
"Aku ingin mencari keberadaan pamanku," Tanpa ditanya, Raisa langsung bicara. Ia tahu pria di sampingnya itu bukanlah orang yang mudah diajak ngobrol terutama dengannya sebagai seorang wanita.
Diki yang masih berada dalam pandangannya yang lurus ke depan hanya merespon ,"Hmm" wajahnya tetap datar.
"Aisshh... kau ini kaku sekali, tidak bisakah kau bicara yang lainnya sebagai timbal balik dari komunikasi dua arah. Kau hanya berkata 'hmm' aja" Raisa merengut.
Diki masih enggan bicara.
Raisa melirik ke arah Diki, dalam benaknya bagaimana bisa dia akan menikah dengan pria macam Diki. Kenal pun belum, rasanya kaya dijodohkan padahal kan memang ini rencana Raisa yang merancang idenya setelah tahu rumah miliknya telah jatuh ke tangan Diki. Raisa sangat berharap bisa menikah dengan Diki.
Raisa mencoba membuka percakapannya lagi dengan Diki.
"Pamanku adalah satu-satunya keluargaku, dia yang akan jadi wali di pernikahan kita nanti. Jadi aku harus mencarinya,"
"Aku ngga tanya"
"Ya ampuuun ketus amat sih, apa kamu masih marah dan nggak suka denganku? Meski aku sudah sampaikan permintaan maaf seribu kali???"
"Kamu yang udah buat aku jadi terpaksa menikah denganmu,"
"Tapi kita kan harus menikah, bukankah itu keinginan ibumu? Bagaimana ini jika pamanku belum juga kutemukan keberadaannya?"
"Aku nggak peduli. Itu kan masalahmu."
"Ya udah, kita batalkan saja pernikahan kita. Dan aku akan bilang ke ibumu" Raisa merajuk.
"Eh???" Diki terdiam sejenak memikirkan ucapan yang dilontarkan Raisa bisa sangat berdampak pada perusahaannya. Karena sudah pasti ibunya sebagai investor terbesar akan menarik kembali sahamnya dan tentu itu akan memengaruhi kestabilan perusahaan yang baru dirintisnya dengan susah payah. Ditambah Diki sedang menggarap new project untuk produksi produk terbarunya.
"Jadi maksudmu kau minta bantuanku untuk ikut mencari pamanmu yang pergi tak jelas itu, begitu?" imbuh Diki.
Raisa melemparkan senyumannya yang lebar pertanda apa yang dikatakan Diki itu memang benar. Diki memasang wajah jengah, lalu mendengus.
Sulit dipercaya, haruskah Diki turun langsung melakukan pencarian pamannya agar pernikahan tetap terjadi. Diki menghela napas. Dengan berat hati sepertinya itulah yang harus dilakukannya dan Diki tidak bisa menolaknya.
"Harusnya ini tidak terjadi jika kamu tidak pernah muncul di hadapanku" Jujur dalam hati Diki masih belum menerima jika ia akan menikah secepatnya dengan gadis yang bahkan baru ia kenal.
Raisa mengingat pertemuan pertamanya dengan Diki.
__ADS_1
"Saat itu aku hanya ingin pulang ke rumah itu" Raisa mulai menjelaskan alasannya kenapa dia muncul. Lalu ia melanjutkan, "Rumah itu adalah peninggalan orang tuaku tentu saja sebagai ahli waris aku berhak mengakuinya tapi siapa sangka setelah beberapa tahun aku merantau lalu kembali lagi ternyata kekecewaan menyambutku dengan kenyataan bahwa itu sudah menjadi milikmu"
"Ahli waris?" Diki mengangkat sebelah alisnya
"Ya," Raisa dengan mantap menjawabnya, kemudian menatap serius ke arah Diki yang tergambar dari wajahnya seakan Diki tak memercayainya.
"Aku tidak mudah percaya padamu karena belum sepenuhnya mengenalmu. Dan aku harus terus mencurigaimu yang tiba-tiba jadi calon pendampingku"
"Terserahlah..."
"Tetapi seseorang telah menjualnya padaku, dan dia tidak menceritakan apa-apa tentang dirimu"
"Apa? Seseorang? Kalau boleh aku tau siapa yang sudah menjual rumah itu padamu?"
"Rahasia" jawab Diki singkat
Diki teringat ucapan seseorang yang telah menjual rumah itu padanya agar jangan membocorkan identitasnya. Karena orang itu sudah menceritakan sesuatu hal bahwa akan ada orang yang mengakui rumah itu karena masalah pribadi. Jadi ia meminta Diki untuk merahasiakannya agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Diki pun saat itu setuju.
