MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 86. BERITA MENGEJUTKAN


__ADS_3

Dengan bibir yang gemetar, Bik Surni mencoba memberanikan diri untuk menelpon Diki. "Maaf Tuan, kalau saya mengganggu."


"Ada apa, Bik?"


"Kelihatannya Nyonya muda sedang tidak enak badan. Nyonya muda tidak nafsu makan dan dari tadi muntah-muntah terus."


"Nanti aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa kondisinya. Untuk sementara tolong rawat dia sambil menunggu dokter datang ke sana."


"Iya, Tuan."


Setelah ditelepon Bik Surni mengenai kabar Raisa, Diki langsung menghubungi Emilia dan meminta bantuannya untuk memeriksa kondisi Raisa. Di tengah kesibukkannya, Diki sedang mencemaskan Raisa. Ditambah dia sedikit merasa bersalah karena sebelumnya bertengkar dengan Raisa.


Di rumah, Raisa merebahkan tubuhnya di ranjang, kepalanya terasa berat. Raisa mencoba untuk menghilangkan beban pikiran di otaknya. Perasaan kesal masih menyelimuti hatinya.


Raisa sudah terbiasa mandiri dan tidak suka bergantung kepada orang lain. Jadi rasanya, Raisa sulit menerima kenyataan bahwa Diki mulai melarangnya berkarir, padahal itu adalah impiannya. Raisa tidak tahu alasannya, karena Diki tidak mengatakan apapun.


******


Revan yang sedang asyik bermesraan dengan sekretaris di ruang kerjanya, seketika terganggu oleh kedatangan Vera.


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa mencegahnya. Bu Vera langsung menerobos masuk," ucap assistant Revan tanpa daya.


Revan menatap jengah sambil duduk dengan angkuh, sedangkan sekretarisnya langsung spontan memposisikan diri dengan wajar. Kemudian Revan hanya memberi kode untuk dibiarkan bicara berdua, mereka yang tidak berkepentingan diperintahkan untuk keluar ruangan. Sekretaris yang berwajah kesal terpaksa keluar bersama assistant Revan.


"Ada apa lagi?" tanya Revan pada Vera yang sedang mengunjunginya. Dia tahu tujuan Vera datang padanya hanya saat butuh bantuan.


"Video itu telah hilang, aku merasa Diki telah berbuat sesuatu untuk melindungi istrinya? Bukankah seharusnya hubungan mereka memburuk?" Vera merajuk seperti anak kecil, kekesalan memenuhi wajahnya yang dipoles dengan make up tebal. "Bagaimana rencanamu selanjutnya?"


"Aku tahu, aku juga tidak menyangka dalam semalam, point nilai sahamnya menjadi stabil. Perusahaanku selalu bersaing ketat dengannya." Revan berbicara santai seperti tak ada kekhawatiran yang melintas di benaknya.


"Kalau tahu, kenapa kamu masih bisa menikmati hidup?" sindir Vera yang sepertinya tidak suka melihat Revan bermesraan.


Revan tertawa, "Kau tenang saja, aku sudah punya rencana cadangan."


"Apa itu?" Mata Vera terbuka lebar, dia sangat penasaran sekaligus senang.


Setelah Revan memberitahu rencananya, Vera nampak lega dan puas. Dia menaruh harapan bahwa rencana kali ini akan berhasil.


Vera dan Revan sedang duduk manis menunggu hasil dari rencana mereka. Vera berharap setelah itu, hubungan Raisa dan Diki akan renggang. Lalu dia akan masuk mengambil kesempatan dan berperan seperti seorang pahlawan cinta.

__ADS_1


*******


Rio masuk ke ruang Diki, ada hal penting yang ingin disampaikannya. "Maaf, Pak. Di luar banyak reporter dan wartawan."


Diki jelas terkejut, "Siapa yang membuat mereka kemari? Bukankah video itu sudah ditake down olehmu?"


"Aku tidak tahu, Pak. Tetapi sepertinya, ini langkah mereka selanjutnya untuk terus menjatuhkan Anda, Pak." Rio memberikan analisanya.


Diki memutar otaknya, dia tengah berpikir untuk mengatasi masalah ini. "Aku mau mengecek sebentar, berita apa yang mereka cari." Diki berselancar ke Internet mencari topik berita terhangat hari ini.


Beredar desas desus, bahwa Raisa adalah seorang istri yang selingkuh dan video cctv merupakan bukti yang dihapus oleh oknum untuk merahasiakan skandal yang dilakukan Raisa.


Vera sudah mengeluarkan banyak dana untuk membayar media agar menyebarkan berita itu. Berita itu akan dibuat naik menjadi trending topik.


Beberapa netizen menghujat dan berkomentar negatif tentang Raisa.


