MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 77. BERSAMA RAISA


__ADS_3

Raisa memandang wajah Diki yang berubah kesal.


"Bukan begitu, aku senang dan suka sekali mobil ini. Bagusnya..." Raisa memerhatikan dengan seksama ke setiap sisi yang ada di mobil itu. "Ini pertama kali buat aku jadi aku tidak bisa menutupi rasa bahagia."


"Kalau kamu senang, kenapa tadi wajahmu cemberut?"


"Kan aku sudah bilang jangan mencolok, aku tidak suka jadi pusat perhatian. Kamu tidak tahu lingkungan kerja aku, sebagian orang akan iri melihatku lalu aku akan menemui banyak kesulitan dalam bekerja. Mereka yang iri akan berusaha membuat drama sehingga aku susah untuk bekerjasama dengan mereka. Lingkungan kerja berbeda dengan lingkungan sekolah, jika di sekolah kita punya musuh kita masih bisa sekolah tetapi jika di tempat kerja punya musuh pasti akan sulit karena ruang lingkup kerja akan saling berhubungan satu sama lainnya. Kita tidak bisa bekerja sendirian, bahkan seorang operator produksi pun saling membutuhkan dengan pekerja lainnya." Raisa menjelaskan dengan panjang lebar.


"Oke baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak mau istriku ini menemui kesulitan dalam bekerja karena mereka iri melihatmu memiliki suami sepertiku." Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Diki menyombongkan dirinya di depan Raisa.


"Iiisshh..." Raisa hampir mau muntah saat Diki mulai narsis.


Kemudian Diki tertawa, dia senang sudah tahu alasannya. Hubungan mereka pun kembali baik.


"Kita jalan-jalan sebentar sebelum pulang."


"Aku mau pulang dulu, ganti baju."


Diki mengerti, Raisa tidak suka masih memakai seragam kerja. "Tidak perlu, kita langsung ke mall beli baju dan kamu langsung ganti baju yang baru." Diki tidak suka repot harus bolak balik. Diki menuju mall terbesar memilih butik khusus yang hanya menjual produk luxury brand.


Setelah sampai, Raisa menganga tak percaya Diki membawanya ke butik khusus.


"Pilihlah yang kamu suka dan mau." Dengan entengnya Diki berkata, seolah harga tidak masalah baginya. Kemudian Diki duduk dengan santai.


"Diki, ini kan harganya mahal." Raisa berbisik, dia merasa tidak pantas memakai pakaian mewah hanya untuk jalan-jalan. Satu kali gajinya habis hanya untuk satu pakaian bahkan ada yang harga di luar akalnya. Raisa hampir sesak napas.


"Raisa, kamu tidak perlu khawatir. Aku yang bayar." Diki tidak suka diremehkan. Saat ini Diki ingin menggunakan uang tabungannya hasil dari kerja kerasnya yang dulu dan simpanan pemberian sang kakek. Diki baru menggunakannya hanya untuk menyenangkan hati Raisa. Diki ingat saran dari Haris bahwa wanita paling suka diajak jalan dan dibelikan sesuatu termasuk pakaian.


"Kamu yakin, tidak apa-apa kalau aku beli pakaian ini? Padahal banyak yang menjual pakaian lebih murah dari ini." Raisa mencoba memberikan pilihan lain.

__ADS_1


"Yakin, jadi pilihlah sekarang. Semua pakaian di sini cocok untukmu."


Raisa terpaksa memilih yang ada diskon di tag pricenya, setidaknya ini seharga setengah gaji Raisa dan itu paling murah di sini. "Bagaimana kalau yang ini?" Raisa menunjukkan pakaian kepada Diki, pakaian dengan model konservatif namun desainnya tetap terlihat unik dan mewah.


"Apakah kamu menyukainya? Kalau kamu suka, ambil saja."


"Suka." Nada suara Raisa terdengar setengah hati. Sebenarnya mata Raisa melirik ke arah pakaian yang mahal dan harganya hampir di luar akal. Raisa tidak mungkin memilih itu, dia takut memberatkan Diki namun sorot matanya tak bisa membohongi Diki yang terus menatap ke arah Raisa.


Kemudian Diki memanggil pramuniaga dan memintanya untuk mengambilkan pakaian yang dituju Raisa. "Aku minta yang itu, bisa tolong ambilkan!" Diki menunjuk ke arah pakaian yang mahal itu hingga Raisa tercengang. Raisa menutupi rasa bahagia, dia malu untuk mengungkapkannya.