"Astaga! Sudah mencurigaiku sekarang merahasiakannya??? Menyebalkan sekali dirimu"
Mobil Diki sudah berada depan gerbang.
"Iya...iya," Raisa turun meski hatinya masih dongkol se mobil dengan Diki tapi ia tetap berterima kasih pada Diki karena sudah menolongnya dari pria yang akan mengganggu Raisa tadi di pinggir jalan. Hampir saja Raisa dilecehkan.
*****
Esoknya Diki meminta bantuan Rio untuk mencari keberadaan paman Raisa yang bernama Anton Pramudja. Dengan banyaknya kolega Diki untuk menemukan seseorang sangat mudah baginya.
Setelah mendapatkan info dari Rio bahwa Anton bekerja sebagai kepala staff di sebuah perusahaan, dengan segera Diki membuat janji bertemu dengannya.
"Pak Anton, ada yang ingin bertemu dengan anda" sekretaris Anton menghubungi Anton melalui sambungan telpon paralel.
"Siapa?"
"Pak Diki Sanjaya, CEO PT. Golden Life. Katanya beliau sudah membuat janji bertemu dengan bapak. Beliau menunggu anda di lobi"
"Ok, saya ke sana sekarang"
__ADS_1
Anton mengernyit melihat Diki dari kejauhan, dirinya tak menyangka akan ada CEO yang ingin mencarinya. Anton berpikiran Diki tertarik merekrutnya ke perusahaannya.
"Selamat siang, Pak Diki. Saya Anton Pramudja" Anton memberi sambutan
"Selamat siang," jawab Diki
Mereka pun saling duduk berhadapan.
"Ada keperluan apa ingin bertemu dengan saya?" Anton membuka percakapan di antara mereka.
"Begini, langsung ke intinya saja. Apa benar anda pamannya Raisa Amalia?" Diki terlihat serius
"Raisa?" Anton mengangkat alisnya mendengar bahwa Diki menyebut Raisa.
"Ya, kalau memang benar anda pamannya, aku ingin membicarakan hal serius dengan paman mengenai Raisa. Maaf jika aku membicarakan hal pribadi di sini karena aku kesulitan untuk menemui paman di luar"
Mendengar itu Anton berkeringat dingin, "Ma-maksudnya? Da-darimana anda mengenal Raisa? Apa dia sudah membuat masalah? Hingga anda mendatangi saya?" Anton terus meluncurkan banyak pertanyaan. Anton yang memang sudah salah paham dengan Raisa berprasangka pasti ada sesuatu yang sudah diperbuat keponakannya itu.
Sejenak Anton menelan ludah memerhatikan penampilan Diki. Ia tahu betul latar belakang keluarga Diki Sanjaya. Ya, Pria di hadapannya itu adalah seorang CEO-meski perusahaannya baru berkembang- bahkan ayahnya pun pebisnis yang namanya sudah tersohor. Bukan tanpa alasan jika Diki tiba-tiba ingin menemui Anton apalagi ia sudah tahu bahwa Anton adalah pamannya Raisa, bisa ditarik kesimpulan pasti Raisa telah membuat masalah besar begitu persepsi Anton.
Diki tersenyum tipis, "Aku calon pendamping Raisa, jadi maksud tujuanku menemui paman aku ingin meminta paman untuk datang ke acara pernikahan kami sebagai wali dari Raisa"
"Hah?!! Raisa akan menikah?" Anton tercengang mendengar Raisa mempunyai calon seorang pria kaya.
"Benar, Raisa kesulitan menghubungi paman jadi meminta bantuanku untuk bisa membicarakan hal ini"
Pantas saja saat itu Raisa ngotot menelpon Anton untuk bertemu ternyata ingin memintanya sebagai wali saat Raisa nikah nanti.
Tetapi dalam pikiran buruk Anton semoga kali ini pria itu tidak tertipu dengan Raisa. Anton yang telah salah paham pada Raisa karena merasa telah ditipu selalu menilai buruk tentang Raisa padahal Raisa notabenenya adalah keponakannya sendiri. Sejak saat itu Raisa tidak tahu bahwa pamannya mulai membencinya.
"Sebelum itu saya ingin bertanya apakah anda yakin ingin menikah dengan Raisa?"
"Ya, tentu saja"
"Baiklah, Insya Allah saya akan hadir"
----
__ADS_1
----
Bersambung...