Reputasi perusahaan Diki akan memburuk seiring dengan berita skandal Raisa. Lalu Revan memanfaatkan situasi ini agar bisa mengalahkan Diki. Dengan adanya para wartawan yang meliput ke perusahaan Diki, tentu saja saham perusahaan Diki akan semakin turun di bursa saham. Mereka mencoba untuk menghancurkan reputasi dari kasus sebelumnya.


Di tengah situasi yang panas, Pak Kris masuk ke ruangan Diki dan terus memprovokasi keadaan. Dia tertawa mencemooh, "Pak Diki, perusahaan sudah di ujung tanduk. Anda masih mau mempertahankannya?"


"Aku yakin, perusahaan sedang baik-baik saja. Itu hanya sudut pandang Anda yang tidak mampu mengatasi masalah." Diki berbicara tenang tanpa terprovokasi.


"Anda tidak perlu mencemaskan hal itu, Pak Kris. Aku sudah memiliki solusinya. Anda silakan lihat, apa yang akan aku lakukan."


"Oke, baiklah. Aku ingin lihat bagaimana Anda bisa mengatasinya." Pak Kris tersenyum sinis, lalu melanjutkan, "semoga saja masalah ini akan selesai."


Diki dengan tenang memberi isyarat untuk menyuruh Pak Kris keluar, dan ini seperti penghinaan untuknya. Pak Kris keluar ruangan dengan wajah kesal.


Kemudian Diki bertanya pada Rio, "Apa hasil penyelidikanmu?"


"Salsa adalah salah satu pegawai bagian accounting, yang ternyata memiliki hubungan gelap dengan Pak Kris, sepertinya mereka telah bekerjasama. Pada saat audit keuangan, Salsa memanipulasi data laporan seolah perusahaan sedang dalam tahap delisting hingga mempengaruhi saham perusahaan. Para investor berencana ingin menjual saham karena terpengaruh oleh berita ini. Penjualan produk sebenarnya tidak ada kendala hanya saja, ada permainan yang melibatkan beberapa orang penting untuk memonopoli pasar."


"Jadi begitu." Diki menyeringai, dia nampak memiliki rencananya sendiri. "Baiklah, aku akan keluar menghadapi mereka dan membuat mereka pergi."


Dengan kepercayaannya yang tinggi, Diki melangkah keluar menghadapi para wartawan yang masih berkerumun di depan perusahaannya.


********


Beberapa saat kemudian Emilia datang dan mengunjungi Raisa atas perintah Diki. Dia berhasil menemukan alamat rumah Diki dengan mudah.

__ADS_1


Ketika Emilia sudah berada di depan pintu, Bik Surni tahu, itu pasti dokter yang diminta Diki untuk datang. Hanya dengan melihat penampilannya, Bik Surni tidak salah menebak.


"Silakan masuk, Dok. Nyonya muda ada di kamarnya." Bik Surni menyambut kedatangan Emilia dengan ramah lalu mengajaknya masuk. Emilia pun melangkah mengikuti Bik Surni di belakangnya.


Bik Surni mengetuk pintu kamar Raisa, "Permisi, Nyonya muda. Ada dokter atas permintaan Tuan, dia datang untuk memeriksa kondisi Nyonya."


Dokter?


Raisa terkejut, dia merasa tidak menelpon Diki, darimana Diki tahu. Raisa langsung membuka pintu untuk memastikannya.


"Emilia?" Raisa tercengang melihat Emilia datang ke rumahnya.


Emilia tersenyum, "Bagaimana kondisimu? Mari aku periksa dulu."


Lalu Raisa beralih ke arah Bi Surni yang berada di samping Emilia. "Bik, apa kamu yang memberitahu suamiku?"


"Maaf, Nyonya muda. Aku mencemaskan Nyonya, jadi tadi aku menelpon Tuan. Tadi Tuan bilang, akan ada dokter yang datang sebelum Tuan pulang."


Mendengar penjelasan Bik Surni, Raisa tidak bisa menyalahkannya. Meski tadi pagi Raisa masih kesal dengan Diki namun dia senang atas perhatian secara tidak langsung dari Diki. Rasanya ini yang sedang dibutuhkan Raisa.


"Padahal aku baik-baik saja."


Setelah berkata itu, Raisa kembali mual dan ingin muntah. Reaksinya dengan jelas menggambarkan bahwa Raisa sedang tidak baik-baik saja. Raisa segera berlari ke kamar mandi, dan suaranya terdengar dari luar.


Emilia mendengarnya dengan jelas.


----


----


Bersambung...


Note :


Terima kasih kepada para readers yang setia membaca karyaku ini.


maaf author baru update, kmrn agak krg sehat karena sering sakit kepala.


Insya Allah hari ini akan update double.

__ADS_1


Happy reading.


__ADS_2