
Melihat tanda ceklis di chat yang menunjukkan bahwa chat dari Irfan telah dibaca Raisa, Irfan mencoba menelpon. Sudah sejak tadi siang Irfan penasaran dan menunggu respon chat darinya.
Raisa yang tidak mau menerima panggilan Irfan, mematikan handphonenya dengan cepat, jantung Raisa berdetak kencang sekali. Irfan pasti menginginkan kesepakatan yang Raisa tidak suka.
Sementara di tempat lain, Irfan mengumpat kesal, Raisa mengabaikan telepon darinya. Irfan menggunakan tas Raisa sebagai alasan untuk bisa menemui Raisa lagi. Sayangnya, Raisa sulit untuk dihubungi.
Kekesalan Irfan seketika berubah cepat dan sorot matanya berbeda, ada sesuatu yang dia rencanakan dalam diam. Dengan tangan yang mengepal kemudian dia menyeringai.
*****
Suasana hening dan tenang menyelimuti malam. Beberapa kendaraan terparkir rapi di basement.
Di sebuah ruangan khusus, di tempat yang tidak terjangkau oleh khalayak umum, para pria dengan penampilan serba hitam yang terlihat misterius berkumpul. Postur tubuh mereka hampir sama, tinggi, tegap dan kuat yang menandakan mereka telah terlatih. Mereka adalah orang pilihan.
Di gedung inilah, Hendrik memilih tempat untuk para anggota organisasi berkumpul. Hendriklah yang berkuasa mengatur jadwal para anggota dikumpulkan, untuk rapat membahas tugas yang akan dikerjakan. Beberapa kasus yang memerlukan penyelidikan lebih dalam, Hendrik akan mengerahkan anggota yang terpilih dalam menjalankan tugas.
Mereka yang sudah duduk rapi di kursi dengan sabar menanti kepastian karena belum juga Hendrik memberi aba-aba untuk memulai rapatnya. Hendrik duduk dengan tenang, dia menantikan orang yang tengah ditunggu. Ini adalah rapat pertama kalinya yang akan dihadiri oleh Diki lagi setelah sekian tahun Diki absen.
Diki telah sampai, kemudian dia memasuki lift. Suara derap langkahnya menggema di lorong, Diki diikuti Rio di belakangnya, mereka berjalan cepat menuju ruangan yang dituju. Mereka yakin tidak terlambat semenit pun, hanya para anggota lainnya yang menurutnya terlalu cepat untuk hadir.
Gedung khusus ini yang dilengkapi dengan teknologi canggih untuk pengamanannya adalah tempat yang dipilih Hendrik dari sekian banyak pilihan untuk tempat berkumpulnya para anggota.
Sebelum ke sana ada jalur private yang menghubungkan dari basement parkir menuju ruangan yang dituju. Jalur ini tertutup untuk umum dan dalam peta denah gedung tidak ditunjukan dalam gambar karena ini merupakan rahasia dan orang tertentu saja yang tahu.
Diki dan Rio mengikuti alur jalan private dengan melalui banyak pintu yang harus dilalui. Pintu yang akan dilalui telah dilengkapi kode pengamanan khusus dengan menggunakan chip untuk membukanya. Tiap anggota sudah diberikan kartu pengenal yang memiliki chip khusus. Ruangan yang dipilih tidak boleh sembarangan orang untuk masuk. Ini adalah ruangan tersembunyi dari sebuah gedung yang terlihat untuk umum.
__ADS_1
Beberapa pintu masuk diberi kode pengamanan berbeda, pada awal masuk menggunakan chip pada kartu pengenal lalu menuju lorong untuk masuk ke pintu berikutnya dengan menggunakan sidik jari setelah itu pada pintu terakhir menggunakan retina mata yang dipindai. Ini seperti ruangan yang dilapis oleh banyak pengamanan.
Ketika pintu terakhir terbuka, Diki dan Rio memasuki ruangan tempat berkumpulnya para anggota. Saat Diki menampakkan batang hidungnya kembali, semua anggota berdiri menyambut dengan hormat kedatangannya yang telah lama dinanti. Diki adalah cucu dari Tuan Shaka Sanjaya yang merupakan ketua organisasi agen rahasia Tiger Blood. Organisasi ini sangat disegani.
Namun saat ini Tuan Shaka Sanjaya tak bisa hadir karena ada banyak yang harus diurus di pusat kota jadi dia mengutus Hendrik yang memimpin misi di kota kecil ini.
Diki berdiri dengan tegap dengan wibawa seorang pemimpin, dia berada tepat di depan meja rapat lalu semua berdiri memberi salam hormat pada Diki, dia memang cukup disegani oleh anggota karena statusnya. Setelah itu, Hendrik membuka rapatnya.