Pramuniaga merasa kagum melihat sosok Diki yang murah hati membeli pakaian untuk pasangannya tanpa memandang harga. Pramuniaga yang sebagai seorang wanita bisa merasakan bahagia, bagaimana seorang wanita diratukan oleh pria setampan Diki. Itu tidak akan bisa digambarkan oleh kata-kata pujian saja. Kemudian pramuniaga bergegas mengambil pakaian itu dan menyerahkan pada Diki.


"Aku membelikan ini untukmu, jadi cepat ganti dan pakai pakaian ini. Aku tidak suka memakan waktu di sini." Setelah menyodorkan pakaian itu, Diki mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya untuk pembayaran.


Raisa yang masih linglung mencoba menyadarkan diri sendiri bahwa ini bukan mimpi semata. Ada apa dengan Diki yang sangat murah hati membelikan pakaian mahal untuknya?


"Ah iya..." Raisa segera menuju ruang ganti lalu berganti pakaian. Desain modelnya yang sederhana namun bahannya sangat berkelas dan warnanya juga tidak terlalu mencolok sesuai dengan keinginan Raisa. Ini terasa nyaman sekali saat dipakai. Mungkin inilah yang dipakai para sosialita, kini Raisa bisa merasakan untuk memakainya juga. Hati Raisa berbunga dan bahagia.


Raisa keluar dari ruang ganti dengan pakaian baru. Terlihat sangat cocok di badan Raisa, wajahnya yang cantik semakin terpancar. Sekali lagi Diki terpesona pada Raisa.


Diki pun menggandeng tangan Raisa kemudian melangkah keluar dari mall. Siapa sangka ada orang yang memotret aktivitas mereka secara sembunyi lalu melaporkan pada seseorang yang ternyata adalah Vera.


Melihat potret kemesraan Raisa dan Diki, Vera semakin geram hingga membuatnya hampir saja membanting handphone di tangan. Rencana Vera bukan hanya gagal namun juga telah berhasil membuat hubungan Diki dan Raisa terlihat semakin harmonis.


Kemarahan Vera mencapai puncaknya dan semakin di ubun-ubun, obsesinya yang ingin memiliki Diki semakin besar setelah mendengar kabar dari orang suruhannya.


Vera diberitahukan bahwa Diki pergi ke butik khusus dan membelikan pakaian mahal untuk Raisa bahkan mengendarai mobil sport mewah. Itu menandakan Diki memiliki kekayaan yang melebihi Vera, dia pikir Diki hanyalah pebisnis pemula di bawahnya dan hanya mengandalkan ketampanan saja untuk popularitas dan menarik perhatian. Ternyata Diki memiliki keunggulan selain wajah tampannya, Diki juga kaya. Kalau sudah tahu begini, wanita mana yang tidak ingin memiliki sosok seperti Diki termasuk Vera yang lapar akan pria tampan.


Vera yang sejak masa sekolah tidak suka diungguli apalagi dengan Raisa, dia akan berbuat nekat untuk menghancurkan hubungan Raisa. Dia iri pada Raisa. Matanya memancarkan kegelapan yang menandakan Vera semakin membenci Raisa. Dia pun langsung menghubungi Revan.

__ADS_1


*****


"Kamu mau kemana?" Diki bertanya keinginan Raisa, hari ini Diki ingin memanfaatkan quality time bersama Raisa.


"Terserah." Raisa tak tahu dia ingin kemana, karena ini terlalu mendadak dan surprise menurutnya.


"Katakan saja keinginanmu! Mumpung dipinjami mobil bagus, iya kan? Aku akan berusaha mewujudkan apa yang kamu mau."


"Benar juga. Ehm–" Raisa tengah berpikir. "Ke bukit." celetuknya.


"Hah?! Sore begini ingin ke bukit?"


Raisa mengangguk. "Cuma sebentar, aku hanya ingin memandang keindahan kota dari atas bukit."


"Baiklah," Diki langsung tancap gas menuju bukit terdekat yang masih berada di sekitar kota ini.


----


----


Bersambung...


Note : Jangan lupa like, subscribe dan votenya yah, biar author semangat menulis.


Setiap konflik yang dibangun akan ada sesion romantisnya jadi jangan khawatir jika banyak konflik yang aku buat.


Nantikan terus kelanjutan ceritanya, akan ada banyak cerita yang mengejutkan di setiap alurnya.


Terima kasih kepada readers.

__ADS_1


__ADS_2