bisa taklukan dia. Nggak nyangka dia sudah menikah tanpa memberitahuku membuatku patah hati"


Raisa terkejut mendengar penuturan Emilia.


"Ta-tapi kenapa kamu berbuat baik? Harusnya kan kamu bisa saja membunuhku saat aku tidak berdaya semalam"


Emilia tersenyum hampa, "Aku ini dokter, sudah sepatutnya bertindak dengan nati nurani saat seseorang butuh pertolongan bukan memikirkan kepentingan pribadi lagipula kalau aku berbuat baik padamu akan ada penilaian positif dari Diki padaku" lalu Emilia tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Tanpa diduga Raisa memiliki saingan yang bukan orang sembarangan, bagaimanapun juga meski awalnya hanya menginginkan sebuah rumah tapi di lubuk hati Raisa ada perasaan tidak rela Diki dimiliki orang lain. Karena Diki telah berbuat baik padanya.


Raisa memandang Emilia, betapa cantiknya dia dan terlihat seperti wanita cerdas dan bersahaja. Diki tidak menceritakan apapun pada Raisa. Sedikit demi sedikit Raisa mengetahui kehidupan Diki.


"Namamu siapa?"


"Raisa. Ehm... apa kamu jadi membenciku?"


"Seharusnya sih, tapi ya sudahlah aku bukan orang jahat yang akan berbuat curang dan licik. Biarkan Diki yang memilih sendiri perasaannya"


Entah mengapa ketika Emilia mengatakan itu ada sebuah pukulan besar di hati Raisa. Ada wanita yang tulus menyukai Diki sedangkan dia hanya mengincar sebuah rumah dan belum memiliki perasaan apapun. Motif Raisa yang tidak tulus dan murni.


Masih ada serpihan Irfan yang tersisa dan belum sepenuhnya tersapu semua kenangannya yang masih meninggalkan jejak di hati Raisa.


Bagaimana jika Diki tidak memilih Raisa? Kekhawatiran muncul di wajah Raisa. Tepat di depannya ada seorang wanita yang mengatakan ia memiliki perasaan pada suaminya. Raisa jadi takut kehilangan.


Mulai saat ini, Raisa berjanji akan memenangkan hati Diki karena itu sama pentingnya dengan memiliki kembali rumahnya.


"Aku ke kamar mandi sebentar dan berganti pakaian" Raisa beranjak lalu melangkah.


Diki pun masuk membawa nampak yang berisi makanan untuk Raisa.


"Wah...wah... suami yang romantis bikin aku iri" celetuk Emilia.


"Kamu bisa makan di meja makan,"


"Yah, aku memang selalu jadi orang ketiga jadi aku harus menyingkir. Harusnya kamu berterima kasih padaku. Aku juga sudah berbuat baik"


"Aku tau, makanya aku malas berhutang budi padamu kalau bukan kepepet. Kamu selalu menagihnya"


"Hahaha...kamu sangat mengenalku Diki. Jadi apa perlu aku menagihnya sekarang?"


"Apa yang kamu inginkan, aku tidak mau berhutang budi lagi"


Raisa mendengar percakapan mereka dari dalam kamar mandi, entah kenapa begitu menyakitkan hatinya. Mereka terdengar sangat akrab berbeda dengan Raisa. Tiba-tiba perasaan pesimis itu muncul. Kepercayaan dirinya untuk menaklukkan Diki seperti tembok besar yang sulit ditembus.


Hati Emilia begitu tulus menolong Raisa yang sudah jelas dia adalah istri Diki-pria yang disukai Emilia. Haruskah Raisa mundur?


********************************


Jangan lupa like, favorit dan komentarnya yah biar author semangat.

__ADS_1


Akan ada kejutan apa lagi yah di bab berikutnya???


__ADS_2