Banyak hal yang dibahas, terutama misi untuk menangkap mafia kelas kakap the Black Jack yang jaringannya cukup luas. Sudah sejak lama, mereka mengincar sang pemimpin the Black Jack yang bernama Shadow Jack. Shadow Jack sangat sulit dilacak keberadaannya dan bahkan untuk menembus pertahanan para jaringannya, banyak anggota agen yang gagal. Padahal berbagai strategi dan taktik sudah dilancarkan namun masih saja mereka kesulitan. Diki adalah orang yang paling diharapkan dan diandalkan di organisasi.
Pada pertemuan pertama saat ini, Diki membahas masalah Revan dan perusahaannya yang terlibat skandal. Diki berencana mengirim salah satu anak buahnya untuk menyamar menjadi karyawan di perusahaan Revan. Penyelidikan itu perlu sebelum bertindak.
Beberapa saat waktu telah berlalu tak terasa dan rapat berjalan dengan lancar. Para anggota membubarkan diri dan kembali menjalani tugasnya masing-masing. Sementara Diki dan Rio masih berada di tempat. Di saat rapat bubar, Emilia datang dengan tergesa-gesa.
Hendrik menatap Emilia dengan berbinar seolah dia memang menunggu kedatangan Emilia sejak tadi namun dia pintar untuk menutupi ekspresinya itu. "Tidak masalah, aku sudah mencatat bagian terpenting dari pembahasan di rapat tadi. Nanti aku akan memberitahumu," ujar Hendrik.
Emilia menarik sudut bibirnya dengan enggan seolah nampak Emilia malas bersinggungan dengan Hendrik, dan dia hanya berkata, "Terima kasih." Sikapnya dengan jelas menunjukkan bahwa Emilia tidak begitu menyukai Hendrik. Sejak lama Emilia selalu menjaga jarak dan bersikap dingin pada Hendrik.
Kemudian Emilia menghampiri Diki setelah mengabaikan Hendrik, "Diki! Maukah kamu menjelaskannya padaku? Aku ketinggalan."
"Baiklah." Kali ini Diki terlihat bermurah hati pada Emilia.
Hendrik tercengang, menatap mereka tak percaya bahwa adegan itu nyata. Sejak kapan Diki dan Emilia berbicara satu sama lainnya? Hendrik tak habis pikir.
Di ruangan hanya tersisa empat orang, mereka adalah Hendrik, Diki, Emilia dan Rio. Ketegangan mewarnai suasana di antara mereka. Rio yang mengerti situasi tak banyak komentar. Hendrik selalu berusaha menunjukkan kualitas dirinya untuk menarik perhatian dan membuat Diki jatuh. Hendrik bertingkah seolah merasa dirinya lebih mampu dan kompeten dalam bertugas.
__ADS_1
Meski pembawaan Hendrik yang setenang air namun air tenang itu juga bisa menghanyutkan, begitulah gambaran karakter Hendrik.
"Aku sudah menghubungi dokter forensik untuk mengautopsi mayat Tedi, dari cara pelaku melakukan aksinya terbilang cukup rapi, dia tidak meninggalkan jejak. Jadi sulit untuk mengidentifikasi pelakunya." Emilia memaparkan hasil penyelidikannya.
"Pelaku adalah suruhan Shadow Jack, memang keberadaannya tidak diketahui. Alasan mereka menghabisi nyawa Tedi adalah agar terlihat seolah seperti motif balas dendam. Karena terjadi setelah dia melakukan penyerangan." Diki menjelaskan dengan lugas.
"Hebat, Anda mengetahuinya." Hendrik tersenyum sarkastik. "Aku tahu alasan Anda kembali karena ingin melindungi istri Anda dan khawatir dia terseret dalam kasus ini. Karena korban meninggal setelah dia melakukan penyerangan terhadap istri Anda beberapa hari sebelumnya, padahal itu tujuan Shadow Jack sebenarnya agar mengacaukan kita."
Perkataan Hendrik membuat semua diam, suasana menghening sesaat.
----
----
Bersambung...
Note :
Terima kasih pada para readers atas dukungannya terhadap karya ini.
Terkadang aku kehilangan semangat, padahal alur cerita sudah aku susun dan tulis tetapi demi para pembaca setia aku mencoba menyemangati diri sendiri.
Jangan lupa selalu memberikan dukungan agar author selalu semangat mengupload cerita.
Ikuti terus kehaluan author yang tertuang dalam tulisan karena memimpikan sesosok pria yang memiliki identitas luar biasa, maklumlah keseringan liat aktor laga 😁
__ADS_1